
"Ayok, ayok, masuk," ucap Paman Abdul ramah.
Bibi Ira mengambilkan minuman dan diletakan di tas meja tamu. Paman Abdul dan Bibi Ira sangat baik pada Rega dan juga Ruby. Ruby sendiri masih bingung kenapa Rega mengajaknya ke sana.
Setelah mengobrol sebentar dengan paman Rega mengajak Ruby ke sebuah ruangan di sana ada anak perempuan sekitar umur lima tahunan namun sepertinya ia mengalami keterbelakangan mental.
Rega memperlakukannya seperti anaknya sendiri, seperti sangat menyayanginya. Rega memanjakannya dan tatapannya pada anak itu penuh kasih sayang.
Ruby ikut bermain bersama dan bercanda bersama Rega dan Arina nama anak itu. Rega terlihat sangat bahagia dan seperti tidak ada beban bermain bersamanya. Sampai Arina tertidur di pangkuan Rega.
"Arina kemarin dapat juara mewarnai di sekolahnya, dia sangat senang sampai pialanya ia bawa tidur," ucap Paman Abdul.
"Iya, tadi Arina cerita. Terimakasih paman dan bibi sudah mengurusnya," ucap Rega.
Membuat Ruby semakin bingung dengan percakapan paman dan ponakan itu.
"Kalo begitu kami pamit paman, nanti kami akan sering main ke sini," ucap Rega.
"Iya, sering-sering lah kemari, Arina selalu menanyakan mu," ucap paman lagi.
"Iya,"
Ruby hanya tersenyum, dalam hatinya bingung dan tidak mengerti situasi ini.
Lalu mereka masuk mobil dan berlalu meninggalkan rumah Paman Abdul.
"Arina itu anak ku," ucap Rega yang membuat Ruby sangat terkejut karena setahu Ruby anaknya adalah Clara.
"Arina anak ku dari pernikahan pertama ku, ibunya meninggal saat melahirkannya," jelas Rega lagi.
"Arina anak yang baik dan cerdas seperti ayahnya," ucap Ruby.
"Tapi aku tidak bisa bawa dia bersama ku, padahal aku sangat ingin mengurusnya," ucap Rega sedih.
"Kenapa?"
"Dia tidak mau tinggal bersama anak ku yang,,,," Rega menghentikan kalimatnya ada gurat kesedihan di wajahnya dan Ruby mengerti.
"Apapun yang kamu lakukan adalah yang terbaik buat semuanya, aku yakin kamu punya alasan untuk tidak membawanya," ucap Ruby sambil mengusap pundak Rega.
"Kita beli makan siang dulu ya, habis itu ke apartemen," ucap Rega.
"Ke supermarket saja beli bahan makanannya nanti aku yang masak," saran Ruby.
"Siap laksanakan,"
Usai membeli bahan makanan mereka langsung ke apartemen dan Ruby memasak untuk makan siang mereka.
"Masakan kamu emang paling enak, Yank," ucap Rega memberi pujian.
"Pelan-pelan makannya, nanti kesedak,"
"Habis ini enak sekali, enaknya sangat sangat enaaakkk," dengan lahap menghabiskan makanan di piringnya setelah nambah dua kali.
Beres makan siang Ruby membereskan piring kotornya ke dapur dan langsung mencucinya. Kemudian mereka duduk di sofa menonton tv.
"Aku kenyang sekaki, terimakasih ya sudah memasak makanan yang enak buat aku," mencium pipi Ruby tanpa permisi.
Rega menyenderkan kepalanya di pundak Ruby dan memeluknya. Ruby membelai lembut kepala Rega sampai tertidur dengan posisi yang sama.
Ruby membelai pipinya dan Rega semakin mengeratkan pelukannya.
Rega bergerak, posisi mereka menjadi saling berhadapan.
"Kamu mau tidak jadi istri aku," ucap Rega lagi.
Ruby tak menjawab sepatah kata pun, permintaan Rega membuat hatinya senang namun bimbang. Entah apa yang ada di pikiran Rega saat itu, padahal ia tahu sendiri kalau mereka masing-masing sudah menikah. Mana mungkin bisa menjadi suami istri.
Rega mendekatkan bibirnya ke bibir Ruby lalu menciumnya, lagi dan lagi. Permainannya yang lembut tapi menggairahkan berhasil membuat Ruby hanyut di dalamnya. Ciuman yang semakin memanas dan tangan Rega yang semakin tidak beraturan menjamah setiap inci tubuh Ruby membuat mereka terlena.
Satu per satu baju terlepas dari tubuh mereka, desahan demi desahan terdengar bagai nyanyian syahdu yang mengundang birahi Rega semakin menjadi.
Kali ini Ruby tidak bisa mengendalikan dirinya yang sudah terlena dalam permainan Rega. Rasa cinta dan nafsu kini sudah berbaur menjadi satu, Ruby sangat menikmati sentuhan yang Rega berikan.
"Yank, aku sudah tidak bisa menahannya," dengan suara berat penuh nafsu.
"Tapi aku takut, Yank,"
Rega mencari celananya lalu mengambil sesuatu dari sana kemudian menunjukannya pada Ruby. Ruby mengangguk.
Dan terjadilah, bersatunya dua insan dalam hubungan terlarang yang mereka jalani.
Setelah beberapa jam dan beberapa kali mereka melakukannya akhirnya mereka terkulai lemas.
Rega mencium kening Ruby, dan tidur di sebelahnya. Beberapa saat mengembalikan tenaganya Ruby beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian Rega setelahnya.
"Aku malas mengantr kamu pulang," ucap Rega sambil memeluk Ruby setelah mereka berpakaian lengkap.
"Lho, kenapa?"
"Nanti malam aku pasti tidak bisa tidur karena kangen kamu, besok kamu tidak bisa keluar kalau hari minggu,"
"Seninnya kan kita bisa ketemu lagi, Yank,"
"Senin masih lama, aku tidak bisa melewatkan hari minggu tanpa kamu,"
"Kita masih bisa BBM an kan?"
"Tapi harus bales yah, kamu buat status nanti pasti aku BBM kamu,"
"Iya,"
Kemesraan mereka mendadak berhenti ketika ponsel Rega berdering. Rega melihat ponselnya dan tertera 'wife' di layar.
NEXT >>>>>>>
Like
comment
vote
⭐5
terimakasih...