
"Yank, semenjak suami kamu tinggal di rumah orang tua mu, kita jadi susah untuk bertemu," ucap Rega sambil terus memainkan rambut Ruby yang kini tengah bersandar di dadanya.
"Aku yang menyuruhnya untuk tinggal bersama ku," jawab Ruby.
"Kenapa? Dia sudah mengkhianati mu dan sekarang kamu kasih dia kesempatan?"
"Iya,"
"Kenapa? Apa kamu tidak percaya sama aku? Aku bilang aku akan menikahi mu, aku serius sama kamu,"
"Yank, apa jadinya kalo kita benar menikah? Aku tetap di duakan kan? Kamu tidak mungkin menceraikan dia dan aku tidak mau sampai rumah tangga mu hancur karena aku,"
"Kamu tidak tahu aku hampir gila karena tidak bisa ketemu sama kamu? Aku sayang kamu melebihi apapun, melebihi istri ku,"
Ruby membenarkan duduknya menjadi tegap yang asalnya bersandar. Rega mengikutinya.
Ruby menangkup wajah Rega mengelus pipinya dan menatapnya lekat.
"Aku sayang sama kamu, Yank. Makanya aku tidak mau rumah tangga mu hancur. Sayangi dia seperti kamu menyayangi ku," air matanya menetes.
Rega juga melakukan yang sama, menangkup wajah Ruby dengan kedua tangannya.
"Aku tidak bisa mencintai orang lain selain kamu, jangan paksa aku,"
Keduanya saling berpelukan. Sangat lama dan erat seakan tak mau terpisahkan.
"Suami mu kemana? Kamu bisa keluar,"
"Bilangnya sih mau ke rumah saudaranya yang di luar kota baru pulang lusa," jawab Ruby melepaskan pelukannya lalu duduk kembali di sebelah Rega.
Sudah satu bulan mereka tidak bisa bertemu lama-lama karena Adnan mengantar jemput Ruby bekerja dan tidak ada celah bagi mereka untuk bertemu.
Baru sekarang ini karena Adnan keluar kota mereka bisa bertemu dan meluapkan rasa rindunya.
"Baguslah, aku kangen banget sama kamu." Mengecup pipi Ruby.
Ruby menoleh dan tersenyum. Rega mencium bibirnya sudah lama sekali ia tak merasakan manis bibir kekasihnya itu.
Tangan Rega sudah menjalar menjelajahi tubuh yang selalu membuatnya bergairah apabila ia berdekatan. Sampai di dua gundukan depan dada Ruby yang sedari tadi sudah sangat menggodanya dan ingin sekali ia jamah.
Satu demi satu kancing dilepaskannya agar tidak menghalangi aksinya yang akan lebih jauh dan lebih agresif.
Mendengarnya membuat Rega semakin menjadi dan semakin liar.
Dan bersatunya dua orang insan dalam ikatan terlarang pun terjadi lagi. Seolah tak sadar bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan.
Sampai keduanya mencapai kenikmatan dunia, kenikmatan puncak bercinta dalam dirinya masing-masing. Rega mencium puncak kepala Ruby, lalu merebahkan diri di sampingnya.
"Mau mandi?" tanya Ruby yang kini sudah memiringkan tubuhnya menghadap Rega.
"Aku maunya dimandikan kamu," senyuman nakal Rega sambil mencubit hidung Ruby.
Ruby mengangguk.
Hari yang tidak pernah terlupakan oleh Rega, Ruby sangat memanjakannya. Bercinta, mandi bersama, dan di masakan makanan kesukaannya. Sungguh Ruby sudah membuatnya sangat bahagia kali ini.
Tapi ada satu lagi yang membuat Rega tidak akan pernah melupakan hari itu.
Rega duduk di ujung tempat tidur, dan Ruby menyisir rambutnya. Tangan Rega melingkar di pinggang Ruby.
"Sayang, aku mencintai mu," ucap Rega.
"Aku juga sangat mencintai mu," jawab Ruby.
"Aku tidak mau hari ini berakhir. Tidak tau kenapa aku tidak mau melepaskan mu kali ini,"
"Mungkin hanya perasaan saja, karena kita baru bertemu lagi setelah lama tidak bertemu,"
"Jangan pergi dari ku, aku tidak sanggup jauh dari mu." Ruby tersenyum lalu mencium keningnya.
Perasaan Rega sangat malas dan tidak mau mengantarkan Ruby pulang. Sudah beberapa kali Rega memutarkan lagi mobilnya ke arah lain hanya untuk menahan Ruby.
"Yank, kalau kita ditakdirkan untuk bersama pasti kita akan bersama dan tak terpisahkan," ucap Ruby sambil mengelus tangan Rega yang sedari tidak melepaskannya.
"Berat banget, Yank." Memeluk Ruby.
"Yank, aku ada sesuatu buat kamu di apartemen. Aku simpan di lemari baju kamu di atas baju kemeja abu-abu," ucap Ruby melepaskan pelukannya dan membelai lembut pipi Rega.
"Kamu akan tahu kalo kamu ke apartemen. Jadi sekarang biarkan aku pulang, karena pasti Sean sudah menunggu ku,"
"Aku jadi penasaran, ya sudah aku langsung balik ke apartemen. Mimpi yang indah ya sayang, istirahat jangan bobok malam-malam," mencium kening Ruby.
"Iya kamu juga hati-hati,"
Lalu mereka berciuman sebelum berpisah. Ruby keluar dari mobil dan berjalan ke rumah orang tuanya. Rega segera melajukan mobilnya menuju apartemen.
Sambil terus berjalan Ruby menangis, ia pun sangat berat harus melepaskan dan berpisah dengan Rega. Tapi semua itu Ruby lakukan demi keutuhan rumah tangganya dan juga Rega. Sampai rumah Ruby langsung masuk ke kamarnya dan menangis.
Rega sampai di apartemen, ia langsung mencari lemari dan sesuatu yang di katakan Ruby tadi. Rega menemukan secarik kertas yang isinya adalah tulisan Ruby untuknya.
Rega sayang...
Aku sangat menyayangi mu...
Hari-hari bersama mu begitu indah...
Bersama mu hari-hari ku menjadi berwarna...
Bersama mu juga aku merasa di cintai, di sayangi, di mengerti, dan merasakan indahnya cinta.
Aku sangat ingin bersama mu.
Tapi pernikahan kita menjadi penghalang terbesar kita untuk bersama, dan aku juga tidak mau menjadi perusak kehidupan rumah tangga mu.
Sayangi lah dia seperti kamu menyayangi ku.
Aku yakin dia akan berubah dengan kasih sayang mu.
Ini adalah keputusan ku.
Kita akhiri semua ini, kita akhiri dengan baik.
Terimakasih sudah menjadi tempat ku bersandar saat sedih dan duka ku.
Terimakasih banyak.
Aku menyayangi mu melebihi apapun.
Dan aku melakukan ini karena aku sangat mencintai mu.
Setelah kamu membaca ini, mungkin aku sudah memblokir semua kontak mu.
Hiduplah dengan baik, menjadi suami yang baik dan ayah terbaik untuk anak-anak mu.
Aku mencintai mu, sangat mencintai mu.
Ruby Fadila.
Rega meremas kertas yang sudah selesai di bacanya dan melemparnya ke sembarang arah.
"Aaaaaaarrrrggghhhh,"
Air matanya menetes tak tertahankan, hatinya sangat hancur mengetahui Ruby meninggalkannya. Rega mengambik kunci mobilnya dan pergi dari apartemen.
Ruby pun sama, hatinya hancur harus mengakhiri semua bersama Rega yang selalu ada saat ia bersedih. Semua kenangan bersama Rega masih jelas telihat dalam bayangannya. Kenangan manis yang terukir itu tidak berakhir bahagia.
Esoknya Ruby menjalaninya seperti biasa, hanya saja sekarang tidak ada pesan atau telepon dari Rega. Karena hari libur Ruby menyibukan dirinya mengurus Sean dan bermain dengan anak semata wayangnya.
Dari semenjak kepergiannya Adnan belum juga memberinya kabar. Pikiran negatif dan kecurigaannya ia tepis jauh karena tak ingin menjadi bahan pertengkaran nantinya.
Sorenya Ruby membantu Dewi memasak untuk makan malam. Sean sedang bermain bersama Marni di depan rumah.
Ponselnya terus berdering beberapa kali, Ruby melihat ponselnya ada panggilan masuk yang tak dikenal.
"Halo, iya benar Pak," Ruby berbicara dengan seseorang di ujung telepon.
"APA KECELAKAAN ??"
Ruby terkulai lemas jatuh kelantai, Dewi yang melihatnya panik tak karuan.
NEXT >>>>>>>>
like comment & vote