
"Mas,"
"Sayang, sudah datang?" ucap Adnan ketika melihat Ruby mendekat.
Tiba-tiba Selly kembali datang juga ke rumah sakit.
"Mas, dompet aku tertinggal di sini," ucap Selly pada Rega.
Ruby menoleh ke arah Selly begitu pun Selly melihat ke arah Ruby dan mengerutkan keningnya.
Adnan terlihat kikuk saat melihat Selly kembali lagi terlebih ada Ruby juga di sana.
"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Ruby karena Adnan turun dari ranjangnya.
"Ah enggak, pegal dari tadi duduk terus," jawab Adnan ngeles.
Adnan menutup tirai pemisah ditengah antara tempatnya dan Rega.
"Mas, wanita itu mantan istrinya Adnan?" tanya Selly berbisik pada suaminya.
"Mana ku tahu. Kamu malah ngurusin orang lain. Aku, suami kamu urusin bukan orang lain," ucap Rega berbisik juga tapi perbincangan mereka masih terdengar oleh Ruby dan Adnan.
Ruby menatap Adnan penuh arti. Adnan menunduk tidak berani menatap Ruby yang sepertinya sudah menyimpan marah padanya.
Ruby membereskan baju Adnan yang dibawanya ke dalam lemari kecil di sana lalu menyimpan beberapa camilan di meja.
"Aku malam ini nggak akan menginap," ucap Ruby ketus.
"I, iya gapapa, kamu pulang saja," ucap Adnan takut Ruby bertambah marah kalau ia menahannya.
Rega yang mendengarnya tertawa dalam hati, senang Ruby tidak akan tidur bersama Adnan malam nanti.
"Mas, aku pulang ya. Besok aku kesini ngurusin kepulangan kamu," pamit Selly.
"Nggak perlu, aku bisa pulang sendiri pakai taxi. Kamu tunggu saja di rumah," ucap Rega
"Ya sudah kalo begitu. Aku pulang ya," pamit Selly lagi lalu berjalan membelakangi Rega.
Brukkk..... Braaakkkk....
Selly dan Ruby bertabrakan.
Keduanya mengaduh lalu segera berdiri bersamaan namun jam tangan Selly tersangkut di gelang Ruby. Selly mengangkat tangannya dan Ruby juga.
"Waaahhh.... Ini kan gelang berlian limited edition dari Tifani Jewelry. Bagus banget," Selly terus memegangi tangan Ruby dan mengamati gelangnya.
"Ini asli," ucap Selly lagi.
Deg. Rega hanya bisa diam.
"Mbak, maaf saya buru-buru," ucap Ruby membenarkan gelangnya dan jam tangan Selly.
"Sebentar, mantan istrinya Adnan ya? Pantas saja punya gelang itu, pasti Adnan yang membelikannya, iya kan?" ucap Selly lagi.
Ruby menarik nafasnya dalam.
"Permisi," Ruby tidak mau terus memperpanjang situasi yang rumit.
Adnan menepuk jidatnya mendengar ucapan Selly yang menyebut Ruby mantan istrinya. Sekarang Ruby pasti sangat marah padanya. Sepertinya Tami bilang pada teman-temannya bahwa Adnan sudah menjadi duda dan sudah bercerai dari Ruby.
Selly kembali ke tempat Rega.
"Mas, aku mau gelang itu. Masa orang lain saja punya gelang yang limited edition itu aku nggak punya," ucap Selly manja.
"Selly, suami kamu masih di rumah sakit. Kamu sudah minta dibelikan gelang. Apa yang ada di pikiran mu itu hanya materi?" ucap Rega kesal.
"Pokoknya pulang dari rumah sakit aku mau gelang itu," Selly pergi karena kesal.
Rega membuang nafas kasar, Selly sudah keterlaluan padanya. Tapi dibalik kekesalannya pada Selly, Rega merasa senang karena Ruby masih memakai gelang pemberiannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Esoknya.
Ruby ke rumah sakit lagi, tapi ia tidak langsung ke kamar Adnan karena harus mengurus kepulangan Adnan ke bagian administrasi.
Setelah membereskan administrasinya Ruby naik ke kamar perawatan. Dirinya masih marah pada Adnan tapi tetap ia harus mengurusnya karena Adnan masih suaminya.
Adnan nampak senang Ruby menjemputnya pulang walaupun dari semenjak datang Ruby tidak bicara apapun padanya. Adnan tahu Ruby pasti marah padanya.
Ruby sudah memesan taxi untuk mereka pulang. Namun ketika di perjalanan, Adnan merasa aneh karena itu bukan jalan menuju ke rumah mertuanya.
"Sayang, kita mau kemana dulu?" tanya Adnan tapi Ruby tidak bergeming.
Hingga sampailah taxi itu di rumah kontrakan yang dulu mereka tinggal.
Ruby membayar taxi lalu membuka kunci rumah kemudian masuk ke dalam. Adnan masih bingung dengan sikap istrinya.
"Sayang?" Adnan berusaha untuk membuat Ruby bicara padanya.
"Berhenti memanggil ku sayang, bukannya aku ini mantan istri mu?" akhirnya Ruby membuka mulutnya.
"Sayang dengarkan penjelasan ku, itu salah paham," Adnan berusaha menjelaskan.
"Sudah lah, Mas," ucap Ruby ketus.
"Dia yang bilang sama teman-temannya begitu bukan aku,"
"Terserah kamu, Mas,"
"Tolong jangan salah paham, aku nggak bilang begitu,"
Ruby ingin pergi tapi ditahan oleh Adnan dengan memegangi kakinya.
"Lepaskan, Mas. Jangan turunkan harga diri mu hanya untuk sesuatu yang nggak kamu lakukan," ucap Ruby tegas.
Adnan melepaskan kaki Ruby kemudian berdiri tegap, tangannya terasa sangat sakit tapi ia menahannya. Tapi Ruby tak menghiraukannya.
"Maafkan aku jika aku membuat mu marah," ucap Adnan memelas.
"Dengarkan aku baik-baik, Mas. Aku bekerja karena aku ingin menabung untuk membeli rumah kita, Sean butuh tempat tetap untuk tinggal. Aku tidak pernah meminta sesuatu dari mu karena aku nggak mau membebani mu. Dan aku tidak pernah meminta mu melakukan sesuatu untuk ku karena kamu lebih asik dengan dunia mu. Kamu masih ingat, waktu aku meminta mu mengantar ku ke swalayan untuk belanja bulanan kita? Kamu malah memilih nongkrong nggak jelas sama teman-teman mu. Dari semenjak itu aku nggak pernah lagi meminta sesuatu dari mu. Selama ini aku sudah bersabar dengan semua kelakuan mu. Tapi apa? Kamu main api di belakang ku. Kalo kamu nggak bisa melepaskan ku. Aku yang akan menggugat cerai kamu, Mas."
Ruby membuang nafasnya, ada perasaan lega ia sudah mengutarakan apa yang selama ini ia pendam. Dan kini rasanya sudah tak ada lagi harapan untuk rumah tangganya, hatinya begitu sakit dan hancur.
"Kamu mendengar semuanya?" Adnan terkejut dengan semua ucapan Ruby.
"Keegoisan mu menutup mata mu. Kau sudah memanfaatkan ketulusan ku. Dan nggak ada lagi kesempatan buat kamu,"
"Maafkan aku Ruby, aku yang salah," memelas lagi.
"Cukup. Aku nggak akan luluh lagi dengan wajah memelas mu itu. Aku pergi."
Ruby keluar dan berjalan secepat mungkin meninggalkan Adnan hingga ia sampai jalan raya dan menyetop taxi.
Adnan tertunduk lesu, menyesal pun sekarang sudah terlambat. Ruby sudah benar-benar meninggalkannya. Yang harus ia lakukan adalah menerima kenyataan bahwa pernikahannya dengan Ruby akan segera berakhir atau mungkin memang sudah berakhir.
NEXT >>>>>>>>>>>>>
like
comment
vote
⭐5