
"Maksud mu, Sely masih berharap sama aku?" Riky mengangguk. "Tapi kalian kan sudah menikah?" Rega tidak habis pikir dengan Sely.
Padahal dulu Sely tidak pernah menunjukan perasaan apapun pada Rega. Dan sekarang semuanya sudah berubah.
"Menurut ku Sely terobsesi saja karena rasa penyesalannya. Tapi dia mau berubah dan menjadi lebih baik di pesantren Mbah ku. Seperti aku dulu bisa terbebas dari dunia hitam yang sudah membelengguku." jelas Riky.
"Syukur lah.. Semoga kalian menjadi jauh lebih baik lagi." ucap Rega.
"Yank!!!" Rega menoleh ke Ruby yang memanggilnya. " Makanannya sudah datang,"
"Ky, ayok gabung, daripada sendiri di sini." ajak Rega.
"Aku di sini aja. Sambil nunggu sodara ku," jawabnya.
"Ya sudah," Rega kembali ke mejanya bersama Ruby.
Selesai makan Ruby dan Rega ke toko kue bersama Reyhan dan Jelita juga.
Di toko kue mereka bertemu teman-teman kerja Reyhan yang juga teman kerja Ruby.
"Eh itu bukannya Ruby, si pelakor itu,"
"Iya, iya..."
"Sama Reyhan juga..."
"Nggak tahu diri banget ya.. Udah ngembat adiknya di embat juga kakaknya."
Bisik-bisik mereka yang melihat keberadaan Ruby di toko itu. Ruby segera menyelesaikan pembayarannya dan cepat keluar dari toko itu.
"Jangan di dengarkan, mereka nggak tahu yang sebenarnya," ucap Rega menenangkan Ruby.
Ruby hanya tersenyum.
"Iya, Kak. Padahal aku juga sudah menjelaskan semuanya dan memberitahu siapa Thalia sama teman kantor tapi tetap saja masih ada yang seperti itu." jelas Reyhan.
"Iya, gapapa kok." Ruby tersenyum pasi dan meneruskan langkahnya menuju mobil.
Reyhan dan Jelita lebih dulu pergi dengan sepeda motor di susul mobil Rega dibelakangnya.
"Sebutan itu sudah melekat padaku sejak lama. Tapi setiap aku mendengarnya dada ku terasa sesak dan sakit." ucapnya lirih.
"Sayang, sudah jangan terlalu dipikirkan. Mereka hanya tahu apa yang mereka dengar, sedangkan yang menjalaninya kan kita. Jangan dengarkan omongan orang yang tidak tahu kebenarannya." Rega mengusap kepalanya lembut.
"Tapi, mimpi buruk itu selalu datang di setiap malam ku. Aku lelah, aku tidak mau seperti ini terus... Kapan aku bisa hidup tenang tanpa mimpi buruk itu dan cemoohan orang terhadap ku?" Ruby menangis tersedu.
"Aku pun sama. Mimpi itu selalu menghantui ku. Ada apa ini? Apa yang sudah terjadi pada kami?" gumam Rega dalam hati.
Tiga hari berlalu, Ruby dan Rega kembali ke rumahnya. Sepanjang perjalanan Ruby dan Rega tidak banyak bicara. Tenggelam dalam pikiran masing-masing, kenangan masa lalu ternyata menyisakan teka-teki yang tak terpecahkan.
Taxi berhenti di depan rumah, setelah membayar taxi Rega keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Ruby, di susul Jelita setelahnya.
Masuk ke dalam rumah didapati Bi Ira dan Lastri sedang panik.
"Rega, Arina hilang. Arina belum kembali dari pulang sekolah tadi." ucap Bi Ira panik langsung menghampiri Rega dengan cepat.
"Hilang gimana?" Rega terkejut juga ikut panik.
"Hilang dimana?" Ruby juga ikut panik mendengarnya.
"Arina tadi tidak ada di sekolahnya waktu Bibi jemput. Katanya Arina sudah pulang dengan seseorang yang mengaku saudaranya. Tapi sampai sekarang Arina belum juga sampai rumah. Bibi juga tidak tahu siapa yang sudah jemput Arina." jelas Bi Ira masih panik.
Rega mencari kunci mobilnya dan berjalan cepat keluar rumah.
"Yank, aku ikut." Ruby teriak saat Rega berjalan ke garasi.
"Kamu tunggu aja di rumah. Kita baru aja sampai dari perjalanan jauh. Dan kamu harus ingat dengan kandungan mu. Tunggu aja ya!!!" ucapnya sambil masuk ke dalam mobil.
"Tolong jangan buat aku dalam situasi sulit. Aku ingin Arina cepat ketemu dan aku juga tidak mau kamu dan calon anak kita kenapa-napa. Kamu tunggu di rumah, nanti pasti aku kabari," tegas Rega menyalakan mobilnya lalu pergi.
"Yaaaank.,......" teriak Ruby tapi Rega tak mendengarkannya.
Bibi Ira dan Jelita menghampiri Ruby.
"Sudahlah. Nanti juga Rega mengabari kita kalo sudah menemukan Arina." Bi Ira merangkul Ruby dan mengajaknya masuk ke dalam.
Semua orang mencemaskan Arina, tidak ada yang tahu Arina kemana.
Satu hari...
Satu minggu....
Satu bulan.....
Satu tahun....
Arina tidak juga ditemukan bersama Rega yang pamit mencari Arina waktu itu tak kunjung kembali. Kabar pun tak pernah ada.
Sudah di cari kemana pun tidak ditemukan jejak atau tanda-tanda keberadaan Rega dan Arina. Di kantor atau pun di tempat yang biasa Rega datangi semuanya mengatakan Rega tidak pernah datang.
Ruby berharap di pernikahan Reyhan dan Jelita, Rega akan datang. Namun harapannya sirna, Rega tak pernah datang.
"Rey, kakak mohon kalau ada kabar dari Kak Rega cepat kasih tahu kakak ya!!!" ucapnya ditelepon.
Tapi tidak pernah ada kabar sama sekali dari kerabat Rega sekalipun.
Satu per satu kerabat Rega meninggalkan Ruby, mereka sudah pasrah mencari Rega dan Arina. Dan perlahan mereka pun tak pernah memberi kabar lagi padanya.
Saat-saat sulit melahirkan pun Ruby menjalaninya sendiri tanpa Rega di sampingnya. Sedih, sesak, dan juga kecewa merasuki perasaannya. Hanya karena anak sematawayangnya lah Ruby berusaha kuat menjalani hari-harinya.
Dalam hati Ruby, ia masih berharap Rega pulang padanya suatu hari nanti. Banyak orang mengatakan Rega sudah tiada karena sudah satu tahun menghilang tapi Ruby tetap percaya Rega akan kembali.
Namun, dimanakah Rega berada saat ini masih menjadi misteri.
"Yank, kamu dimana? Aku sudah melahirkan anak kita. Jagoan mu sudah lahir ke dunia. Ku mohon pulang lah!!!!"
Air mata perlahan menetes tak tertahankan. Tangan mungil menyentuh dadanya, menepuk lembut seakan memberi kekuatan pada ibunya.
"Bu, sudah waktunya Kaisar dimandikan." ucap Lastri yang masih setia menemaninya hingga kini.
Kaisar Adiputra, nama jagoan kecil Ruby, yang menjadi penyemangat sekaligus kekuatan untuknya.
Tersadar dalam lamunannya, Ruby menyeka pipi yang sempat basah lalu memberikan Baby Kai pada Lastri.
"Lastri, pakaikan baju hangat untuk Kai ya. Lalu bersiap, aku ingin bawa Kai ke laundry," titahnya pada Lastri.
"Iya, Bu." jawab Lastri kemudian membawa Baby Kai untuk dimandikan.
Rumah dan laundry peninggalan Rega masih Ruby jaga dengan baik. Karena hanya itu tempat dan usahanya untuk melanjutkan hidup.
Sampai di tempat laundry Ruby masuk ke ruangannya untuk memeriksa laporan yang sudah disiapkan pegawainya. Lastri membawa Baby Kai bermain bersama beberapa pegawai di sana. Mereka sangat menyukai Baby Kai yang lucu dan sangat aktif jika mereka mengajaknya bicara.
"Sudah satu tahun kamu meninggalkan ku. Rumah kita masih tetap sama dan laundry ini masih tetap sama. Apa kau tersesat? Apa kau lupa? Apa kau baik-baik saja?"
Pandangannya mengelilingi suasana laundry yang masih tetap sama dari sewaktu Rega terakhir berada di sana.
NEXT >>>>>>
LIKE
COMMENT
VOTE