
Untuk menyambut kedatangan Ruby, Rega berbelanja bahan makanan dan memasakan makanan untuk makan malam bersama. Rega sangat kecewa Ruby mengundurkan diri dari perusahaan, ia ingin tahu alasannya kenapa Ruby berhenti bekerja. Dan berharap ini bukan pertemuan terakhirnya dengan Ruby.
Rega membuka ponselnya mencari menu yang tepat untuk makan malam spesialnya nanti. Semoga ini akan menjadi makan malam romantis dan tak terlupakan untuknya dan wanita yang sampai saat ini masih sangat dicintainya.
Sebelum mulai memasak ia menyiapkan satu buah meja dan dua kursi di dekat kaca supaya bisa sambil menikmati pemandangan malam. Lilin berwarna merah, satu buket bunga, dan lampu kelap-kelip yang sudah ia rangkai menghiasi dinding apartemennya.
Sudah pukul empat sore, Rega baru mulai memasak makanannya. Dengan bantuan ponsel pintarnya, ia mengikuti langkah-langkah memasak yang di bacanya di internet. Kali ini Rega akan memasak capcay kesukaan Ruby, udang goreng tepung kesukaannya dan salad buah.
Pertama Rega memasak nasi di ricecooker, lalu ia membersihkan udang, sayuran, dan semua bahan makanan lainnya. Kemudian ia lanjut memotong sayuran dan terus mengikuti semua langkah-langkah memasak yang dibacanya di embah google.
Kurang lebih dua jam ia berkutat dengan kegiatan memasaknya, akhirnya semua menu sudah siap di hidangkan, tinggal menunggu kedatangan Ruby. Semoga datang.
“Semua sudah beres, tinggal menunggu Ruby datang. Atau aku mandi dulu saja ya. Aku harus terlihat rapi dan wangi di depan Ruby,” ucap Rega bicara pada dirinya sendiri.
Rega bergegas ke kamar mandi membersihkan diri, karena merasa lengket dan bau masakan di badannya. Selesai mandi ia memilih baju di lemarinya kemudian ia kenakan. Berkaca melihat ada bulu halus di atas bibirnya atau tumbuh janggut di dagunya, ah ternyata tidak, baru kemarin dia bercukur. Rega menyisir rambutnya dan menyemprotkan parfum miliknya ke seluruh badan.
“Begini sudah cakep kan?” sambil berkaca dan berbicara sendiri.
Rega melihat jam tangannya sudah pukul tujuh lewat duabelas menit, Ruby belum juga datang. Rega keluar kamar mematikan lampu apartemennya supaya hanya diterangi cahaya dari luar karena gordennya dibuka dan menyalakan lampu kelap-kelip yang menurutnya itu menambah suasana romantis di makan malamnya nanti.
Rega duduk di kursi yang sudah ia siapkan, satu buket bunga sudah ada di tangannya untuk diberikan pada Ruby, tapi Ruby belum juga datang.
19.30 Mengirimkan pesan singkat pada Ruby “Kamu dimana?”
20.00 Menelepon Ruby tapi tidak aktif.
20.15 Mengirimkan pesan lagi “Kamu tahu kan harus kemana?
20.20 Menelepon lagi tetap tidak aktif.
20.30 Melihat jam tangan berkali-kali.
20.50 Diluar turun hujan cukup deras.
21.00 Pasrah tapi berharap Ruby cepat datang.
Ruby belum juga datang.
Akankah Ruby datang? Pertanyaan itu yang ada di pikirannya. Rega pindah duduk di sofa dan merebahkan badan dan memejamkan matanya.
Keningnya merasakan sentuhan benda lembut dan lembab, lalu beralih ke kedua pipinya, matanya, hidungnya, dan berakhir di bibirnya.
“Ruby ku sudah datang,” gumamnya dalam hati sambil menikmati sentuhan demi sentuhan yang ia rasakan tanpa membuka mata.
Belaian tangan lembut menyentuh pipi, leher, pundak, dan berhenti di dada bidangnya. Jari jemari itu bermain di dadanya, oh sangat mengasikan buatnya. Rega semakin hanyut dalam belaian dan buaian sentuhan-sentuhan itu.
Suara nyaring dering telepon menyadarkan Rega dari alam bawah sadarnya. Rega pun baru menyadari bahwa itu hanya mimpi ketika ia membuka matanya. Tidak ada siapa-siapa di sekelilingnya, dilihat jam dinding sudah menunjukan pukul sebelas malam.
Rega mengangkat telepon di apartemennya setelah mengumpulkan segenap kesadaran dirinya.
Rega “Halo! Oh iya, saya ke sana.”
Petugas jaga apartemen meneleponnya ada seseorang yang sedang menunggunya di loby. Dengan terburu-buru Rega berjalan keluar apartemen menuju ke pintu lift dan turun ke lantai satu apartemennya. Lift terbuka Rega langsung keluar dengan melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah loby.
Seseorang duduk di loby dengan keadaan basah kuyup, hampir semua baju yang melekat di tubuhnya basah. Rega menghampirinya dan langsung mendekapnya erat.
“Aku kira kamu nggak akan datang,” ucap Rega
“Iya, lepasin dulu! Baju ku basah semua,” ucap Ruby mendorong Rega dari tubuhnya. Rega melihat Ruby dari atas sampai ke bawah, kasihan melihatnya gemetaran kedinginan.
“Ya sudah, yuk kita naik,” ajak Rega.
Sampai di apartemen Ruby mengunci dirinya di kamar, di sana mereka sering melakukan hubungan suami-istri. Kali ini Ruby tidak mau itu terjadi karena kedatangannya bukan untuk itu. Ruby membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya dengan baju Rega yang ada di lemari.
Lama sekali ia mencari baju yang pas untuknya tapi tidak ada satu pun. Semua baju Rega ukurannya kebesaran di pakai Ruby, baju kaos di tambah sweater hoodie menjadi pilihannya. Dan kebawahannya Ruby pilih celana olahraga milik Rega karena ada tali di pinggangnya.
Rega menekan kenop pintu kamarnya, tapi tidak bisa di buka karena di kunci dari dalam.
“Dikunci,” decaknya sambil menepuk jidat.
“Jangan memandang ku seperti itu,” ucap Ruby menutup mata Rega dengan sebelah tangannya.
“Habisnya kamu tetap cantik walaupun pakai baju aku yang kebesaran,” menahan senyumnya.
“Uuhhh gombalnya bisa aja,”
“Siapa yang gombal? Emang aku pernah gombal?”
“Sering,”
“Hmmmm,”
“Kenapa kamu wangi sekali?” mengendus ke depan dada lalu menyentuh bibir bagian atas dan dagu Rega. “Kamu habis kencan?” dengan tatapan curiga.
Ruby berjalan ke tempat meja yang disiapkan Rega untuk makan malam romantis yang gagal lalu duduk di kursi, Rega juga duduk di kursi satunya lagi.
“Aku baru lihat meja ini, lilin, bunga?” Tanya Ruby.
“Kencan sama siapa aku kan nungguin kamu,” kesal.
“Jadi semua ini buat aku?”
“Buat siapa lagi sayaang?” mengacak-acak rambut Ruby.
“Oh,” singkat padat dan jelas.
“Oh doang? Nggak kasihan sama aku udah nungguin kamu dari sore,”
“Salah kamu nggak jemput aku,”
“Kenapa nggak bilang kalo mau di jemput, aku kan takut kamu nggak mau bertemu aku lagi,” suaranya berubah pelan.
“Aku nggak bilang gitu,” dengan santainya.
Rega berdiri dan berjalan ke depan Ruby lalu berjongkok di hadapannya, menatap Ruby sangat dalam namun Ruby memalingkan wajahnya.
"Kenapa kamu tega ninggalin aku?" tanya Rega sambil memegang tangan Ruby dan mengajaknya berdiri.
"Lihat sini, aku ingin tahu alasan kamu ninggalin aku dan kenapa kamu berhenti bekerja?" tanya Rega lebih serius ketika mereka sudah berdiri sempurna.
Ruby menunduk dan diam tak menjawab.
"Kamu kenapa? Cerita sama aku!"
Alih-alih menjawab Ruby malah memeluk Rega dan menangis tersedu.
"Menangis lah tapi hanya di depan ku, setelah itu kamu harus tersenyum," ucap Rega lalu mengeratkan pelukannya.
❣️❣️❣️❣️❣️
Halo kakak pembaca semua....
Semoga pada sehat semua ya....
Besok kita akan menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.
Mine minta maaf kalo ada salah2 kata.
Mohon maaf lahir batin ya semua... 🙏🙏🙏
Semoga kakak pembaca semua selalu sehat dan bahagia. aamiinn 🙏🙏
Dan jgn lupa jg like comment & vote nya yaa....
thanks all ❣️😘