
“Nita, Dina,” seru Ruby saat melihat kedua temannya sedang duduk di ruang tamu.
“Ruby, maaf baru bisa menemui mu. kami turut berduka atas meninggalnya orang tua dan anak mu,” ucap Dina mengucapkan belasungkawanya.
Nita dan Dina memeluk Ruby, sudah lama sekali tidak bertemu dengan teman satu pekerjaannya dulu.
“Tahu dari mana aku ada di sini?” Selama ini Ruby tidak pernah menceritakan tentang keluarganya pada teman-temannya, maka dari itu ia merasa heran.
“Kita kesini sama,,,,,,” jawaban Nita terpotong saat seorang lelaki muncul dari balik pintu.
“Kamu sudah pulang?” Adnan berjalan menghampiri mereka.
“Iya, Mas,” jawab Ruby datar tanpa berekspresi.
“Silahkan diteruskan ngobrolnya, aku nggak akan mengganggu kalian. Aku akan mengobrol dengan paman di dalam,” ucap Adnan sebelum menghilang di balik pintu.
Pertanyaannya terjawab sudah dengan kemunculan Adnan barusan.
“Kita nyariin kamu kerumah kontrakan kamu tapi nggak ada, terus kerumah orang tua mu juga sama nggak ada orang. Nggak sengaja ketemu mantan suami mu jadi kita menanyakan kamu sama dia. Kamu gapapa kan, By?” jelas Nita.
“Jadi kita janjian sama Adnan ketemu di dekat hotel, terus dianterin kesini sama dia,” tambah Dina.
“Iya gapapa, aku senang bisa bertemu dengan kalian. Sudah lama kita nggak ketemu kan. Kalian sengaja kesini?” tanya Ruby lagi.
“Kita lagi ada acara di hotel dekat sini, acara kantor dari semua cabang,” jelas Dina.
“Sama kantor pusat juga?” tanya Ruby ingin tahu.
“Iya sama yang dari kantor pusat juga pastinya. Kenapa?” Dina memandang Ruby penuh tanya.
“Gapapa, kirain dari kantor cabang aja,” asal menjawab.
“Ruby, buatin minum buat teman mu,” suruh Bibi yang baru ikut nimbrung juga ditengah-tengah mereka.
Ruby beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.
Adnan sedang berbincang dengan Paman Edi di ruangan belakang. Saat Ruby melewatinya ia sedikit menoleh. Ruby melanjutkan langkahnya ke dapur dan mebuatkan minuman untuk Nita dan Dina. Ruby kembali lagi ke ruang tamu dengan membawa nampan yang membawa dua cangkir teh untuk temannya. Diletakkannya di meja lalu ia duduk di tengah-tengah mereka lagi.
Hari sudah mulai gelap, jam dinding sudah menunjuk ke angka tujuh. Dina dan Nita pun berpamitan kembali ke hotel, untuk melanjutkan acara kantornya.
“Kita balik ke hotel dulu ya, By,” pamit Nita sambil memeluk tubuh Ruby.
“Iya, kita pasti dicariin nih karena sudah dari tadi keluar,” tambah Dina bergantian memeluk Ruby.
“Kalian hati-hati ya. Jangan lupa sering-sering kirimkan pesan ke nomor aku yang baru ya,” ucap Ruby sebelum mereka meninggalkan rumah bibi.
Selepas kepulangan Dina dan Nita Ruby masuk kamar dan pergi mandi karena merasa kegerahan usai bekerja tadi belum sempat membersihkan diri.
Bibi Lies mengetuk pintu kamarnya beberapa kali.
“Iya, Bi,” setelah membuka pintu dan tahu siapa yang mengetuknya.
“Adnan menunggu mu. Katanya ada yang ingin dia bicarakan dengan mu,” kata Bibi setengah berbisik.
“Ada apa? Bilang saja Ruby sudah tidur,” malas menemui Adnan.
“Temui saja dulu biar dia cepat pulang, kasihan dia sudah dari tadi menunggu mu,” setengah memaksa.
“Ya sudah,” Ruby keluar kamar dan mengekor bibinya di belakang.
Ruang tamu terasa begitu sepi, Paris mungkin sedang berada di kamarnya, paman dan bibi meninggalkan Ruby dan Adnan di ruang tamu.
“Bagaimana kabar mu?” tanya Adnan memulai.
“Baik, apa yang akan Mas Adnan bicarakan. Ruby sudah mengantuk.” Ketus.
“Ruby, Mas mau kita rujuk,” ucapnya kemudian Adnan mengambil nafas untuk melanjutkan kata-katanya. “Mas mau kita mulai lagi dari awal, kita kembali lagi seperti dulu,” ucapnya sangat jelas dan lugas.
“Kenapa Mas Adnan mengajak ku rujuk? Terus Tami bagaimana? Tami sekarang lagi mengandung anak mu, ingat itu,” tegas.
“Mas, wanita manapun nggak akan mau kalau harus di madu. Termasuk aku dan Tami juga sama. Apalagi sekarang Tami sedang mengandung, ia butuh perhatian lebih dari kamu.”
“Kamu belum memaafkan, Mas? Sampai kamu nggak mau rujuk lagi,” Adnan sangat sedih dengan penolakan Ruby.
“Aku sudah pernah bilang, aku sudah maafin tapi kalo untuk kembali lagi seperti dulu, maaf aku nggak bisa.”
“Apa karena lelaki itu? Ruby, dia sudah beristri,” Adnan menjadi emosi karena Ruby menolaknya terus.
“Jangan mencari kambing hitam, Mas. Kamu sendiri yang sudah memilih jalan hidup mu bersama Tami. Kamu memilih berhubungan dengannya karena kamu nggak puas aku sebagai istri kamu kan? Jadi terima dan jalani pilihan mu. Mas aku lelah, aku mau istirahat. Permisi,” Ruby meninggalkan Adnan sendiri di ruang tamu.
Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi untuk mengajak Ruby rujuk dengannya. Adnan berpamitan pada paman dan bibi lalu pulang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di tempat lain, Reyhan membuka pintu kamar kostnya karena ada yang mengetuk dari luar.
“Kakak,” setelah membuka pintu dan langsung memeluk kakaknya.
“Lama sekali kau membukanya,”
“Tadi lagi di kamar mandi,”
“Kamar apaan ini? Seperti kapal pecah,”
“Maklum kamar bujang kan gini, Kak,” cengengesan.
“Bujang juga harus tahu kebersihan dan kerapihan,”
“Iya, dasar tukang ngomel,”
“Dasar jorok,”
“Ada angin apa mengunjungi adik mu ini?”
“Ada acara kantor di kota ini, sekalian aku ingin bertemu sama adik yang jorok dan bau ini,” mengacak-acak rambut Reyhan.
Reyhan membuka laptopnya mengerjakan beberapa pekerjaanya yang belum selesai. Sedangkan kakaknya merebahkan diri di tempat tidur melepas lelahnya sambil memainkan ponsel pintar miliknya.
“Itu siapa, Kak?” tanya Reyhan mengintip apa yang sedari tadi dipandangi kakaknya di layar ponsel.
“Bukan siapa-siapa,” menutup ponselnya segera.
“Coba lihat!” merebut ponsel kakaknya dengan paksa.
“Wah cantik banget. Selingkuhan ya?” saat melihat apa yang dipandangi kakaknya sambil melayangkan ejekannya.
“Anak kecil tahu apa,” kesal langsung merebut ponselnya lagi.
“Ya nggak salah juga kalo kakak selingkuh. Istri mu itu hobinya foya-foya, aku nggak suka,” ucap Reyhan.
“Aku sudah lelah dengan kelakuannya, tapi dia mengancam ku akan bunuh diri jika aku menceraikannya.” Mimik kesedihan terlihat diwajahnya.
“Terus cewek yang tadi siapa? Sepertinya dia orang yang spesial buat mu Kak,” Reyhan masih penasaran dengan yang dilihatnya tadi.
“Dia Ruby. Aku sangat mencintainya. Tapi aku tak tahu dimana keberadaanya sekarang,” lirihnya getir.
NEXT >>>>>>>
like
comment
vote
⭐5