
“Tuhan, akhirnya aku melepaskan semuanya. Entah baik atau buruk tapi semoga ini yang terbaik untuk ku dan untuk semua. Kuatkan lah aku untuk mengurus anak ku Sean. Dan kuatkan lah aku untuk menjalani apa yang sudah ku putuskan,” ucap Ruby dalam doanya.
Ruby mengecup Sean beberapa kali dalam pangkuannya, air matanya tak dapat ditahan dan keluar begitu saja menetes sampai ke tangan Sean. Ruby terus memandang anaknya, tiba-tiba tangan Sean mengusap pipi Ruby yang sudah basah dengan air mata. Ruby tersenyum, mungkin Sean pun mengerti apa yang sedang Bundanya rasakan saat ini.
Dengan kedua tangan Ruby mengusap pipinya, lalu menggendong Sean dan mengajaknya bermain. Ditengah hatinya yang sedang hancur hanya Sean lah sekarang yang dapat menghiburnya dan juga kedua orang tuanya.
"Jadilah anak baik ya sayang. Buat Bunda bangga sama kamu," ucap Ruby pada Sean.
Ruby bekerja seperti biasa, kali ini ia fokus bekerja dan menyibukan dirinya. Namun untuk urusan ke kantor pusat atau keluar kantor Ruby sudah tidak ingin membantu Nita lagi. Permasalahan rumah tangganya Ruby tutup rapat-rapat dengan teman kantornya, tidak ada yang tahu tentang masalah pribadinya.
“By, kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini suka banget kerja dan sering melamun?” tanya Nita yang melihat jelas perubahan Ruby.
“Ah, gapapa. Aku hanya ingin fokus kerja aja,” jawab Ruby.
“Beneran gapapa? Kalo ada apa-apa kamu bisa cerita sama aku,” ucap Nita.
“Aku gapapa, Nit. Kamu tenang saja,”
“Ya sudah, kalo ada apa-apa cerita ya, jangan di pendam sendiri!”
Ruby mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
Bagi Ruby masalah rumah tangganya adalah hal yang sangat pribadi dan hanya cukup Ruby dan keluarganya saja yang tahu. Tapi semua itu tidak berjalan sesuai dengan keinginan Ruby. Seiring berjalannya waktu banyak yang curiga dan melihat Adnan bersama wanita lain di luaran. Belum lagi Ruby yang sudah lama tidak membawa mobilnya ke kantor menjadi bahan perbincangan teman kerjanya.
Bahkan Dina yang pernah tugas luar kota bersama Ruby pun merasa curiga dengan perubahan Ruby yang sekarang.
“By, aku ingin bicara. Bisa kita keluar sepulang kerja,” ajak Dina.
“Ada apa, Din?” tanya Ruby penasaran.
“Nggak apa, aku hanya ingin mengobrol saja sama kamu, pulang kerja nanti kamu ikut aku saja ya, pulangnya aku antar kamu pulang,” ucap Dina lagi.
“Iya, okay,”
Pulang kerja Ruby pergi ke sebuah tempat makan yang tidak jauh dari rumahnya bersama Dina. Mereka duduk dan memesan makanan.
“By, Maaf kalo aku sok tahu atau apapun itu. Tapi aku hanya ingin memastikan saja sama kamu. Waktu kita tugas ke luar kota aku melihat suami mu bersama seorang wanita dan itu bukan kamu di hotel. Dan gosip yang beredar di kantor bahwa kamu sudah nggak sama suami mu lagi apa itu benar?” tanya Dina memastikan yang menjadi kecurigaannya.
“Sebenarnya aku malu kalo harus cerita, Din. Ini masalah rumah tangga ku dan aku ingin hanya aku saja yang tahu, tapi ternyata teman-teman juga sudah banyak melihat Mas Adnan bersama wanita lain dan bukan aku. Aku akui aku sudah bercerai dengan Mas Adnan sedang menunggu ketuk palu pengadilan,” jelas Ruby menahan tangisnya.
“Jadi itu benar?” tanya Dina.
Ruby mengangguk dan menyeka air matanya yang terlanjur menetes.
“By, maafkan aku sudah membuat mu sedih,” ucap Dina merasa bersalah dan prihatin.
“Aku gapapa kok, Din. Mungkin inilah jalan hidup ku. Aku ikhlas menerima semuanya. Din, aku minta kamu jangan ceritakan lagi sama teman yang lain, ya! Aku malu.”
“Tapi mereka sepertinya sudah pada tahu, By.”
“Iya sudah lah biarkan saja, aku juga nggak bisa apa-apa buat nutup mulut mereka,”
“Kamu yang kuat dan sabar ya, By!”
“Iya, itu pasti. Makasih, Din.”
Sampai di rumah Ruby menarik nafas panjang, berpikir apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Cepat atau lambat cerita perceraiannya pasti akan sampai juga ke teman-temannya di kantor pusat dan pasti Rega juga akan tahu.
Jalan satu-satunya Ruby harus mengundurkan diri dari perusahaan. Ruby juga ingin mencari suasana yang baru untuk menyembuhkan luka hatinya.
“Pah, Mah, Ruby mau bicara,” ucap Ruby ketika sedang berkumpul di meja makan.
“Mau bicara apa, Nak?” tanya Dewi.
“Papah setuju sama kamu. Kamu sudah dapat pekerjaan barunya?” ucap Anto.
“Iya, Mamah sih terserah kamu,” tambah Dewi.
“Belum, Pah. Ruby masih cari dan masukan lamaran ke perusahaan yang membuka lowongan kerja,”
“Kalau begitu nanti Papah bantu carikan,”
“Iya, makasih, Pah,”
Akhirnya Ruby mengundurkan diri dari tempatnya bekerja, semua teman-temannya sangat menyayangkan keputusan Ruby yang keluar dari perusahaan. Tapi keputusannya sudah bulat untuk menjalani kehidupannya yang baru.
Surat pengunduran dirinya sudah sampai ke kantor pusat dan pasti Rega akan segera mengetahuinya. Prosesnya terhitung cepat satu bulan dari pengajuannya Ruby resmi berhenti bekerja di sana.
Ketika Rega tahu bahwa Ruby mengundurkan diri dari perusahaan, ia terus menghubngi Ruby. Karena semua kontaknya sudah tidak bisa dihubungi, Rega membeli ponsel baru dengan nomor baru supaya bisa menghubungi Ruby.
Rega menelepon Ruby, dan Ruby menerima teleponnya.
Ruby “Halo, maaf ini dengan siapa saya bicara?”
Rega diam, betapa senangnya bisa mendengar suara Ruby lagi. Setelah sekian lama tidak bertemu atau hanya mendengar suaranya.
Ruby “Halo?” (mengulang karena tidak ada jawaban)
Rega menarik nafasnya.
Rega “Halo, ini aku,”
Ruby mengenal suara itu, suara seseorang yang pernah mengisi harinya dan menjadi sandaran tangisnya.
Ruby “Ada apa?”
Rega “Bisa kita bertemu?”
Lama Ruby hanya diam. Rega menunggu dengan sabar.
Rega “Ini hari terakhir mu bekerja kan? Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan saja. Belum tentu kita akan bertemu lagi.” (Berat hati mengucapkannya)
Ruby “Kapan? Dimana?”
Rega “Kamu tahu harus menemui ku dimana. Aku tunggu kamu,”
Ruby “Tapi …..”
Tuutt… Tuutt… Tutttt… Tutttt…
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
Pasti kakak2 pembaca semua udah tau kan dimana.... 😁😁😁
Terus ikutin ceritanya yaa.....
Dukungan kakak pembaca semua sangat berarti buat kelangsungan cerita ini....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaa...
Like, Comment, Vote, & ⭐5
Makasih banyak semuanya...
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️