
"tuan semua sudah beres"
"kita sedang berdua jangan menjadi orang lain"
roberth melempar bantal sofa dengan sigap ia menangkapnya
"sesuai rencana,dia meninggal akibat menghirup asap beracun karena kebakaran itu"
"kau memang terbaik kak,siapa sangka semua jebakan yg mereka buat berbalik arah pada tuannya"
roberth pun tersenyum licik lalu menghisap kembali rokoknya.
"aku masih menyimpan banyak kejutan pada pak tua itu,menurutmu bagaimana reaksinya jika tau anaknya meninggal"
pedro yg semula berdiri mendudukkan dirinya di sofa berhadapan dengan roberth.
"lalu bagaimana dengan fara"
"aku akan mulai menceritakan semuanya secara perlahan padanya,kau tau kan dia terlalu tertutup soal perasaan bahkan ia berakting baik-baik saja saat melihat aku dan jessie bermesraan padahal hatinya terluka"
pedro hanya mengangguk ia bingung harus bicara apa padahal ia tahu betul kisah rumit kedua insan itu.memikirkannya saja sudah pusing sebab itulah di usia 28 tahun ia belum punya kekasih.
roberth memintanya mengurus perusahaannya saja dari pada jadi assistant pribadinya yg membuat ia tak bisa membagi waktu dengan kisah asmara.namun pedro enggan karena ia ingin memastikan sendiri keselamatan roberth paling utama baginya,mengingat bantuan keluarga jullius yg besar pada keluarganya ia akan memastikan sendiri keluarga itu selalu aman dan nyaman.
andrew menganggap dirinya sebagai anaknya sendiri,bahkan ia dilarang memanggil tuan melainkan kakak pada roberth namun ia tak pernah menuruti kemauan itu namun ia membuat pengecualian akan memanggil kakak jika sedang berada di lingkungan keluarga saja.
🌼🌼🌼🌼🌼
"fara ada ulat di rambut mu"
aaaaa
spontan fara pun melompat dan mengibas rambutnya.roberth pun membuang ulat itu dari rambutnya bukannya tenang perempuan itu malah terisak.
"hei dasar anak kecil,begitu begitu saja menangis itu hanya ulat jika ular kau mungkin sudah pingsan.aku tak mau menggendong mu badan mu seperti kerbau"
"apa"
geram di ejek ia pun hendak memukul roberth namun pria itu berlari.terjadilah kejar mengejar antara kedua insan itu sampai mereka pun lelah dan berbaring di rerumputan hijau.
"hahhh lelah sekali" gumam fara lalu memiringkan badannya ke arah robert. pria itu pun berbalik juga sambil menyangga kepala dengan telapak tangannya.pandangan mereka pun bertemu.
"aku memiliki segalanya di dunia ini tapi satu yg belum aku dapatkan dan itu selalu menyiksa batin ku"
fara pun menatap kedua bola mata indah itu seolah bertanya 'apa'
"dirimu"
"eh?maksudnya"
"lupakan,oh ya terimakasih ya kau selalu menemaniku dan menuruti permintaan konyol ku"
"aku sudah bilang panggil roberth saja jika kita berdua.atau aku akan menciummu"
fara pun menantangnya dengan mendekatkan wajah mereka.bibir mereka pun hampir bersentuhan namun sedetik kemudian fara menjulurkan lidahnya meledek roberth lalu dengan langkah seribu ia berlari meninggalkan robeth yg masih terpaku di tempat.
"hei tunggu aku"
*seketika banyangan masa lalunya buyar saat suara pintu terbuka*
itu adalah roberth yg membuyarkan lamunan fara.ia pun mendekati fara yg sedang duduk di dekat jendela
"apa yang kau lamunkan angel"
"tak ada aku hanya memikirkan pelayan dalam mansion apakah tidak ada yg selamat?aku bingung dengan apa yg terjadi aku keluar kamar sudah gelap dan...".suara nya tercekat mengingat kejadian malam itu.roberth mendekapnya sampai perempuan itu kembali tenang
" ssst sudah,apa kita akan melanjutkan pembicaraan ini?" fara pun mengangguk
" cuma paman jacob yg selamat,itu pun ia masih di rawat di rumah sakit karena luka bakar.aku belum bisa menanyakan detail kejadian karna ia masih butuh banyak istirahat"
"lalu bagaimana dengan jessie? dan juga kenapa kau bisa tau jika aku berada di hutan?dan bagaimana bisa kau menikah dengan wanita yg ingin membunuh anaknya sendiri?"
pertanyaan panjang lebar fara membuatnya menggaruk dahinya.ia pun menuntun fara untuk duduk di samping ranjang dan menarik kursi untuk ia duduki.
"jadi begini.malam itu paman jacob menelpon mengatakan kalau terjadi penyerangan di mansion,dan saat itu pula aku langsung pulang.setibanya di sana mansion sudah hangus terbakar beruntungnya paman sudah keluar jadi ia masih selamat.ia bilang kalau dia sudah mengutus lysa untuk menyelamatkan dan membawamu ke hutan dan dia juga bilang kalau ini ulah jesseline. kemudian paman pun tak sadarkan diri"
"dan soal jesseline kenapa aku menikahinya,ada alasan di balik itu semua.dan juga bayi ini milik kita berdua" ungkapnya panjang lebar
"kau ini,meskipun ibunya hendak membunuhku bukan berarti kau kau tak mengakui jessie bukan ibunya itu tidak baik.aku sudah anggap bayi ini anakku tak usah berucap begitu aku akan tetap mencintainnya"
roberth pun menggeleng pelan dan menangkup ke dua pipinya
"asal kau tau bayi ini bukan bayi tabung melainkan bayi yg kita proses sendiri"
ucapan roberth membuatnya mengernyit bingung.
"kau ini bicara apa?aku tak mengerti"
"apa kau lupa malam itu,atau kau pura-pura lupa?"
goda roberth sambil mencubit hidungnya
fara pun memutar bola matanya ke atas mencoba mengingat malam apa yg roberth maksud.mencari ingatan yg ia lupakan tapi tak menemukan apa itu.namun beberapa saat kemudian ia mulai mengingatnya seketika wajahnya berubah pias seketika.
"baiklah aku akan ceritakan"
love,
☀MARWAH HASAN☀