MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 68



"Kenapa Ruby bermimpi yang sama dengan ku?"


Segelas kopi ditenggaknya sampai habis, rokok di sela jarinya di hisap beberapa kali kemudian di lemparnya ke sembarang arah.


"Yank, lagi apa?" Ruby menghampiri suaminya yang tengah berdiri di teras belakang.


"Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Rega saat Ruby sudah di sampingnya.


"Aku haus, mau ambil minum." jawab Ruby.


"Oh. Ya sudah ayok tidur!"


"Aku ambil minum dulu ya"


Ruby mengambil satu botol air minum lalu kembali ke kamar bersama suaminya.


"Yank, aku takut mimpi buruk lagi." ucap Ruby saat sudah duduk bersandar di tempat tidurnya.


"Kamu harus tidur. Jangan dipikirkan, itu hanya mimpi," ucap Rega.


"Yank, aku ingin pergi ke makam orang tua ku dan juga Sean. Aku ingin kesana."


"Minggu depan kita kesana,"


"Beneran?"


"Iya. Sekarang kamu tidur ya!"


"Iya deh, tapi peluk tidurnya."


"Iyaa...."


Keduanya tidak benar-benar terlelap malam itu, mimpi buruk yang mereka alami sangat menguras hati dan pikirannya masing-masing.


Esoknya....


Ruby menyiapkan sarapan untuk Rega dan juga Arina di dapur. Mimpi yang akhir-akhir ini sering datang tak hilang dari pikirannya.


"Sayang" Rega memanggil Ruby yang terlihat sedang melamun.


"Ah iya..."


"Kenapa? Ada yang kau pikirkan? Aku lihat kamu melamun tadi."


"Aku masih kepikiran mimpi itu. Kenapa aku sering bermimpi seperti itu terus,,?"


Rega duduk di susul Ruby di sebelahnya.


"Jangan dipikirkan, mimpi itu kan bunga tidur. Mungkin kamu hanya kelelahan saja. Mana, aku minta sarapan ku!" Rega menengadahkan tangannya.


Ruby segera mengambil piring dan mengisinya dengan makanan lalu diletakkan di depan suaminya.


"Terimakasih. Jangan di pikirkan terus, kata dokter kamu nggak boleh berpikir yang berat. Kalo kamu butuh refreshing, kamu bisa ke laundry atau jalan-jalan ke mall di temani Jelita." saran Rega.


"Ah iya. Sepertinya aku harus menjernihkan pikiran ku." jawab Ruby.


"Ya sudah ini kartu kreditnya. Hati-hati ya... " Rega mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya kemudian melanjutkan kembali sarapannya.


"Makasih ya..." tersenyum manis menampilkan deretan gigi putihnya.


🦋🦋🦋🦋


Sepulang dari laundry Ruby di jemput Jelita menuju sebuah mall.


"Kak, mau kemana dulu?" tanya Jelita saat mereka sudah berada di tengah mall besar.


"Kita jalan aja dulu, siapa tahu ketemu yang lucu-lucu..." jawab Ruby.


Sudah lelah berjalan-jalan, akhirnya mereka memutuskan untuk mengisi perut mereka di sebuah cafe di dalam mall.


"Kak, aku simpan belanjaan ke mobil dulu ya. Sambil nunggu pesanan kita datang. Aku nggak akan lama kok." Belanjaan Ruby dan Jelita lumayan banyak, jadi Jelita memutuskan untuk menyimpannya di mobil.


"Ya sudah jangan lama ya... Mau kakak bantu?" tawarnya.


"Nggak usah. Aku masih bisa kok. Bumil duduk manis aja disini ya..." Jelita pergi dengan membawa belanjaannya.


Ruby menunggu sendiri duduk di kursi sambil memandangi keramaian mall dari dalam cafe.


Seorang pelayan menyajikan pesanan yang di pesan Ruby di atas meja. Ada dua piring nasi goreng dan dua gelas jus buah.


"Terimakasih" ucap Ruby tanpa melihat pelayan itu.


Jelita belum juga kembali, Ruby memutuskan untuk makan lebih dulu.


"Ruby"


"Mas Adnan."


"Apa kabar?" tanya Adnan sambil duduk di kursi sebelah Ruby.


"Ba... baik. Kau sendiri?" jawab Ruby terbata-bata mengingat mimpinya akhir-akhir ini.


"Baik. Kamu takut sama aku?" Adnan mengerutkan dahi melihat ekspresi ketakutan Ruby.


"Aku hanya kaget saja." Ruby melihat ke sekitar Adnan dan tak melihat siapa pun lagi disana." Sendiri?" tanyanya.


"Ya, aku sendiri. Ya sudah lanjutkan makan mu. Aku pergi dulu." Adnan berdiri dan langsung meninggalkan cafe.


Ruby bernafas lega, melihat kepergian Adnan sampai tak terlihat lagi.


"Kak, lagi lihat siapa?" suara Jelita tiba-tiba mengejutkan Ruby.


"Enggak. Tadi ada yang mirip teman kakak. Ayok makan keburu dingin nasi gorengnya." Ruby berkilah.


Setelah menghabiskan makanannya, mereka segera pergi dari cafe itu.


"Mau kemana lagi, kak?" tanya Jelita.


"Kayaknya kita pulang aja, Jel. Kakak udah capek." mengajak Jelita pulang karena hari pun sudah sore.


Ruby dan Jelita berjalan menuju parkiran untuk langsung pulang.


"Jel, gimana ceritanya kamu bisa suka sama Rey yang selengean gitu?" tanya Ruby ketika di perjalanan pulang, Jelita tersipu sambil terus fokus menyetir.


"Hehe, aku di adopsi Pak Abdul dan Bu Ira di usia ku lima tahun. Sejak saat itu aku sering bermain dengan Reyhan karena kami seumuran. Dulu aku sama Reyhan sering bertengkar. Nggak tahu kenapa kita jadi saling suka waktu dewasanya. Kalo di ingat-ingat lucu juga," tutur Jelita.


"Berarti kamu tahu Ibu kandungnya Arina dong, Jel?" pertanyaan yang sudah dari tadi ingin ditanyakan.


"Mbak Kania maksud kakak?" memastikan.


"Iya, Rega nggak pernah menceritakannya sama aku. Jadi penasaran aja ibunya Arina itu seperti apa." jelas Ruby.


"Mbak Kania mirip kakak. Aku juga sempat kaget waktu pertama kali melihat Kak Ruby. Memang nggak mirip banget. Tapi bentuk mukanya kalian sangat mirip. Bahkan aku kira kakak adiknya Mbak Kania tapi ternyata bukan." cerita Jelita.


"Oh ya? Kamu punya fotonya nggak?" Ruby semakin penasaran.


"Aku nggak punya, Kak. Tapi di rumah Bapak ada di kamarnya Arina." jawabnya yakin.


"Aku pernah ke kamar Arina dulu, tapi nggak lihat ada foto seseorang di sana. Atau aku nggak lihat ya..." mencoba mengingat-ingat.


"Ada Kak. Mungkin kakak nggak begitu memperhatikan kamar Arina waktu kakak kesana. Fotonya kecil dan menempel di foto Arina yang masih bayi." jelas Jelita lagi.


"Mungkin kalo kesana lagi aku ingin sekali melihatnya. Terus gimana lagi seorang Mbak Kania itu? Kamu pasti tahu kan asal mula Rega bisa menikahi Kania?" Jelita mengangguk membuat Ruby semakin ingin mendengar ceritanya.


"Kak Rega sama Mbak Kania itu teman kuliah. Makanya lulus kuliah mereka langsung nikah. Tapi Mbak Kania sakit-sakitan dan akhirnya meninggal sewaktu melahirkan Arina." kenang Jelita.


"Mmmm... Pasti Kania itu orang yang paling Rega sayang ya... Terbukti Rega sangat menyayangi Arina..." ucap Ruby lirih.


"Pastinya Kak Rega sayang banget sama Kakak. Kak Rega nyiapin rumah itu khusus buat kakak lho...." Jelita berusaha untuk menghibur.


"Kamu ini bisa aja. Aku sempat cemburu sama kamu gara-gara Rega pergi ke rumah itu tanpa sepengetahuan ku dulu. Maafin kakak ya." Mengusap punggung Jelita yang sedang asik menyetir.


"Aahh gapapa, kak. Kalo aku di posisi kakak juga pasti melakukan dan merasakan yang sama.. hee..." ucap Jelita sambil tersenyum.


"Eh, Jel. Kamu kenal juga sama Sely istri keduanya Rega? Tapi katanya Paman Abdul nggak datang waktu pernikahan mereka. Berarti kamu juga nggak tahu ya..." Ruby jadi ingat Sely yang memberikn foto Jelita dan Rega.


"Aku tahu Kak Sely juga. Sebelum aku berangkat sekolah ke luar negri aku sempat tinggal di rumah Kak Rega sama Reyhan. Aku kurang suka sama Kak Sely. Kakak hati-hati ya sama Kak Sely." tutur Jelita lagi.


"Ishhh... Ternyata Sely sengaja membuat aku cemburu waktu itu. Dia benar-benar belum menyerah padahal dia sudah menikah," batin Ruby kesal.


"Hati-hati kenapa memangnya?" tanya Ruby.


"Hati-hati aja pokoknya. Emosi dia sering meledak-ledak kayak singa." ucap Jelita menunjukan kengerian....


"Haha... Kamu tuh... nggak boleh gitu.. Dia juga mantan kakak ipar kamu kan.." Ruby melihatnya malah lucu.


"Eh nggak tahu dia singa marah kayak gimana," decak Jelita.


Ruby tertawa mendengarnya....


NEXT >>>>>>>


MAAF BARU UP LAPTOPNYA BARU ON


JANGAN LUPA LIKE COMMENT VOTE


TERIMAKASIH SEMUA