
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? aku sudah salah. Aku sudah sangat jauh dan tenggelam dalam dosa. Ampuni dosa ku Tuhan," Ruby merasa bersalah.
Tapi hatinya tidak bisa berbohong bahwa Rega sudah membuatnya merasa nyaman dan merasa ia selalu di perhatikan dan di mengerti. Dan sekarang Ruby sudah merasakan cinta dan sayang pada Rega.
Ruby membuka pintu kamar, berjalan ke dapur nampak sudah ada Dewi yang sedang memasak untuk sarapan.
"Banyak kerjaan ya dikantor?" tanya Dewi yang melihat anaknya mengahmpiri.
"Iya, Mah,"
"Bagaimana dengan suami mu?"
"Aku nunggu Mas Adnan kesini saja, Mah. Aku menunggu itikad baiknya untuk meminta maaf sama aku dan Sean," jelas Ruby.
"Nak, ini adalah cobaan pernikahan, kamu harus kuat," nasehat Dewi.
"Iya, Mah,"
"Sean, masih tidur?"
"Iya, Sean masih tidur. Aku mau buat makanan untuk Sean dulu."
"Ya sudah, Mamah mau mandi dulu, jangan lupa sarapan sebelum pergi ke kantor,"
Selesai membuat makanan Sean, Ruby teringat Rega yang tidak pulang ke rumahnya semalam. Ruby membuatkannya omelet lalu memasukannya ke dalam kotak makan dan beberapa rebusan brokoli dan wortel.
Ruby berangkat lebih pagi karena akan ke apartmen Rega dulu sebelum ke kantornya.
"Kenapa pagi sekali kamu berangkat, Nak?" tanya Dewi.
"Iya, Mah. Ada yang harus aku bereskan," jawab Ruby.
"Ya sudah, hati-hati."
"Dadah Sean, Bunda pergi dulu ya," mengecup Sean yang sedang di beri makan oleh Mirna.
Ruby segera menaiki taxi yang sudah ia pesan. Tiba di apartemen Rega masih tertidur di kamarnya. Ruby membelai pipinya bermaksud membangunkannya, namun malah tangan Ruby yang di genggam Rega.
"Bangun, nanti kesiangan ke kantor," ucap Ruby.
"Tidak usah kerja ya, kita di sini saja kayak semalam,"
"Hus, aku harus kerja kemarin aku tidak masuk kerja pasti banyak kerjaan sekarang di kantor,"
"Jam berapa sekarang?"
"Setengah tujuh,"
Rega segera bangun dan pergi mandi.
Ruby membereskan tempat tidur kemudian membuka lemari mencari baju kerja Rega dan menemukannya di sana. Diambilnya dan di simpan di atas tempat tidur. Lalu ia membuatkan teh hangat juga untuk Rega.
Selesai mandi Rega melihat kamarnya sudah rapi dan baju kerjanya sudah siap diatas tempat tidur, Rega tersenyum dan langsung memakainya.
"Minum teh hangat dulu supaya badan kamu hangat dan tidak masuk angin. Sarapannya di kantor saja ya, ini aku bawakan bekalp buat kamu," ucap Ruby sambil memasukan kotak makan ke dalam tas Rega.
Rega meminum teh hangatnya dengan mata yang terus memperhatikan Ruby yang sedang mengurusi kebutuhannya.
"Sudah belum?"
"Iya sudah,"
Lalu Ruby berjongkok di depan Rega, membuat Rega terkejut dengan apa yang di lakukan Ruby padanya.
Ruby memasukan kaus kaki pada kedua kakinya lalu membantunya memakai sepatu kemudian ia mencuci tangan lalu membawa tasnya. Sedangkan Rega masih bengong dan tidak percaya.
"Ayok, Yank. Nanti kesiangan," ajak Ruby.
"Eh iya," menarik tangan Ruby lalu mencium keningnya.
"Terimakasih, sayang," ucap Rega tulus.
Bagi Ruby itu adalah hal yang bisa ia lakukan pada suaminya. Tapi berbeda dengan Rega, ia merasa baru kali ini di perlakukan sebagai suami, sebagai seseorang yang sangat istimewa dan berarti. Rega semakin dibuat tidak bisa melepaskan wanita yang kini menjadi kekasih terlarangnya itu.
Rega mengantarkan Ruby ke kantornya. Dan lagi, mereka berciuman, hal yang wajib mereka lakukan sebelum mereka berpisah dan sudah menjadi kebiasaan mereka.
"Daah, nanti nggak usah jemput. Aku nanti langsung pulang," ucap Ruby sebelum berpisah.
"Iya, sayang."
Ruby masuk ke dalam kantor dan Rega melajukan mobilnya.
Sampai di kantornya Rega membuka tasnya mengelurkan kotak makan yang diberikan Ruby lalu memakan sarapannya.
Rega terenyuh dengan perhatian Ruby padanya, ia merasakan menjadi suami seutuhnya.
Selly, istrinya jarang sekali bahkan tidak pernah memperhatikan apa saja keperluannya dan apa saja yang Rega makan. Semua di urus oleh pembantunya itu pun dibagi dengan mengurus Clara.
"Tumben bekal sarapan, Ga," ucap Riky teman kerja Rega.
"Iya, nih," jawab Rega.
"Istri mu baik sekali menyiapkan bekal sarapan. Aku jadi kepengen cepat-cepat punya istri," ucap Riky lagi.
" Makanya percepat keburu bangkotan kamu." ledek Rega.
"Sialan,"
" Haha,"
Riky kerap sekali menanyakan istri atau permasalahan rumah tangganya, mungkin ia mau belajar bagaimana rasanya berumahtangga. Rega menghabiskan sarapannya sampai tak tersisa, masakan Ruby memang paling enak.
Seharian ini Rega tidak dapat fokus bekerja, pikirannya melayang terus teringat kejadian semalam bersama Ruby.
Sama halnya dengan Ruby yang beberapa kali mengulang pekerjaannya karena ia pun sama tidak bisa fokus bekerja.
Ting
Suara BBM masuk.
Rega : Yank, aku tidak bisa fokus kerja ingat terus kejadian semalam.😁🤗
Ruby : Otak kamu aja lagi mesum kali, Yank. 😄😄
Rega : Memang kamu bisa fokus kerja? 🤔
Ruby : Tidak 😆
Rega : Tuh kan sama. Inget kamu malem buat aku keenakan. 😬😉
Ruby : Udah dong Yank, tidak usah di bahas. 😔
Rega : Memang kenapa? Aku senang bahasnya. 😁
Ruby : Nanti kalo kepengen bagaimana? 😋
Rega : Ya tinggal ke apartemen. 😋🤗😘😘😘
Ruby : Yank, sudah dong jangan di bahas terus,,, ☹️
Rega : Yank, aku kepengen mainin punya kamu pake lidah aku lagi. 😋😋😋😘😘😘😘
Ruby : Sayaaaaaaaaang. Jangan buat aku basah di sini. 😠
Rega : 😆😆 Sayaaang muah muah muah 😘😘😘
Ruby : Kerja sana jangan ganggu aku. 😑
Rega : Haha, iya iya. Selamat bekerja sayang ku 😘😘❤️
Ruby : 😑
Pulang kerja Ruby langsung pulang naik taxi dari kantornya. Sampai di depan rumah Ruby melihat mobil Adnan terparkir di halaman rumah, ia langsung masuk ke dalam.
Benar saja Adnan sedang mengobrol dengan Anto dan Dewi di ruang tengah.
"Nah, ini Ruby sudah pulang," ucap Anto.
Ruby duduk di sebelah Dewi tanpa menyapa Adnan di depannya.
"Jadi begini, maksud Adnan kesini menemui Mamah, Papah, dan juga Ruby. Adnan ingin menyelesaikan masalah rumah tangga Adnan dan Ruby."
NEXT >>>>>>>>>
Like & comment