
Ruby mendorong kursi roda Rega ke depan rumah menemui tamunya.
DEG.
"Sania."
Rega tentunya saja terkejut melihat Sania datang kerumahnya. Terakhir bertemu dengannya tidak dalam keadaan baik. Rega takut Sania menceritakan tentang hubungan di masa lalu dengannya. Ruby bisa saja marah besar padanya jika sampai tahu cerita itu.
"Siapa dia, Yank?" tanya Ruby pada suaminya.
"Aku adik ibunya Arina, Sania." Sania lebih dulu menjawab pertanyaan Ruby dan mengulurkan tangannya yang dibalas oleh Ruby.
Ruby mempersilahkan masuk kemudian mereka duduk di ruang tamu.
"Aku hanya ingin memberitahu bahwa Arina akan dibawa ke luar negri bersamaku. Tentu dengan persetujuan Kak Rega sebagai ayahnya." jelasnya.
Semenjak Rega pulang ia hanya memberitahu bahwa Arina bersama keluarga ibunya. Ruby sempat menyarankan untuk bertemu Arina tapu Rega seperti enggan untuk pergi ke rumah keluarga mendiang istri pertamanya.
"Kenapa Arina harus dibawa keluar negri?" tanya Ruby.
"Kak Rega bisa menjelaskannya nanti. Bagaimana, Kak Rega?" Rega mengangguk pelan. "Kalau begitu saya permisi," Sania pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun lagi.
Kepergian Sania membuat tanda tanya besar bagi Ruby. Kenapa Arina sampai harus dirawat orang tua ibunya padahal Rega lebih berhak atas Arina? Kenapa Rega diam saja Arina akan dibawa keluar negri? Namun, Ruby hanya bisa menunggu suaminya menceritakan kenapa bisa begitu.
"Yank, kamu pasti bertanya kenapa aku mengijinkannya bukan?" tanya Rega membuyarkan pertanyaan Ruby dalam hatinya dan Ruby pun mengangguk. "Sania sudah kehilangan anaknya saat masih dalam kandungan. Dia meminta untuk mengurus Arina." Hanya itu yang Rega jelaskan.
"Oh begitu. Tapi aku ingin bertemu Arina. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya." keluh Ruby.
"Arina merasa senang bersama nenek dan tantenya. Aku juga awalnya ingin membawanya kembali, tapi Arina nyaman berada bersama mereka. Aku pikir jika Arina betah dan senang berada di sana tidak ada salahnya kalau dia tinggal bersama mereka." tutur Rega.
"Andai aku bisa bertemu dengan Arina dulu sebelum Arina di bawa keluar negri!" ucap Ruby.
Rega hanya tersenyum dan memegangi tangan Ruby.
🦋🦋🦋🦋🦋
Rega menjalani pemeriksaan bersama dokter rumah sakit. Ia menjalani terapi sesuai dengan anjuran dokter. Ruby setia mendampingi selama pengobatannya.
Setiap hari Ruby melatihnya dan membantunya untuk berjalan. Satu minggu sekali Rega menjalani terapi untuk penyembuhannya. Ruby dan Kaisar menjadi penyemangatnya untuk cepat sembuh dan bisa berjalan dengan normal lagi.
Hari hari berlalu sangat cepat, Rega dengan cepat juga menunjukan kemajuannya bisa berjalan. Walau tadinya tidak ada harapan karena selama tiga tahun Rega berada di kursi roda. Namun, berkat semangat, dukungan dan doa dari orang terkasihnya Rega bisa berjalan lagi. Dokter memperkirakan akan sangat lama Rega bisa berjalan. Satu tahun Rega menjalani terapi hingga ia bisa berjalan sendiri.
Setelah bisa berjalan lagi, Rega mencoba usaha baru di dunia kuliner. Ia membuka sebuah restoran makanan korea karena pada saat ini sangat banyak digandrungi kaula muda bahkan semua kalangan banyak yang menyukai makanan khas negri ginseng tersebut. Rega merekrut chef yang handal untuk restoran miliknya. Restorannya tidak pernah sepi pengunjung, selalu ramai setiap harinya. Begitupun dengan usaha laundrynya yang semakin maju dan mempunyai cabang di sebagian besar pelosok negri.
Di suatu malam ketika Ruby sudah menidurkan Kaisar di kamarnya. Rega memeluknya dari belakang.
"Yank, terimakasih." ucapnya tulus lalu mencium pipi Ruby.
"Untuk?"
"Terimakasih sudah memberikan aku jagoan kecil ini. Dan maaf aku tidak ada saat kau melahirkannya ke dunia," wajahnya berubah sedih.
Ruby membalikan badannya menghadap Rega dan menangkup wajahnya.
"Jangan menyesali yang sudah terjadi dan jangan membahasnya lagi." menyentuh hidung Rega dengan ujung telunjuknya.
"Maaf," mengadukan hidungnya ke hidung Ruby.
"Yank, ini kamar Kai. Nanti kalau dia bangun gimana? Ayo kita keluar dari sini!" ajaknya menarik tangan Rega keluar.
Ruby dan Rega kembali ke kamarnya, mereka bersiap untuk tidur. Ruby menempel di dada Rega sambil memeluknya. Rega mencium pucuk kepalanya lembut.
"Dulu aku sempat berpikir kamu akan menolak ku saat tahu aku lumpuh dan tak berdaya. Aku tahu banyak sekali yang menyukai mu pasti. Kau masih terlihat cantik, tidak terlihat seperti sudah menikah dan mempunyai anak. Aku takut kau berpaling dan mencari yang lebih baik dariku. Aku jadi hilang harapan waktu itu. Aku selalu memperhatikan mu di layar CCTV. Aku sedih melihat bersedih dan aku senang melihatmu bermain dan tertawa bersama Kai." ucap Rega.
"Kamu tahu apa yang aku pikirkan sewaktu kamu menghilang tanpa kabar?" Rega menggelengkan kepalanya. "Kamu menemukan yang lebih baik dariku dan meninggalkan ku. Dan aku pikir aku sedang dihukum karena kesalahan ku sudah merusak rumah tangga orang lain. Aku tersiksa dengan pikiran ku sendiri. Setiap hari dihantui rasa bersalah dan kesepian. Hingga akhirnya aku mendapatkan hidayah dan dari situlah aku memperoleh ketenangan disaat aku selalu mengingat Nya , pasrah dan ikhlas atas semua yang sudah ditakdirkan pada ku. Aku juga selalu berdoa untuk dipertemukan dengan mu dan berdoa supaya kau selalu baik-baik saja." tuturnya.
"Sepertinya aku pun dihukum Tuhan karena sudah merebut mu. Aku lumpuh bertahun-tahun duduk di kursi roda dan kesepian tanpa mu membuat ku gila dan selalu ingin menyerah pada keadaan. Semoga Tuhan mengampuni kita." Rega membelai halus rambut Ruby. Mereka terlelap sambil berpelukan.
Esoknya Rega bertemu dengan pemilik ruko yang akan ia tempati untuk membuka cabang restorannya.
Seorang wanita bertubuh sintal berpenampilan elegan keluar dari mobil mewah keluaran terbaru. Kacamata ia buka dan menyelipkannya di tengah dada. Ia duduk di meja yang hanya ada satu di ruangan itu dengan tiga kursi yang saling berhadapan. Tersenyum menggoda ke arah Rega dengan bibir berlipstik warna cerah menambah anggun penampilannya. Rega membalas senyum sekedarnya.
"Baik, karena Bu Helena sudah datang saya akan membagikan surat perjanjian sewa menyewanya harap dibaca dengan teliti dan menandatanganinya." ucap Pak Guntur, notaris yang ditunjuk Rega untuk menangani urusan sewa menyewanya.
"Terimakasih Pak Rega. Senang bekerja sama dengan anda." mengulurkan tangannya pada Rega.
Rega menyambut menyalaminya.
"Sama-sama. Untuk segala urusan perjanjian ini silahkan hubungi Pak Guntur apabila ada masalah." ucap Rega lalu pergi.
"Pak Rega." panggil Helena.
Rega berbalik, " Ya?"
"Mungkin kita bisa makan malam bersama?" ajak Helena.
"Maaf saya sibuk." jawab Rega dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
Helena memandang ponselnya yang berisi nomor telepon Rega yang sudah ia dapatkan sewaktu Rega menghubunginya untuk menyewa ruko.
Rega baru saja sampai di depan rumahnya, ia mematikan mesin mobilnya. Ponselnya berbunyi tanda ada chat whatsapp masuk dan ternyata dari Helena.
"Selamat malam. Selamat beristirahat." isi pesan dari Helena.
Rega langsung menghapusnya dan memblokir kontak Helena lalu keluar dari mobil. Rega tidak mau membuka celah bagi siapa pun untuk menghancurkan rumah tangganya yang sudah ia bangun dan perjuangkan selama ini. Baginya istri dan anaknya adalah sumber kebahagiaan yang sejati di dalam sebuah kelurga.
Ruby dan Kaisar sudah menyambutnya di depan rumah. Ruby mencium punggung tangan Rega, begitupun dengan Kaisar. Rega membalasnya dengan ciuman kasih sayang di kening istrinya dan juga pelukan hangat untuk anak dan istrinya.
"Ayaahhhh ayok main pesawat..." Kaisar mengajaknya bersemangat.
"Kai, ayah baru saja pulang masih capek." tegur Ruby.
"Tidak apa sayang. Yang penting anak kita senang." jawab Rega.
"Kamu memang selalu memanjakannya. Aku buatkan teh hangat untuk mu ya." Ruby mengambil alih tas kerja Rega dan menyimpannya di meja.
"Iya, sayang terimakasih."
Kaisar berlari menarik lengan Rega sudah tidak sabar. Rega membuka kemeja kerjanya, hanya memakai kaos oblong saja. Mereka bermain pesawat mainan yang baru saja dua hari yang lalu Rega berikan di ruang tengah.
Ruby membawa segelas teh hangat untuk Rega ke ruang tengah.
"Ayah dan Kai sini duduk di sebelah bunda." pintanya. Keduanya menuruti permintaan Ruby.
Ruby menyerahkan gelas teh hangat pada Rega lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.
"Bunda punya hadiah untuk Ayah dan Kai," ucapnya menunjukan kotak itu.
"Hadiahnya kecil ah bundaaa..." protes Kaisar dan Ruby hanya tersenyum.
"Apa ini, Yank?" Rega mengambilnya dari Ruby.
Rega membukanya ternyata isinya adalah sebuah tespek dengan dua garis merah.
"Ini beneran kan sayang?" Rega masih tidak percaya. Ruby mengangguk pasti.
"Kai, sebentar lagi mau punya adik." seru Rega pada Kaisar.
Kaisar melompat riang dan berlari kesana kesini. "Horeee.... Kai mau punya adiikkk...."
Rega memeluk dan mencium Ruby.
"Terimakasih ya sayang."
~TAMAT~
KAKAK PEMBACA R&R YANG TERSAYANG
MAKASIH BANYAK SUDAH MENGIKUTI CERITA INI SAMPAI AKHIR. SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA, SUDAH MEMBERIKAN ⭐5, MENEKAN 👍 SETIAP EPS NYA, MENINGGALKAN COMMENTAR, MEMBERIKAN VOTE PADA CERITA INI... MAKASIH BANYAK.... SEMUA YANG KALIAN BERIKN SANGAT BERARTI BAGI AUTHOR...
SEMOGA BISA DIAMBIL PELAJARAN DARI CERITA RUBY & REGA INI. YANG BURUKNYA MOHON JANGAN DITIRU DAN YANG BAIKNYA SEMOGA BISA BERMANFAAT BAGI KAKAK PEMBACA SEMUA. MAAFIN AUTHOR KALAU ADA SALAH KATA, MASIH BANYAK TYPO, UP YANG TIDAK MENENTU, DAN YANG LAINNYA MOHON DIMAAFIN YA...
SALAM SAYANG DARI AUTHOR
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️