MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 70



Segelas air habis di minumnya, bangun tidur Adna mencari ponselnya memeriksa email masuk dari perusahaan yang ia masuki lamaran pekerjaan. Sudah dua bulan ini Adnan tidak mempunyai pekerjaan.


Selama ini Adnan kerja serabutan menjadi sopir taxi online yang baru-baru ini menjadi sangat tren dikalangan masyarakat. Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan itupun memakai mobil orang tuanya.


Setelah keluar dari penjara, Adnan kembali ke rumah orang tuanya. Awalnya orang tuanya tidak mau menerimanya, tapi Adnan berusaha meyakinkan orang tuanya akan berubah menjadi lebih baik.


"Pak, Buk, maafkan Adnan sudah banyak mengecewakan bapak dan ibuk. Adnan menyesal." ucap Adnan dua bulan lalu ketika baru saja keluar dari penjara.


"Kau buat malu orang tua saja. Untuk apa kau kesini?" Atik sangat jengkel pada anak sulungnya itu.


Sedangkan Suryo duduk di kursinya tanpa melihat Adnan sedikit pun. Adik perempuannya, Anisa, langsung masuk ke kamarnya.


"Mau meminta maaf sama bapak dan ibuk. Maafkan Adnan Pak, Buk. Adnan tidak tahu lagi harus kemana,,," ucapnya seraya memohon.


"Asalkan kau mau berubah, kau boleh tinggal di sini." Suryo beranjak dari duduknya lalu pergi setelah mengucapkan itu.


"Terimakasih Pak, Buk." mencium punggung tangan Atik dan melihat punggung Suryo yang pergi begitu saja.


Adnan berusaha untuk berubah dan meyakinkan orang tuanya. Ke sana ke mari mencari pekerjaan belum juga ada panggilan. Hingga akhirnya Adnan mendaftar menjadi supir taxi online di sebuah perusahaan transportasi.


Hari itu Adnan mengantarkan penumpangnya menuju sebuah mall. Ketika ia menurunkan penumpangnya, Adnan melihat Ruby berjalan memasuki mall itu. Dengan cepat Adnan memarkirkan mobilnya ke parkiran terdekat dan menyusul Ruby masuk ke dalam.


"Ruby," lirihnya sambil memperhatikan Ruby dari jauh.


Ruby berbelanja ke berbagai toko di dalam mall. Adnan tetap memperhatikannya dari jauh, hingga ketika Ruby duduk sendiri barulah ia mendekatinya.


"Ruby!!" panggilnya.


Namun Ruby menampakan wajah ketakutan, Adnan nampak kecewa dengan ekspresi Ruby. Hanya menanyakan kabarnya lalu Adnan pergi lagi menunggu di parkiran.


Tidak lama Ruby keluar bersama seorang wanita yang tadi bersamanya. Adnan mengikutinya dari belakang sampai mereka masuk ke dalam rumah besar di suatu perumahan elit di kota.


"Apakah ini rumah Ruby?" gumam Adnan di dalam mobil. "Ternyata dia sudah bahagia, syukurlah,,,"


Lama Adnan memperhatikan rumah itu, Ruby muncul di jendela kamarnya memandang keluar entah kemana. Adnan tersenyum menyaksikan Ruby yang seperti memandangnya juga.


Esok paginya Adnan kembali ke rumah Ruby, melihat ke jendela berharap Ruby ada di sana. Tapi Ruby tak kunjung muncul juga. Beberapa kali Adnan meninggalkan rumah itu karena dapat penumpang tapi ia selalu balik lagi.


Ponselnya berbunyi tanda ada order taxi masuk, tanpa di duga alamatnya tepat di rumah Ruby. Adnan berharap yang menaiki taxinya benar Ruby yang memesan taxi.


Adnan sudah siap di depan rumah, dengan memakai topi untuk berjaga-jaga biar Ruby tidak mengenalinya dan merasa takut.


Ruby masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang.


"Ke Prima Laundry, Bu?" ucap Adnan.


"Iya, Pak. Santai aja ya Pak jangan ngebut!" jawab Ruby.


"Baik, Bu."


Ruby memperhatikan supir yang mengantarnya seperti seseorang yang ia kenal.


"Namanya Adnan, Pak?" tanya Ruby.


"Iya, Bu."


"Seperti nama ......." ponsel Ruby berdering sebelum Ruby menyelesaikan bicaranya.


"Halo, Yank,,,,, aku jadinya naik taxi online..... Iya, sayang..... Siapa suruh aku nggak boleh nyetir sendiri..... Iya, selamat bekerja sayang...." panggilannya berakhir.


"Ruby sangat bahagia sepertinya. Tidak seperti waktu menjadi istri ku. Aku jadi iri sama suaminya sekarang." gumam Adnan dalam hati.


"Pak, tadi namanya Adnan ya?" tanya Ruby lagi.


"Iya bu, kenapa?" Adnan berusaha membedakan suaranya.


"Gapapa, saya jadi ingat seseorang dengan nama yang sama," jelas Ruby.


Adnan girang bukan kepalang, Ruby mengingatnya. Semoga bukan ingat kenangan buruk tapi kenangan manis harapannya.


"Suaranya juga mirip," ucap Ruby pelan namun Adnan masih bisa mendengarnya.


"Maksud mu aku?" Adnan membuka topinya dan berbalik ke belakang.


Sontak membuat Ruby terkejut dan membelalakkan matanya.


"Mas Adnan." Ruby setengah berteriak.


"Iya ini aku. Nggak usah takut begitu. Aku nggak akan berbuat jahat sama kamu," ucap Adnan lemah lembut.


"Iya tapi lihat ke depan. Nanti kamu nabrak!" ucap Ruby masih terkejut.


"Kamu jadi supir taxi online?" tanya Ruby.


"Iya. Sudah lama aku nggak punya kerjaan. Jadi aku mendaftar jadi supir taxi." jelas Adnan.


"Oh gitu. Yang penting halal. Lalu bagaimana kabar Tami?"


"Aku dan Tami sudah lama berpisah."


"Mmmm... Maaf, "


"Gapapa. Mungkin memang sudah jalannya seperti itu. Aku harus membayar dosa yang sudah ku buat." tutur Adnan.


"Hmmm...." dekheman jawaban Ruby.


"Bagaimana dengan mu? Sepertinya kau sudah menikah lagi.." Adnan balik bertanya.


"Iya."


"Semoga kamu selalu bahagia,"


"Aamiiiinnn. Makasih doanya. Doa yang sama juga untuk mu, Mas." ucap Ruby.


"Sudah sampai. Mau aku tunggu?" tawar Adnan.


"Ah nggak, Mas. Makasih. Aku dijemput suami ku nanti. Aku sudah bayar pakai GAPAY ya, Mas." membuka pintu mobil lalu keluar.


Adnan memandangi Ruby sampai masuk ke dalam laundry kemudian pergi. Tapi bukan pergi jauh, Adnan menepikan mobilnya tidak jauh dari tempat laundry.


"Sepertinya laundry ini punya Ruby. Aku ingin tahu siapa suami Ruby sekarang. Lebih baik aku menunggu di sini sampai Ruby dijemput suaminya." ucap Adnan sambil mematikan mesin mobilnya.


🦋🦋🦋🦋🦋


Hari sudah mulai gelap, jam dinding sudah menunjukan pukul delapan belas tiga puluh. Ruby masih menunggu Rega menjemputnya, sambil memeriksa beberapa laporan laundry.


Sebagian pegawainya sudah mulai membereskan pekerjaannya karena biasa tutup jam tujuh malam.


Tepat jam tujuh Rega sampai di tempat laundry.


"Sayang, mau pulang sekarang atau nanti?" tanya Rega setelah masuk ke ruangan Ruby.


"Sebentar lagi. Aku masih memeriksa satu laporan lagi dan persediaan perlengkapan laundry." jawab Ruby.


"Ya sudah aku tunggu diluar, mau ngerokok sebentar ya..." Rega berbalik berjalan keluar.


Semua pegawai berpamitan untuk pulang karena sudah waktunya.


"Kamu tuh ngerokok aja, Yank." Geleng-geleng kepala Ruby dengan kebiasaan Rega yang masih suka merokok.


Pekerjaannya selesai, Ruby membereskan laporan-laporannya ke dalam map dan dimasukan ke dalam lemari.


Dikunci ruangannya dan pintu utama masuk laundry. Dicari suaminya yang tadi berpamitan merokok diluar.


"Dimana sih? Tadi bilangnya diluar." decak Ruby tidak menemukan Rega di luar.


Ruby berjalan ke mobil dan mengetuk kaca mobil, mungkin Rega menunggunya di dalam mobil namun Rega tidak ada di sana.


"Kemana sih?" melihat ke semua arah mencari suaminya.


Namun dari kejauhan....


"Aku nggak akan biarkan kamu jadi istri kedua lelaki itu Ruby. Kamu harus bahagia tapi bukan jadi yang kedua."


Adnan menancapkan gas mobilnya da melaju kencang.


NEXT >>>>>>


LIKE


COMMENT


VOTE


HAYOOOHHH VOTE NYA UDAH BERAPA? TINGGAL 3 HARI LAGI LHOOOOO.....


MAKASIH BANYAK SEMUANYA.....


🤗🤗🤗🤗🤗