
Esoknya.
Sely masih menunggu Rega pulang dan menghubunginya, tapi tidak ada sama sekali. Selama pernikahannya dengan Rega, ia baru bertemu satu kali dengan Arina sewaktu berkunjung ke rumah orang tua Rega sebelum mereka meninggal. Setelah mertuanya meninggal Sely tidak mau mengurus Arina dengan alasan ia bekerja dan mengurus Clara yang masih kecil. Dan yang Sely tahu Arina di titipkan di Paman Abdul yang ia sendiri belum bertemu dengan paman suaminya itu.
Sely pun menutupi status Rega yang waktu itu sudah duda dan beranak satu pada teman-temannya. Ketika Sely melihat foto Ruby dan Arina, ia sangat yakin bahwa ada sesuatu antara suaminya dan Ruby. Karena tidak pernah ada seorang pun yang pernah diajak bertemu dengan Arina. Bahkan Sely pun belum pernah pergi ke rumah Paman Abdul bersama Rega.
Foto-foto itu membuat suasana hatinya tidak karuan, marah, kecewa dan serba salah. Setiap kali ia melihat foto itu, Sely semakin membenci Ruby dan marah pada suaminya.
Jeny yang sudah ia hubungi untuk mengantarnya sudah menjemputnya. Mereka memakai mobil Jeny menjemput Tami lalu dilanjutkan ke rumah Ruby.
Ketiganya merencanakan sesuatu untuk Ruby, sesampainya di rumah Ruby nanti.
"Aku tunggu di mobil aja kali ya. Ini kan bukan urusan ku, lagi pula aku takut terjadi apa-apa nanti di sana. Aku khawatir sama kandungan ku," pinta Tami pada kedua temannya.
"Ya udah bumil tunggu di mobil aja," jawab Jeny.
"Lakukan dengan bersih dan aman, Bebz," ucap Tami memberi dukungan.
"Tenang aja, kamu pasti aman," jawab Sely.
Jeny mengetuk pintu beberapa kali sampai Ruby membuka pintu rumahnya.
"Maaf, mau bertemu siapa ya?" tanya Ruby pada Jeny yang berada di depan pintunya.
Terkejut bukan kepalang Ruby melihat kemunculan Sely di belakang Jeny.
"Kamu masih ingat aku kan? Pasti kamu tahu aku," ucap Sely sinis.
"Silahkan masuk," mempersilahkan kedua orang di depannya untuk masuk ke dalam.
Sely dan Jeny masuk dan langsung duduk tanpa dipersilahkan lagi. Pikiran Ruby berkecamuk dan bercampur aduk, timbul beribu pertanyaan dalam benaknya menghadapi Sely yang tiba-tiba menemuinya.
"Ada apa ya?" tanya Ruby ragu.
Jantungnya terus berdebar hebat, pikirannya sudah menerawang penuh teka-teki. Sely melemparkan foto-foto dirinya bersama Arina ketika di rumah Paman Abdul. Getaran dadanya semakin kencang, terkejut melihat foto yang dilayangkan Sely ke hadapannya.
"Jangan berlaga bodoh, kamu pasti sudah tahu maksud aku kesini. Ada hubungan apa kamu sama suami ku?" tanya Sely bernada tinggi dan matanya melotot ke arah Ruby.
"Teman kerja," jawab Ruby berusaha untuk tenang padahal jiwanya sedang berguncang hebat.
"BOHONG," teriak Sely semakin geram.
"Kalau tidak percaya silahkan tanyakan pada suaminya," jawab Ruby masih mencoba untuk terlihat tenang.
"Jangan berbelit-belit katakan yang sejujurnya, aku bukan anak kecil yang bisa kau bohongi, WANITA ******!!!" Sely mencengkram dagu Ruby dengan keras membuat Ruby kesakitan.
******? Sakit, hancur, bagaikan teriris pisau tajam itu yang dirasakan Ruby saat mendengarnya.
Sely melepaskan dagu Ruby dengan kasar hingga Ruby hampir terjatuh. Ruby menegakan dirinya yang hampir terjatuh dan mengangkat kepalanya.
Ingatan kenangan bersama Rega melayang bebas dalam pikirannya. Ruby sangat mencintainya, itu yang ada dalam hatinya. Ruby tidak mau rumah tangga Rega hancur karenanya, cukup saja rumah tangganya yang hancur.
"Iya. Aku yang menggodanya. Aku yang mengejarnya karena hatiku sedang rapuh saat itu. Dia yang baik memberikan ku tempat untuk bersandar saat aku terpuruk. Semenjak saat itu aku menyukainya," tutur Ruby di akhiri dengan tetesan air mata di kedua pipinya.
Plak,,,,,, plak,,,, plak,,,,
Sely menampar Ruby berkali-kali meluapkan amarahnya yang sudah menggebu sejak tadi. Ruby diam tak membalas, karena semua ini adalah salahnya. Ruby menerima semua perlakuan Sely padanya.
"Dasar ******, pantas saja suami mu menceraikan mu. Kau memang pantas mendapatkannya," ucap Sely dengan mendorong dahi Ruby dengan ujung jarinya.
Sukses merekam kejadian waktu itu, Jeny tersenyum sinis pada Ruby.
"Jangan ganggu suami ku lagi. Kalo sampai itu terjadi lagi, kau akan tahu akibatnya," ancam Sely lalu pergi bersama Jeny.
Sedangkan Ruby masih duduk terpaku, merasakan setiap denyut nadinya yang terasa sakit dan menyesakan.
Seringai jahat mengembang di wajah seseorang dari dalam mobil. Tami sangat senang melihat Ruby menderita.
"Gila tuh orang, bangga banget udah godain laki orang," ucap Jeny saat sudah berada dalam mobil.
"Tadi kamu udah rekam bagian pentingnya kan, Jen," tanya Sely.
"Sudah dong. Tinggal edit dikit sempurna buat kamu manfaatin," ucap Jeny sambil menyodorkan ponsel Sely yang tadi di pakai untuk merekam.
"Bagus. Aku akan kirim ini ke suami ku," Sely membuka ponselnya.
"Iya. Aku yang menggodanya. Aku yang mengejarnya karena hatiku sedang rapuh saat itu. Dia yang baik memberikan ku tempat untuk bersandar saat aku terpuruk. Semenjak saat itu aku menyukainya." Rekaman suara Ruby.
"Wah pas banget tuh," seru Tami dari kursi belakang.
Sely mengirimkannya pada Rega saat itu juga.
Mereka asik memutar ulang rekaman video Ruby berulang-ulang. Hingga saat itu Tami tidak menyadari dari arah yang berlawanan mobil Adnan berpapasan dengan mobil Jeny yang membawanya.
NEXT >>>>>>>
Like
Comment
Vote
⭐⭐⭐⭐⭐