MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 78



Baru saja Ruby selesai menunaikan kewajiban ibadah lima waktunya, Kaisar berlari ke arahnya.


"Bun, ayah telepon." Kaisar memberikan ponsel yang entah bagaimana ia bisa mengambilnya di atas meja yang lebih tinggi darinya.


"Ayah?" Kaisar berlari keluar kamar setelah memberikan ponsel.


Ruby melihat ponselnya tertera Reyhan yang menelepon, ia memasangkan ponsel di sebelah telinganya.


"Halo, Rey, Rey,, Rey,,," dilihatnya panggilan masih terhubung tapi Reyhan tidak berbicara apapun. "Rey? Ada apa?" tanyanya karena tak kunjung ada jawaban dari Reyhan lalu Ruby mengakhiri panggilan.


Ruby membuka mukenanya kemudian melipat dan menyimpannya di atas kasur.


Ponselnya berdering panggilan dari Reyhan lagi, tapi kali ini panggilan video.


Reyhan "Halo, Kak!!"


Jelita "Kaaaakkk!!!" melambaikan tangannya.


Ruby "Haloooo... Tadi telepon kok gak ngomong?"


Jelita "Telepon? Mungkin ke pijit Kak. Makanya aku video call sekalian ingin lihat Kai. Kai mana?"


Ruby "Sebentar, kakak cari dulu."


"Kai,,,, Kai,,,,," panggilnya.


Kaisar berlari menghampirinya.


"Om Rey dan Tante Jelita video call nih."


Kaisar "Om, Tanteee......."


Jelita & Reyhan "Kaaaaiiiiiiii...."


Kaisar "Om Tante mana ayah?"


Jelita "Ayah?"


"Kai, sini sama bunda" mengangkat Kaisar ke pangkuannya.


Ruby "Kemarin aku lihatin foto-foto ayahnya sama Kai. Jadi dia terus bilang ayah-ayah terus"


Di sebelah Reyhan, Ruby melihat sebagian pegangan kursi roda. Membuat ia heran karena setahunya Reyhan dan Jelita tidak sakit parah dan tidak ada orang lain di rumah mereka.


Ruby "Rey, sebelah mu seperti kursi roda, siapa yang sakit?"


"Aaawww,,,, aaawww,,,, sakittt...." Jelita meringis kesakitan.


Ruby "Jelita kenapa?"


Reyhan "Tadi aku mau tanya, Kak. Jelita tadi udah keluar flek dan mulas-mulas. Apa mau melahirkan?"


Ruby "Rey, cepat bawa Jelita ke rumah sakit!"


Reyhan "Oke Kak."


Panggilan berakhir.


Kursi roda yang dilihatnya tadi membuatnya panik. Ruby pikir, kursi roda itu milik Jelita yang sudah akan melahirkan dan tidak kuat berjalan.


"Lastriiiiiii,,,,," panggilnya.


Dengan berlari Lastri menjawab panggilan majikannya, "Iya, Buk."


"Siapkan keperluan Kaisar untuk tiga hari tapi lebihkan mungkin kita akan lebih dari tiga hari keluar kota. Keperluan mu juga!!!" titahnya.


Ruby pun menyiapkan keperluannya dan memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.


"Aahhh,,, aku belum pesan tiket."


Diambilnya ponsel yang tadi ia letakkan di atas kasur. Dibuka aplikasi layanan pembelian tiket pesawat menuju Kota 'Y'.


"Yah adanya besok pagi. Aku cari di aplikasi lain deh." Mengotak-atik ponselnya mencari tiket tercepat. Namun, ia tak menemukannya, hanya ada tiket esok paginya. "Hmmm.... Ya sudah berangkat besok pagi saja." Kecewa tapi tetap membereskan keperluannya dan memasukkannya ke dalam koper.


Tak sengaja Ruby menemukan album foto bulan madunya bersama Rega di pulau dewata. Perlahan Ruby membukanya, foto-foto bahagia sebagai pengantin baru terlihat sangat jelas di mata. Kenangan masa-masa indah itu pun memutar dalam ingatan.


"Bahkan kita belum babymoon kamu sudah menghilang." gumamnya. "Aku merindukan mu suami ku..." Bulir-bulir air mata jatuh menetes.


Tiba-tiba Kaisar mendekatinya.


"Ayah, Bunda..." menunjuk foto yang sedang di pegang Ruby. "Bun, Kai mau makan eskrim!" pintanya.


"Ayok kita makan eskrim..." sahutnya.


"Horeeee...." Kaisar bersorak dan berlari lagi keluar kamar.


Ruby menutup kopernya, menyimpannya di sebelah lemari lalu keluar kamar menyusul Kaisar.


"Kita berangkat besok pagi. Sekarang aku mau cari kado dulu buat bayinya Reyhan dan Jelita." jawab Ruby.


Ruby mencari kado di toko perlengkapan bayi yang berada di dekat rumahnya. Setelah selesai, ia membelikan eskrim untuk Kaisar, barulah ia pulang. Kaisar sangat senang mendapatkan eskrim yang dibawa bundanya.


Malamnya Ruby mendapat kabar bahwa Jelita sudah melahirkan di rumah sakit. Ia sangat tidak sabar ingin melihat bayi Reyhan dan juga Jelita. Tidak seperti sebelumnya Ruby selalu tidak jadi ke rumah Reyhan sekarang ia akan memaksakan diri pergi kesana. Tiket pun sudah di pesan untuknya, Kaisar dan juga Lastri.


Esoknya.


"Aku langsung saja ke rumah Reyhan. Kalau aku telepon dulu dia pasti melarang ku pergi." sesaat setelah menaiki taxi dari bandara.


"Bun, kita mau ke rumah om?" tanya Kaisar yang sudah tidak sabar ingin segera sampai tujuan.


"Iya, Sayang. Nanti Kai sama Bi Lastri tunggu di rumah om ya! Bunda mau ke rumah sakit bawa dedek bayinya." jawabnya.


"Dedek bayi, Bun?" tanyanya lagi.


"Iya, sayang."


"Horeeee Kai punya dedek bayi...." celotehnya.


Sampai di depan rumah Reyhan, Ruby keluar dari taxi di susul Kaisar dan Lastri setelahnya. Supir taxi membantu mengeluarkan barang bawaan mereka dari bagasi.


Mereka berjalan masuk ke dalam gerbang yang ternyata tidak di kunci. Ruby memencet bel beberapa kali, baru seorang asisten rumah tangga membuka pintu.


"Bu Ruby!" serunya terkejut melihat kedatangan Ruby.


"Iya Bik.. Ini saya Ruby.. Reyhan dan Jelita masih di rumah sakit?" tanyanya. Namun, Bi Tuginem masih sangat terkejut melihat kedatangannya. "Bik,,, Bik,,, Bik Tugi?"


"Eh, iya Bu. Pak Rey sama Bu Jeli belum pulang. Masuk, Bu." jawabnya seraya mempersilahkan masuk.


"Iya, terimakasih. Saya tidak lama. Mau menyusul Rey ke rumah sakit. Tapi Kaisar dan Lastri akan menunggu di sini. Tidak papakan Bik Tugi?" jelas Ruby.


"I,, iiyaa Bu. Biar saya siapkan kamar untuk Den Kai istirahat." jawab Tuginem gugup.


"Bik Tugi kenapa? Kok gugup gitu?" tanya Ruby heran.


"Tidak apa, Bu."


"Ya sudah kalau begitu saya pergi dulu, kasihan supir taxinya lama nunggu." pamit Ruby "Kai, jadi anak baik ya. Bunda jemput dedek bayi dulu." ucapnya pada Kaisar.


"Oke, Bunda!" mengacungkan jempol ke hadapan Ruby lalu mencium tangannya.


Ruby balik berjalan dan menaiki taxi yang sudah menunggunya. Sudah lama Ruby tidak menginjakan kaki di kota yang dulu ia sempat tinggali. Suasananya sudah sangat jauh berbeda dengan saat dulu ketika ia masih tinggal di sini.


Tak berapa lama Ruby sudah sampai di rumah sakit, tempat Jelita melahirkan. Ketika sudah berapa di lobi rumah sakit, Ruby menelepon Reyhan.


"Rey, kakak di lobi. Jelita di kamar nomor berapa?" Sejenak tidak ada jawaban dari Reyhan. " Rey? oh iya oke, kakak kesana." panggilan berakhir.


Ruby berjalan ke arah lift, karena Reyhan menyebutkan ia berada di lantai tiga kamar tiga kosong satu. Lift perlahan naik ke lantai yang dituju, kemudian berhenti di lantai tiga. Ruby keluar dari lift dan berjalan ke kamar yang disebutkan tadi. Gagang pintu ditekan untuk membukanya, Jelita sedang menggendong bayinya dan Reyhan tak terlihat batang hidungnya.


"Kak Ruby!!" panggil Jelita ketika Ruby sudah masuk ke kamarnya.


Jelita memperhatikan Ruby dari atas sampai bawah. Sebenarnya ia sangat terkejut dengan penampilan Ruby sekarang yang memakai pakaian syar'i. Kemarin di video call ia tidak melihat Ruby tertutup seperti sekarang karena sedang di rumah.


"Selamat ya, Jel. Sekarang kamu sudah menjadi ibu." memeluk Jelita dan mencium pipi kanan kiri.


"Kak. Aku pangling lihat kakak." ucap Jelita.


"Kakak sedang belajar." sahutnya.


"Aku salut sama kakak yang selalu sabar dan ikhlas menjalani cobaan hidup."Ruby hanya tersenyum.


"Boleh kakak gendong?"


"Boleh dong Kak." Ruby mengambil alih bayi mungil yang sedang di gendong Jelita.


Reyhan baru saja datang setelah menyelesaikan administrasi kepulangan Jelita dan bayinya. Reyhan pun dibuat tak percaya melihat penampilan Ruby sekarang.


"Kak Ruby?" serunya sambil melongo.


"Sudah ah biasa saja. Kakak masih belajar. Mulai sekarang kakak ingin berpakaian tertutup sesuai perintah agama." jawabnya.


"Kakak tadi ke rumah dulu?" tanya Reyhan.


"Iya, tadi kakak ke rumah kamu dulu. Tadinya dari bandara kakak mau langsung ke sini. Tapi kasihan Kaisar sudah kelelahan jadi kakak antarkan Kaisar dulu ke rumah mu.." jawabnya .


Reyhan sungguh sangat terkejut mendengar jawaban Ruby bahwa Kaisar di rumahnya.


Sementara itu, Kaisar di rumah Reyhan sedang saling bertatapan dengan Rega di kamarnya.


"Kaisar, Anakku."


NEXT >>>>>>>>>>>


LIKE COMMENT VOTE