MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 29



Teduh, hangat, nyaman, merasa dilindungi, dan ini lah pelukan yang selalu ia harapkan saat sedang merasa terpuruk dan sedih. Itulah yang Ruby rasakan ketika berada dalam pelukan Rega. Tapi Ruby juga merasa sedih karena orang yang memeluknya bukanlah miliknya.


Ruby melepaskan pelukannya, menatap Rega dan tersenyum. Rega mengusap pipinya dan mengusap lembut kepalanya.


“Kamu nggak pulang?” tanya Rega.


“Nggak, orang tua ku membawa Sean ke rumah Sodara di Kota ‘Y’ dan baru pulang dua hari lagi,” jawab Ruby.


“Oh, bagus kalo gitu.” Rega sangat senang Ruby bisa berlama-lama dengannya. Rasa rindunya yang menggebu sudah tak bisa tertahankan.


Rega mendekatkan wajahnya ke wajah Ruby, mengecup pipinya dan mencium bibir Ruby.


“Ga, aku capek, aku ngantuk,” tolak Ruby.


“Ya sudah ayok kita tidur,” akhirnya mengalah dan menahan hasratnya.


Rega merangkul Ruby dan mereka berjalan memasuki kamar. Ruby duduk di tepi tempat tidur lalu Rega naik ke tempat tidur dan merebahkan dirinya di samping Ruby.


Ruby membawa bantal dan selimut kemudian menarik Rega yang sedang rebahan di sampingnya.


“Kamu tidur diluar,” menarik tangan Rega lalu memberikan bantal dan selimut kemudian mendorongnya keluar kamar.


“Aku mau tidur di sini sama kamu,” bujuk Rega.


“Nggak.”


“Aku takut tidur sendiri.” Nada manjanya keluar.


Ruby menutup pintu kamar dan menguncinya, kemudian ia naik ke tempat tidur dan terlelap. Akhirnya Rega pasrah tidur di sofa padahal keinginannya sudah memuncak dan ingin sekali bermain dengan Ruby malam itu. Rega pun terpaksa tidur di sofa.


Paginya Ruby bangun lebih dulu, Ruby menghangatkan makanan yang di masak Rega kemarin dan membumbuinya lagi. Selesai berkutat di dapur Ruby masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beres mandi Ruby masih bingung dengan pakaiannya yang masih basah dan akhirnya memakai baju Rega yang semalam ia pakai lagi.


Ruby keluar kamar Rega masih tertidur nyenyak di sofa, ia berjongkok di depan sofa mengamati setiap garis wajah lelaki yang sedang tertidur itu. Menyusuri setiap lekuk wajah itu dengan jarinya kemudian mengecup bibirnya.


Rega membuka matanya membuat Ruby terkejut dan langsung berdiri.


“Bangun, nanti kesiangan,” ucap Ruby menutupi keterkejutannya.


Rega bangun dan duduk, kemudian menarik lengan Ruby sampai Ruby berada di pangkuannya. Ruby berontak tapi tenaga Rega lebih kuat darinya, dan akhirnya diam dan pasrah.


“Kamu yang memulainya, sayang,” bisik Rega di telinga Ruby yang membuatnya merinding.


Rega menempelkan bibirnya di bibir Ruby sampai kedua bibir itu menyatu dan saling bersautan menumpahkan rasa yang ada dalam diri mereka terus menerus, hingga keduanya menikmati permainan itu. Tangan Rega mulai menjalar menyusuri punggung Ruby dan perlahan masuk ke dalam bajunya. Ruby menggigit bibir bawah Rega dengan keras, membuat Rega melepaskan ciumannya dan merintih kesakitan.


“Sakit, kenapa digigit?” ringis Rega sambil memegangi bibir yang digigit Ruby.


“Nanti kamu kesiangan, ayok cepat mandi!” ucap Ruby beralih dari pangkuan Rega lalu duduk di sofa.


“Ahh aku sangat malas,” memeluk Ruby dari belakang tapi Ruby berusaha melepaskannya.


“Diam lah! Aku ingin seperti ini lima menit saja, habis itu aku akan mandi sesuai perintah mu tuan putri,” ucap Rega sedikit menggoda Ruby.


Lima menit sudah usai, Rega melepaskan pelukannya lalu pergi mandi dan bersiap. Ruby sudah menyiapkan baju kerjanya di atas kasur dan juga membuatkannya teh hangat. Bahagianya jika Ruby adalah benar istrinya, harapan Rega.


“Ini kamu yang masak?” tanya Ruby saat mereka sarapan bersama.


“Iya, tapi kenapa bisa seenak ini ya? Kemarin rasanya nggak gini,” heran dengan masakannya sendiri.


“Ya mana ku tahu, kan kamu yang masak,” ucap Ruby samba tersenyum.


“Hebat kan aku bisa masakin buat kamu, nanti lagi tugas kamu yang selalu masakin buat aku,” ucapan dan harapannya bersatu menjadi satu kesatuan.


Ruby hanya tersenyum.


“Mau bawa bekal? Kalo mau aku siapin,” tawar Ruby.


“Nggak, nanti aku pulang ingin makan siang sama kamu,” jawab Rega.


Selesai sarapan Rega beranjak dari duduknya berjalan ke dekat pintu bersama Ruby yang akan mengantarkannya ke ambang pintu. Ruby memakaikan kaus kaki dan sepatunya, seperti layaknya istri yang melayani suaminya. Rega mengecup keningnya lalu pergi bekerja. Pasangan terlarang yang harmonis, mungkin dapat dikatakan seperti itu.


Jam makan siang Rega benar-benar pulang ke apartemen dengan membawa beberapa paperbag yang berisi baju-baju untuk Ruby pakai.


“Ini semua buat aku?” tanya Ruby sambil membuka salah satunya.


Rega mengangguk.


“Banyak banget, kayak mau menginap sebulan saja. Tapi makasih ya, padahal baju ku sudah kering dan sudah bisa di pakai,” ucap Ruby lagi.


“Gapapa, biar nanti kalo kamu kesini nggak usah bawa baju.”


“Makasih ya, aku pakai sekarang ah,” mengecup pipi Rega lalu mengunci diri di kamar berganti pakaian.


Sewaktu menunggu Ruby, Paman Abdul menelepon Rega memberitahukan Arina sedang sakit dan tidak mau rewel tidak mau di bawa ke dokter.


“Iya, Paman. Rega akan segera kesana,” ucap Rega cemas.


Rega mengetuk pintu kamar untuk memanggil Ruby.


“Yank, bisa cepat sedikit aku harus pergi lagi,” panggil Rega sambil terus mengetuk.


Ruby membuka pintu dan melihat Rega di depan pintu dengan wajah mencemaskan sesuatu.


“Ada apa?” tanya Ruby.


“Aku boleh ikut?”


Anggukan jawaban Rega. Kemudian mereka bergegas berangkat ke rumah Paman Abdul.


Sampai di rumah Paman Abdul, Arina sedang menangis meronta-ronta tidak mau minum obat dan tidak mau dibawa ke dokter. Tapi saat melihat Ruby, Arina ingin di gendongnya dan tidak mau lepas. Berat badan Arina cukup berat membuat Ruby hampir kewalahan menggendongnya.


“Arina, sini sama Ayah gendongnya,” ucap Rega karena melihat Ruby yang hampir kewalahan.


Arina menggelengkan kepala dan masih menangis tersedu.


“Gapapa, biarkan Arina tenang dulu,” ucap Ruby sambil berjalan ke kamar Arina dan mendudukan dirinya di tempat tidur.


Ketika Arina sudah mulai tenang, baru Ruby membujuknya untuk minum obat. Akhirnya Arina mau minum obat oleh bujukan Ruby lalu Arina tertidur di pangkuannya. Ruby mengurus Arina dengan penuh kasih sayang, seperti seorang ibu pada anaknya. Paman dan bibi ikut bahagia melihat kedekatan Ruby dan Arina.


Rega banyak mengambil foto saat Ruby sedang mengurus Arina di dalam kamar, memakai ponsel barunya yang baru dibelinya kemarin untuk menghubungi Ruby. Ketika sedang asik memotret Ruby dan Arina, ponsel yang satunya berdering, dilihat Sely meneleponnya. Rega pergi keluar dan mengangkat teleponnya di dalam mobil.


Sely “Halo. Mas Rega Sayaaaang, Makasih mobilnya udah datang. Kapan kamu pulang? Aku rindu. Nanti kita jalan-jalan pakai mobil baru ya. Aku seneng banget.”


Rega “Aku banyak kerjaan, mungkin besok malam baru pulang.” (Dingin)


Sely “Ya sudah, selamat bekerja sayang. Cari uang yang banyak ya. Aku mau foto-foto sama mobil baru ku. Muaahh sayang.”


Rega menutup teleponnya lalu kembali ke dalam rumah.


“Ga, dari mana?” tanya Ruby saat melihat Rega baru datang dari luar.


“Dari mobil aku cari tas aku tahunya udah aku bawa ke sini,” mencari alasan tujuannya menjaga perasaan Ruby.


“Oh begitu. Arina sudah tidur tapi badannya masih panas. Boleh nggak aku menginap di sini buat jagain Arina? Sean juga lagi nggak ada di rumah dibawa orang tua ku.” Menawarkan diri.


“Boleh saja kalo kamu nggak keberatan,” jawab Rega merasa tidak enak.


“Ya nggak, kan aku yang mau.”


Ruby bagaikan malaikat tak bersayap baginya, ketika Arina sakit Ruby yang mengurusnya bukan istrinya. Dan Sely, istrinya malah sedang asik berbahagia dengan mobil barunya tanpa memikirkan perasaan dan keadaan Rega.


“Tuhan, aku ingin Ruby yang menjadi istri ku,” batin Rega.


Esoknya Arina sudah membaik, demamnya sudah turun dan sudah mau bermain lagi. Rega dan Ruby berpamitan untuk pulang pada Paman dan Bibi.


“Makasih ya, sayang,” ucap Rega mencium punggung tangan Ruby yang sudah di genggamnya sedari tadi.


Ruby membalasnya dengan senyuman. Mobil Rega berhenti di depan rumah Ruby dan memarkirkannya di sana.


“Mau masuk dulu?” ajak Ruby.


“Boleh?” tanya Rega karena baru pertama kali ini ia di ajak masuk ke dalam.


“Ya boleh,”


Rega duduk di ruang tamu dan Ruby membawakannya minum.


“Sepi ya?” basa-basi Rega.


“Semuanya kan lagi ke rumah sodara ku yang di luar kota, aku kan sudah bilang,” jelas Ruby.


“Suami mu, nggak pulang?” ragu-ragu menanyakannya.


Ruby tersenyum dan menggelengkan kepala.


Lama mereka berbincang Rega pamit untuk pulang.


“Aku pulang ya, hati-hati di rumah.” Mengecup kening Ruby.


Ruby mengantarkan Rega ke depan rumahnya. Namun baru saja Rega akan masuk ke dalam mobil tiba-tiba Adnan dan Tami datang dan melihat mereka berdua.


“Sedang apa kau di sini?” tanya Adnan heran melihat Rega ada bersama Ruby.


Deg.


“Bu Ruby satu kantor dengan saya. Tadi Bu Ruby tidak enak badan dan saya di minta untuk mengantarnya pulang,” jawab Rega berusaha untuk tenang.


Rega sadar akan posisi dan statusnya, tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya bisa jadi Ruby akan terlihat buruk di mata Adnan dan Tami. Ruby hanya bisa terdiam saat Adnan dan Tami melontarkan pertanyaan kecurigaanya pada Rega.


“Bukannya kamu suaminya Sely?” tanya Tami.


“Iya. Kita pernah bertemu di rumah sakit waktu itu,” jawab Rega santai.


“Uhuukkk,,,, uhuuuukkk,” tiba-tiba Adnan terbatuk mendengar penuturan Rega.


“Kalo begitu saya permisi. Bu Ruby, semoga cepat sehat kembali,” Rega langsung masuk ke dalam mobil dan pergi.


❣️❣️❣️❣️❣️


like comment & vote nya jgn lupa....


besok R&R ga UP dulu ya...


UP lagi sabtu malam atau minggu pagi di usahakan...