MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 77



"Halo.... halo...."


"Halo, Kak. Ini Anisa (adik Adnan)" jawab di sebrang telepon.


"Oh Anisa. Ada apa, Nis?"


"Apa benar rumah kakak yang pagar warna putih no 3A? Aku sedang di depan rumah kakak."


"Iya. Tunggu sebentar, kakak ke depan sekarang."


"Iya, Kak."


Telepon di tutup, Ruby bergegas berjalan keluar kamar lalu ke depan rumahnya.


"Kak Ruby," panggil Anisa.


Ruby menoleh.


"Nis, sama siapa ke sini?"


"Sendiri saja,.Kak. Oh ya, aku bawa undangan buat kakak."


"Undangan? Kamu mau menikah?"


"Bukan. Mas Adnan yang akan menikah lagi."


"Oh iya? Mas Adnan akan menikah lagi? Syukurlah. Yuk masuk dulu, Nis!"


"Ah tidak, Kak. Nisa cuma mau antar undangan ini saja." menyerahkan undangan yang di ambil dari tas kecil miliknya.


"Ah iya. Sampaikan salam kakak untuk bapak dan ibu ya."


"Siap kak."


"Nis, sampaikan juga permohonan maaf kakak, sepertinya kakak tidak bisa hadir di acara pernikahan Mas Adnan karena suatu dan lain hal." ucap Ruby merasa tidak enak.


"Oh gitu ya, Kak? Iya nanti Nisa sampaikan. Nisa pamit ya Kak. Soalnya, masih harus mengantarkan undangan ke yang lain," pamitnya.


"Tidak akan masuk dulu?"


"Mungkin lain kali, Kak. Dahh kakak." melambaikan tangan lalu menyalakan sepeda motornya meninggalkan Ruby di depan rumah.


Sepeninggal Anisa, Ruby masuk ke dalam rumah membuka surat undangan yang tadi diterimanya. Di undangan itu tertera nama Adnan dan calon istrinya. Ruby tersenyum haru.


"Semoga Mas Adnan sudah berubah dan rumah tangganya yang sekarang bahagia," gumamnya.


Setelah membuka dan membacanya, Ruby menyimpan undangan itu di atas nakas lalu mencari Kaisar dan Lastri.


"Lastri, Lastriii...." pangilnya.


"Iya, Buk."


"Ganti baju Kaisar dan siap-siap kita jalan-jalan ke taman bermain." titahnya.


"Baik, Bu."


Hari itu Ruby mengajak Kaisar bermain di arena bermain anak di dalam swalayan. Kaisar selalu senang dan bersemangat jika di ajak ke sana.


"Horreeee,,,, horeeee,,,, aku mau mandi bola....." soraknya kegirangan.


Usai membayar tiket masuk Kaisar langsung berlari masuk ke dalam menikmati wahana mainan anak-anak di sana.


"Las, aku mau beli sesuatu dulu." Lastri mengangguk.


Ruby masuk ke swalayan, membawa keranjang belanjaan yang disediakan di dalam swalayan.


Ruby mengambil apa saja yang akan dibelinya, kemudian membayarnya di kasir. Selesai membayar belanjaannya ia menaruh belanjaannya di mobil.


"Ruby," panggil seseorang, suaranya seperti sudah tak asing di telinganya.


Ruby melihat ke sekelilingnya, mencari siapa yang sudah memanggilnya. Riky menghampirinya bersama seorang wanita dengan pakaian syar'i lengkap dengan cadar yang menutupi sebagian wajahnya.


"Riky?" ucapnya heran mengerutkan dahinya memandang ke seorang wanita di sebelah Riky.


Riky tersenyum. "Ini Sely," ucapnya.


Dibuat tak percaya dengan penampilan Sely kini, Ruby tersenyum dan menyalaminya.


"Apakabar?" tanya Sely.


"Baik," jawabnya


"Bagaimana kalau kita cari tempat duduk untuk bicara? Kita ke kafe sebelah?" ajak Riky.


Akhirnya mereka masuk ke kafe sebelah swalayan.


"Aku tak percaya ini Sely. Kamu sudah sangat berubah. Aku sampai tidak mengenali mu," ucap Ruby.


"Semua ini berkat, Mas Riky yang sudah membuat ku berubah." jawab Sely.


"Apa sudah ada kabar dari Rega?" tanya Riky.


Ruby menggeleng, sedih. "Belum."


Sely menggenggam tangan Ruby, memberikan dukungannya. "Semoga Mas Rega segera ditemukan ya."


Ruby mengangguk dan tersenyum.


"Ruby, aku mau minta maaf kalau dulu aku sudah banyak membuat mu menderita atau kesusahan karena aku." tutur Sely tulus.


"Seharusnya aku yang meminta maaf pada mu, Sel. Aku sudah menjadi orang ketiga di rumah tangga mu bersama Rega." ucap Ruby.


"Tidak. Kalau bukan karena aku yang mengabaikannya dan menjadi istri yang baik, Mas Rega tidak akan melakukan itu. Aku sangat mengerti dia bisa berbuat seperti itu." ucap Sely.


"Kita saling memaafkan saja ya. Aku juga sudah salah sama kamu." ucap Ruby lagi.


Ruby dan Sely berpelukan, Riky terharu melihatnya.


"Sel, aku juga ingin berubah seperti mu. Aku ingin belajar mendalami agama seperti mu. Bisakah kamu membantu ku?" pinta Ruby.


"Benarkah itu?" Ruby mengangguk pasti.


"Alhamdulillah, insya Allah aku bisa membantu mu. Aku punya kenalan ustadzah yang biasa mengajarkan aku mengaji. Kapan kamu ada waktu?" ajak Sely bersemangat.


"Kapan pun juga aku bisa. Kabari aku jadwal ustadzah kenalan mu itu!" sambungnya lagi.


Setelah pertemuan itu Ruby menjadi akrab dengan Sely. Penampilan Ruby pun berubah, kini Ruby berpakaian tertutup dan memakai hijab dalam kesehariannya. Acara-acara kajian agama kerap ia ikuti bersama dengan Sely.


🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋


Di suatu tempat Rega sedang memandangi laptopnya. Di sana, ia bisa melihat aktivitas di dalam rumahnya, kegiatan Ruby dan tumbuh kembang Kaisar, jagoan kecilnya.


Ya, hanya itu yang bisa Rega lakukan, selama bertahun-tahun ini. Terkadang ia sangat frustasi dengan keadaannya sekarang, karena hanya bisa melihat orang tersayangnya di layar laptop yang tidak jelas menampilkan wajah mereka.


Ingin teriak sekeras-kerasnya, namun itu tak akan mengubah keadaan. Yang Rega rasakan saat ini Tuhan sedang menghukumnya.


"Kak, mau sampai kapan?" tanya Reyhan yang tiba-tiba muncul dihadapannya.


"Mana?"


Reyhan memberikan kameranya yang selalu ia bawa jika datang ke rumah Ruby. Reyhan selalu mengambil foto Ruby dan Kaisar secara diam-diam jika berada di sana.


Rega membuka foto-foto dalam kamera itu di laptopnya. Senyum simpul tergambar, namun gurat kesedihan terpancar.


"Kemarin CCTV nya kenapa, Rey?" tanyanya.


"Ada masalah sedikit tapi sudah di perbaiki." jawab Reyhan.


"Iya aku sudah melihatnya tadi, sekarang sudah jelas lagi gambarnya."


"Kak, mau sampai kapan? Aku sudah tak tahan melihat Kak Ruby bersedih karena merindukan mu. Setiap aku ke sana dia selalu menanyakan mu. Kau tidak lihat Kaisar yang semakin lama semakin tumbuh dewasa? Suatu saat nanti dia pasti akan menanyakan mu pada kakak ipar? Apa kau tega Kaisar tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah?" Reyhan terlihat kesal dengan kakaknya.


"Aku tak tahu harus berkata apa nanti sama Ruby kalau dia menanyakan alasan aku menghilang bertahun-tahun lamanya. Aku masih bingung. Aku juga merindukan istri dan anak ku. Tapi keadaannya begini, aku tidak mau menyusahkan mereka. Aku tidak mau mereka sedih dan menderita. Aku juga tak tahan dengan keadaan ini. Belum lagi Arina ......" Rega tertunduk frustasi dengan keadaannya, air mata pun keluar tak tertahankan.


Reyhan keluar dari kamarnya, meninggalkan kakaknya yang sedang butuh waktu menerima kenyataan hidupnya.


Rega memukul-mukul kakinya yang kini sudah tidak bisa digerakkan dan hanya bisa duduk di atas kursi roda.


"Tuhan, aku merindukan mereka di sisi ku." lirihnya.


🦋🦋🦋🦋🦋


Like


comment


vote