
Pagi harinya Ruby merasa sangat pusing dan mual tapi tidak dirasanya, Ruby melakukan aktivitasnya seperti biasa. Rega bangun lebih pagi dari biasanya, lalu mandi dan sarapan bersama Ruby.
“Sayang, aku berangkat duluan ya. Ada banyak kerjaan di kantor,” ucapnya sambil menikmati sarapan.
“Iya gapapa, hati-hati dijalan. Bekal makan siang sudah aku siapkan, jangan lupa dihabiskan ya,” jawab Ruby.
“Makasih ya, kamu memang terbaik,” membelai lembut rambut Ruby.
Beberapa kali ponsel Rega berdering, Rega hanya melihatnya kemudian mematikannya, begitu terus berulang-ulang. Membuat Ruby semakin curiga, ketika ponsel Rega berdering lagi Ruby melihatnya sekilas dan disana tertera nama JELITA.
“Kenapa nggak di angkat?” tanya Ruby memastikan.
“Biarkan saja, paling nanyain kerjaan,” jawab Rega sambil mempercepat menghabiskan sarapannya.
Secepat kilat juga Rega menyambar tas kerjanya, dan bergegas pergi.
"Yank, nggak akan cium aku dulu?" Saat Rega nyelonong menuju pintu keluar.
"Eh iya sayang," Rega berbalik mengecup kening Ruby kemudian langsung menghilang di balik pintu.
Ruby semakin curiga, ada sesuatu dengan suaminya. Diraihnya kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Ruby berlari menaiki lift yang lainnya menyusul Rega yang sudah lebih dulu turun.
Pengintaian pun di mulai. Ruby tidak ingin penasaran terus menghantuinya. Ia harus membuktikan sendiri apa yang Rega lakukan di belakangnya.
Dengan hati-hati Ruby mengikuti mobil Rega tanpa Rega mengetahuinya.
"Kamu mau kemana, Yank?" lirihnya saat Rega berbelok bukan di jalan biasa dilalui menuju kantornya.
Mobil Rega terus melaju hingga berbelok masuk ke sebuah komplek perumahan elit. Ruby terus mengikutinya dari belakang dengan hati-hati. Sampai Rega menepikan mobilnya di depan sebuah rumah besar, di sana sudah ada seorang wanita menunggunya. Kemudian Rega masuk ke dalam rumah bersama wanita itu.
Ruby memperhatikan wanita itu dengan teliti, tubuhnya lemas mengetahui bahwa wanita yang menyambut Rega di rumahnya adalah wanita yang ada dalam foto.
"Yank, kenapa kamu kecewakan aku?" setitik bulir air matanya menetes.
Dengan perasaan yang tak menentu, Ruby menunggu Rega tidak jauh dari rumah besar itu. Kurang lebih satu jam Rega berada di dalam, barulah mobil Rega keluar lagi dan kali ini Rega menuju kantornya.
Ruby pun membelokan mobilnya menuju laundry untuk mengecek laporan bulanan. Sampai di tempat laundry, Ruby langsung masuk ke dalam ruangannya. Semua karyawannya merasa heran. Ruby yang biasanya selalu menyapa semua karyawannya dengan ramah sekarang diam membisu tanpa ada senyum di wajahnya.
Derai air mata mengalir deras di pelupuk mata membasahi pipinya. Rasa kecewanya sungguh membuatnya sakit yang tak terkira.
Ditengah tangisnya, Ruby merasakan sakit di perutnya. Sangat sakit luar biasa, sampai ia tak sadarkan diri.
🦋🦋🦋🦋🦋
Suara detak jarum jam di ruangan yang cukup terang dengan jarum infus menempel di lengan kirinya, Ruby membuka matanya tersadar bahwa ia sedang berada di rumah sakit.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Raut kecemasan Rega saat mengetahui Ruby membuka matanya jelas terlihat.
"Aku di rumah sakit?" tanya Ruby meraba dan mengangkat tangannya yang menempel jarum infus.
"Iya sayang, tadi pagi kamu pingsan di laundry," Rega membantu Ruby untuk duduk. "Sayang, dengarkan aku baik-baik! Mulai sekarang kamu nggak boleh capek-capek dan nggak boleh nyetir sendiri. Pokoknya kemana mana harus sama aku," tutur Rega.
"Memang kenapa?" tanya Ruby tidak terima.
Rega memegang tangannya erat dan memandangnya dengan penuh kasih.
"Kamu sedang mengandung anak kita," mengecup punggung tangan Ruby dan keningnya. "Terimakasih, sayang."
Rega sangat bahagia ketika dokter memberitahunya bahwa Ruby sedang mengandung.
"Usia kandungan mu baru jalan lima minggu. Jadi aku mohon jangan membuat aku cemas, aku nggak mau kamu dan anak kita kenapa napa," pinta Rega.
"Benarkah itu?" mata Ruby berkaca-kaca tidak percaya ia akan menjadi ibu lagi. Ruby bahagia tapi takdir apalagi yang harus ia jalani sekarang?
Haruskah Ruby menaruh curiga? Rega begitu menyayanginya, dari sorot matanya yang penuh cinta Ruby bisa melihatnya. Tapi yang di lihatnya tadi pagi pun nyata, Rega menemui wanita lain di belakangnya. Teka-teki ini sungguh membingungkan.
"Yank, tadi pagi kamu kemana dulu?" tanya Ruby.
"Tadi pagi? Nggak kemana mana, aku kan ke kantor," jawab Rega ragu.
"Mmmmm,"
"Kenapa kamu bohong sama aku, Yank? Jelas jelas tadi pagi kamu menemui wanita itu," batin Ruby getir.
Tiga hari sudah Ruby di rawat di rumah sakit, dan selama itu pula Rega menemaninya. Namun yang membuat Ruby bertambah curiga dan sakit, Rega selalu keluar meninggalkan Ruby saat wanita yang bernama Jelita meneleponnya.
Ponsel Rega berdering lagi dan tertera nama Jelita yang memanggil. Rega melihat ponselnya dan melangkah, Ruby dengan cepat mendekap lengannya.
"Yank, mau kemana?" tanya Ruby.
"Aku mau angkat telepon sebentar," jawab Rega.
"Di sini angkatnya, jangan kemana mana. Aku pengen deket terus sama kamu," jurus manjanya keluar.
"Sebentar, Yank,"
"Di sini aja! Aaadduuuhhh," meringis memegangi perutnya.
"Kamu kenapa, Yank? Perut kamu sakit lagi? Aku panggil dokter ya." Rega cemas tapi Ruby mendekap lengan Rega lebih erat.
"Nggak usah. Cukup kamu aja di sini aku nggak akan sakit lagi," memeluk suaminya supaya tidak pergi.
"Aku akan berjuang mempertahankan rumah tangga ku. Aku yakin suami ku sangat mencintai ku. Aku nggak mau gagal lagi," batin Ruby.
Ponsel Rega berdering lagi dan Jelita lagi yang menelepon. Jelita lagi, Jelita lagi, sebenarnya ada apa Rega dengan Jelita ini?
"Nggak di angkat?" tanya Ruby lalu Rega mengangkatnya di hadapan Ruby.
"Halo,,,, iya,,, besok aku kesana,," itu jawaban telepon Rega dengan Jelita.
"Yank, besok mau kemana?" tanya Ruby semakin penasaran.
"Besok, aku mau mengantar mu pulang. Emang kamu mau di rumah sakit terus?" jawaban Rega tentu saja bukan jawaban yang pasti.
"Tadi kamu bilang besok mau kesana? Mau kemana?" Ruby semakin kesal pada suaminya.
"Besok aku mau pulang sama kamu, sayang. Memang mau kemana?" Rega malah balik bertanya membuat Ruby semakin bertambah kesal.
"Pokoknya besok aku mau sama kamu terus. Kamu nggak boleh kemana mana," mengeratkan lagi pelukannya, tak terasa air matanya keluar dengan deras.
"Iya sayang. Besok aku milik mu. Selamanya milik mu. Jangan nangis!" mencubit hidung Ruby pelan.
"Aku istri mu, tapi aku nggak tahu apa isi hati mu. Dihadapan ku kamu bersikap sangat menyayangi ku. Tapi di belakang ku kamu menemui wanita lain. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dalam hati mu suami ku?" dalam hati Ruby yang bimbang.
NEXT >>>>>>>>
LIKE
COMMENT
VOTE
⭐5