
Zzzzz..... Zzzzzz.....
"Jiahh, malah ngorok. Orang lagi curhat juga," memukul lengan adiknya pelan.
Rega merebahkan lagi tubuhnya mencari kenyamanan di kasur yang hanya cukup untuk satu orang itu. Pandangannya lurus memandangi langit-langit kamar, ingatannya tentang Ruby pun berputar kembali dalam memorinya.
"Ruby, aku sangat merindukan mu."
Matanya terpejam dan ikut terlelap bersama adiknya, Reyhan, yang sudah lebih dulu mengarungi mimpi.
Langkah jarum jam sudah berada di angka tujuh. Kedua kakak adik itu nampaknya sudah kesiangan untuk memulai aktivitas hari ini.
"Rey, Rey, bangun kita kesiangan udah jam tujuh," teriak Rega membangunkan Reyhan.
Zzzzzzz...... Zzzzzzzz......
"Aahh dia kebo banget. Bodo ah aku mandi saja," bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Saat sudah keluar dari kamar mandi pun Reyhan belum juga bangun dari tidurnya. Rega menggoyang-goyangkan badan Reyhan supaya dia bangun.
"REYHAN ADIPUTRA KAU DIPECAT," teriak Rega dengan senyum kecil di bibirnya.
"Jangan, jangan bos. Jangan pecat saya, saya masih punya banyak cicilan" langsung terduduk dan membuka matanya.
Rega tertawa melihat tingkah adiknya.
"Susah banget di banguninnya, dasar kebo," omel Rega.
"Waduh jam delapan kurang, aku harus cepat mandi," sahut Reyhan dan langsung berlari ke kamar mandi.
Tak lama Reyhan sudah keluar lagi dari kamar mandi. Rupanya mandi super kilat memang sudah biasa ia lakukan karena keseringan kesiangan. Secepat kilat juga ia memasukkan laptopnya ke dalam tas.
"Aku pinjam mobil mu. Aku kesini naik pesawat, jadi nggak bawa kendaraan. Pake kereta katanya ada perbaikan jalur, kemarin ada kecelakaan kereta. Biar kakak antar kamu ke kantor," pinta Rega.
Reyhan melemparkan kunci mobil ke kakaknya.
"Pakai saja. Aku pakai motor." Mengambil gelas di isi air lalu diminumnya.
"Rey, duluan." Langsung menghilang dibalik pintu.
Rega geleng kepala menyaksikan perilaku adik sematawayangnya. Rega pun menyusul adiknya keluar dan mengendarai mobil milik Reyhan.
Rega terus menyusuri jalan hingga di sebuah persimpangan jalan saat lampu merah menyala, ia melihat seseorang yang mirip sekali dengan Ruby. Beberapa kali Rega mengedipkan matanya, tapi itu memang nyata. Namun ketika ingin memastikan untuk terakhir kalinya lampu hijau menyala, klakson mobil di belakang menyadarkannya. Ruby sudah menghilang dengan sepeda motor yang membawanya.
"Aish kemana tadi ya? Kenapa mirip sekali dengan Ruby? Mungkin karena aku sangat merindukannya, jadi timbul halusinasi," gumamnya.
Rega melanjutkan perjalanannya ke hotel tempat acara kantornya di gelar.
Di Parkiran Kantor Paris dan Ruby baru saja sampai.
Ruby turun dari motor lalu membuka helm yang menutupi kepalanya.
"Kakak masuk duluan ya," sambil menyerahkan helm yang tadi ia pakai.
"Iya, Kak," jawab Paris sambil menggantungkan helem ke kaca spion.
"Sama siapa, Bro? Tumbenan bawa cewek," seru Reyhan yang baru saja tiba ketika meliht punggung wanita yang meninggalkan Paris di parkiran.
"Itu kakak ku. Yang kemarin kalian bicarakan," jawab Paris.
"Kirain si Prita inceran mu," ledek Reyhan.
"Bukan," decak Paris sedikit kesal.
Mereka pun masuk ke dalam kantor bersama.
Ruby kepikiran apa yang dibicarakan Nita dan Dina bahwa kantornya sedang menggelar acara di kota ini. Sudah pasti Rega pun ikut serta di acara itu.
"Nita bilang lagi ada acara kantor, berarti Rega juga ada di kota ini." Jantung Ruby terasa memompa begitu kencang seolah-olah ingin melompat dari tempat. "Menyebut namanya saja aku jadi degdegan." Melanjutkan kembali pekerjaannya.
Namun kenangan tentang Rega mendominasi pikirannya saat itu, sampai Ruby tidak bisa fokus bekerja.
"Apakabar Rega ya? Apa dia baik-baik saja?" Batin Ruby tak terasa air matanya jatuh menetes.
Berkat kecantikan dan keramahannya, banyak karyawan lain yang menyukai Ruby. Tapi banyak yang suka bukan berarti semuanya menyukainya. Ada segelintir orang yang iri karena semenjak Ruby menjadi karyawan baru banyak yang memperhatikannya.
"Kalian tahu nggak karyawan baru di bagian keuangan?" ucap salah seorang karyawan bernama Nadia.
"Iya tahu, dia cantik banget anjay, nggak kelihatan kalo dia itu janda dan udah punya anak," ucap karyawan yang lainnya bernama Anggun.
"Tahu dari mana kalo dia itu janda? Karena ada dia, kita nggak jadi pusat perhatian lagi di kantor ini. Kebanyakan pada merhatiin dia terus. Padahal ternyata dia itu janda, haha" ucap Nadia lagi.
"Ya dari bagian personalia lah. Tadi aja biasanya aku di ajakin makan siang sama Gilang. Tadi nggak, malah dia cuek sama aku," keluh Anggun.
"Thalia, Reyhan datang tuh," seru Anggun sambil memicingkan matanya ke arah Reyhan.
Thalia adalah wanita yang pernah di tolak cintanya oleh Reyhan. Sampai sekarang Thalia belum bisa berpaling ke lain hati.
Thalia menunggu dan berharap Reyhan menghampirinya, tapi ternyata Reyhan hanya lewat saja di depannya tanpa menyapa sedikit pun.
Garis kecewa terlihat jelas di wajah Thalia, saat Reyhan tak melihatnya sedikit pun.
"Wah cuman lewat doang," sahut Anggun.
"Pasti ini gara-gara si jambang itu," timpal Nadia.
"Jambang siapa, Nad?" tanya Anggun mengerutkan dahi.
"Janda kembang, Sist," jelas Nadia.
"Yaelah pake disingkat segala," Anggun menepuk jidatnya.
Dan ketidaksukaan mereka semakin bertambah ketika jam pulang kantor.
Paris ternyata janjian pulang bersama Prita gadis yang sudah lama ia taksir.
"Aku minta tolong siapa ya buat anterin Kak Ruby? Aaahh minta tolong Reyhan aja deh, kayaknya lebih aman sama dia," ucap Paris berbicara sendiri.
Paris menghampiri Reyhan yang sedang memanaskan mesin motornya.
"Rey, aku mau minta tolong. Bisa nggak anterin kakak ku pulang. Aku ada janji sama Prita. Tolongin lah sekali ini saja,!!" mengapitkan kedua tangannya memohon pada Reyhan.
"Kakak mu?"
"Iya, Kak Ruby. Dia masih baru di daerah sini. Aku khawatir kalo nyuruh dia pake taxi,"
"Emang dia mau di anterin pake motor? Katanya orangnya cantik. Biasanya orang cantik nggak mau naik motor takut luntur dempulnya," ucap Reyhan tidak yakin.
"Dia mau kok. Biasa sama aku pake motor,"
"Oke kalo gitu,"
"Thanks, Bro,"
Akhirnya Ruby dan Prita keluar dari kantor dan menghampiri mereka.
"Kak, kenalkan ini Reyhan teman ku," Paris mengenalkan Reyhan yang ada di sampingnya.
Ruby dan Reyhan saling bertemu pandang dan tak berkedip sedikit pun.
"Malah lihat-lihatan. Kak pulangnya sama Reyhan dulu ya. Aku ada urusan dulu sama Prita, hehe," ucap Paris yang membuat pipi Prita merona.
"Orang ini mirip sekali dengan Rega. Wajahnya, perawakannya sangat mirip," batin Ruby.
"Aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya?" Batin Reyhan.
"Woy, udah, udah lihat-lihatanya. Kayak di sinetron aja. Kak, gapapa ya pulangnya sama Reyhan dulu," ucap Paris mengulang kalimatnya.
"Eh takut ngerepotin biar kakak pulang naik taxi aja," tolak Ruby.
"Nggak, kalo naik taxi aku nggak ijinin. Reyhan udah biasa di repotin kok, Kak." Memaksa.
"Nggak ngerepotin kok, biar aku antar sampai rumah," ucap Reyhan sopan.
"Oke, Bro. Titip kakak ku ya. Awas jangan main mata terus," ejek Paris sambil menyalakan motornya dan langsung pergi bersama Prita.
Reyhan menyerahkan helm untuk Ruby dan naik ke motornya.
"Maaf ya jadi ngerepotin," ucap Ruby tidak enak.
"Nggak kok, santai aja. Tapi pake motor gapapa ya? Mobil ku lagi di pake kakak ku," ucap Reyhan.
"Nggak apa pake motor juga yang penting sampai," balas Ruby.
Pandangan tidak suka dari kejauhan tidak di sadari oleh mereka. Thalia melihat Reyhan membonceng Ruby keluar parkiran.
"Sialan tuh janda. Aku saja di tolak sama Reyhan. Tapi si janda itu terang-terangan jalan sama Reyhan. Aarrgghh,,, aku harus melakukan sesuatu," Thalia geram.
NEXT >>>>>>
hay semua.... 😍😍😍
jangan lupa likovot nya yaa.... 🤗🤗🤗