MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 13



kakak pembaca semua,,, author tulis cerita ini hanya untuk di ambil hikmah dr cerita ini. Negatifnya mohon untuk tidak di tiru. Dan yang positifnya semoga menjadi manfaat bagi kakak pembaca semua... terimakasih.. ❣️


selamat membaca...


❣️❣️❣️❣️❣️


Ruby membuka matanya, ia mengedipkan matanya beberapa kali karena melihat Rega yang kini sedang menatapnya. Rega tertawa melihat tingkahnya.


“Sayang, kamu sudah bangun? Kamu tidak mimpi kok,” Rega tergelak.


Ruby melihat tangannya yang mendekap tangan Rega lalu langsung melepaskannya, dilihatnya ia sedang berada dalam kamar. Ruby membuka selimut memeriksa semua bajunya masih ia kenakan dan bernafas lega.


“Kenapa?” Rega bangkit lalu berjalan keluar kamar.


Ruby mengikutinya dari belakang.


“Ga, kita tidak melakukan itu kan?” tanya Ruby serius.


“Menurut, mu?” jawabnya acuh tapi dalam hatinya sungguh sekarang tidak dapat menahannya.


“Tidak,”


“Ya sudah,” masih tetap acuh.


Ruby duduk di sofa dan mencari ponselnya, ada banyak pesan dan panggilan tak terjawab.


“Ya Tuhan, mamah telepon terus,”


Ruby menelepon mamahnya.


Ruby “Halo, Mah. Maaf hp Ruby tidak dibunyikan suaranya."


Dewi “Kamu dimana? Kenapa belum pulang? Lembur atau kemana dulu?” (cemas)


Ruby “Iya, Ruby lembur. Maaf buat mamah khawatir.”


Dewi “Oh ya sudah, cepat selesaikan pekerjaan mu dan cepat pulang,”


Ruby “Iya, Mah.”


Mengakhiri panggilannya. Lalu Ruby membuka BBMnya.


15.30 Rega : Yank pulangnya aku jemput ya. 🤗


16.45 Rega : Yank aku di depan kantor kamu.


16.50 Rega : Sayang?


17.00 Rega : Sayang?


17.20 Rega : Sayang kamu kemana? Kenapa di kantor mu tidak ada? 😢


18.00 Rega : Kamu dimana? Jangan tinggalin aku. 😭


Ruby tertawa melihat deretan pesan BBM dari Rega.


“Kamu kenapa? Tadi seperti yang sedih sekali, sekarang ketawa kayak dapat undian,” tanya Rega heran.


“Jadi tadi ada yang mencari aku?”


“Iya, kamu di telepon tidak di angkat di BBM tidak bales-bales juga ya aku cari,”


“Sampai limapuluh panggilan, sampai secemas itu? Haha”


“Jadi kamu ngeledek nih ceritanya,” Rega menggelitik pinggang Ruby sampai menggeliat-geliat kegelian.


“Ampun, ampun, ampun geli, Yank,”


Rega berhenti setelah melihat Ruby yang sudah mulai lemas kegelian digelitinya.


“Udah jam delapan kamu mau pulang kapan?” melihat jam tangannya.


“Aku masih mau disini, bolehkan? Kalo kamu mau pulang tidak apa pulang saja,”


“Aku temani kamu di sini,”


“Nanti istri mu nyari kamu,”


“Tidak akan. Aku udah bilang tidak akan pulang,”


“Hmmmm,”


“Makan yuk, aku tadi udah beli makanan keburu dingin nggak enak." ajak Rega karena ia sendiri sudah merasa lapar


“Mmmm, iya aku juga sudah lapar,”


Bersama Rega, Ruby merasa nyaman dan bisa melupakan semua masalahnya. Dan juga Rega yang sangat mencintainya membuatnya merasa dibutuhkan dan di perhatikan setelah sekian lama kesepian dalam hari-harinya.


Begitu pun sebaliknya bersama Ruby, Rega merasa lebih leluasa dan lebih bebas meluapkan isi hatinya. Merasa menjadi seorang suami yang selama ini tidak ia rasakan bersama Selly. Karena baginya Selly seperti hanya menjadikannya mesin uang dan pemenuh gaya kelas atasnya.


Rega membuka tirai, pemandangan malam kota dan kelap-kelip lampu berkilauan menjadi lebih indah dengan seseorang yang spesial bersamanya. Rega menikmati pemandangan itu bersama Ruby dan memeluknya dari belakang.


“Pemandangan di atas sini bagus sekali. Bisa lihat pemandangan kota dimalam hari. Aku suka sekali melihatnya,” ucap Ruby.


“Pemandangannya lebih indah karena aku melihatnya sama kamu,”


“Gombal,”


“Ih bener, masa gombal. Dari hati yang paling dalam,”


“Uuuhhh dasar gombalnya bertubi-tubi,” Ruby membalikan tubuhnya menghadap Rega dan mencubit kedua pipinya.


“I love you,”


Ruby hanya tersenyum.


“Kenapa setiap aku bilang cinta kamu tidak pernah jawab?”


Deg


“Apa penting sebuah jawaban? Selama ini yang kita lakukan tidak cukup sebagai jawaban?”


“Penting buat aku. Setidaknya aku tahu perasaan mu sama aku. Ah ternyata aku sudah salah, ternyata kamu tidak merasakan yang sema dengan ku,”


Rega kesal lalu duduk di sofa. Ruby menarik nafasnya dan mendekati Rega yang tampak marah padanya.


Ruby menangkup wajah Rega dengan kedua tangannya membuat Rega menengadah dan mereka saling bertatapan.


“I love you too so much,” ucap Ruby.


Rega berdiri dan langsung mencium bibir Ruby dan akhirnya mereka berciuman sangat lama saling meluapkan perasaan mereka dengan ciuman yang semakin lama semakin dalam dan bergairah.


Malam yang indah itu menjadi saksi cinta mereka sekaligus menjadi saksi kesalahan terbesar yang mereka lakukan.


Tangan Rega menyusuri lekuk tubuh Ruby, bibir itu kini menjalar ke bawah menciumi leher Ruby yang lenjang tangannya beralih ke gunung kembar yang lumayan berisi milik Ruby. Satu per satu kancing dilepasnya, ditidurkannya Ruby di sofa dan ia berada di atasnya. Puas mencium leher ia turun lagi ke area sensitif yang kini sedang di remasnya. Dicium dan dihisapnya secara bergantian.


“Aaaaahhhhhh,” desahan keluar dari mulut Ruby yang menikmati setiap sentuhan Rega.


Rega semakin bersemangat mendengarnya semakin bergairan dan naluri lelakinya kini sudah semakin membara.


Kini tangan Rega menyusuri paha mulus itu, Rega mencium bibir Ruby lagi yang sedari tadi mengeluarkan desahan-desahan yang terdengar bagai melody merdu di telinga Rega. Tangannya masuk ke dalam celana dalam Ruby dan mengusap-usap isinya lalu memasukan jarinya ke area inti Ruby. Ruby sudah tidak dapat menguasai dirinya, kini ia sudah hanyut dalam gairah yang teramat dalam.


Setelah itu Rega membuka celana dalam Ruby dan bermain dengan lidahnya di area inti Ruby yang membuat Ruby seperti tersengat aliran listrik namun terasa nikmat.


Lama Rega bermain disana sampai Ruby mencapai klimaksnya. Kini Rega menatap Ruby dengan sungguh dan masih penuh nafsu menunggu wanitanya sampai menguasai dirinya.


“Bolehkah aku melakukannya?”


“Jangan, Yank,” dengan dilema yang berkecamuk dalam hatinya.


“Tapi aku mau,” suaranya berat dan masih bernafsu.


“Di mulut saja ya,”


Akhirnya Ruby melakukannya dengan mulutnya sampai Rega merasakan nikmat yang luar biasa, mendesah dan berkali-kali menyebutkan nama Ruby hingga Rega pun mencapai klimaksnya.


Jam dinding sudah menunjukan pukul sebelas malam. Ruby segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri di susul Rega setelahnya. Lalu Rega mengantarnya pulang.


“Makasih, ya,” mencium punggung tangan Ruby.


Ruby hanya menatap Rega dengan berbagai perasaan dalam hatinya.


Mereka berciuman lagi.


“I love you,”


“I love you too,”


Ruby keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


NEXT >>>>>>>>


like


comment


vote


⭐5