
Dua bulan kemudian.
Di sebuah ruangan lampu operasi menyala, seseorang terbujur kaku dibawahnya. Dokter dan suster sedang berusaha sekuat tenaga yang mereka bisa menyembuhkan pasien yang sedang kritis.
Di luar ruang operasi seorang keluarga pasien menunggu dengan cemas nan sedih.
"Apa yang sudah aku lakukan?" sesalnya.
# flashback on #
Adnan baru saja pulang dari tempat bisnisnya. Penghasilannya kini hanya mengandalkan bisnis barunya itu. Bisnis barunya adalah membuka rental dan jual beli mobil. Namun malang, seorang rekan bisnisnya menipu Adnan habis-habisan. Lima buah mobil yang di rentalkan raib di bawa rekannya.
Pulang ke rumah dalam keadaan lelah dan kecewa, ingin sekali rasanya ia dimengerti oleh Tami. Tapi .......
"Mas, baru pulang? Kamu sepertinya sangat lelah," ucap Tami menyambut Adnan pulang.
"Tolong buatkan aku teh hangat!" pintanya.
"Iya, sebentar ya, aku buatkan dulu." Tami pergi ke dapur membuatkan teh untuk suaminya kemudian kembali lagi membawakan tehnya.
"Makasih, sayang," Adnan menerima teh yang dibawakan Tami kemudian menyeruputnya.
"Mas, kita belum membeli perlengkapan dan baju-baju buat bayi kita. Aku sudah melihat-lihat di situs belanja online," ucap Tami.
"Tehnya kurang manis, Ruby biasa membuatkan ku teh lebih enak dari ini. Buatkan lagi," pintanya terlontar begitu saja tanpa menghiraukan ucapan Tami.
"Teh Ruby? Kau ini sedang bersama ku, masih saja menyebut namanya di depan ku," Tami sangat marah mendengar Adnan menyebut nama mantan istrinya dan lagi permintaannya tidak di dengar sama sekali.
"Maaf, sayang. Aku gak sengaja," Adnan terkejut dengan ucapannya sendiri.
Didekapnya Tami dan meminta maaf atas ucapannya barusan.
"Aku belum beli apapun untuk bayi kita dan setiap aku meminta selalu saja ada alasan. Belum tujuh bulan lah, belum ada uang lah, banyak alasan yang kamu berikan padahal itu untuk anak kita. Aku udah sabar menunggu, Mas. Tapi sekarang kamu malah menyebut nama mantan istri kamu di depan ku. Selalu saja kau memuja dan memujinya di depan ku. Kamu nggak bisa jaga perasaan aku, Mas?" panjang kali lebar Tami memarahi Adnan.
"Iya, maaf sayang. Aku nggak sengaja," ucap Adnan lagi.
"Pokoknya aku minta uang buat belanja keperluan bayi kita," rengek Tami.
"Nanti ya, sekarang aku baru saja di tipu rekan bisnis ku. Semua mobil rental dibawanya tak kembali sampai hari ini," jelas Adnan.
"Terus kita gimana? Kalo mobil rental kamu gak ada? Kamu nggak punya penghasilan dong?" tanya Tami.
"Iya aku sedang melacak keberadaannya. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi selain bisnis itu sumber penghasilan kita," jelas Adnan lagi.
"Jadi kamu sekarang sudah gak punya apa-apa lagi, Mas? Pergi saja sana ke mantan istri kamu yang selalu kamu puja itu. Aku sudah gak butuh kamu yang miskin dan gak punya apa-apa. Aku bisa membesarkan anak ku sendiri," usir Tami.
Adnan sangat emosi dengan perkataan Tami padanya. Hingga Adnan mendorongnya sangat keras sampai Tami terjatuh. Tersadar, Tami mengeluarkan banyak darah dan tak sadarkan diri. Adnan segera membawanya ke rumah sakit.
# flashback off #
Dokter keluar dari kamar operasi, Adnan langsung berdiri dan menanyakan keadaan Tami.
"Bagaimana istri dan anak saya, Dok?" tanya Adnan.
"Mohon maaf, Pak Adnan. Kami tidak bisa menyelamatkan anak yang berada di dalam kandungan Bu Tami. Yang tabah ya, Pak!" jelas dokter yang menangani Tami dan bayinya.
Seketika Adnan merasa hancur, karena perbuatannya ia harus kehilangan calon anaknya. Adnan terduduk lesu di kursi tunggu rumah sakit.
"Maafkan aku. Aku gak sengaja," ucap Adnan menangis juga.
"Gak sengaja? Kamu pasti sengaja biar kamu gak jadi nikahin aku secara sah dan kembali sama mantan kamu itu kan?" Tami menangis tersedu-sedu.
"Nggak. Aku gak ada pikiran sejauh itu. Kamu tetap akan aku nikahi secara sah nanti." Adnan mencoba mendekati Tami tapi ia selalu menghindar.
"Aku nggak mau, nikah sama kamu. Aku mau kita cerai saja. Aku akan laporkan kamu ke polisi atas tindakan penganiayaan dan pembunuhan anak ku," ucap Tami tak hentinya menangis.
"Jangan, Sayang. Jangan." Adnan memohon.
"Pergi kamu. PERGI!" usir Tami.
Adnan tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia pun pergi keluar dari kamar perawatan Tami. Menyesali perbuatannya yang sudah melewati batas, karena emosinya yang tak terkendali ia sampai kehilangan anak untuk kedua kalinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kita tinggalkan dulu Adnan yang lagi menyesali perbuatannya.
Rega baru saja sampai di kantornya, mukanya sangat kusut karena tidak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini. Saat malam tiba Ruby selalu datang dalam pikirannya dan membuatnya terlena dalam bayang-bayang semu tentang Ruby.
"Kenapa, Bro. Mukanya kusut gitu?" tanya Riky yang melihat muka kusut Rega.
"Ah biasalah kurang tidur," jawab Rega.
"Curiga habis kerja malam nih sama istri di rumah," ejeknya.
"Enggak lah, istri ku lagi asyik liburan ke Eropa sama teman-temannya," jawab Rega santai.
"Wuihh bahagia banget jadi istri mu ya? Bisa jalan-jalan ke Eropa," timpal Riky lagi.
"Ah sudah lah aku nggak mau bahas dia," ucap Rega malas.
"Terus anak mu sama siapa, istri mu pergi?" Tanya Riky lagi seperti penasaran dengan kehidupan Rega.
"Clara, dititipkan di rumah mertua. Kenapa? Udah bosen jomblo? Mau nikah? Cepetan nikah keburu lapuk baru tahu rasa," jawab Rega sambil mengejek.
"Sialan," decak Riky.
"Syukurlah kalau rumah tangga Selly bahagia dengan Rega," batin Riky.
Riky mengenang kejadian tiga tahun yang lalu ketika ia terpaksa harus memutuskan hubungannya dengan Sely. Padahal waktu itu Sely mengaku kalau dia tengah hamil. Namun karena ancaman orang tua Sely, ia terpaksa meninggalkannya. Hingga akhirnya ia tahu Sely menikah dengan Rega teman satu kantor dengannya.
NEXT >>>>>>>
jangan lupa tinggalkan jejak nya yaa
like comment & vote
dan jgn lupa juga follow authornya
terimakasih
❣️🤗