
Rega memukul tempat tidurnya mendengar perbincangan Ruby dan Adnan di balik tirai sebelahnya.
"Aaaawwwwww," rintihnya tanpa suara.
Ternyata tangannya yang cidera bertambah sakit akibat pukulannya sendiri.
Rasanya ingin pergi saja tapi apalah daya dengan kondisinya yang saat ini, tidak memungkinkan untuknya untuk pergi kemana pun.
Malam ini terasa sangat panjang bagi Rega dan Ruby. Mereka berada dalam satu ruangan yang sama walaupun hanya terpisahkan oleh selembar tirai, tapi bagi mereka begitu cukup jauh.
Keduanya tidak benar-benar tertidur dengan nyenyak malam itu. Mereka tenggelam dengan prasangka dan pikirannya masing-masing.
Paginya, Adnan bangun dan tidak mendapatkan Ruby di sampingnya. Adnan mengangkat tubuhnya dan duduk, diraihnya gelas air minum di atas nakas lalu meminumnya.
Tak lama Ruby datang dengan membawa kantung kresek berisi nasi uduk dan gorengan ditangannya.
Ruby melirik ke tempat Rega, nampaknya Rega masih tertidur.
"Darimana?" tanya Adnan.
"Dari luar beli sarapan," jawab Ruby.
"Mas, kamu sarapannya makanan dari rumah sakit, gapapa ya? Nanti siang aku bawain kamu buat makan siangnya," ucap Ruby.
"Iya gapapa, Sayang. Kamu pulang dulu saja. Mas gapapa sendiri," ucap Adnan.
Rega tidak benar-benar tidur, ia bisa mendengar setiap percakapan Ruby dan Adnan.
"Kamu mau pulang jam berapa?" tanya Adnan.
"Selesai kamu mandi dan sarapan aku pulang. Jadi sekarang kamu sarapan dulu," jawab Ruby sambil mengambilkan makanan untuk Adnan yang diberikan perawat.
Ruby menyuapi Adnan sampai sarapannya habis tak tersisa.
"Aku pasti gemukan kalo setiap makan disuapin kamu," ucap Adnan.
"Iya kan tangan kamu masih sakit, Mas. Nanti kalo sudah sembuh kamu makan sendiri lagi ya. Kasihan Sean harus berebut dengan ayahnya," ucap Ruby.
Adnan terkekeh mendengarnya.
Setelah menyuapinya Ruby menyeka badan Adnan dan membantu mengganti bajunya.
Berbanding terbalik dengan yang berada dibalik tirai sebelahnya. Rega masih dengan pura-pura tidurnya mendengarkan setiap obrolan Ruby dan Adnan. Suasana hatinya tidak perlu ditanya lagi, sudah pasti cemburu menguras hati.
Dalam hatinya ingin sekali berada di posisi Adnan saat ini, di sayangi Ruby dengan sepenuh hati. Tapi untuknya itu hanya sebatas ingin. Selly istrinya pun acuh tak peduli dengan keadaannya.
Sesudah memakan sarapannya, Ruby pamit pulang pada suaminya
"Mas, aku pulang dulu ya. Jam makan siang aku kesini lagi," ucap Ruby.
"Iya, kamu tenang saja, nggak usah terburu-buru kasihan Sean pasti ingin bersama mu juga. Kamu juga butuh istirahat, kesini sore saja atau malam juga gapapa. Aku baik-baik saja dan bisa sendiri," jelas Adnan panjang lebar.
"Ya sudah kalo gitu. Mau titip apa atau mau dimasakin apa?"
"Apa saja, asalkan masakan kamu pasti aku makan. Kabarin saja kalo kamu sudah mau berangkat kesini ya,"
"Baiklah, aku pulang dulu ya, Mas," pamit Ruby sambil mencium tangan Adnan.
Ruby melewati tirai melihat Rega masih memejamkan matanya, ia tersenyum melihat Rega baik-baik saja.
Kerongkongan Rega terasa kering, berpura-pura tidur membuatnya sangat haus. Rega bangun dilihatnya ada segelas teh manis yang sudah mulai dingin di nakas. Diambilnya lali diminumnya, teh yang tidak asing baginya walaupun sudah mulai dingin. Rasanya masih sama, ia yakin teh itu adalah teh buatan Ruby untuknya. Rega tersenyum, ternyata Ruby masih peduli padanya.
Beberapa perawat datang memeriksa Adnan, karena hari minggu jadi hanya perawat yang memeriksa keadaanya. Tirai pembatas Adnan dan Rega dibuka oleh salah seorang perawat dan tidak ditutupnya lagi.
Setelah memeriksa Adnan dan Rega secara bergantian perawat itu pun pergi.
Rega melihat Adnan tengah sibuk dengan ponselnya. Rega ingin sekali menghubungi Ruby tapi semua kontaknya sudah diblokir.
Tidak lama berselang datang seorang wanita menghampiri Adnan dan wanita itu adalah Tami.
Rupanya Rega sudah ahli dalam berpura-pura, sekarang ia berpura-pura sibuk dengan ponsel di tangannya.
Sementara itu di ranjang sebelah, Tami memeluk dan mencium Adnan beberapa kali, benar-benar membuat Rega geram dibuatnya.
"Sayang maafkan aku, kalo nggak karena aku ngidam ingin makan steak kamu nggak akan kecelakaan kayak gini," ucap Tami dengan nada manjanya.
"Gapapa sayang, lagian itu juga kan permintaan anak kita," ucap Adnan sambil mengelus perut Tami.
"Iya, kamu jaga saja anak kita yang masih dalam perut kamu ini,"
Tami terkejut ketika melihat seseorang yang dikenalnya berjalan ke arahnya.
"Hey, Say lagi ngapain disini?" tanya Selly pada Tami.
"Ha, hay Sel, ini suami ku kecelakaan dan dirawat disini," jawab Tami.
"Iiihhh kok bisa sama, ini suami ku juga habis kecelakaan kemarin," menghampiri Rega.
"Oohh, kok bisa kebetulan ya," ucap Tami.
Lalu Selly dan Tami duduk di tepi ranjang suami mereka, sambil bergosip dan melupakan suaminya masing-masing.
"Eh Say, kamu udah lihat belum grup sebelah? Aduh kalo udah lihat pasti nggak bisa nahan deh godaan belanja ya kan," ucap Selly.
"Uuh iya, itu tasnya cucok meong bebz. Aku udah pesen satu yang merk elvi. Eh tahu nggak bebz itu harganya berapa?" Tami semangat menjawab.
"Tas elvi yang harganya limapuluh juta itu kan, ahhh sedih aku keburu kehabisan say,"
"Iya bebz, terus itu satu set berliannya uhhh madeup banget,"
"Eh kok jadi gosip, kenalin ini Rega suami ku," ucap Selly memperkenalkan Rega.
Rega hanya mengangguk dan tersenyum.
"Oh iya ini suami ku, Mas Adnan,"
Sama dengan Rega, Adnan juga hanya mengangguk dan tersenyum.
Kemudian para wanita sosialita itu meneruskan perbincangan gosip mereka yang merambah kemana-mana, dari barang branded, selebritis, dan akhirnya ngomongin orang.
Sampai sore harinya mereka berpamitan untuk pulang meninggalkan suaminya.
"Ternyata istri kita berteman," ucap Rega memecah keheningan setelah Selly dan Tami pulang.
"Tami istri kedua ku," ucap Adnan.
"Oh, hebat bisa punya dua,"
"Biasa saja, mereka punya kepribadian yang berbeda jadi aku nggak bisa melepaskan salah satunya,"
Rega sudah sangat geram, tangannya mengepal menahan emosinya.
"Maksudnya?"
"Istri pertama ku, Ruby, dia sangat perhatian dan juga sangat mandiri. Kadang aku seperti nggak berguna menjadi suami, karena dia selalu melakukan apapun sendiri dan nggak pernah minta apapun sama aku. Karena dia juga bekerja jadi dia mampu membelinya. Dan Tami, dia sangat manja selalu minta sesuatu dan meminta aku melakukan sesuatu. Dia membuat aku merasa dibutuhkan dan di inginkan. Walaupun dia tidak seperhatian istri pertama ku,"
Rega semakin geram namun tetap ia tahan, hatinya tidak suka Ruby dibanding-bandingkan dengan wanita lain. Baginya Ruby adalah wanita terbaik.
"Kadang kita nggak sadar kalo ego kita bisa menyakiti orang lain," ucap Rega begitu saja.
Adnan terguncang mendengar perkataan Rega padanya, entah kenapa ia merasakan pukulan keras mengenai hatinya.
"Kadang juga apa yang kita keluhkan menjadi apa yang orang lain inginkan," ucap Rega lagi.
Adnan tidak suka dengan kata-kata Rega yang terakhir.
"Maksudnya apa ya?" Adnan turun dari ranjangnya dan mendekati ranjang Rega.
Tapi Rega tampak santai, melihat lurus ke depan, tidak menoleh sedikit pun pada Adnan yang sudah mulai emosi dengan ucapannya.
"Mas,"
Ruby datang menghampiri mereka.
NEXT >>>>>>>
LIKE
COMMENT
VOTE
⭐5