
"Kak, sebelum kita pulang. Ada yang ingin aku bicarakan sama kakak. Mungkin ini sudah saatnya kakak tahu dan aku tak ingin menyembunyikan ini lebih lama lagi." Reyhan memberanikan diri untuk menceritakan tentang Rega pada Ruby.
"Ada apa Rey? Sepertinya serius sekali?" tanya Ruby.
"Tapi aku ingin kakak janji akan menerima apapun yang aku jelaskan nanti." Reyhan memastikan.
"Memang kamu ingin menjelaskan apa sama kakak? Apa ini tentang kakak mu?" Reyhan mengangguk. "Kamu menemukannya, Rey? Dia dimana? Bawa kakak kesana, kakak ingin bertemu dengannya, Rey." Ruby memohon.
"Selama ini Kak Rega ada bersama ku."
Ruby tak menyangka bahwa selama ini Reyhan dan Jelita mengetahui keadaan Rega yang tinggal bersama mereka.
"Apa? Jadi selama ini Rega bersama kalian. Lantas kenapa kalian menyembunyikannya dariku? Apa kalian membutakan mata kalian melihatku bersedih dan kesusahan mencari dan selalu menunggunya?" Ruby meminta penjelasan.
"Kak, maafkan aku dan Reyhan. Kak Rega yang tidak ingin kakak tahu keadaannya yang sebenarnya." tambah Jelita.
"Memang dia kenapa?" Ruby penasaran.
"Kak Rega lumpuh, dia mengalami kecelakaan ketika menjemput Arina, di rumah orang tua mendiang ibunya." jelas Reyhan.
"Rega lumpuh? Selama bertahun-tahun dia bersembunyi dari aku karena dia lumpuh?" Ruby terkulai lemas Reyhan menahannya dan mendudukkannya di kursi. Sejenak Ruby memejamkan matanya, masih tak percaya dengan apa yang ia dengar tentang suaminya yang selama ini menghilang.
"Kak?" Jelita khawatir.
"Kita pulang sekarang, kakak ingin cepat bertemu dengannya." pintanya.
Marah, kecewa, merasa tertipu, dan merasa dikhianati, layaknya manusia biasa Ruby pun merasakan semua itu. Namun, tidak akan menyelesaikan masalah dengan marah, tidak akan mengubah masa lalu dengan dendam. Rasa bersalah yang mendominasi pikiran Ruby saat ini, mengetahui Rega lumpuh dan berjuang sendiri. Meskipun pada kenyataannya itu bukanlah kesalahannya. Ruby merasa bersalah karena tidak bisa merawat suaminya dengan baik.
Perjalanan dari rumah sakit menuju rumah terasa lambat, waktu pun seakan ingin membuatnya merasa kesal. Padahal Ruby ingin secepatnya menemui suami yang selama ini ia rindukan.
Akhirnya Reyhan menghentikan mobilnya dihalaman rumah. Tetapi, kenapa begitu berat untuk melangkahkan kaki keluar dari mobil. Terasa ada sesuatu yang mengikatnya begitu erat sampai ia tak bisa melangkahkan kakinya.
"Kak, kalau kakak belum siap, aku akan mengantarkan kakak ke rumah Paris." Reyhan mengerti apa yang dirasakan Ruby, pasti terasa berat untuk menerima kembali orang yang sudah meninggalkannya bertahun-tahun lamanya.
"Tidak, Rey. Hanya saja aku tidak yakin kalau dia mau bertemu dengan ku." jawabnya.
"Kak, Kak Rega juga merindukan mu sama seperti Kak Ruby yang merindukannya. Setiap hari Kak Rega selalu menyebutkan nama kakak dan juga Kaisar." ucap Jelita.
Ruby membuka pintu mobil lalu keluar, berjalan perlahan digandeng Jelita disampingnya. Reyhan membawa bayinya lebih dulu masuk rumah.
Suara tawa riang Kaisar terdengar, nampaknya ia sedang bermain dengan ayahnya di teras belakang rumah. Rega yang membelakangi pintu tak melihat Ruby sedang memperhatikannya yang sedang bermain dengan Kaisar. Ruby tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Air matanya jatuh dipelupuk mata, entah itu air mata sedih atau bahagia tak dapat diartikan. Suasana seperti ini yang Ruby nantikan dari dulu. Kaisar melihatnya diambang pintu.
"Bundaaaa,,, ada ayah di sini,," seruan Kaisar membuat Rega terkejut dan menoleh kebelakang.
Rega membalikan kursi rodanya menghadap Ruby yang tengah memperhatikannya. Sosok yang selama ini menghilang tanpa kabar kini ada dihadapannya. Ruby berjalan perlahan menghampirinya, meraih tangannya lalu diciumnya dan menempelkannya di pipi.
"Apa kau baik-baik saja?" Ada banyak tanya tapi hanya itu yang terucap. Rega hanya menatapnya dalam.
Ruby yang kini berubah menjadi wanita berhijab dan pakaian serba tertutup, sangat meneduhkan jiwa Rega yang selama ini gersang tanpa kasih sayang. Ruby bagai bidadari yang dikirimkan Tuhan untuknya. Namun, ia harus meninggalkan anugerah Tuhan untuknya hanya karena sebuah kesalahan.
"Kenapa kau tidak marah? Aku sudah menelantarkan mu selama bertahun-tahun tanpa ada kabar yang jelas. Seharusnya kamu memaki dan meninggalkan ku." ucap Rega.
Keduanya sama-sama mengeluarkan air mata kesedihan dan juga kebahagiaan.
"Aku akan memarahi mu nanti. Apa kau kesakitan?" Dua pasang mata saling bertatapan sangat intens. "Apa kau merindukan ku?" Rega menarik Ruby kedalam pelukannya.
"Aku sangat merindukan mu." ucap Rega menangis tersedu memeluk Ruby. "Maafkan aku yang tak bisa membahagiakan mu."
"Aku bahagia bisa bertemu dengan mu lagi suami ku...." jawab Ruby.
Jelita menyeka air matanya, terharu melihat pertemuan kakak iparnya yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Reyhan mendekapnya juga terharu melihat kedua pasangan yang saling mencintai itu. Begitupun dengan Lastri dan Tuginem juga ikut terharu melihat pertemuan mereka.
"Bundaaa,,,, ayaahhh,,,,"
Kaisar berlari menghamburkan pelukan pada kedua orang tuanya yang sedang berpelukan. Mereka berpelukan sangat lama, meluapkan semua rasa rindu dalam dada.
Satu bulan kemudian.
Rega sudah kembali ke rumah berkumpul dengan anak dan istrinya. Ruby sedang membantunya memakaikan baju setelah selesai memandikannya.
"Yank, bagaimana kalau kita periksakan ke dokter lagi untuk menjalani terapi? Kita ikhtiar buat kesembuhan mu." bujuknya.
"Aku takut. Apa aku bisa?" Rega merasa ragu.
"Kita coba dulu ya. Selain berdoa kita juga harus usaha. Mau ya?" bujuknya lagi.
"Maaf sudah banyak merepotkan mu."
"Aku tidak pernah merasa direpotkan sama sekali. Aku ingin berbakti padamu sebagai istri yang mengharapkan rido suaminya. Jangan pernah bilang begitu lagi atau aku akan marah padamu." Ruby mencubit perut Rega sampai meringis.
"Aaww aww aww,"
"Aahhh maaf sakit ya," Rega mengangguk.
Ruby mendekat mengusap bekas cubitannya di perut Rega. Rega tersenyum karena kepala Ruby mendekat padanya lalu ia menciumnya dengan lembut penuh kasih sayang. Ruby membalas mencium pipinya.
"Terimakasih," ucap Rega tulus.
"Besok kita ke rumah sakit ya!"
"Iya, sayang." Rega menepuk pahanya menarik Ruby duduk di pangkuannya. "Kenapa kau selalu cantik dilihat dari sisi manapun, hmm? Aku takut diluar sana banyak yang menginginkan mu yang lebih baik dari aku." ucapnya.
"Yang lebih baik memang banyak, tapi yang buat aku jatuh hati cuma kamu. Jadi, jangan takut aku berpaling." Ruby mencium kening Rega.
"Aku tidak seperti dulu lagi. Kamu tahu sendiri aku hanya bisa duduk di kursi roda ini dan selalu menyusahkan mu." ucapnya mengeluh.
Tiba-tiba Kaisar datang dan menarik Ruby dari pangkuan Rega sambil merengek.
"Bunda Kai juga mau digendong ayah...." rengeknya.
Rega dan Ruby tertawa melihat tingkah anaknya. Ruby membantunya duduk di pangkuan Rega, Kaisar pun tersenyum riang.
"Anak manja... Ada ayah jadi semakin manja yah Kai..." Ruby mencubit hidung Kai pelan.
Lastri datang memanggil Ruby karena ada tamu untuknya.
"Siapa tamunya Last?" tanya Ruby.
"Tidak tahu, Bu. Tapi katanya mau ke Bapak." jawab Lastri.
Ruby dan Rega menemui tamunya yang ternyata adalah Sania.
NEXT >>>>>
hayyyyy......
maafkan baru up...
karena kesibukan hari ini jadi kelupaan belum UP.
Tinggal 1 eps lagi....
jangan lupa yaaa like comment vote nya....
terimakasih semuanyaaaa
😍😍😍😍😍