
Walaupun langit berwarna hitam gelap, namun tetap indah dihiasi bintang yang berkilauan. Begitu pula dengan Rega dan Ruby walau permasalahan rumah tangga mereka amat lah rumit, namun mereka menciptakan keindahan mereka sendiri walapun dengan cara yang salah.
Suasana di apartement hening dan sepi, dua pasang mata sedang beradu saling menyatakan perasaan mereka tanpa bicara hanya lewat mata dan hati mereka.
Kedua tangan menangkup wajah Ruby lalu di dekatkannya dan menciumi setiap bagian dari wajah itu. Betapa Rega mencintai wanita yang kini sedang bersamanya, menutup mata pada keadaan yang sebenarnya salah.
“Ga, aku harus pulang,” masih saling bertatapan.
Tangan Ruby mengusap-usap ujung bibir Rega yang basah bekas ciuman tadi.
“Aku ada sesuatu buat kamu,” ucap Rega sambil mengelus kening Ruby.
“Apa? Jangan yang aneh-aneh ya,”
“Tutup mata dulu,”
Ruby menutup matanya. Rega bergerak merogoh tasnya dan mengambil sebuah kotak berisi gelang permata. Rega meraih tangan Ruby mencium punggung tangannya lalu memakaikan gelang itu di tangan Ruby yang masih menutup mata.
“Sekarang buka mata mu,”
Ruby terpana melihat gelang yang kini ada di pergelangan tangannya.
“Ga, ini buat aku? Tapi ini kayaknya barang mahal,”
“Iya, ssstttt, jangan sebut mahal tidaknya ini bentuk perasaan ku sama kamu,”
“Ga, aku tidak pantas menerima gelang ini, ini terlalu mahal dan berharga,” tolak Ruby.
“Kamu sangat pantas mendapatkan ini, please jangan di tolak! Ini sangat berharga karena kamu seseorang yang sangat berharga juga untuk ku,” memohon.
Ruby tampak berpikir sejenak.
“Menurut mu aku pantas memakainya?" Rega mengangguk dan Ruby tersenyum. " Terimakasih. Aku akan menjaga gelang ini." sambungnya lagi.
“Begitu saja?” Rega menekankan kata-katanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ruby.
Ruby terdiam dan teringat saat Nita bercerita tentang giwang yang diberikan Rama, Ruby jadi bergidik geli mengingatnya.
“Hey,” seru Rega menunjuk pipi dengan telunjuknya dan senyuman nakalnya.
Cup
Ruby mencium pipi Rega lalu tertunduk malu.
Rega balik mencium bibir Ruby lagi, menyusuri isi mulut Ruby tanpa sisa. Ciuman itu semakin dalam dan semakin bergairah. Ruby mendorongnya.
“Ga, aku harus pulang,” sedikit kesal.
“Iya, iya ayok kita pulang,” menyerah.
Sepanjang jalan menuju rumah Ruby, Rega terus menggenggam tangannya seakan tidak mau lepas sampai di depan rumahnya.
“Aku masuk dulu, ucap Ruby menggoyangkan tangannya yang sedari tadi tidak lepas dalam genggaman Rega.
“Aku tidak rela melepaskan kamu,”
“Ga, ku mohon! Sean pasti sudah tidur,”
Dan lagi mereka berciuman dalam mobil, seperti dunia ini milik mereka dan yang lain hanya singgah.
“Istirahat, jangan bobok malem-malem, besok aku jemput ya,” ucap Rega sambil mengusap bibir Ruby.
“Kamu juga hati-hati, jangan ngebut,”
“Iya sayang, love you,” mengecup kening Ruby,
Ruby membuka pintu mobil dan masuk ke dalam rumah.
Orang tua Ruby sedang berada di ruang tengah, Ruby mencium tangan orang tuanya bergantian. Ternyata mereka sudah pulang dari rumah saudaranya. Tatapan mereka sangat serius ketika Ruby datang.
“Tadinya juga kita tidak akan menginap tapi tante mu memaksa kita harus menginap di sana,” ucap Dewi mamahnya Ruby.
“Aku lihat Sean dulu ya,” pamit Ruby.
“Sean sudah tidur tadi sama Mirna,” ucap Dewi.
“Duduk dulu papah sama mamah mau bicara,” ucap Anto papahnya Ruby.
“Iya, Pah, ada apa?”
“Ada masalah apa kamu dengan suami mu?” tanya Anto serius pada anak semata wayangnya.
“Hanya masalah kecil, Pah. Tapi Ruby ingin menenangkan diri dulu di sini, bolehkan, Pah?”
“Boleh saja, tapi tetap harus ada penyelesaian masalah kamu, Nak. Jangan di biarkan berlarut,” ucap Anto menasehati.
“Iya, Pah,” Ruby hanya menunduk dihadapan orang tuanya.
“Masalah kecil kalau dibiarkan tanpa diselesaikan, masalah itu akan membesar. Papah mengerti kalau kamu ingin menenangkan diri, tapi kamu harus pikirkan masa depan rumah tangga mu kedepannya,” ucap Anto memberikan nasehat.
“Ya sudah, makan dulu terus istirahat ya,” ucap Dewi sambil mengusap punggung anaknya.
“Ruby sudah makan, Mah. Ruby masuk kamar dulu ya,”
Ruby masuk ke kamarnya, Sean sudah tertidur pulas, diciuminya wajah Sean dan setelah puas ia beranjak ke kamar mandi.
Selesai membersihkan diri Ruby keluar dari kamar mandi dan di dapati Dewi sudah ada di kamarnya. Ruby mengeringkan rambutnya yang masih basah di depan cermin.
"Sebenarnya ada apa, Nak?" tanya Dewi yang masih penasaran dengan masalah yang sedang menimpa anaknya.
Ruby tak menjawab apa-apa, ia memeluk mamanya sangat erat. Ruby tak ingin membuat orang tuanya bersedih juga karena masalah rumah tangganya. Mungkin untuk saat ini Ruby tidak menceritakan dulu pada mamanya.
"Mah, maafkan Ruby kalau Ruby punya salah sama mamah dan papah. Ruby hanya ingin menenangkan diri sebentar saja di sini. Ruby akan menyelesaikan masalah Ruby secepatnya dengan kepala dingin. Sekarang Ruby masih kecewa dan sangat marah pada Mas Adnan." jelasnya.
"Jangan berlarut-larut ya sayang. Kasihan Sean dan juga tidak baik menyimpan masalah terlalu lama." Dewi sangat mengerti suasana hati anaknya. Dewi menepuk punggung Ruby lalu melepaskan pelukannya. "Ya sudah. Kamu istirahat ya." lalu Dewi keluar kamar Ruby.
Kejadian di apartemen tadi membuatnya terus memikirkan Rega. Rasanya masalah rumah tangganya sedikit terlupakan karena Rega yang selalu ada saat Ruby merasa bersedih.
"Rega selalu membuatku nyaman dan damai jika bersamanya. Apa yang harus aku lakukan? Aku semakin tidak bisa menjauh darinya. Kesalahan yang manis dan aku sudah semakin jauh melangkah. Tuhan ampuni aku." gumamnya dalam hati.
Gelang pemberian Rega ia perhatikan terus sambil mengingat bagaimana Rega memperlakukannya dengan penuh cinta. Membuat Ruby jadi tersenyum mengingatnya.
"Apa bedanya aku sama Tami kalau begini. Aku harus bagaimana? Aku tidak dapat menahan perasaan ku. Aku tenggelam dalam dosa yang tidak dapat aku hentikan." gumamnya lagi.
Tetapi ketika ia melihat Sean yang tertidur pulas, Ruby merasa sangat bersalah. Ada sisi dimana Ruby harus mempertahankan rumah tangganya bersama Adnan. Walau bagaimanapun Adnan adalah suami dan ayah dari anaknya.
Ruby teringat kembali bagaimana ia melihat pesan mesra Adnan bersama Tami. Sangat menyakitkan. Air matanya menetes lagi mengingat kejadian itu.
Ponsel Ruby berdering ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Ruby “Halo,”
Terdengar seorang wanita yang menjawab di seberang sana, Ruby pernah mendengar suara wanita itu, dan itu adalah Tami.
Tami “Halo, Kak Ruby? Ini Tami.”
Ruby “Iya,”
Tami “Besok, bisa kita bertemu?”
NEXT >>>>>>>>>>
like comment vote dan bintang 5 nya yaa
trimakasih... ❣️