
Ruby masih memikirkan nasib rumah tangganya bersama Adnan, tapi sudah satu minggu ini Adnan tidak ada datang kerumah dan tidak ada kabar sama sekali.
Sampai kantor Ruby sangat tidak bersemangat bekerja, statusnya seperti di gantung tidak karuan oleh Adnan. Rega selalu bersamanya tapi tetap saja Rega bukanlah seorang yang bisa terus bersamanya, karena Rega pun harus tetap menunaikan tanggung jawabnya pada keluarganya.
“By, besok ada tugas keluar kota selama tiga hari, kamu gantiin aku ya,” pinta Nita lagi dan lagi meminta bantuan Ruby.
“Memang kamu kenapa dan mau kemana?” tanya Ruby heran.
“Aku tetap pergi dari rumah selama tiga hari tapi aku mau pergi sama Rama, dan suami ku juga lagi keluar kota juga,” jelas Nita.
“Lagi, lagi, karena Rama. Dasar bucin,” ledek Ruby.
“Namanya juga lagi di mabuk cinta,” seru Nita bersemangat.
“Eh Nit, bagaimana kelanjutan hubungan mu dengan Rama sedangkan kamu masih sama suami mu, dan Rama juga masih sama istrinya?” tanya Ruby serius.
“Kita berumah tangga memang tidak ada yang sempurna dengan kebahagiaan kita, makanya dengan cara itu aku mempertahankan rumah tangga ku,” jawab Nita.
“Bukannya itu menghancurkan rumah tangga, Nit?”
“Ya pintar-pintar kita dong, main aman dan saling berkomitmen jangan sampai ketahuan,” ucap Nita lagi.
“Kalau sampai ketahuan bagaimana?”
“Ya jangan sampe ketahuan lah,”
“Dasar, kamu ini,”
Seperti biasa pulang kerja Rega sudah ada di dekat kantor Ruby menjemputnya pulang bersama.
“Hey, sayang. Udah lama nunggunya?” ucap Ruby saat sudah duduk di samping Rega.
“Tidak kok,”
“Anterin ke supermarket dulu ya, aku mau nyiapin keperluannya Sean. Soalnya tiga hari nanti aku tugas keluar kota gantiin Nita,”
“Hmmmm, aku pasti kangen sama kamu,” mengusap kepala Ruby lembut.
“Aku juga pasti kangen,” mengelus pipi Rega.
Sampai di supermarket Ruby turun dari mobil dan Rega tunggu di mobil karena Ruby melarangnya untuk ikut turun.
Saat beberapa lama Ruby masuk ke dalam supermarket, Rega melihat Adnan dan Tami baru turun dari mobil dan masuk ke dalam supermarket bersama. Rega langsung menelepon Ruby.
Rega “Yank, cepat sedikit aku ada urusan mendesak,” (mencari alasan)
Ruby “Iya, sebentar ini lagi di kasir, kok,”
Rega “Kalo udah langsung cepat-cepat masuk mobil ya,”
Ruby “Iya,” (menutup teleponnya)
Beberapa menit kemudian Ruby masuk ke mobil dan menaruh belanjaannya ke kursi belakang.
“Kok, lama sih, Yank. Ketemu siapa tadi di dalam?” ucap Rega cemas dan memastikan.
“Tidak ketemu siapa-siapa, kenapa?” tanya Ruby heran.
“Gapapa, kirain ketemu siapa dulu. Mau ke apartemen dulu tidak?” lega karena Ruby tidak bertemu Adnan dan Tami di dalam.
“Yank, aku harus nyiapin keperluan Sean selama aku tinggalkan tiga hari nanti. Terus aku juga harus nyiapin barang-barang yang harus aku bawa nanti, gapapa ya?”
“Iya deh gapapa,”
“Yank, jangan sekarang. Lagian ini di mobil,” cegah Ruby.
Rega menghentikan aktivitasnya di kedua gunung kembar milik Ruby dengan raut muka kecewa. Ruby menangkup wajahnya membelai lembut pipinya dengan kedua ibu jarinya.
“Jangan sekarang ya, plisss. Ada banyak yang harus aku siapkan buat besok,” ucap Ruby lagi.
“Ya udah, aku pulang ya sayang,” mengusap bibir Ruby dengan ujung ibu jarinya.
“Yank, kamu tidak akan dilanjutkan di rumah kan?” tanya Ruby menaruh curiga.
“Wah, ide bagus tuh,”
“Hmmmm,” Ruby memajukan bibirnya.
Rega mengecup bibirnya lagi.
“Jangan tidur malam-malam ya,”
Ruby langsung keluar dari mobil dan berjalan ke rumahnya.
Paginya Ruby kecewa karena Rega tidak ada kabar dan tidak ada menjemputnya. Ruby berangkat sendiri ke kantornya karena pergi dengan beberapa teman kerjanya dari kantor. Ruby berangkat bersama Pak Johan dan Dina diantar supir kantor.
Sampai di tempat tujuan Rega belum juga memberi kabar, di BBM pun tidak ada balasan. Ruby menjadi kesal sendiri. Acara sudah di mulai Ruby dan semua rekan kerjanya yang lain masuk ke aula hotel setelah check in dan menyimpan barang-barang mereka di kamar yang sudah di sediakan, Ruby satu kamar dengan Dina karena dari kantor cabang yang sama.
Acara pembukaan selesai, dilanjutkan dengan materi yang di berikan narasumber untuk kemajuan perusahaannya. Acaranya baru selesai jam Sembilan malam. Ruby dan Dina kembali ke kamar mereka. Dina beranjak ke kamar mandi, sedangkan Ruby merbahkan diri di tempat tidur sambil berharap ada kabar dari Rega.
Beberapa lama Ruby mengotak-atik ponselnya, Rega belum juga memeberi kabar. Akhirnya Ruby memutuskan untuk mandi setelah Dina keluar dari kamar mandi. Mandi membuatnya lebih relaks setelah perjalanan jauh dan mempelajari materi perusahaan.
Selesai mandi yang pertama di cari adalah ponselnya. Tersenyum senang karena Rega mengirimkan pesan untuknya.
Rega : Lantai 6 kamar 603
Ruby segera memakai bajunya, dan membawa ponselnya.
“Mau kemana, By?” tanya Dina yang melihat Ruby membuka pintu.
“Aku keluar dulu ya, Din. Ada suami ku ke sini,” jawb Ruby asal.
“Oh ya sudah,”
Ruby segera menuju lift dan naik ke lantai enam sesuai pesan yang dikirimkan Rega, berjalan ke kamar enam kosong tiga dan membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.
Rega menarik tangannya dan mengunci pintu kemudian memeluknya.
“Kenapa lama sekali?” ucap Rega sambil menciumi pundak Ruby yang kini dipelukannya.
“Aku mandi dulu, habis kamu aku tungguin tidak ada kabar terus," ucap Ruby kesal.
"Aku kan ingin kasih kejutan buat kamu," sambil terus menciumi pundak Ruby.
"Aku ingin sayang," bisik Rega membuat bulu kuduk Ruby berdiri.
"Kan kamu udah lanjutin kemarin di rumah," ucap Ruby kesal berbumbu cemburu.
"Hanya kamu yang bisa memuaskan aku,"
NEXT >>>>>>>>
like comment vote
terimakasih