
Polesan make up sudah melekat di wajah Ruby nan ayu. Tinggal menambahkan warna merah gincu pada bibirnya. Ruby telah berdandan cantik bersiap akan menghadiri undangan.
"Sayang, kamu yakin mau menghadiri pernikahan Sely dan Riky?" tanya Rega memastikan.
Ruby berpikir sejenak, yang ia takutkan adalah tanggapan teman-temannya nanti setelah mengetahui pernikahannya.
"Sayang? Kalo kamu nggak yakin, lebih baik kita nggak usah pergi."
Ruby menatap Rega dengan perasaan Ragu.
"Kita nggak usah pergi aja ya." ucap Rega lagi.
Butuh waktu yang sangat lama untuk meyakinkan diri mengumumkan pernikahannya bersama Rega. Jika pernikahan itu terjadi karena pertemuan yang biasa mungkin tidak akan serumit yang Ruby rasakan. Tapi pernikahan itu di awali karena sebuah kesalahan besar dalam hidupnya.
"Sayang? Kok malah melamun? Kita di rumah aja ya, lagian kamu kan harus banyak istirahat kata dokter," Rega membuka kemeja batik yang sudah ia kenakan tadi.
"Kita pergi sekarang," ucap Ruby yakin.
Kemudian membantu Rega mengancingkan kemeja batiknya lagi.
"Kamu yakin, Yank?" Rega memastikan lagi.
"Aku yakin, Yank. Aku akan baik-baik saja disana asalkan kamu terus di samping ku," mengalungkan lengannya di pundak Rega.
"Ya sudah, ayok kita pergi sekarang."
Ruby menggandeng tangan Rega lalu melangkah pasti. Selama Rega di sisinya tak ada yang harus ia takutkan.
Kunci mobil diputar, mesin mobil menyala, Rega menancapkan gasnya melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sekian kilometer jalan dilaluinya, berharap hari ini akan baik-baik saja.
Deretan pohon-pohon yang berjajar di sepanjang perjalanan melambaikan tangkainya seakan mengucapkan selamat jalan.
Mobil menepi di sebuah parkiran gedung yang bertengger janur kuning melengkung di depannya. Ah, kenapa begitu cepat sampai di tempat tujuan.
Hati yang semula yakin, kini berubah menjadi keraguan kembali. Suara lantunan gamelan yang dimainkan para seniman di dalam gedung seolah mengiringi detak jantung yang tengah dilanda bimbang.
"Sayang, ayok!" Rega membuka sabuk pengamannya mengajak Ruby turun dari mobil.
Keringat dingin keluar berbarengan dengan tubuh yang mulai gemetar. Takut, itu yang Ruby rasakan. Butuh waktu sejenak untuk menenangkan diri sebelum ia harus keluar dan bertemu orang banyak.
Setelah merasa lebih tenang, Ruby melangkah keluar dari mobil. Menggandeng tangan Rega masuk ke dalam gedung dimana digelarnya acara pernikahan Sely dan Riky.
Pertama bertemu orang yang dikenalnya adalah Cindy, mereka bertemu di Pulau Dewata sewaktu berbulan madu.
"Wah pasangan serasi nih," sapa Cindy lalu menyalami Ruby dan juga Rega.
Melangkah lebih dalam, untuk yang kedua bertemu dengan kepala cabang yaitu Pak Erwin.
"Pak Rega, Bu Ruby? Kalian?" tanya Pak Erwin heran melihat Ruby dan Rega jalan bergandengan.
Rega tersenyum dan menyalaminya.
"Ini istri saya, Pak," tegas Rega dengan percaya diri.
"Ah, kenapa tidak mengundang saya di acara pernikahan kalian? Maaf saya nggak tahu kalo kalian sudah menjadi suami istri. Selamat untuk status baru kalian." ucap Pak Erwin kemudian berlalu menyapa temannya yang lain.
"Tuh kan gapapa, malah Pak Erwin mengucapkan selamat sama kita," ucap Rega pada Ruby yang masih terlihat sedikit takut.
"Iya, sekarang aku nggak akan takut lagi bertemu teman-teman mu," ucap Ruby.
Langkah kakinya bergerak menuju panggung pelaminan dimana ada sepasang pengantin yang mungkin iya atau tidak sedang berbahagia.
"Berani juga dia datang ke pernikahan ku. Ck... Pake gandengan segala lagi... Muak aku melihatnya," gerutu kesal dalam hati Sely.
Ruby dan Rega semakin mendekat ke arah pengantin yang sedang sibuk menyalami para tamu undangan.
"Selamat Riky, Sely, semoga kalian bahagia sampai tua nanti," ucapan selamat dari Rega disertai pelukan dengan Riky dan salaman dengan Sely.
"Selamat ya," Ruby menyalami Riky, namun tak dibalas oleh Sely.
Ruby tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya di lengan Rega.
Sementara itu banyak tatapan tak percaya dari beberapa orang yang datang di acara itu. Dan mereka adalah Nita, Dina, dan teman-teman Ruby sewaktu bekerja di kantor cabang.
"Ruby," seru Dina dan Nita disusul teman yang lain.
"Apa kita nggak salah lihat?" tanya Dina.
"Pak Rega gandengan sama Ruby, aku nggak lagi mimpi kan?" tambah Nita.
Sontak saja membuat yang melihat dan mendengarnya terkejut dan tak percaya.
Nita dan Dina menarik Ruby agak menjauh dari Rega.
"Kamu berhutang cerita sama kita," ucap Nita.
"Gimana bisa Ruby?" Dina dibuat tak percaya.
"Ceritanya panjang kayak kereta, nggak cukup waktu kalo harus cerita sekarang," jawab Ruby.
"Nggak mau tahu, pokoknya harus cerita. Nanti kita janjian ketemu, aku mau tahu ceritanya Ruby," Dina memaksa.
"Iya, pasti nanti aku cerita," ucap Ruby.
"Tapi sebelum kamu cerita, selamat untuk pernikahan mu dan Pak Rega ya," Nita dan Dina berhamburan memeluk Ruby terharu.
"Semoga Pak Rega bisa membuat mu bahagia, nggak seperti pernikahan mu yang sebelumnya," ucap Dina.
"Eekheemmm," Deheman Rega membuat pelukan mereka terlepas.
"Pak Rega, selamat untuk pernikahan kalian ya," ucap Nita menyalami Rega.
"Terimakasih Bu Nita,"
"Pak Rega, boleh nggak kita mengobrol dulu sama Ruby? Sudah lama kita kan nggak ketemu," ucap Dina.
"Yank,. boleh ya?" Ruby memohon.
"Ya sudah lanjutkan, aku kesana dulu ya," ucap Rega lalu pergi menemui temannya.
"Cari tempat duduk yuk,"
Ruby, Nita, dan juga Dina berjalan keluar aula gedung menuju kursi di taman sekitar gedung pernikahan.
"Buruan cerita!" pinta Dina sudah tidak sabar mendengar cerita cinta Ruby saat sudah menemukan tempat duduk yang enak di taman.
"Bentar, bentar, kalo nggak salah Cindy pernah cerita lihat Pak Rega di Pulau Dewata sama istrinya. Jadi kamu yang ketemu sama Cindy?" tanya Nita dan Ruby mengangguk.
"Berarti kamu sudah lama dong, nikah sama Pak Rega?" tanya Nita lagi dan Ruby mengangguk lagi.
"Kenapa nggak undang kita?" Dina tak mau ketinggalan menggali informasi.
"Kurang lebih satu tahun yang lalu kami menikah tapi tidak mengadakan pesta. Pernikahan kami cukup sederhana hanya dihadiri kelurga dekat saja," jelas Ruby.
"By, jangan bilang kamu sama Pak Rega ......" Dina tak kuasa melanjutkan kalimatnya.
Ruby mengangguk.
"Itulah yang terjadi. Makanya aku terus bersembunyi dari kesalahan itu. Rega datang di saat aku terpuruk dan ternyata dia pun sama," Ruby mengingat semua yang sudah terjadi antara dirinya dan Rega tak terasa air matanya menetes.
"Aku mengerti," ucap Dina merangkul Ruby.
Karena merasa sudah cukup lama, Ruby bermaksud masuk lagi ke dalam gedung untuk mencari suaminya.
Tak disangka Ruby bertemu dengan Jenny di depan pintu masuk. Mereka saling diam dan bertatapan.
"Pelakor yang beruntung," ucap Jenny.
Ruby menarik nafasnya panjang, sebutan itu memang sudah melekat dalam dirinya dan begitu menyakitkan saat mendengarnya.
NEXT >>>>>>>>>>
LIKE
COMMENT
VOTE
⭐5
FOLLOW JUGA AUTHORNYA YA.. 🤗
AKU TUNGGU VOTE NYA SAMPAI TANGGAL 1 JUNI 2020...
TERIMAKASIH BANYAK 🤗🤗🤗🤗🤗