MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 74



Permasalahan dengan Adnan sudah di selesaikan, Pak RT sudah membawanya ke kantor polisi. Namun kabarnya Adnan hanya di masukan satu hari saja ke dalam sel tahanan.


Adnan juga sudah tidak pernah terlihat lagi berada di sekitar rumahnya.


Rega masih resah dan belum bisa tenang, ia takut Adnan melakukan sesuatu pada Ruby di saat ia tak ada. Untuk berjaga-jaga Rega memperketat penjagaan rumahnya dengan mempekerjakan satpam di rumahnya.


"Mudah-mudahan Adnan sadar dengan perbuatannya. Dan dia tidak mengganggu keluarga kita lagi. Apa mungkin dia dendam karena aku telah merebut Ruby darinya? Ah itu sudah pasti." gumam Rega.


Ruby keluar dari kamar mandi dan langsung naik ke atas tempat tidur.


"Yank, besok kita jadi kan pergi ke rumah Bibi Lies? Sekalian kita ke makam orang tua ku dan Sean," Ruby merapikan bantal di sebelahnya untuk Rega merebahkan diri.


"Iya, sayang. Kamu sudah siapkan keperluan kita kan? Aku sudah memesan tiket. Kita akan berada di sana selama tiga hari." Rega duduk di sebelah Ruby.


"Tiga hari?" Rega mengangguk. "Ya sudah nanti aku siapkan lagi untuk tiga hari. Aku pikir hanya satu hari saja." ucap Ruby.


"Kalau pulang pergi aku takut kamu kecapekan." ucap Rega sambil mengelus Ruby yang sudah mulai kelihatan membesar.


"Ajak Jelita juga biar bisa ketemu sama Reyhan." ucap Ruby.


"Aku sudah membeli tiket untuk kita bertiga." ucap Rega.


"Bertiga?"


"Iya bertiga."


"Arina?"


"Arina nggak akan ikut. Arina kan harus sekolah." jelas Rega. "Bi Ira nanti ke sini untuk menjaga Arina." tambahnya lagi.


"Tapi tetap saja kasihan ditinggal, kenapa nggak di ajak saja sih Yank?"


"Arina harus sekolah, lagi pula kita hanya tiga hari saja.. Gapapa kan ada Bi Ira."


"Aku tidak tenang kalo harus meninggalkan Arina."


"Gapapa sayang."


Esoknya....


Ruby tertunduk sedih di atas pusaran makam orang tuanya. Air mata pun jatuh membasahi pipi. Mengingat kenangan semasa bersama orang tuanya.


"Pah, Mah... Maafkan Ruby belum bisa membalas jasa-jasa mamah dan papah. Semoga mamah papah tenang di sana. Ruby akan selalu mendoakan mamah papah dari sini." tuturnya.


Setelah berdoa untuk kedua orang tuanya, Ruby bersama Rega disampingnya berpindah ke makam Sean anaknya dari Adnan.


"Sayang, maaf bunda baru bisa menemui mu, Nak. Bunda sedang mengandung adik mu sekarang. Semoga kamu selalu ceria di sana ya. Bunda akan selalu mendoakan mu. Jemput bunda jika saatnya sudah tiba ya sayang. Bunda merindukan mu." ucapnya.


Rega merangkulnya memberi kekuatan pada Ruby. Memang sudah lama sekali mereka baru mengunjungi makam kedua orang tua Ruby dan Sean.


Setelah selesai berdoa, Ruby dan Rega kembali ke rumah Bibi Lies.


"Yank, kita beli sesuatu dulu ya buat Bibi Lies." pinta Ruby saat mobil mereka keluar dari komplek pemakaman.


"Mau kemana dulu, Yank.?" tanya Rega.


"Kita ke toko kue dulu," jawabnya.


"Iya, baiklah istri ku..."


Ponsel Ruby bergetar, Jelita meneleponnya.


Ruby "Halo, Jel. Ada apa?"


Jelita "Kak, aku sama Reyhan mau beli makan di luar. Kakak nyusul ya ke Rumah Makan Padang yang dekat kostannya Reyhan."


Ruby "Oke, nanti kakak nyusul ke sana."


Ruby menutup teleponnya dan menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas.


"Kenapa?"


"Jelita mengajak kita makan bersama di RM Padang langganan Reyhan."


"Jadi mau kemana dulu? Kita makan dulu saja, kasihan mereka harus menunggu lama kalo kita ke toko kue."


Sampai di tempat makan Reyhan dan Jelita sudah menunggu mereka.


"Halo, Kak." sapa Reyhan saat melihat kakaknya baru saja datang.


"Mau pesan apa, Kak? Biar Jeli pesankan sekalian," tanya Jelita.


"Aku nasi ayam rendang sama perkedel aja," jawab Ruby. "Kamu mau apa, Yank?" tanyanya pada Rega yang masih bingung dengan menu apa yang akan ia pesan.


"Apa ya? Samakan saja sama punya mu." jawabnya.


"Jel, nasi ayam rendang sama perkedelnya dua ya. Minumnya es jeruk aja." pintanya.


Jelita memesankan pesanan mereka pada pelayan yang ada di depan.


"Yank, itu bukannya Riky teman mu?" tunjuk Ruby pada seseorang yang sedang duduk sendiri di meja paling pojok.


"Kayaknya iya. Sedang apa dia di sini? Aku kesana dulu samperin dia," ucap Rega lalu pergi menemui Riky di mejanya.


"Hey, Ky. Lagi apa?" tanya Rega.


"Eh, Ga. Mau makan nih" jawab Riky.


"Sendiri saja? Sely dan Clara mana?"


"Aku baru saja menitipkan Sely di pesantren Mbah Kakung ku," ucapnya sedih dan menunduk.


"Memang Sely kenapa?"


Riky menceritakan mengapa ia menitipkan Sely di pesantren mbahnya.


🦋🦋


“Kau masih memakainya?” Riky sangat marah mengetahui barang yang disembunyikan Sely.


“A,aku….” Sely menunduk.” Aku msaih membutuhkannya,” ucap Sely tanpa melihat Riy yang sudah dangat geram.


“Kau tidak kasihan dengan Clara? Apa yang akan terjadi dengannya jika kau sedang merasakan barang haram itu?” Riky sangat marah.


“Ini semua karena mu juga.” Sely balik marah. “Kalau kau tidak meninggalkan ku sat aku tahu hamil Clara waktu itu aku tidak akan menyentuh barang haram itu lagi. Kau juga penyebab aku tidak bisa terlepas dari barang haram itu.” Menyalahkan Riky.


“Aku sudah menjelaskan kenapa aku meninggalkan mu waktu itu. Kalau kau masih ingin bersama Clara, berhenti memakai barang haram itu atau aku akan membawa Clara pergi jauh dari mu,” Riky pergi dari rumah meninggalkan Sely yang masih mematung.


“Sialan, kenapa bisa ketahuan sih!” decaknya.


“Mereka nggak tahu penderitaan ku,” Sely menitikkan air mata “Di usia ku yang harusnya aku menerima kasih sayang dari papa mama tapi aku harus melihat mereka bertengkar dihadapan ku. Aku harus melihat mama di pukul papa dan itu hal yang sangat menyakitkan dalam hidup ku. Dan di usia remaja ku, aku melihat mama yang nyaris bunuh diri karena akan diceraikan papaku. Mereka nggak tahu betapa berat hidup yang ku jalani. Dengan cara ini aku bisa menghilangkan beban hidup ku.” Air matanya mengalir deras mengalahkan derasnya hujan.


Sely tertunduk lesu, mengingat kenyataan hidup yang dialaminya. Adakah yang benar-benar tulus menyayanginya? Sebenarnya apa yang dia inginkan dalam hidup? Kebahagiaan, uang, atau kasih sayang? Semuanya pergi meninggalkannya.


Riky pergi dengan Clara bersamanya, kekhawatirannya selama ini terjawab sudah. Sely masih memakai obat-obatan terlarang, masih sama dengan dulu saat mereka masih berpacaran. Dulu Riky dan Sely terjebak dalam kehidupan yang tidak mereka inginkan. Riky dan Sely keduanya adalah anak yang broken home karena permasalahan orang tua mereka.


Namun, Riky berpikir lagi ini bukan cara yang terbaik untuk menghukum Sely. Sely membutuhkannya dan Clara, tidak mungkin Riky meninggalkannya sendiri dalam kondisi Sely yang masih ketergantungan dengan barang haram itu. Riky kembali kerumah, memeluk Sely dengan segenap hatinya, memebiarkan Sely tenggelam dalam pelukannya.


“Kenapa kau kembali lagi? Biarkan aku sendiri.” Sely mencegah Riky memeluknya.


“Aku nggak mungkin meninggalkan mu sendiri. Aku mebutuhkan mu, Clara juga.” Ucapnya lembut.


"Tapi aku sudah nggak cinta lagi sama kamu. Kau sudah menggoreskan luka yang dalam di hati aku." Sely terus berontak.


"Kamu mau kan berubah demi Clara dan rumah tangga kita? Aku nggak peduli kamu cinta atau nggak sama aku. Yang aku tahu rasa cinta kamu buat Rega itu hanya sekedar obsesi mu saja. Kamu nggak mau orang yang sudah memberikan segalanya buat kamu jadi berpindah peduli dengan orang yang kamu benci kan? Sekarang ikut lah dengan ku. Aku ingin kamu dan aku menjadi lebih baik." tutur Riky meyakinkan Sely.


Sely terkulai lemas, tenaganya sudah habis untuk berontak dalam pelukan Riky.


NEXT >>>>>>>>


Like


comment


vote


makasih banyak yaa semuaa....


🤗🤗🤗🤗