MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 51



"Kamu pikir nikah segampang itu? Untuk daftar ke kantor urusan agama pun prosesnya lebih dari satu minggu. Hari ini baru lamaran dan minggu depan nikah emang bisa?" omel Ruby.


"Bisa. Reyhan sudah mengurus semuanya termasuk mendaftarkan pernikahan kita ke kantor urusan agama di sini," jawab Rega santai.


"Nanti apa kata orang kalo kita jadi nikah? Mereka pasti beranggapan lain sama aku. Aku belum siap," ucap Ruby lirih.


"Sayang, gapapa ya, kita nikahnya sederhana? Hanya keluarga kita aja yang menyaksikan pernikahan kita." jelas Rega lemah lembut sambil tangannya tak henti mengelus rambut Ruby.


Ruby tersenyum dan mengangguk.


"Dan kita langsung pergi bulan madu," ucap Rega.


"Kenapa harus langsung? Kita istirahat dulu gitu nggak usah langsung pergi," tolak Ruby.


"Sayang, kamu sudah lama sekali nggak ngasih aku jatah. Kamu nggak kasihan sama aku yang sudah menunggu mu cukup lama?" ucap Rega.


Sekarang cubitan mendarat di kedua pipi Rega.


"Mikirnya kesitu terus dasaarrr," menggoyangkan cubitan di pipi Rega. "Kamu mau melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang? Kalo aku sih ogah." ucap Ruby melepaskan tangannya dari pipi Rega.


"Iya makanya aku cepat-cepat nikahin kamu," Rega mendekatkan wajahnya ke depan Ruby dan berbisik, "Karena aku sudah nggak tahan lagi menahannya."


Bisikan yang membuat Ruby merinding mendengarnya. Ruby langsung kabur dan bergabung bersama Reyhan dan Arina untuk bermain bersama. Sedangkan Rega tersenyum gemas melihat tingkah kekasihnya.


Karena hari sudah malam, akhirnya Rega dan keluarga berpamitan. Mereka kembali ke hotel untuk beristirahat.


Keesokan harinya, Rega menjemput Ruby untuk membeli kebaya dan jas yang akan mereka kenakan di hari paling penting untuk mereka.


“Arina nggak di ajak?” tanya Ruby melihat hanya Rega yang datang.


“Arina lagi berenang sama Reyhan, jadi nggak aku bawa,” jawab Rega.


Ruby pergi kebelakang untuk berpamitan pad Bibi Lies, lalu kembali lagi dan langsung berangkat bersama Rega. Ini adalah kali pertama Ruby keluar rumah dan berada di tempat umum. Perasaannya sedikit bimbang dan ragu, banyak ketakutan yang menyerangnya.


Mobil berhenti di depan sebuah butik ternama, Rega mematikan mesin mobilnya dan membuka sabuk pengaman yang melingkar ditubuhnya. Namun, Ruby masih berkutat dengan pikiran dan ketakutannya, tangannya berkeringat dan dingin.


Rega keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Ruby, tapi Ruby masih saja diam dan tak berusara. Rega menundukan badannya dan berjongkok di samping Ruby sambil menggenggam tangannya.


“Jangan takut, aku bersama mu. Lagi pula nggak akan ada yang datang lagi selain kita. Yang punya butik ini adalah teman ku dan aku sudah berpesan jika kita datang tak ada orang lain lagi yang datang,” ucap Rega menenangkan Ruby.


Setelah mencoba berdamai dengan ketakutannya Ruby pun mau keluar dari mobil dan masuk ke dalam butik. Rega benar-benar sudah menyiapkan segalanya, sebagai bentuk kesungguhannya pada Ruby.


Pintu di bukanya, seorang wanita yang sangat cantik, penampilannya pun sangat elegan dan beda dengan yang lainnya mendekat, sepertinya dia lah sang pemilik butik yang mereka datangi.


“Akhirnya datang juga calon pengantin kita,” ucapnya sambil menyalami pasangan calon pengantin baru yang baru saja datang.


“Ah kau bisa saja,” ucap Rega membalasnya.”Sayang, kenalkan ini Kirana, teman kuliah ku dulu dan yang punya butik ini,” ucapnya lagi mengenalkan wanita cantik itu pada Ruby.


“Kirana,” menjulurkan tangannya dan Ruby membalasnya.


“Ruby,”


“Kau sangat pintar mencari calon istri rupanya. Mari aku antar ke dalam untuk mencoba kebaya dan jas yang sudah aku siapkan untuk kalian!” Kirana berjalan di depan di ikuti Rega dan Ruby di belakang.


Ruby mencoba beberapa kebaya yang sudah di siapkan Kirana untuknya, begitu juga dengan Rega, ia mencoba beberapa jas yang cocok untuknya. Setelah mencoba semuanya Ruby memilih kebaya yang sederhana namun cantik jika dipakainya, Rega juga demikian.


“Beneran yang ini? Kalian memang pasangan yang sangat kompak ternyata. Pilihan kalian sama tapi sangat sederhana menurut ku. Tapi yang terpenting bukan baju pengantin yang dipakai, yang penting kehidupan kalian setelah pernikahan. Semoga kalian selalu bahagia,” ucap Kirana.


“Terimakasih,” ucap Ruby.


Kirana memasukan kebaya dan jas itu kedalam paperbag dan memberikannya pada Rega. Mereka berpamitan dan melangkah keluar dari butik lalu masuk ke dalam mobil.


“Kita cari makan dulu ya,” ajak Rega.


“Gimana kalo ada yng lihat aku dan tahu video itu? Kita pulang saja!” Ruby menolak.


“Yank, kamu kan nggak sendiri. Aku ada sama kamu sekarang, jadi nggak usah takut,” Rega menyelipkan tangannya di tengah rambut Ruby yang terurai dan mengelus pipi Ruby dengan lembut.


“Aku nggak enak hati,”


“Semuanya akan baik-baik saja, percaya sama aku! Kita cari makan dulu ya, karena aku udah laper,”


Ruby tak bisa mengelak lagi selain menuruti ajakan Rega, lagi pula Ruby juga sudah ingin makan sesuatu. Hingga sampailah mereka di sebuah restoran, Rega sengaja memilih tempat makan yang tidak begitu ramai agar Ruby meras nyaman.


Lagi lagi Ruby meras enggan untuk turun dari mobil, perasaannya tidak karuan dan rasa takutnya masih sama seperti tadi sebelum memasuki butik.


“Jangan takut, ada aku,” bujuk Rega.


Ruby menarik nafas sejenak terdiam, ketika sudah merasa lebih tenang ia mengangguk dan turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam dan memilih tempat duduk yang menurutnya lebih nyaman.


“Sayang, aku ke toilet sebentar ya, kamu tunggu di sini sambil pilih menu yang kamu suka,” ucap Rega dan berlalu meninggalkan Ruby.


Ruby duduk sambil membuka buku menu yang sudah ada di atas mejanya, memilih menu yang ia inginkan. Sedang asyik memilih menu, suara berisik beberapa orang yang baru saja datang mengganggu pendengarannya. Suara bisik-bisik yang ia hafal dengan suara itu membuatnya sangat terusik.


Rupanya Anggun, Nadia dan beberapa orang teman kantornya baru saja datang dan akan makan juga di restoran itu dan mereka duduk di meja yang tidak jauh dari tempat Ruby duduk.


“Itu bukannya si janda gatel itu?” bisik Nadia pada teman-temannya tapi masih terdengar di telinga Ruby.


Ruby hanya bisa diam tak memperdulikannya, walaupun dalam hatinya berkecamuk ingin marah dan kesal.


“Palingan janjian sama cowok barunya karena udah di tinggal Reyhan,” ucap sinis teman yang lainnya.


“Ternyata di kantor kita ada pelakor,” ucap yang lainnya lagi.


Ruby masih bisa menahan emosinya, walaupun ingin sekali menangis. Rega kembali dan duduk di sebelah Ruby yang masih dengan buku menu di tangannya. Tanpa Rega sadari Ruby sedang menahan supaya tangisnya tidak pecah saat itu.


“Kenapa belum pesan?” Rega memanggil pelayan dengan tangannya. “ Kamu mau apa?” tanyanya saat pelayan sudah datang.


Ruby menunjukan menu yang dipilihnya.


“Pesan yang ini aja ya Mbak dua,” ucap Rega.


Pelayan itu mengangguk dan pergi.


“Sama cowok baru, gila! Laki orang mana lagi yang dia goda ya?” ucap Anggun.


“Kasihan Reyhan sudah di tipu mentah-mentah sama si jambang itu,” ucap Nadya.


“Mending Reyhan sama Thalia, masih gadis bukan pelakor kayak dia,” ucap Anggun lagi.


Rega mendengar semua yang dikatakan orang-orang yang bersebelahan meja dengannya. Dilihatnya Ruby hanya menunduk dengan muka yang sudah memerah padam seperti menahan sesuatu, entah itu menahan marah atau tangis. Dikeluarkan ponselnya dan entah apa yang Rega ketik di dalamnya, matanya menatap Ruby dan tersenyum penuh arti.


“Kasihan juga cowoknya, ganteng gitu mau-maunya jalan sama pelakor kayak dia,” terdengar lagi kicauan dari meja sebelah.


Ruby sudah merasa tidak nyaman, namun Rega masih tetap bertahan dan menggenggam erat tangan Ruby memberikan ketenangan walaupun ia tahu hati Ruby sedang tidak dalam keadaan baik saat ini.


Pelayan pun mengantarkan makanan yang tadi di pesan Rega dan menhidangkannya di atas meja. Ruby masih menunduk dan tidak berani mengangkat kepalanya.


“Abaikan mereka! Bersikaplah seolah-olah nggak terjadi apa-apa,” bisik Rega santai.


Ruby menatap Rega sendu, ingin sekali ia mengajaknya pulang saat itu juga. Tapi makanan sudah di pesan dan sudah dihidangkan di depannya. Untuk makan pun Ruby sudah tidak berselera, ia hanya memainkan makanan di piringnya.


“Makan lah, jangan biarkan mereka menumbuhkan penyakit dalam dirimu, membiarkan cacing perut mu kelaparan dan demo minta di kasih makan," bisik Rega lagi seakan tidak mau tahu perasan Ruby saat ini.


Kicauan-kicauan meja sebelah terdengar lagi lebih hebph dari sebelumhya.


“Hey, hey, bukannya itu Reyhan?”


“Wah bakalan seru nih,”


“Kayaknya Reyhan udah tahu kalo dia sudah mengkhianatinya, pasti Reyhan bakalan marah besar sama janda gatel itu,”


“Sssstttt…. Ssstttt,” saat Reyhan sudah masuk dan mendekat.


Reyhan menyapa para penggosip kantor itu lebih dulu sebelum ke meja kakaknya.


"Eh ternyata ada ciwi ciwi kantor di sini, lagi apa kalian?" sapa Rega.


"Makan lah namanya di restoran," jawab Anggun.


"Kamu mau apa ke sini?" tanya Nadya.


Reyhan membalasnya dengan senyum dan berlalu meninggalkan mereka berjalan ke meja kakaknya.


"Hay, Kak," memeluk Rega.


"Kak Ruby, apakabar?" ucap Reyhan.


Semua para penggosip itu melongo mengetahui bahwa yang sedang bersama Ruby itu adalah kakak dari Reyhan.


"Kakak sama adiknya di embat juga. Serakah banget. Jadi janda aja belagu," celetuk salah seorang dari mereka.


Pertahanannya sudah berada di ambang batas, Rega menghampiri mereka.


"Dari tadi saya dengar kalian terus saja menghina istri saya. Kata siapa dia janda? Dia istri saya. Dan wajar kalo dia dekat dengan Reyhan karena Reyhan adalah adik iparnya. Apa ini kerjaan kalian? Menggosipkan hal yang belum pasti kebenarannya. Kalo saya dengar lagi makian dan hinaan lagi untuk istri saya dari mulut kalian. Akan saya pastikan kalian akan bernasib sama seperti Thalia teman kalian," ucap Rega dengan lantang.


"Thalia?" serentak mereka mengucapkan nama temannya.


"Nanti kalian akan tahu sendiri," Rega berbalik kembali ke meja Ruby.


Keempat wanita itu tertunduk malu, karena ulahnya sendiri.


Ruby juga penasaran dengan ucapan Rega, kenapa Rega menyebut nama Thalia di depan keempat orang itu?


Sedangkan Reyhan duduk santai sambil menikmati makanan di atas meja.


NEXT >>>>>>


R&R kembali lagiiiiiiii......


jangan lupa like comment vote


makasih banyak yaaaa....


🤗🤗🤗🤗