MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 61



Dokter sudah memperbolehkan Ruby pulang dan beristirahat di rumah. Pagi itu tidak ada yang aneh dari Rega, ia masih tetap sama Rega yang sangat perhatian dan menyayangi istrinya. Rega menyuapi sarapan istrinya, suap demi suap ia berikan dengan penuh kasih sayang.


"Yank, kok makannya sedikit? Lagi ya? Sekarang kamu kan makan untuk berdua, jadi harus makan yang banyak," ucapnya disela-sela menyuapi istrinya.


Ya, itulah Rega, ia sangat mencintai istrinya. Sejak mengetahui kehamilan Ruby, ia menjadi lebih memanjakannya.


Namun, karena kejadian beberapa hari yang lalu, membuat Ruby kecewa dan mempertanyakan kasih sayang Rega padanya.


Hari ini apa yang akan dilakukan Rega menjadi tanda tanya besar dalam hati Ruby. Akan kemana suaminya bersama wanita bernama Jelita? Dan ada hubungan apa diantara mereka?


Tepat pukul sebelas mereka keluar dari rumah sakit. Rega menyetir mobilnya keluar dari parkiran.


"Yank, kita mau kemana dulu? Ini bukan jalan pulang?" tanya Ruby heran Rega tidak melalui jalan menuju apartemen.


"Kita mau pulang, sayang," jawabnya santai.


"Tapi ini bukan jalan ke apartemen kita. Kamu nggak lagi mikirin yang lain kan?" tanya Ruby lagi curiga.


"Memang aku mikirin apa?" balik bertanya dengan santainya.


"Iya kali aja mikirin apa gitu."


"Yang pasti mikirin kamu," masih dengan santainya menjawab setiap pertanyaan Ruby.


Ruby ingat ini adalah jalan menuju rumah besar dimana ia menemukan Rega bersama Jelita. Oh Tuhan, Ruby lemas seketika. Apa yang akan dilakukan suaminya sekarang? Mau membuka hubungannya dengan wanita lain di saat Ruby tengah hamil, atau??


Perasaan Ruby sangat kacau. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Semakin lama semakin dekat dengan rumah itu. Semakin cepat pula Rega menjalankan mobilnya. Bagaimana ini?


"Yank, kita mau kemana?" tanya Ruby lagi.


"Nanti kamu juga tahu," kali ini jawabannya sangat serius.


"Aku nggak siap kalo kamu mau minta ijin nikah lagi, atau kamu mau menceraikan aku? Aku lagi hamil kamu nggak bisa ceraikan aku," gumam gumam dalam hati Ruby.


"Yank jujur kita mau kemana?" tanyanya lagi meminta jawaban yang pasti.


Rega hanya mengusap kepalanya dan tersenyum.


Rega membelokan mobilnya ke komplek perumahan elit seperti kemarin Ruby mengikutinya. Benar ini menuju rumah itu, rumah yang kemarin Rega menemui Jelita. Perasaan Ruby semakin tak karuan. Apa yang akan terjadi dengannya?


"Yank, kita mau kemana?" Ruby semakin kesal dibuatnya.


Lagi, lagi Rega tak menjawab dan hanya membelai kepala Ruby dan tersenyum.


Hingga sampai di rumah besar itu lagi, Rega masuk ke halaman rumah itu karena gerbangnya sudah terbuka lebar.


"Ini rumah siapa, Yank?" tanyanya lagi dan lagi saat Rega mematikan mesin mobilnya di halaman rumah besar itu.


Ruby tak kuasa lagi menahan air matanya, tangisnya pecah saat itu juga.


"Sayang, kok nangis?" Rega mengusap air matanya dan memeluknya.


"Ini rumah siapa? Kamu dari tadi di tanya nggak jawab terus." Tangisnya semakin menjadi.


"Ini rumah kita sayang," menangkup wajah Ruby dengan kedua tangannya.


"Rumah kita?" Rega mengangguk pasti.


"Aku sudah lama membelinya dan beberapa bulan ini baru aku renovasi. Semuanya berjalan sesuai rencana dan yang lebih membuat ku bahagia rumah ini selesai di saat kamu mengandung buah hati kita. Terimakasih ya sayang." Mengecup tangan Ruby menatapnya lekat.


"Jadi rumah ini, rumah kita?" ucap Ruby menatap sendu suaminya.


"Terus Jelita itu siapa?" tanya hatinya.


"Iya," angguk Rega. "Yuk kita masuk, semua orang sudah menunggu kita di dalam," ajak Rega.


"Semua orang?"


"Nanti kamu juga tahu kalo sudah di dalam,"


Rega keluar lalu membukakan pintu mobil untuk Ruby.


Pintu rumah terbuka lebar, Rega masuk ke dalam bersama Ruby di sampingnya. Seuntai kain bertuliskan SELAMAT DATANG DI RUMAH BARU RUBY & REGA terpampang jelas di depan mata.


Paman Edi, Bibi Lies, Paris, Prita, Paman Abdul, Bibi Ira, Arina dan juga Reyhan menyambut mereka dengan gembira. Dan satu lagi ada Jelita juga di sana. Situasi yang membuat Ruby tidak mengerti.


Semuanya memberikn selamat atas rumah baru dan kehamilan Ruby.


Reyhan dan Jelita menghampirinya.


"Kak, selamat ya rumah barunya. Dan ini Jelita, hehe," ucap Reyhan cengengesan.


"Jelita?" Penuh tanya dalam pikiran Ruby.


"Sayang, Jelita ini anak angkat Paman Abdul. Beberapa tahun yang lalu Jelita mendapatkan beasiswa melanjutkan studi arsiteknya ke luar negeri. Dan lima bulan kemarin dia pulang pas aku mau renovasi rumah ini. Sekalian aja Jelita yang ngerjain rumah ini untuk membuktikan studinya di luar," jelas Rega menceritakan siapa Jelita.


"Dan Jelita itu alasan kenapa Rey menolak banyak wanita selama ini," tambah Reyhan.


Ruby tersenyum, kini perasaannya bercampur aduk.


"Kak, kemarin aku sudah minta restu sama Kak Rega, Paman dan juga Bibi. Sekarang aku minta restu sama kakak mau melamar Jelita. Kak Ruby mau kan merestui kami?" ucap Reyhan lagi.


"Ya Tuhan aku sudah berprasangka buruk pada suami ku." Dalam hati Ruby merasa bersalah.


"Kak?"


"Sayang?"


Ruby tersadar dalam lamunannya.


"Kalo kakak mu merestui tentu kakak juga merestui kalian," jawab Ruby lalu memeluk Jelita.


"Makasih ya, Kak," ucap Jelita melepaskan pelukannya.


"Iya, kamu cantik sekali. Pantas saja Reyhan rela menolak banyak wanita yang mendekatinya demi kamu," ucap Ruby.


"Kakak bisa saja. Aku kan jadi malu," pipi Jelita bersemu merah mendengar ucapan Ruby.


"Sayang, ayok kita lihat kamar kita," ajak Rega.


"Baru aja sampe udah ke kamar aja. Masih siang, Kak. Makan siang aja belom," ejek Reyhan.


"Ehhh anak kecil," timpalnya. "Ayok sayang. Kamu juga harus istirahat kan," Rega merangkul Ruby dan membawa ke lantai atas menuju kamar barunya.


Kamar pertama setelah berhasil melewati anak tangga pintunya di buka Rega pelan. Di atas tempat tidur Arina sedang tertidur cantik, menandakan ini kamar untuk Arina.


"Ini kamar Arina. Lihat dia sedang tertidur pulas," tunjuk Rega lalu menutup lagi pintunya.


Lanjut ke kamar kedua, dari pintunya saja sepertinya ini adalah kamar utama di rumah ini. Rega membuka pintunya lalu merangkul Ruby masuk ke dalamnya.


Tempat tidur ukuran kingsize, furnitur yang serba putih, ada dua jendela yang bisa di buka dan mengarah ke depan rumah. Bisa lihat pemandangan gunung nan jauh di sana dari jendela kamar.


"Ini kamar kita,"


Ruby menyusuri setiap penjuru kamarnya, membuka setiap lemarinya. Rupanya Rega sudah memindahkan semua barang dari apartemen ke rumah barunya.


"Kamu suka?"


Ruby mengangguk bahagia. Ruby memeluk suaminya dan menangis di dalam pelukannya.


"Hey, kok nangis? Kamu nggak suka sama kamar ini? Kalo nggak suka nanti aku ubah lagi kamarnya,"


"Aku suka banget sama kamar ini." Melonggarkan pelukannya menatap Rega dengan rasa bersalah.


"Yank, maafin aku sudah berprasangka buruk sama kamu. Padahal kamu nyiapin semua ini buat aku," tangisnya pecah lagi.


Rega tersenyum, mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi istrinya.


"Sayang, aku tahu kok kalo kamu percaya sama aku. Jangan biarkan siapapun dan apapun itu menggoyahkan kepercayaan mu sama aku. Karena aku sangat menyayangi mu lebih dari apapun di dunia ini," tutur Rega dengan lembut dan penuh kasih.


"Bukannya dari dulu kamu ingin sekali punya rumah. Sekarang kamu sudah punya rumah sendiri. Ini rumah mu, rumah kita, di sini kita akan hidup bersama keluarga kecil kita kelak."


Mengecup kepala Ruby dengan cinta dan sayang.


Iya, Rega memang sangat menyayanginya dan dia membuktikannya. Rumah yang dulu Ruby impikan di rumah tangga sebelumnya kini menjadi kenyataan saat bersama Rega suaminya kini. Rega mewujudkan mimpinya, padahal Ruby sendiri sudah lupa dengan mimpinya itu. Baginya tinggal di apartemen sudah cukup, karena Rega sudah sangat memperhatikan dan menyayanginya selama ini.


"Terimakasih,"


Berpelukan lagi.


Terngiang dalam ingatan Ruby ucapan Rega yang selalu Ruby ingat.


"Aku akan terus berusaha mewujudkan mimpi-mimpi mu,"


Dan Rega membuktikan ucapannya.


NEXT>>>>>>>>>


Like


Comment


Vote


⭐5