
Ruby berjalan dan masuk ke dalam sebuah café. Jangan tanya suasana hatinya sekarang, karena sudah pasti sedang merasakan kesakitan yang mendalam. Kekecewaan karena ulah suaminya dan pengkhianatan membuatnya berusaha tegar walau sakit.
Hari ini Ruby akan bertemu dengan Tami selingkuhan dari Adnan, suaminya.
Ternyata Tami sudah tiba lebih dulu dan sedang menunggu Ruby di meja paling sudut di café tersebut. Ruby berjalan mendekati meja Tami, dengan hati yang entah apa yang sekarang ia rasakan karena sudah hancur berkeping-keping.
“Halo Kak, apakabar?” Tami merentangkan tangannya ke depan Ruby.
“Hmmm,” langsung duduk tidak membalas jabatan tangan Tami.
“Jadi Kak, maksud aku mengajak bertemu ingin menjelaskan hubungan aku sama Mas Adnan,”
“Terus?” Ruby menjawab dengan sinis.
“Aku tidak pernah menyangka kalau akhirnya akan seperti ini, tapi aku juga merasa bersalah sama kakak,”
Tami terlihat gemetaran memberikan penjelasannya. Berbeda dengan Ruby yang terlihat santai dengan amarah yang bergejolak dalam hatinya. Ingin sekali ia mencabik-cabik wajah wanita yang sudah merusak rumah tangganya yang sedang ada di depannya saat ini. Tapi Ruby berusaha untuk terlihat tegar, ia tidak mau terlihat lemah di depan Tami.
“Terus kamu mengajak aku bertemu untuk apa?” tanya Ruby santai seperti sedang tidak terjadi apa-apa antara dia dan Tami.
“Aku sudah menikah siri sama Mas Adnan,”
Seperti tersambar petir di siang bolong, terhempaskan ke samudera yang sangat dalam, hati Ruby yang sudah hancur mungkin kini lebih hancur lagi dan menjadi debu.
Sekuat tenaga Ruby berusaha menguasai dirinya agar bisa tegar dan tidak menangis di hadapan wanita yang baru saja ia ketahui menjadi madunya.
“Aku tidak peduli, kalian mau nikah, pacaran atau apapun itu, aku tidak peduli,”
“Tapi, Kak. Mas Adnan tetap tidak akan menceraikan kakak. Jadi mau kah kakak berbaikan dengan ku, karena aku tidak mau kita bermusuhan,”
“Jadi kamu mau aku yang menceraikan dia? Tunggu saja. Dan aku tidak berminat untuk berteman dengan mu,”
“Bukan begitu, Kak. Sebelumnya aku minta maaf, Kak. Aku sudah,,,,,”
“Aku sibuk, aku sudah tidak berminat membicarakan rumah tangga ku. Kalau kamu mau suami ku, ambil saja,” lalu pergi meninggalkan Tami yang sedang frustasi sendiri.
Ruby masuk ke dalam taxi meninggalkan cafe itu. Di dalam taxi barulah Ruby menangis menumpahkan air matanya yang tadi sempat ia tahan. Taxi mengarah ke rumah kontrakannya, ia ingin membereskan semuanya tapi rupanya Adnan belum pulang dari kantornya.
Ruby menelepon Adnan agar ia cepat pulang, dan benar saja tidak lama dari ia menelepon Adnan pulang.
“Sayang,” memeluk Ruby tapi tidak ada balasan apapun dari Ruby.
“Maafkan aku ya, sayang,” ucapnya lagi namun Ruby masih tidak merespon.
“Aku sudah bertemu dengannya, kamu sudah menikahinya, Mas?”
Adnan diam seribu bahasa. Ia menunduk malu seribu penyesalan menyelimutinya, namun apalah daya, Ruby sudah tidak bisa memaafkannya lagi.
“Jawab, Mas!!”
“Iya aku sudah menikah siri dengannya.”
“Jadi selama ini kamu keluar malam sampai tidak pulang itu karena dia?”
“Aku udah tidak bisa percaya lagi sama kamu, Mas. Pikirkan kesalahan mu dan jangan menemui ku sebelum kau menyesalinya dan apa yang akan kamu lakukan untuk aku, Sean, dan juga dia,”
Ruby pergi membuka pintu namun Adnan menahannya.
“Jangan pergi, ku mohon. Maafkan aku yang sudah khilaf,” memohon.
“Aku sudah bilang pikirkan kesalahan mu, dan jangan dulu menemui ku setelah kamu sadari kesalahan mu itu, jangan halangi aku,” lalu pergi.
Adnan tertunduk lesu menyesali yang telah ia perbuat pada istrinya.
Ruby berjalan tak tentu arah meninggalkan Adnan yang terpaku melihat kepergiannya. Baginya hari ini adalah hari kehancuran hidupnya. Entah seperti apa bentuk hatinya sekarang pasti sudah tidak berbentuk lagi. Dunia seakan tak adil padanya.
Sudah lelah ia berjalan tak tentu arah, terpikirkan untuk pergi ke apartment Rega. Ia mencari kunci yang diberikan Rega dan langsung pergi kesana menggunakan taxi.
Sampai di apartment Ruby menangis sejadi-jadinya, menjerit dan meluapkan kesedihan jiwanya. Untung saja apartment Rega berada di lantai duapuluh Ruby menjerit pun rasanya tidak akan ada yang mendengarnya.
Setelah lama menangis dan meluapkan semua sesak dalam hidupnya Ruby lelah dan terlelap di sofa. Hari ini hari yang sangat berat untuknya, sampai-sampai ia tidak mengetahui kalau Rega terus menghubunginya berkali-kali.
Rega sangat cemas Ruby tak juga mengangkat teleponnya dan membalas BBM nya, sampai ia tidak fokus bekerja karena mencemaskan kekasih hatinya.
Rega mencari ke rumah orang tua Ruby tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Ruby di sana. Dilanjutkannya ke rumah kontrakan Ruby tapi hanya melihat Adnan pergi mengeluarkan mobilnya dan mobil Ruby masih terparkir di depan rumah kontrakan itu.
Akhirnya ia ingat bahwa ia sudah memberikan kunci apartementnya pada Ruby. Segera Rega berangkat ke apartementnya menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai.
Benar saja Ruby ada di apartementnya tertidur di sofa dengan mata yang membengkak. Dering ponselnya pun tak di dengarnya karena tertidur pulas.
Rega melihat ponsel Ruby tertera mamanya yang menelepon. Berkali-kali berdering namun Ruby tak bangun juga. Rega mengangkat Ruby ke pangkuannya, dan memindahkannya ke kamar.
Saat Rega akan menyelimutinya, terlihat rok Ruby tersingkap sampai menampakan paha mulus miliknya. Naluri lelaki Rega seketika membara melihat pemandangan indah yang sedang dilihatnya.
"Aku benci pikiran ku sendiri." Merutuki dirinya sendiri.
Cepat-cepat Rega menutupnya dan menyelimuti Ruby, di usapnya kepala Ruby dan mengecup keningnya. Entah apa yang sudah dilaluinya hari ini sampai wajahnya terlihat begitu sedih.
Rega beranjak dari tempat tidur namun Ruby mendekap lengannya sangat erat hingga ia tak tega melepaskannya.
"Baiklah aku tidak akan meninggalkan mu," ucapnya.
Akhirnya Rega hanya bisa duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi wajah Ruby yang tertidur pulas. Sesekali ia mengusap kepala Ruby dan membelai rambutnya. Menunggu tuan putrinya bangun.
NEXT >>>>>>>>>>
like
comment
vote
bintang 5
terimaksih ❣️❣️