MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 50



“Dia kenapa sih? Apa dia lagi datang bulan ya? Ngambek terus sama aku,” gumam Rega setelah mematikan teleponnya karena Ruby membuatnya kesal.


Rega membereskan mejanya dan bersiap untuk pulang. Pekerjaannya sudah selesai untuk hari ini.


“Ga, bisa kita bicara sebentar?” pinta Riky saat Rega akan melangkahkan kakinya keluar.


Rega menghentikan langkahnya dan berbalik.


“Bisa,”


“Kita bicara di kafe dekat kantor saja sambil ngopi,” ajak Riky.


Keduanya keluar dari kantor bersamaan menuju kafe terdekat di daerah kantornya.


“Ga, kamu yakin dengan keputusan mu menceraikan Sely? Aku jadi merasa bersalah sudah membuat kalian berpisah,” ucap Riky ketika mereka sudah duduk di kafe.


“Aku sudah yakin. Lagi pula nggak ada perasaan apa-apa diantara aku dan Sely. Dua hari lagi sidang terakhir perceraiannya. Bukannya ini kesempatan bagus buat mu mendekatinya lagi dan juga bertemu dengan anak mu Clara,” jelas Rega.


“Maafkan aku kalo aku sudah membuat mu melakukan semua ini,” Riky merasa bersalah.


“Nggak perlu minta maaf, jalannya harus seperti ini,”


“Apa yang harus aku lakukan untuk mu, karena kamu sudah pengorbankan pernikahan mu?”


“Cukup jaga Sely dan Clara dengan baik, walopun orang tuanya belum bisa menerima mu. Berusahalah!”


“Iya itu pasti akan aku lakukan. Terimakasih untuk semuanya aku nggak akan sia-siakan mereka lagi,”


Rega tersenyum lega.


Persidangan terakhir pun tiba, Sely datang bersama mamanya terlihat tegar dan sepertinya ia sudah bisa menerima perceraiannya.


“Kamu rela ngelepasin Rega yang jelas-jelas memberikan kamu apa yang kamu mau?” tanya Wati pada anaknya.


“Sely yakin, Ma. Selama ini Sely hanya memanfaatkannya untuk kepentingan Sely tapi nggak pernah ada cinta diantara kami. Sely nggak mau Ma, hidup sama orang yang nggak cinta sama Sely,” jawab Sely.


“Terserah kamu saja. Asal kamu jangan kembali sama laki-laki miskin itu lagi,” ketus Wati.


Persidangan perceraian berjalan dengan lancar, Rega dan Sely resmi bercerai menurut hukum Negara.


“Mas Rega,” panggil Sely setelah selesai acara pesidangannya.


“Iya,”


“Aku ingin bicara sebentar,”


"Bicaralah,”


"Kita cari tempat untuk bicara,” ajak Sely.


Mereka berjalan menuju parkiran dan akhirnya masuk ke dalam mobil Rega.


“Apa yang akan kamu bicarakan?”


“Aku mau minta maaf atas sikap ku selama ini. Aku sadar sekarang, kenapa kamu sampai menjalin hubungan dengan Ruby semuanya karena aku nggak pernah benar-benar menjadi seorang istri untuk mu. Maafkan aku, Mas. Semoga kamu menemukan bahagia mu,” tutur Sely.


“Aku sudah memaafkan mu. Maafkan aku juga karena sudah mengkhianati sumpah pernikahan kita yang kamu sendiri tahu alasannya kenapa aku melakukan itu. Sekarang kita saling memaafkan saja dan melupakan yang sudah lalu. Semoga kamu juga menemukan kebahagiaan setelah ini,” ucap Rega.


“Iya, Mas. Aku ingin berubah dan menjalani hari yang baru. Terimakasih karena sudah sabar dengan sikap ku selama hampir empat tahun kita bersama,” ucap Sely.


“Sama-sama. Pertimbangkan niat baik Riky yang ingin bertanggung jawab sama kamu dan Clara. Tapi semua keputusan ada di kamu Sely. Kamu yang akan menjalaninya,” Saran Rega.


“Iya, Mas. Akan aku pikirkan. Sepertinya Mama sudah mencari ku. Aku pulang duluan,” Sely membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Rega.


Walaupun mereka sudah tidak ada hubungan lagi, tapi Sely pernah ada dalam hidupnya. Rega juga merasa bersalah karena sudah mengkhianatinya walaupun tidak pernah ada rasa cinta dalam pernikahan mereka.


Kunci mobil di putar dan gas di tancapnya keluar dari lahan parkir gedung pengadilan agama menuju apartemennya.


Esoknya Rega menemui Paman Abdul untuk mengutarakan maksudnya dan menceritakan siapa Ruby sebenarnya.


Paman Abdul sempat bingung dengan cerita Rega, tapi ia menyanggupi untuk melamarkan Ruby untuknya.


"Kapan kita akan datang kerumahnya?" tanya Paman Abdul.


"Besok Rega jemput lagi ke sini. Bawa Arina juga, tolong siapkan segala keperluan Arina juga ya, Bi," pinta Rega.


"Iya pasti Bibi siapkan,"


Rega kembali lagi ke apartemennya karena ia juga harus mempersiapkan penampilannya dan juga barang bawaan untuk Ruby. Cincin bertahtakan permata berwarna biru asli duapuluh lima karat yang dipilihnya untuk melamar Ruby sudah disiapkan.


Beberapa kali Rega melihat layar ponselnya berharap Ruby menghubunginya tapi tidak ada pemberitahuan dari Ruby. Hanya ada pemberitahuan grup chat dan pesan dari operator seluler.


"Kayaknya dia masih ngambek sama aku. Padahal aku hanya ingin melindunginya dari orang-orang yang berniat jahat padanya," gumam Rega sambil menatap layar ponselnya.


"Tapi begini lebih baik, biar dia ngerasain kangen sama aku. Sedikit hukuman buat dia udah jutekin aku," Tersenyum jahil.


Rega memijit nomor telepon Reyhan untuk meneleponnya.


Rega "Rey, Gimana keadaan kakak ipar mu?"


Rega "Ehh nih anak kecil malah ngeledekin kakaknya. Kwalat baru tahu rasa! Kalo dia nanyain kakak bilang aja nggak tahu. Kakak sengaja lagi ngerjain dia. Nanti biar kejutan pas kita kerumahnya."


Reyhan "Yaa baiklah. Orang jatuh cinta memang susah di pahami."


Esoknya Rega menjemput paman, bibi, dan juga Arina. Arina sangat senang karena diberitahu akan bertemu dengan Ruby atau yang dia tahu adalah ibunya.


Reyhan menjemput mereka di bandara dan mengantarkannya ke hotel untuk beristirahat lebih dulu sebelum menemui Ruby dan keluarganya.


"Mana pesanan ku?" tanya Rega pada Reyhan.


"Tenang bos ku. Adik mu ini sudah mempersiapkan semuanya." Membanggakan diri.


"Kerja bagus,"


Setelah beristirahat yang cukup, Rega dan yang lainnya bersiap. Satu buket besar bunga mawar putih sudah di siapkan Reyhan, tidak lupa oleh-oleh untuk Paman dan Bibi Ruby.


Rombongan keluarga Rega pun berangkat ke rumah kediaman keluarga Ruby.


Paman dan Bibi menyambutnya dengan ramah. Semua berkumpul di ruang tamu kecuali Ruby yang masih berada di dalam kamar. Sepertinya hanya Ruby yang tidak tahu bahwa Rega akan melamarnya hari ini.


Setelah mengutarakan maksudnya, Paman Edi menyuruh Paris memanggil Ruby. Karena bagaimanapun jawaban Ruby adalah yang paling penting saat ini


Deg.. Deg... Deg.... Deg....


Jantung Rega berdetak sangat cepat, terkahir kali mereka berkomunikasi waktu itu dalam keadaan tidak baik. Akan kah Ruby menerimanya?


"Ruby masih marah nggak ya sama aku? Datang bulannya udah selesai belum ya? Kalo masih bisa gawat nih. Bisa bisa aku ditolak mentah-mentah sekarang. Ruby tolong terima aku ya...." Gumam Rega dalam hati.


Paris tiba lebih dulu di susul Ruby di belakangnya, Rega menatapnya penuh harap bahkan saat Ruby menyalaminya pun jantungnya terasa sangat kencang dari biasanya. Arina berlari ke arah Ruby dan menempel dengannya.


Paman Edi menceritakan maksud kedatangan Rega dan keluarganya dan bertanya apakah Ruby akan menerim lamarannya atau tidak.


Jantung Rega semakin berdetak lebih cepat, menunggu jawaban dari Ruby.


"Jawaban ku....." Semua mata tertuju pada Ruby membuat Ruby gugup untuk meneruskan kalimatnya.


"IYA,"


"Alhamdulillah," serentak semuanya menjawab.


Rega tersenyum lega, dikeluarkannya cincin yang sudah ia persiapkan dan menyematkannya di jari manis Ruby tidak lupa juga satu buket besar bunga mawar yang dipersiapkan khusus untuk kekasih tercintanya.


Acara inti sudah selesai, kedua keluarga saling berbincang sambil menikmati makanan yang sudah disiapkan Bibi Lies. Arina bermain dengan Reyhan dan Paris, sedangkan dua orang yang sedang bahagia duduk berdua di kursi belakang rumah.


"Terimakasih sayang," mengecup kening Ruby.


Namun cubitan maut mendarat di perut Rega sampai membuatnya meringis kesakitan.


"Aaaawww awww,,,, sakit Yaank" ringisnya.


"Kemana aja nggak ada kabar? Aku di sini sedih nungguin kabar kamu." Ruby mendekap tangannya di depan dada.


"Aku kan siapin semua ini buat kamu,"


"Tapi kan nggak harus menghilang dan nggak ada kabar,"


"Iya, iya. Maafin aku. Tapi suka kan?"


"Iya suka sih." Akhirnya tersenyum.


Rega mendekap dan mengelus kepalanya.


"Coba kamu lihat bagian dalam cincin kamu," pintanya.


Ruby membuka cincinnya dan melihat bagian dalam cincin ada huruf R&R tertera di sana.


"Cincin itu khusus aku pesan untuk melamar kamu. Dan kenapa warnanya biru karena cincin itu melambangkan nama mu. Aku mencintai mu," mengecup kepala Ruby penuh cinta.


"Aku juga mencintai mu," balas Ruby.


"Minggu depan kita menikah."


Ruby menegakan badannya berbalik menghadap Rega dan menatap tajam kekasihnya.


NEXT >>>>>>>>>


like


comment


vote


maafkan kalo masih banyak typo bertebaran.


saranghae ❤️