
"Darimana, Yank?" tanya Ruby saat melihat Rega datang dari arah berlawanan.
"Aku......" Mobil berkecepatan tinggi menuju ke arahnya.
"AWAS, YANK!!!!" Ruby teriak dan menarik Rega ke sisi jalan.
"Yank, kamu gapapa?" Rega cemas melihat Ruby terjatuh.
"Yank, perut ku."
"Kita ke rumah sakit sekarang."
"Ah nggak usah. Mungkin aku cuma kaget aja."
"Bener gapapa?"
"Iya. Ayok pulang, aku jadi takut ada di sini." ajaknya.
Rega membuka pintu mobil, Ruby masuk kedalam mobil disusul Rega setelahnya. Rega meraba perut Ruby yang masih belum membesar, memastikan istri dan calon anaknya baik-baik saja.
"Sayang, kita ke dokter ya? Aku khawatir sama kamu dan anak kita," ucapnya sambil mengusap perut Ruby.
"Besok aja ya. Sekarang kita pulang, aku gapapa kok. Aku sudah ingin pergi dari sini." ucapnya ada rasa ketakutan.
"Ya sudah besok pagi aku anterin kamu dulu ke dokter sebelum ke kantor ya." Ruby mengangguk, Rega melajukan mobilnya menjauh dari tempat laundry.
Rega maupun Ruby masih merasa terkejut dengan kejadian tadi di depan laundry. Terlambat sedikit saja Ruby menarik Rega mungkin akan ada berita duka. Tapi untung saja dewi fortuna masih memihaknya.
Tangan Rega tak lepas mengelus perut Ruby sepanjang perjalanan. Maut baru saja menghampirinya, jantungnya masih berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Yank, mau makan diluar atau mau langsung pulang ke rumah?" tanya Rega memecah keheningan.
"Langsung pulang aja Yank. Aku ingin cepat sampai rumah." jawab Ruby.
"Ya sudah," melanjutkan perjalanannya sampai rumah.
Sampai rumah Rega memapah Ruby sampai kamar dan mendudukkannya di tepi ranjang.
"Tunggu sebentar ya, aku buatkan kamu susu." Rega berdiri namun ditarik lagi oleh Ruby.
"Yank, aku takut. Tadi hampir saja kamu ....." Ruby menangis, Rega memeluknya.
"Lihat, aku kan baik-baik saja. Tadi kamu yang menyelamatkan aku. Sudah jangan menangis!" mengusap lembut rambut Ruby.
"Aku nggak mau kehilangan kamu," Ruby mengeratkan pelukannya.
"Sayang, aku nggak akan hilang selama ada kamu di sisi ku. Sekarang kamu duduk dan tunggu ya. Karena anak ku yang ada di perut mu butuh asupan nutrisi." bujuk Rega.
Ruby melonggarkan pelukannya kemudian duduk di ranjang. Rega berjalan keluar kamar menuju dapur.
Rega duduk merenung di meja makan, tentang mimpinya yang sama dengan Ruby dan kejadian tadi yang hampir merenggut nyawanya.
Apa yang akan terjadi? Kenapa terasa sangat membahayakan baginya dan juga Ruby?
BRRUUUKKKK......
Suara benda jatuh di belakang rumah membuyarkan lamunannya. Dengan hati-hati Rega berjalan mendekati pintu lalu membukanya.
Rega memeriksa keadaan, berjalan ke sumber suara mencari apa yang sudah terjatuh namun tak menemukan apa-apa.
Karena tidak menemukan apapun, Rega masuk kembali ke dalam.
BRUUUUKKKKK.....
Suaranya terdengar lagi, Rega cepat memeriksanya lagi dan menemukan pot bunga pecah dengan kucing disebelahnya.
Rega kembali ke dapur, diambilnya kaleng susu dan gelas lalu menyeduhnya dengan air.
"Yank, kok lama?" tanya Ruby ketika Rega muncul dibalik pintu.
"Tadi ada kucing mecahin pot bunga dibelakang." jawab Rega.
"Kirain merokok dulu."
"Nggak."
"Kamu bisa nggak, berhenti merokok? Kita sudah mau punya baby kamu masih merokok, kan kasihan nanti babynya." tegur Ruby.
"Nggak akan apa-apa, cuman rokok bukan narkoba." kilahnya.
"Sama saja, Yank." Ruby menghabiskan susunya lalu memberikan gelas kosong pada Rega.
"Cepat sekali minumnya."
"Hehe. Haus,," muncul deretan gigi putih di balik senyumnya. "Yank tadi kamu kemana? Aku cari nggak ada di mobil." tanya Ruby.
"Aku takut banget tadi." mencubit lengan Rega gemas. "Tuh kan gara-gara suka rokok tuh, hampir ke tabrak kan!!! Sudah dari dulu aku bilang kurangi merokok, berhenti merokok... Tetap saja nggak di dengar.. Padahal bahayanya itu mengerikan tahu nggak,,,,," ngomel.
Cup...
Ruby berhenti berbicara.
"Kenapa diam? Mau lagi?" Rega menggodanya.
"Yaaank......"
Cup...
"Ya sudah aku nggak akan bicara lagi."
Cup.... Cup..... Cup.....
Kecupan bertubi-tubi dari Rega membuat Ruby kegelian.
"Ayaaank ihh... Geliiiii....." teriak Ruby menggeliat geliat.
Rega tertawa senang sudah mengerjai istrinya.
"Suka gitu ya kalo aku lagi ngomel tuh.... Padahal aku tuh ........"
Lagi lagi Rega mengecup bibir Ruby dan tersenyum senang melihat ekspresi Ruby yang kesal.
"Sudah lah.... Gimana kamu aja..." menyerah.
"Yang bener nih gimana aku?"
Ruby melempar bantal di sebelahnya ke arah Rega di depannya.
"Tidur, besok kan harus ke dokter kandungan. Suka malu kalo ditanya kapan terakhir berhubungan? Masa mau dijawab tadi malam. Aku kan suka malu." ngomel lagi kesal.
"Haha. Ya sudah kita bobok sekarang."
Rega memeluk istrinya dan sama-sama terlelap.
🦋🦋🦋🦋🦋
"Siaaalll!!! Nggak kena...." decak kesal Adnan seaat setelah melancarkan aksinya.
"Ruby, mana mungkin aku membiarkan mu di duakan lagi. Aku nggak mau itu terjadi lagi padamu." ucap Adnan sedih.
Adnan mengikuti mobil Rega, dari belakang memastikan Ruby tidak apa-apa setelah tadi ia menyerempet Rega namun Ruby juga ikut terjatuh.
"Apa demi rumah besar ini Ruby mau dijadikan yang kedua? Nggak mungkin. Ruby nggak seperti itu.." Adnan masih mengira-ngira kehidupan Ruby setelah lama ia tak mendapatkan kabar apapun tentangnya.
Setelah melihat Ruby keluar dari mobil bersama Rega, ia memutuskan untuk pulang dan kembali lagi keesokan harinya.
Pagi sekali Adnan sudah menunggu di dekat rumah Ruby. Jendela Ruby terbuka, Adnan memandangnya dari kejauhan melihat Ruby di balik jendela. Namun tak lama Rega datang dan memeluknya mesra.
Ada perasaan sesak dalam dada melihat kemesraan Ruby dan Rega. Namun Adnan tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
"Harusnya aku yang bahagia bersama mu dan anak kita..." gumamnya.
Dilihat lagi ke jendela sepasang suami istri itu sudah menghilang. Adnan masih menunggu Ruby keluar dengan sabar.
Ada orderan yang masuk ke ponselnya berkali-kali pun ia tolak, dan langsung mematikan ponselnya.
Akhirnya Ruby keluar bersama Rega memasuki mobil dan keluar dari gerbang rumah. Adnan bersiap dan mengikuti mereka dari belakang.
Sampai di klinik dokter kandungan Adnan tercengang dan tentunya terkejut. Setahunya semalam Ruby ikut terjatuh.
"Ruby sedang hamil? Malam dia terjatuh. Apa dia baik-baik saja?" merasa bersalah.
Adnan tetap menunggu. Semakin Adnan mengira-ngira, semakin ia penasaran dengan kehidupan Ruby sekarang.
Bosan Ruby tak kunjung keluar dari klinik, rasa cemasnya semakin menjadi. Adnan masuk ke dalam klinik, mencari keberadaan Ruby di sana.
Adnan mengelilingi klinik untuk mencari Ruby, sampai dilihatnya Ruby dan Rega baru saja keluar dari sebuah ruangan. Adnan bersembunyi di tempat yang tidak terlihat oleh Ruby tapi masih mengawasinya.
"Sayang, makasih ya. Aku senang aku akan mendapatkan jagoan kecil nanti." ucap Rega seraya mendekap Ruby mesra.
Mereka keluar dari klinik, Adnan juga cepat-cepat keluar dan masuk ke dalam mobilnya.
Adnan mengikuti Ruby lagi, ternyata pulang kerumahnya dan tidak lama Rega pergi lagi dari rumah.
"Ini kesempatan ku untuk melihat keadaan Ruby ke rumahnya." Adnan memarkirkan mobilnya di depan rumah Ruby dan berjalan menuju pintu utama.
NEXT >>>>>>>>>