
"Itu Tami dan suaminya, romantis banget ya mereka. Lihat deh, Mas, tasnya Tami, itu harganya hampir seratus juta. Hadiah dari suaminya," ucap Selly sambil menunjukan foto temannya pada Rega.
Rega terkejut melihat seorang pria yang mirip dengan Adnan suami Ruby. Dan lebih terkejut lagi ketika Selly berkata bahwa lelaki itu adalah suami dari temannya.
"Siapa nama suaminya, kayak kenal," ucap Rega.
"Namanya Adnan Prayoga,"
Deg.
"Benar itu suaminya Ruby," gumam Rega dalam hati.
Selly masih asik dengan dunia mayanya, citcet bersama teman-teman sosialitanya. Sesekali tertawa sambil terus melihat layar ponselnya.
"Eh, Mas, Mas. Ternyata Tami lagi hamil, ini postingannya barusan. Jadi topik paling hot di grup arisan. Tapi kalo kata si Jenny sih, suaminya ninggalin istrinya yang dulu buat nikah sama si Tami."
Jleb. Entah kenapa Rega merasa sakit mendengar cerita Selly tentang Ruby yang ditinggal suaminya demi wanita lain. Padahal menurutnya Ruby tipe istri yang baik, yang perhatian dengan keluarga.
"Sudah, jangan gibahin orang lain, nanti kwalat kamu," ucap Rega.
Rega memeriksa BBM nya belum juga asa status dari Ruby, padahal ia sudah ingin sekali menyapanya. Karena istrinya malah asik sendiri dengan dunianya.
"Mas, jadi kan tukar tambah mobil aku?" tiba-tiba saat Rega akan berdiri.
"Terserah," ucap Rega acuh.
Sekarang pikirannya sudah berpusat pada Ruby yang tidak ada kabar berita hari ini.
Baginya Ruby adalah candu, Ruby selalu membuatnya bergairah dan menjadikan harinya berwarna.
Ruby juga membuatnya merasakan kenikmatan bercinta yang belum pernah ia rasakan bersama istrinya. Karena sering Selly menolak atau Rega hanya bermain sendiri tanpa ada timbal balik.
"Ruby, kamu kemana? Jangan membuat ku gila karena menunggu kabar mu," dalam hatinya yang terus memanggil Ruby.
Rega memutuskan untuk pergi ke tempat laundry untuk mengecek laporan di sana tentu saja tanpa sepengetahuan Selly.
Rega mengambil kunci mobilnya, lalu langsung masuk ke mobilnya.
"Mas, mau kemana?" panggil Selly yang masih ada di teras.
"Ke bengkel," jawab Rega singkat.
"Oh ya, pulangnya bawa makanan," ucap Selly lagi.
Rega tak menjawabnya langsung pergi keluar garasi lalu menancapkan gasnya.
Usaha laundry milik Rega lumayan sukses dan ada rencana membuka cabangnya di tempat lain.
Dengan usahanya ia dapat membeli apartemen dan membiayai Arina yang ia titipkan di rumah pamannya.
Rega sangat menyayangi Arina, tapi Selly tidak mau membawa Arina tinggal bersama mereka karena kekurangan Arina. Bahkan Selly menyembunyikan status Rega yang saat itu duda beranak satu pada teman-temannya.
Akhirnya Arina di titipkan di rumah paman dan bibinya.
Rega sendiri menikahi Selly karena desakan dari orang tuanya sebelum mereka meninggal. Satu bulan sebelum pernikahannya orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Dan akhirnya Rega menikahi Selly atas janjinya pada kedua orang tuanya.
Rega memberanikan diri menyetir mobilnya menuju rumah orang tua Ruby. Tapi rumahnya tampak sepi dan seperti tidak ada orang.
Kemudian ke rumah kontrakannya, tapi sama tidak ada orang di sana.
Rega frustasi dengan perasaannya sendiri. Bertanya-tanya Ruby dimana, sedang apa, dan bersama siapa.
Karena di kedua tempat itu Rega tidak menemukan kekasihnya, akhirnya Rega ke apartemennya.
Di apartemennya pun sepi tidak ada Ruby di sana. Rega mengacak-acak rambutnya tersiksa dengan penantiannya.
Ting....
Suara BBM.
Ruby : PING !!!
BBM yang dinantikannya akhirnya datang juga. Rega langsung meneleponnya.
Rega "Kamu darimana aja sih, Yank. Seneng banget buat aku nunggu," (marah)
Ruby "Maaf, aku baru pulang dari mall ngajak main Sean," (merasa bersalah)
Rega "Pasti sama dia kan makanya tidak ada status dan tidak ada kabar," (curiga)
Ruby "Aku sam......" (terpotong)
Rega "Halah sudahlah jangan banyak alasan. Dia sudah bahagia dan mau punya anak. Kamu harus pisah sama dia."(masih marah)
Ruby "Apa kamu bilang? Bahagia dan mau punya anak? Siapa maksud mu?" (balik marah)
Rega "Suami mu, dan aku tidak suka kamu masih bersamanya,"
Tuuuuuuutttttt..... Rega mengakhiri panggilannya.
Ruby masih belum percaya dengan apa yang dikatakan Rega, ia masih terpaku dan terngiang kata-kata itu.
Rega kesal pada dirinya sendiri, sudah marah pada Ruby padahal belum jelas Ruby pergi dengan siapa. Rega menelepon Ruby lagi.
Rega "Maaf, aku terbawa emosi karena sudah menunggu mu seharian ini, jangan pikirkan kata-kata ku tadi,"
Ruby "Gapapa, apa yang tadi kamu bilang itu benar?"
Rega "Aku sudah bilang, aku hanya emosi saja. Jangan dipikirkan ya. Maafkan aku,"
Dan percakapan itu berlanjut sampai berjam-jam lamanya meluapkan rasa rindu mereka.
Tapi kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran Ruby, dan bagaimana bisa Rega berkata seperti itu tanpa disengaja. Semuanya membuat Ruby tenggelam dalam pikirannya.
**NEXT >>>>>>>
like comment vote**