MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 30



Tadinya eps ini mau aku simpen aja tapi tanggung buat sekedar mengisi waktu luang kakak pembaca semua.


Selamat membaca... ❣️❣️


🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋


Mobil Rega sudah tak terlihat lagi. Ruby berjalan masuk ke rumah tanpa menyapa mantan suami dan istri barunya itu.


"Ruby, aku mau bicara," ucap Adnan saat Ruby berjalan membelakanginya.


Langkah Ruby terhenti tanpa bicara.


"Aku mau bicara menyangkut Sean," ucap Adnan lagi.


"Kita bicara di dalam, nggak enak di lihat tetangga," ucap Ruby tanpa berbalik dan meneruskan langkahnya masuk ke dalam rumah.


Adnan dan Tami mengikuti Ruby masuk ke dalam rumah kemudian duduk di ruang tamu. Pandangan Tami tak lepas dari gelang yang ada di pergelangan tangan Ruby.


"Sepertinya itu gelang yang di bicarakan Sely. Aku harus minta yang lebih dari itu ke Mas Adnan," gumam Tamidalam hatinya.


"Apa yang mau kamu bicarakan?" ucap Ruby tanpa ekspresi.


Adnan terlihat ragu-ragu untuk mengatakan apa yang menjadi tujuannya.


"Mas, ayok cepetan ngomong! Kalo nggak aku aja yang ngomong," ucap Tami sudah tidak sabar.


"Sekarang aku udah nggak kerja, uang tunjangan dari kantor sudah aku jadikan modal untuk usaha ku nanti. Tami juga sekarang sedang hamil dan butuh banyak biaya untuk melahirkan. Mungkin aku nggak bisa terus mengirimkan uang untuk Sean. Ini ada sedikit uang untuk keperluan Sean. Karena mungkin aku akan lama nggak akan ke sini untuk melihatnya. Aku sedang fokus merintis usaha ku," tutur Adnan.


"Iya, Kak, Mas Adnan lagi sibuk ngurusin bisnis barunya. Ini uang sepuluh juta buat keperluan Sean nantinya. Karena belum tentu kan Mas Adnan terus ngasih nafkah buat Kakak dan juga Sean," tambah Tami.


Hati Ruby sepertinya sudah mulai kebal dengan tingkah kedua orang yang sedang berada di hadapannya. Ruby tersenyum di hadapan mereka.


"Terimakasih sudah ingat sama Sean. Tapi maaf aku nggak bisa terima ini. Karena aku sendiri masih sanggup dan masih banyak tabungan yang tadinya untuk membeli rumah tapi nggak jadi. Kayaknya uang tabungan ku masih cukup bahkan lebih untuk membiayai Sean sampai dia lulus kuliah nanti. Jadi ambil saja uang sepuluh juta ini untuk tambah-tambah biaya melahirkan nanti," tolak Ruby mentah-mentah


Penolakan Ruby menjadi bumerang tersendiri bagi Adnan dan Tami. Adnan jadi merasa sangat bersalah pada Ruby dan Sean. Tapi karena desakan Tami ia akhirnya melakukan semua itu.


Ruby tidak mau dikasihani oleh orang yang sudah jelas-jelas dengan terang-terangan menyakiti hatinya. Uang tabungannya selama ini juga lebih dari cukup untuk biaya hidupnya bersama Sean sampai Ruby mendapatkan pekerjaan yang baru.


"Sombong banget," decak Tami.


"Ruby terimalah ini, aku nggak mau disebut nggak bertanggung jawab sama Sean," ucap Adnan tulus.


"Maaf, aku dan Sean nggak bisa menerima belas kasihan dari orang lain. Dan juga aku masih sanggup untuk membiayai hidup kami berdua," ucap Ruby lagi.


"Tapi aku bukan orang lain buat Sean. Aku ayahnya," ucap Adnan tidak terima dengan ucapan Ruby.


"Ayah? Kalo kamu seorang ayah, kapan kamu terakhir kali bertemu Sean?" tanya Ruby tidak kehilangan kata.


Adnan tidak bisa menjawab pertanyaan Ruby. Sudah lama sekali memang Adnan tidak bertemu Sean dan bermain dengan anaknya itu.


"Mas, udah yuk. Bawa aja lagi uangnya. Udah ditolak ini kok," ajak Tami yang merasa terpojokkan dengan setiap ucapan Ruby.


"Iya, silahkan pintu masih terbuka untuk kalian," ucap Ruby mengusir secara halus.


Adnan masih terdiam, berpikir keras tentang pertanyaan Ruby padanya. Ayah macam apa yang sudah berbulan-bulan tidak bertemu anaknya hanya demi kesenangannya bersama istri baru.


"Mas, ayok. Jangan diam aja dong," ucap Tami kesal melihat Adnan malah terdiam tak bersuara.


"Ya sudah kalo gitu, kita pamit dulu. Kalo ada apapun itu tentang Sean tolong kabari aku," ucap Adnan berpamitan.


Tami membawa amplop uang berisi uang sepuluh juta yang tadi di taruh Adnan di atas meja lalu pergi bersama Adnan keluar dari rumah Ruby.


"Tanya Sean ada atau nggak di rumah aja nggak kamu, Mas."


Ruby menggelengkan kepalanya, tidak mengerti dengan jalan pikiran mantan suaminya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Suatu hari di acara arisan wanita-wanita sosialita yang sedang asik berbincang di sebuah restoran ternama.


Sely baru saja datang dengan mobil barunya, menenteng tas mahal di tangannya, dan semua yang melekat di tubuhnya adalah barang-barang mahal dengan merk ternama.


"Haaiiii bebs," cipika cipiki menyapa teman-teman sosialitanya


"Wah ada yang bawa mobil baru nih," celetuk Jeny teman yang paling dekat dengan Sely.


"Ah biasa aja. Itu hadiah dari suami karena aku sudah memuaskannya di ranjang," ucap Sely dengan bangganya.


"Suami ganteng maksimal siapa sih yang bisa nolak," celetuk Mira teman Sely yang lain.


"Hati-hati lho bebz, kalo suaminya terlalu tampan nanti ada yang goda diluaran sana," goda Tantri.


"Makanya Sely selalu puasin suaminya di ranjang biar nggak tergoda sama wanita lain, iya kan Sel?" goda Jeny juga.


"Sudah ah jangan godain aku terus. Aku jadi malu nih. Pokoknya suami aku itu cinta mati sama aku. Apapun yang aku minta pasti dia kasih. Jadi nggak mungkin dia berani main dibelakang ku," ucap Sely menyombongkan diri.


"Eh tau nggak gosipnya si Hera, katanya suaminya selingkuh sama sekretarisnya," ucap Mira.


"Iya katanya sampai si Hera nya minta cerai dan minta gonogini, biar harta suaminya nggak jatuh ke tangan sekretarisnya itu," tambah Jeny.


"Kalo suami aku ketahuan selingkuh, udah aku obrak abrik tuh selingkuhannya," timpal Tantri.


"Kalo suami aku selingkuh sih ya itu urusan dia. Asal jangan sampe berkurang aja uang bulanan sama uang buat kita belanja belanji. Kalo bisa tambahin, ya nggak?" ucap Sely yang di susul gelak tawa teman-temannya.


"Oya teman-teman bulan depan kita adain liburan bareng yuks ke luar negri. Yah itung-itung kota refreshing sama-sama. Masalah travelnya sama travel keluarga aku aja. Tenang aja aku diskon deh dikit," ucap Tantri mengajak teman-temannya.


"Oke, aku ikut,"


"Ikut juga dong,"


"Aku pasti ikut,"


Tinggal Sely yang belum bersuara, ia sedang bergumul dengan dirinya sendiri. Baru saja ia meminta mobil sama suaminya dan sekarang mau minta buat liburan ke luar negri, apa kata Rega nanti.


"Sel, kamu ikut kan?" tanya Tantri.


"Ah iya dong aku pasti ikut," jawab Sely walau tidak yakin.


"Harus bilang apa aku sama Mas Rega, tapi kalo nggak bisa kalah pamor aku sama teman-teman ku," batin Sely.


Pulang ke rumah Sely langsung mencari suaminya tapi Rega belum pulang. Sely terus menunggu, ia menyiapkan makan malam yang tadi di belinya di jalan sebelum pulang. Lama Rega belum datang juga Sely meneleponnya


Sely " Mas, kamu lagi dimana sih? Kok lama banget pulangnya?" (Kesal)


Rega "Aku lagi dijalan pulang, kenapa? Nggak biasanya kamu nunggu aku pulang," (Heran)


Sely "Aku ingin makan malam sama ka,,,,"


Tuuttt,,,, tuuuuttt,,, tuuuttt,,,,


"Eh malah dimatiin," mengerucutkan bibirnya kesal.


Tak lama Rega sampai di rumah. Sely girang bukan kepalang melihat kepulangan suaminya. Sely membukakan pintu dan membawakan tas Rega.


"Ada apa?" tanya Rega singkat.


"Makan malam yuk, aku udah beli makanan tadi buat makan malam kita," ucap Sely merayu.


" Aku udah makan," dingin.


"Udah makan? Tapi temenin aku makan ya," belum menyerah.


"Bilang aja ada apa aku capek mau istirahat," malas.


"Mas, bulan depan aku mau liburan ke luar negri sama teman-teman ku," ucap Sely merajuk.


Rega menarik nafasnya dalam mendengar permintaan istrinya yang di luar batas itu.


❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️


like


comment


vote


⭐⭐⭐⭐⭐


sampai ketemu hari sabtu / minggu


🙏🙏🙏🙏