
Ruby mengalami syok, ia tak mau bertemu dengan siapa pun. Sudah beberapa hari ini setelah video itu tersebar ia mengurung diri di dalam kamar. Bibi dan Paman menjadi khawatir, begitu pun dengan Paris dan Reyhan.
Rega baru saja datang karena harus mengurus perceraiannya dengan Sely lebih dulu.
"Bagaimana keadaannya?" tanyanya pada Reyhan di perjalanan ke rumah Ruby.
"Kak Ruby, mengurung diri terus di kamar," jawab Reyhan sambil terus fokus menyetir.
"Harusnya aku mengantisipasi ini sejak awal." Sesal Rega.
"Sudah lah jangan menyalahkan diri sendiri. Sekarang kita fokus dulu ke Kak Ruby." Bujuk Reyhan. "Aku sudah melaporkan pemilik akun yang menyebarkan videonya ke polisi. Semoga secepatnya kita tahu siapa yang sudah menyebarluaskannya." sambungnya lagi.
"Aku akan membawanya untuk sementara waktu. Ruby butuh tempat dan waktu untuk menenangkan diri, tapi bukan di sini," ucap Rega.
Reyhan memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah Paris.
"Om, Tante, ini Kak Rega, Kakak Reyhan." Reyhan memperkenalkan kakaknya.
Reyhan biasa menyebutnya dengan Om dan Tante.
Paman dan Bibi menyalami Rega dan juga Reyhan dengan ramah.
Mereka duduk dan berkumpul di ruang keluarga. Rupanya Bibi dan Paman sudah mengetahui maksud kedatangan Rega ke rumahnya.
"Paman dan Bibi sudah dengar cerita Nak Rega dari Ruby." Paman membetulkan duduknya. "Sebetulnya kami tidak membenarkan tindakan kalian yang berhubungan tapi masih punya ikatan pernikahan dengan pasangan kalian. Sekarang Ruby memang sudah bercerai, tapi Nak Rega masih mempunyai istri, tidak baik jika Nak Rega terus menemui Ruby." Sambung Paman.
"Saya juga sadar bahwa yang saya lakukan dengan Ruby itu salah walaupun kami punya alasan sendiri kenapa kami melakukannya. Sebelum saya datang ke sini, saya sudah membereskan permasalahan rumah tangga saya dengan istri." Rega mengambil nafas sebelum melanjutkan bicara.
"Dan sekarang saya tidak ada ikatan pernikahan lagi dengannya. Alasannya bukan karena Ruby, tapi dari semenjak kami menikah tidak pernah ada cinta diantara kami, makanya kami memutuskan untuk berpisah," tutur Rega panjang lebar.
"Kalau begitu adanya, Paman tidak akan cemas lagi dengan hubungan kalian. Melihat Ruby akhir-akhir ini sangat syok dengan menyebarnya video dirinya di sosial media. Paman dan Bibi sangat khawatir dengan keadaannya sekarang. Ruby murung terus dan tidak mau keluar kamar dan tidak nafsu makan." ucap Paman.
"Reyhan dan Paris sudah melaporkannya ke kantor polisi, Om. Jadi Om dan Tante nggak perlu khawatir lagi." jelas Reyhan disusul anggukan dari Paris.
"Apa boleh saya menemui Ruby?" tanya Rega sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Ruby segera.
Paman dan Bibi tersenyum.
"Tentu saja boleh, sebentar Bibi panggilkan," ucap Bibi kemudian berlalu pergi memanggil Ruby.
Tok.... tok.... tokk....
"Ruby, Ruby, Ruby," panggil Bibi tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar Ruby.
"Kok nggak jawab ya?" gumam Bibi.
Bibi Lies membuka pintu kamar Ruby yang ternyata tidak di kunci. Betapa terkejutnya ia, melihat Ruby tergeletak di lantai tidak sadarkan diri.
"Pak, Pak, Ruby Pak," teriak Bibi Lies memanggil suaminya panik.
Semua orang yang sedang berada di ruang keluarga, segera beranjak dan langsung menuju suara Bibi Lies berasal.
"Ruby, pingsan badannya lemas begini. Cepat, kita harus bawa dia ke rumah sakit," ucap Bibi Lies masih dalam posisi memangku kepala Ruby di pahanya.
Rega cepat mengangkat Ruby dan membawanya ke dalam mobil, Reyhan masuk dan menjalankan mobil. Di susul Paris, Paman dan Bibi dengan mobil lain.
"Bertahan lah!" Rega masih memangku Ruby dalam dekapannya, menggenggam dan mencium tangannya.
Sampai di rumah sakit Ruby langsung di tangani oleh dokter dan perawat yang bertugas.
Rega dan yang lainnya menunggu di luar dengan perasaan cemas.
"Keluarga Nyonya Ruby Fadila," panggil suster.
Paman, Bibi, dan juga Rega segera memenuhi panggilan itu.
"Bisa satu orang saja yang masuk," pinta suster yang tadi memanggil.
"Nak Rega saja yang masuk," ucap Paman kepada Rega.
Rega segera masuk bersama suster yang tadi menemui dokter yang menangani Ruby.
"Apa anda suaminya?" tanya dokter wanita yang menangani Ruby.
"Iya, Dok," sempat berpikir sebentar dan akhirnya Rega pun menjawabnya.
"Apa Nyonya Ruby mengalami stress belakangan ini?" tanya dokter lagi.
"Iya, Dok. Kemarin sempat ada sedikit masalah," jawab Rega.
"Baik kalo begitu, usahakan ia tidak banyak berpikir terlalu berat, dan juga hindari stress berlebih. Sepertinya karena syok daya tahan tubuhnya menurun. Saya sudah memberikan vitamin. Tapi Nyonya Ruby tetap harus di infus untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang akibat dehidrasi. Besok baru boleh pulang,," jelas dokter itu lalu pergi meninggalkan Rega dan Ruby.
Selang beberapa jam Ruby di pindahkan ke ruang perawatan tapi masih belum sadarkan diri.
"Kak, aku dan Paris harus ke kantor polisi. Barusan aku dapat kabar, polisi sudah mengetahui siapa pelaku penyebaran video itu," pamit Reyhan.
"Bagus klo gitu, hati-hati," jawab Rega.
"Aku juga harus temani Reyhan, Kak. Kalo ada apa-apa tolong kasih tahu aku," pamit Paris juga dijawab anggukan oleh Rega.
Bibi Lies masih duduk di samping Ruby, mengelus kepala Ruby seperti anaknya sendiri. Sedangkan Rega dan Paman menunggu di luar.
"Kenapa hidup mu begitu rumit dan sedih? Semoga secepatnya kamu menemukan kebahagiaan mu Ruby," gumam Bibi Lies.
Perlahan kedua mata Ruby terbuka, namun kepalanya masih terasa pusing. Belaian lembut di kepalanya, membuat Ruby teringat orang tuanya yang sudah tiada.
"Ruby, kamu sudah sadar? Kamu mau apa? Mau minum? Kenapa kamu menangis" tanya Bibi Lies melihat Ruby sudah sadar.
"Bibi nggak pernah merasa direpotkan. Ruby juga anak Bibi sama seperti Paris. Jangan pernah bilang seperti itu lagi karena sekarang orang tua mu adalah Paman dan Bibi di sini." ucap Bibi.
"Makasih ya Bi."
"Iya, Ruby. Ada seseorang yang sedang menunggu mu," ucap Bibi sambil tersenyum.
"Siapa?"
"Bibi panggilkan dulu ya,"
Ruby mengangguk, Bibi keluar kamar meninggalkannya dan kembali lagi bersama Paman dan Rega.
Ada binar bahagia di mata Ruby saat melihat Rega di sebelah Paman. Sekarang yang Ruby butuhkan adalah Rega, yang selalu membuatnya melupakan masalah hidupnya selama ini.
"Bibi dan Paman, pulang dulu ya. Sepertinya kalian butuh waktu untuk berdua." ucap Bibi lalu mengajak Paman juga untuk pergi meninggalkan Ruby dan Rega.
"Makasih, Paman , Bibi. Hati-hati di jalan," ucap Rega merasa di beri kesempatan untuk hanya berdua saja dengan Ruby.
Paman dan Bibi pamit untuk pulang dan keluar dari kamar Ruby.
Rega duduk di samping Ruby dan menyatukan jemarinya dengan tangan Ruby.
"Hay! Sudah lebih baik?" Rega memulai percakapan
Ruby mengangguk dan tersenyum.
"Kalo sudah lihat kamu, aku jauh lebih baik. Kenapa kamu lama sekali baru datang menemui ku? Nunggu aku ke rumah sakit dulu baru mau menemui ku?" kali ini Ruby berbicara dengan manja pada Rega.
"Ada yang harus aku selesaikan dulu sebelum menemui mu. Aku juga kan punya keinginan biar bisa sama-sama kamu terus," jawab Rega.
"Jadi urusan mu lebih penting daripada aku?" baru kali ini Rega merasa Ruby lebih manja padanya ini membuatnya senang bukan main.
"Kamu dan Arina penting banget buat aku." Mengecup pucuk kepala Ruby. "Sayang kamu tahu nggak kepanjangan dari PSBB?" tanya Rega ingin membuat Ruby tersenyum lagi.
"Kok malah main tebak-tebakan sih? Males ah,"
"Eh jawab dulu,"
"Pembatasan Sosial Bersekala Besar." jawab Ruby malas.
"Itu kan versinya pemerintah. Kalo versi aku PSBB itu adalah
Pengen Segera Berumahtangga Bersama kamu," mengecup punggung tangan Ruby dengan lembut.
Sontak saja membuat pipi Ruby memerah, dan tersenyum senang mendengarnya.
"Gombal, kamu ya,"
"Serius, Sayaaaang,"
"Aku maunya seribu rius,"
"Iya, gimana kamu aja deh satu juta rius juga boleh,"
🦋🦋🦋🦋🦋🦋
Di tempat lain.
Thalia menelepon Tami memberitahu bahwa polisi sudah memberikan surat panggilan untuknya.
Thalia "Kak, gawat. Polisi udah tahu kalo kita yang nyebarin video itu," (Panik)
Tami "Kok bisa? Kita sembunyi aja keluar negri. Besok kakak urus tiketnya, kamu kesini sekarang, Dek," (Panik juga)
Thalia "Nggak tahu, Kak. Oke, Kak. Sekarang aku berangkat,"
Thalia menutup teleponnya dan segera membereskan baju-bajunya ke dalam koper.
NEXT >>>>>>>>>>>>>
MAAFKAN UP NYA TELAT
TETAP JAGA KESEHATAN DAN LAKUKAN SOCIAL DISTANCING YA KAKAK2 SEMUA.
DIRUMAH AJA.
DAN BACA NOVEL AJA YA KAK...
KALO KELUAR RUMAH JANGAN LUPA PAKAI MASKER DAN RAJIN CUCI TANGAN.
SEMOGA PANDEMI INI SEGERA BERAKHIR.
😁😁😁🤗🤗🤗
LIKE
COMMENT
VOTE
⭐⭐⭐⭐⭐
FOLLOW