MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 15



"Adnan mengaku salah dan meminta maaf atas ke khilafan Adnan. Adnan tidak mau terpisah dari Ruby dan Sean. Adnan merasa kehilangan beberapa hari ini," ucapnya penuh penyesalan.


"Kalau merasa kehilangan kamu kesini mencari kita, Mas. Bukan menghilang tidak ada kabar," ucap Ruby bernada marah.


"Mas tidak kesini karena kamu bilang jangan dulu menemui mu," ucap Adnan membela diri


"Sudah, sudah. Sebenarnya apa yang menjadi masalah antara kalian berdua? Ruby dari semenjak kesini sampai sekarang belum cerita apapun sama Mamah," ucap Dewi penasaran.


"Maafkan Adnan, Mah, Pah. Adnan sudah menikah lagi di belakang Ruby."


Plaaakk


Anto menampar pipi Adnan, setelah itu Dewi mencegah Anto melakukan hal yang lebih dari itu. Dilihat dari raut mukanya Anto memang sedang sangat marah pada mantunya itu.


Nafas Anto tidak beraturan karena marah, Dewi mencoba menenangkannya.


"Pah, sudah, kita dengarkan dulu penjelasan mereka," ucap Dewi.


Adnan memegangi pipinya yang di tampar Anto barusan.


"Maafkan Adnan, karena sudah mengkhianati Ruby. Tapi Adnan sangat menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi. Adnan tidak mau berpisah dari Ruby," ucap Adnan lagi.


"Terus, bagaimana dengan nasib istri siri mu, Mas? Kamu juga harus pikirkan itu," ucap Ruby tegas.


"Aku akan menceraikannya. Kamu mau kan pulang ke rumah, kita mulai dari awal lagi dan aku berjanji tidak akan mengecewakan kamu lagi," ucap Adnan sungguh-sungguh.


"Aku masih butuh waktu, Mas. Selesaikan saja dulu hubungan mu dengan wanita itu baru aku mau pulang bersama mu," ucap Ruby lebih tegas dari sebelumnya.


"Mah, Pah,?" mencoba mencari bantuan untuk melunakan hati Ruby.


"Ruby masih butuh waktu untuk menerima mu kembali, sekarang selesaikan saja dulu seperti kata Ruby," ucap Dewi sedangkan Anto pergi ke kamarnya tanpa bicara.


Ruby masuk ke kamarnya, Adnan bermain menyapa Sean. Karena dirasa Ruby tidak mau menemuinya, akhirnya Adnan pamit pulang pada Dewi.


Selepas kepulangan Adnan, kedua orang tua dan Ruby berkumpul lagi di ruang tengah.


"Pikirkan baik-baik kalo kamu mau memutuskan bagaimana kelanjutan rumah tangga mu, jangan terburu emosi. Berpikirlah dengan kepala dingin," nasehat Anto.


"Kamu harus kuat, demi Sean yang masih membutuhkan mu," ucap Dewi.


"Iya, Mah, Pah, akan Ruby pikirkan dengan baik," ucap Ruby menahan tangis.


Dewi memeluknya dan mengelus punggung anaknya, berusaha menguatkan Ruby dan memberinya semangat.


Selesai makan malam Ruby masuk kamar menidurkan Sean. Disaat seperti ini, ingin rasanya Ruby bertemu dengan Rega, tapi Rega pasti sedang di rumahnya dan Ruby takut mengganggunya. Akhirnya ia pun terlelap bersama Sean.


Matanya masih mengantuk tapi Sean sudah bangun lebih awal dari biasanya. Ruby bangun dan mengganti popok Sean yang sudah penuh lalu mengajaknya bermain.


Sean di asuh oleh Mirna, karena Ruby akan membuatkan makanan untuk Sean dan juga membantu mamahnya memasak. Selesai menyiapkan makanan dan kebutuhan Sean, baru Ruby mandi dan bersiap ke kantor.


Rega sudah menunggunya di depan komplek, karena Ruby menyuruhnya untuk tidak menunggu di depan rumah.


"Hai, pagi sayang," saat Ruby sudah masuk ke mobilnya.


"Pagi juga," jawab Ruby.


"Sehari saja tidak bertemu aku sudah kangen sekali sama kamu," ucap Rega sambil mengemudikan setirnya.


"Kemaren kan ketemu paginya,"


"Ehehe iya ya, tapi buat aku kayak lama sekaki kita tak bertemu."


"Uhhuuhh lebay,"


"Bukan lebay sayang, beneran,"


"Iya deh, sudah sarapan belum?"


"Sarapan dulu, nih aku bawa bekal mau tidak?"


"Suapin," manja.


"Iya aku suapin, kamu nyetir saja yang benar,"


"Asyik,"


Ruby membuka kotak bekalnya dan menyuapkan nasi capcay dan goreng ayam pada Rega.


"Enak tidak?"


"Enak, super duper enak. Kalau kamu yang masak,"


"Capcaynya yang buatan aku,"


"Pantesan enaknya melebihi masakan restoran."


Sampai habis tak tersisa Ruby menyuapinya, lalu mengelap bibir Rega dengan tissu.


"Pintar, makannya sampai habis,"


"Pasti habis makannya di suapin orang tercinta,"


"Bisa saja,"


"Oh iya, Yank, besok sabtu kamu ada acara tidak?"


"Tidak ada, kenapa?"


"Bisa keluar tidak? Aku mau ajak kamu ke suatu tempat,"


"Mau pergi jam berapa?"


"Aku jemput jam delapan seperti biasa,"


"Okey,"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Besoknya.


Rega sudah menunggu Ruby di depan komplek sebelum jam delapan. Tidak lama Ruby datang dan masuk ke dalam mobilnya lalu mereka pergi.


"Hay, kita mau kemana sih? Jadi penasaran," tanya Ruby yang masih penasaran.


"Nanti kamu juga tahu," jawab Rega.


"Ih sebal main rahasiaan,"


"Bukan rahasia dong kan sekarang kamu juga bakal tahu,"


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, sampai lah di sebuah rumah yang sederhana tapi asri karena banyak pepohonan di kanan kirinya.


"Rumah siapa ini?" tanya Ruby yang semakin heran.


"Rumah paman ku,"


Keduanya turun dari mobil dan di sambut oleh paman dan bibinya Rega di depan pintu.


NEXT >>>>>>>>


LIKE COMMENT & VOTE