MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 72



Ruby melihat Adnan memasuki gerbang rumahnya.


"Mas Adnan. Mau apa dia ke sini?" gumamnya.


"Bik Idah, itu ada tamu kalo bilang mau bertemu saya, bilang saya lagi tidur siang nggak bisa diganggu." pintanya, lalu segera masuk kamar.


"Iya, Bu..." jawab Bik Idah.


Sesuai dengan perintah majikannya Bik Idah mengatakannya pada Adnan. Adnan pun pergi setelah Bik Idah menolaknya masuk.


"Lebih baik aku cari penumpang dulu. Mungkin nanti sore aku kembali lagi ke sini." gumam Adnan lalu pergi dari rumah Ruby.


Adnan mengemudikan mobilnya menjauh dari rumah Ruby, keluar dari komplek menuju pusat kota.


Menunggu beberapa lama akhirnya Adnan mendapatkan penumpang. Adnan menancapkan gasnya lagi menuju lokasi penjemputan penumpangnya.


"Tami?" Adnan melihat ponselnya dan memastikan lagi siapa yang memesan taxinya. "Yang pesan namanya Arul, sedang apa Tami di sini? Atau dia sudah menikah lagi?" Adnan berhenti di depan sebuah rumah dimana Tami berada di depannya.


Keluar seorang pria kemudian Tami menggandengnya berjalan.


"GACAR ya, Pak?" tanya pria yang bernama Arul si pemesan taxi.


Adnan mengangguk lalu memakai topi dan maskernya supaya tidak di kenali Tami. Arul dan Tami masuk ke dalam mobil.


"Sesuai aplikasi ya, Pak! Tapi nanti berhenti dulu di pertigaan depan." ucap Arul lagi setelah mobil melaju menjauh dari rumahnya.


Pandangannya fokus menyetir dan menghadap ke depan. Suara yang menggelikan telinganya terdengar dari belakang, membuat Adnan merasa jijik untuk mendengarnya sekali pun.


"Dia memang ular," gumamnya dalam hati.


Adnan terus mengemudi sampai di pertigaan tempat tadi yang disebutkan oleh Arul.


"Mau berhenti dimana, Pak?" tanyanya menghentikan aktivitas luar biasa dibelakangnya.


"Depan Tamara Spa." jawab Arul.


Adnan maju sampai tempat yang disebutkan lalu berhenti di depannya.


"Sampai nanti ya sayang," ucap Tami berpamitan pada Arul.


"Kalo mau dijemput telepon saja ya!" jawab Arul.


"Oke," Tami keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam salon spa.


Adnan kembali melajukan mobilnya ketempat tujuan sebenarnya yang dipesan di aplikasi.


"Istrinya, Pak?" entah apa yang ada dipikiran Adnan tiba-tiba saja bertanya seperti itu.


"Iya dia istri kedua saya," jawab Arul.


"Oh istri kedua. Pantas saja masih mesra-mesranya ya..." Adnan menjadi penasaran dengan mantan istri sirinya itu.


"Kami baru saja menikah dua minggu yang lalu, jadi masih hangat-hangatnya," jelas Arul.


"Lagi lagi dia mengganggu rumah tangga orang lain. Mungkin itu sudah mendarah daging dalam dirinya." ucap Adnan dalam hatinya.


Adnan mengantarkan Arul sampai tempat tujuan. Lalu kembali lagi ke depan rumah Ruby. Berharap Ruby terlihat lagi dari balik jendela tapi tidak ada. Adnan terus menunggunya dan memperhatikan jendela yang biasa ada Ruby disana.


"Ruby kemana ya? Apa dia sakit, karena terjatuh kemarin malam? Ah kenapa harus Ruby yang terjatuh." Adnan jadi kesal sendiri.


Hatinya ingin sekali melihat keadaan Ruby dengan mata kepalanya sendiri, namun ia takut mengganggu waktu istirahat Ruby.


Akhirnya ia hanya bisa menunggu di dalam mobilnya sambil terus melihat ke arah jendela.


"Ruby, maafkan aku sudah mencelakai mu..." tindakannya menyiksa dirinya sendiri.


Lain hal dari dalam rumah, Ruby merasa ketakutan kenapa Adnan selalu saja ada di sekitar rumahnya.


Ketakutan yang selama ini Ruby rasakan dan mimpi buruknya yang selalu datang. Ruby takut mimpinya menjadi nyata.


Ruby sedang menemani Arina belajar di ruang tengah. Tapi pikirannya terus menerus ketakutan dan sering melihat keluar.


Sempat merasa lega ketika Adnan pergi dari sekitar rumahnya, tapi ternyata ia balik lagi dan terus berada di dekat rumah Ruby.


"Iya, Buk." Lastri membawa Arina ke kamarnya.


Bik Idah yang sedari tadi melihat kekhawatiran majikannya pun ikut ketakutan.


"Buk, kita lapor polisi saja bagaimana?" saran Bik Idah.


"Ah nggak usah dulu, Bik. Lagian dia cuma diam disitu." ucap Ruby walau sebenarnya ia sangat ketakutan.


"Tapi bibik jadi takut kalo dia mau jahat sama kita." ucap Bik Idah lagi.


"Selama dia tidak bertindak yang aneh-aneh biarkan saja. Ada cctv di sekeliling rumah ini, bibik tenang saja. Jangan ada yang keluar rumah sebelum dia pergi. Sekarang kita masak untuk makan malam nanti." Ruby berdiri dari duduknya kemudian mengeluarkan sayuran dari kulkas.


"Sekarang mau masak apa, Buk? Untungnya Bibik baru kemarin belanja jadi bumbu dan sayuran masih lengkap," Bik Idah menyiapkan bumbu dapur di atas meja.


"Masak cumi asam manis, oseng kangkung, tahu goreng sama buat sambal saja. Cuminya sebagian di goreng tepung ya, buat Arina." tutur Ruby.


Bik Idah menyiapkan semua bahan dan bumbu yang akan di masak, Ruby tinggal memasaknya.


Ketika sedang asyik memasak, suara ketukan pintu dari luar terdengar. Ruby takut kalo saja yang mengetuk pintu adalah Adnan.


"Bik, coba lihat siapa yang datang. Kalo orang itu lagi jangan dibuka." titah Ruby.


Bik Idah mengangguk lalu pergi melihat siapa yang datang. Ruby menunggu dengan perasaan cemas.


"Kaaakkk." Jelita keluar dari balik pintu.


"Jelita. Kakak kira siapa." Lega, ternyata Jelita yang datang.


"Kak Rega menelepon ku, katanya aku harus temani kakak kemana pun kakak pergi kalo dia lagi ke kantor." jelas Jelita.


"Dasar ya kakak kamu, malah ngerepotin kamu." kilah Ruby.


"Gapapa, Kak. Lagian aku masih menganggur, belum dapat kerjaan. Sambil aku menyiapkan resepsi pernikahan ku juga. Soalnya Reyhan juga belum tentu bisa datang ke sini bantuin aku ngurusin resepsi nanti." jelasnya lagi.


"Syukur kalo gitu. Jadi kakak ada teman. Apa yang bisa kakak bantu nyiapin persiapan pernikahan kamu?" tawar Ruby.


"Ah, Kak gapapa kok. Paling bantu dananya aja itu sudah lebih dari cukup" Jelita tertawa menggoda Ruby.


"Itu sudah pasti. Jel, kamu lihat ada orang nggak di luar rumah?" Ruby menyelidik.


"Tadi aku lihat ada, Kak. Dekat mobil hitam, dia lagi berdiri di samping mobilnya. Kenapa Kak?"


"Gapapa. Istirahat sana, bawa koper mu ke kamar tamu."


"Iya, Kak."


Jelita berlalu menggusur kopernya masuk kamar.


Tak berapa lama terdengar keributan dari luar, Ruby dengan perasaan takut melihat dari kaca jendelanya. Rega sedang memukuli Adnan di depan gerbang rumah.


Cepat-cepat Ruby keluar, mengajak Jelita bersamanya ke depan rumah.


"APA YANG KAU LAKUKAN DI DEPAN RUMAH KU HAH??" terdengar teriakan Rega uang tersulut emosi.


BUG..... BUG..... BUG.....


Adnan tak bisa melawan amukan Rega yang terus menerus memukulinya tanpa ampun.


"Aku......" baru saja Adnan akan menjawab Rega sudah lebih dulu memukulnya.


BUG.... BUG.....


"Yank, hentikan." teriakan Ruby menghentikan pukulan Rega di wajah Adnan.


"Dia mengawasi rumah kita beberapa hari ini." jawab Rega masih mencengkram kerah baju Adnan.


"Dan dia yang hampir menabrak ku kemarin."


NEXT >>>>>>>