
Tiga tahun sudah Ruby hidup sendiri tanpa Rega disampingnya. Walau ada Kaisar disampingnya namun hatinya hampa.
Ruby berjalan tak tahu arah tujuan, mencari dambaan hatinya yang tiba-tiba menghilang entah kemana.
"Bundaaa....." seorang anak kecil memanggilnya.
"Rubyy...." seseorang memanggilnya suaranya lembut seperti suara mamanya.
"Bangun, Nak!!!" suaranya lagi jelas terdengar.
Suara tawa kecil dan anak kecil berlarian kesana kemari.
"Sean... Mau kemana kamu, Nak? Ini bunda di sini." ucap Ruby matanya masih terpejam tapi bisa merasakan kehadiran Sean.
"Seaaaannn.... Jangan pergi sayang."
Ruby terbangun dari tidurnya, si kecil Kai menangis karena popoknya sudah penuh.
"Kenapa Kai? Ohhh basah ya..." Ruby meraba bagian pantat Kai yang sudah basah. "Tunggu ya, Bunda ambilkan popok dulu." segera Ruby mengambil popok tidak ingin membiarkan Kai terus menangis.
Tidak butuh waktu lama Kai sudah tenang kembali dan tertidur di pangkuan bundanya.
Ruby berbaring lagi di tempat tidurnya, rasanya malas sekali untuk memulai aktivitasnya hari ini.
Ponselnya berdering beberapa kali namun ia hiraukan begitu saja.
Pukul sembilan pagi Ruby baru keluar dari kamarnya itu pun karena Baby Kai bangun dan sudah bosan di dalam kamar.
"Sarapan sudah siap, Buk. Kaisar biar saya yang mandikan." ucap Lastri.
"Aku buatkan dulu makanan untuk Kaisar. Nanti kalau Kaisar sudah makan baru mandikan." ucapnya.
Lastri mengambil alih Kaisar dan mengajaknya bermain di taman. Kaisar lari kesana kemari ceria seperti biasanya.
"Omm... omm...." Baby Kaisar memanggil Reyhan yang baru saja datang.
"Jagoan Om lagi apa? Mana Bunda?" Reyhan mengepalkan tangan dan beradu kepalan tangan dengan Baby Kai.
"Ada agi macaakk.." jawab Kaisar.
"Om, ke Bunda dulu ya. Tunggu di sini nanti main sama Om, okey!!"
"Ookeeyy," Kaisar bermain lagi dengan mainannya.
Reyhan masuk ke dalam menemui Ruby di dapur.
"Halo Kak."
Ruby berbalik terkejut ada yang memanggilnya.
"Rey, bikin kaget deh."menggerakkan spatula di tangannya ke depan Reyhan.
"Melamun sih jadi kaget pas aku datang. Masak apa Kak? Jadi lapar, He..."
"Melamun siapa lagi kalau bukan kakak mu yang tidak pulang juga. Sudah seperti Bang Toyib saja kakak mu tuh gak pulang-pulang." Menghela nafas berhenti sejenak dari aktivitasnya.
"Masak makanan buat Kaisar. Kalau kamu mau makan sudah ada makanan di meja makan. Jelita tidak ikut?" tanyanya.
"Jelita lagi hamil besar, sangat beresiko kalau aku ajak perjalanan jauh. Aku makan ya, Kak." Mengambil piring lalu diisi makanan.
"Aku ke sini mau periksa AC dan CCTV. Aku sudah telepon teknisinya, nanti siang datang ke sini." ucap Reyhan sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Ah iya. Kamu rajin banget cek AC sama CCTV di sini. Padahal biar kakak saja yang panggil teknisi. Kasihan Jelita kalau harus ditinggal." ucap Ruby menghampiri Reyhan di meja makan.
"Tidak apa, Kak. Sekalian aku ketemu Kaisar." jawabnya.
"Aku merindukan kakak mu. Dimana dia sebenarnya? Sudah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar berita dan tidak ada yang tahu dia dimana." ucapnya sendu.
Reyhan menghentikan makannya menatap Ruby sedih.
"Doakan saja semoga Kak Rega baik-baik saja dimana pun dia berada." ucap Reyhan.
"Hmmmm," Ruby mengangguk "Kakak suapin dulu Kaisar, kamu lanjutkan makannya." Ruby pergi membawa Kisar ke meja makan.
"Bun, aku makannya sama Om?" Kaisar duduk di sebelah Reyhan.
"Iya sayang, Om makan Kaisar juga makan," jawab Ruby.
"Horeeeee....." Kaisar bersorak girang.
Baby Kai makan dengan lahap dan bersemangat, makanannya cepat habis dilahapnya.
Selesai dengan perawatan AC dan CCTV rumah Ruby, Reyhan berpamitan pulang. Reyhan kerap datang untuk perawatan AC dan CCTV rumah, konon teknisinya teman sekolah Reyhan jadi ia sekalian reuni.
"Tidak menginap, Rey?" tanya Ruby.
"Jelita sendiri di rumah, aku khawatir terlalu lama meninggalkannya sendiri." jawabnya.
"Nanti lahiran Jelita kakak yang ke sana ya..." ucap Ruby.
"Tidak perlu repot-repot, Kak. Biar Rey saja yang ke sini kalau bayinya sudah bisa di bawa pergi-pergian." tolaknya.
"Kakak tidak merasa repot, justru kakak yang harus ke sana. kamu ini gimana sih..." ucap Ruby lagi.
"Kalau kakak ke sana kan ribet harus bawa-bawa Kaisar yang super aktif ini. Biar Rey saja yang ke sini. Lagi pula sekarang kn ada video call.. Kakak bisa video call kalau mau lihat Rey kecil nanti.. heheh" tolak Reyhan lagi.
"Iya, kak." Reyhan menghampiri Kaisar. " Hey jagoan, Om pergi dulu ya, nanti kita main lagi okey. Tos dulu!!!" ucapnya pada Kaisar.
Kepalan tangan mereka beradu pelan.
"Daahh Om... Nanti main agi ya..." lambaian tangan Kaisar mengikuti Reyhan berjalan keluar.
Wajah Kaisar sangat mirip dengan Rega, kadang jika Kaisar sedang tersenyum Ruby merasa Rega yang sedang tersenyum padanya. Senyuman manis penuh kharisma yang membuat hati wanita manapun akan merasa tertarik. Namun bagi Ruby itulah senyum kedamaian hatinya.
Ruby menunjukan foto-foto Rega pada Kaisar, walau bagaimana pun Kaisar harus tahu wajah ayahnya.
"Ini ayah, sayang. Lihat dia tampan seperti mu." tunjuk Ruby pada sebuah foto yang tertera Rega di sana.
"Ayah? Ayah Kai, Bun?"
"Iya sayang."
"Ayah, mana? Ga ada, Bun,"
Ruby menatap Kaisar dalam, dari semenjak lahir Kaisar belum pernah bertemu dan merasakan kasih sayang ayahnya. Terbersit rasa sedih di hatinya, namun Ruby menahan untuk tidak menangis di depan anaknya.
"Nanti ayah akan pulang. Sekarang ayah lagi berusaha untuk pulang," ucapnya menahan kesedihan.
Kaisar membawa foto itu dan berlari-lari sambil memanggil ayahnya.
"Ayah,,,,, ayahhh,,, ayahhh,,, pulaaang,,," celotehnya.
Ruby berlari ke kamar, tak tahan lagi menahan tangisnya yang sudah di pelupuk mata.
"Kapan kamu akan pulang?" lirih.
Entah sampai kapan harus menahan rindu? Entah sampai kapan harus bertahan tanpa seseorang yang dicintai dan membuatnya tersenyum dan nyaman dalam pelukannya?
Sudah tak tahan menahan rindu, sudah tak tahan menahan ingin berada dalam pelukan hangat dan nyaman itu lagi.
๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ
*Kemarin engkau masih ada di sini
Bersamaku menikmati rasa ini
Berharap semua takkan pernah berakhir
Bersamamu
Bersamamu
Kemarin dunia terlihat sangat indah
Dan denganmu merasakan ini semua
Melewati hitam-putih hidup ini
Bersamamu
Bersamamu
Kini sendiri di sini
Mencarimu tak tahu di mana
Semoga tenang kau di sana
Selamanya
Aku selalu mengingatmu
Doakanmu setiap malamku
Semoga tenang kau di sanaโฆ
๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ
Lagu yang sering terdengar di televisi atau radio karena musisi yang melantunkan lagu itu menjadi korban tsunami. Tapi bagi Ruby lagu itu melambangkan perasaannya saat ini. Kehilangan seseorang yang selalu ada dalam hari-harinya.
Dering ponsel berbunyi panggilan dari nomor yang tak di kenal. Ruby meraihnya dan menggeser tombol hijau.
"Halo,,, halooo,,,,"
Tak ada jawaban dari seberang telepon.
Apakah itu Rega?
Atau?
NEXT >>>>>>
ga kerasa udah masuk episode2 terakhir R&R
jangan lupa like comment n vote...
follow juga authornya yaaa.......