
Tiga Tahun yang lalu.
Rega mengendarai mobilnya dengan perasaan cemas mengetahui Arina hilang dan belum ditemukan. Guru dan orang tua teman Arina ia hubungi tapi tidak ada yang tahu keberadaan Arina.
Rega menyusuri jalanan mencari Arina yang tak kunjung ditemukannya. Dari mulai jalan dekat rumahnya sampai daerah dekat sekolahnya ia telusuri. Hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda keberadaan Arina.
"Kamu dimana, Nak?" ucapnya cemas.
Rasanya ia sudah gagal menjaga anak perempuan dari mendiang istri pertamanya itu. Kalau saja ia mengindahkan ucapan Ruby untuk membawa Arina, mungkin ini tidak akan terjadi. Namun, penyesalan tinggal lah sesal tiada arti, Arina sudah hilang dan belum juga ditemukan.
Ponselnya terus berdering dari nomor yang sudah sangat lama tidak pernah menghubunginya sama sekali. Sania, adalah adik kandung ibunya Arina yang sedari tadi meneleponnya. Dengan malas Rega mengangkat telepon itu.
Rega "Halo,"
Sania "Halo Kak Rega masih ingat aku kan? Adik kandung istri pertama mu, Sania."
Rega "Ya, ada apa?"
Sania "Arina bersama ku."
Rega "Katakan dimana Arina sekarang, aku jemput Arina kesana."
Tuuuuuuuuuttttttttttt.....
Panggilan terputus.
Keluarga Kania tidak pernah bertemu atau berkunjung menemui Arina, semenjak meninggalnya Kania. Rega tidak pernah mempermasalahkan itu, mungkin mereka malu dengan keadaan Arina.
Hingga sekarang dengan sengaja Sania membawa Arina, Rega merasa curiga dengan adik kandung mendiang istri pertamanya itu. Apa yang Sania inginkan dengan membawa Arina? Pertanyaan itu semakin membuat Rega cemas dan juga geram.
Dengan kecepatan tinggi Rega melajukan mobilnya menuju rumah mantan mertuanya yang berada cukup jauh, butuh waktu dua jam perjalanan untuk sampai di sana. Rega sangat khawatir dengan Arina jika berada dengan keluarga ibunya.
Mobil berhenti di depan rumah mantan mertuanya, ia segera keluar dari mobil. Sania sudah menunggunya di depan rumah.
"Mana Arina?" tanya Rega.
"Ada di dalam." jawab Sania singkat.
Rega dengan cepat masuk ke dalam mencari Arina.
"Arina... Arinaa..."
"Duduk dulu lah, tenang, sabar, Arina ada kok, tidak usah khawatir." ucap Sania santai melihat Rega sudah kepanikan belum juga menemukan Arina.
"Dimana Arina? Cepat katakan!" Rega mulai emosi ketika Arina belum juga ditemukan.
Tiba-tiba Sania memeluknya dari belakang sangat erat.
"Mas aku merindukan mu! Apa harus dengan cara ini, agar kau datang padaku? Sudah lama aku menantikan mu," ucapnya.
"Apa-apaan kau? Lepaskan aku," Rega melepaskan diri. "Dimana Arina?" nada suaranya meninggi.
Sania memeluknya lagi.
"Apa kau tidak merindukan ku, hah?" Rega berusaha melepaskan diri dari pelukan Sania. "Diam lah! Kalau kau berontak dan pergi, aku tak akan memberitahukan dimana Arina." Rega diam di pelukan Sania.
"Aku mencari mu. Aku sakit hati kau menikah dengan orang lain bukan dengan ku. Kenapa kau tidak menikahi ku, hah?" Rega masih terdiam. "Kau tidak ingat kenangan kita? Aku masih mengingatnya sampai sekarang. Aku merindukan mu." Mengeratkan pelukannya, Rega masih terdiam.
"Itu sebuah kesalahan, kuharap kau mengerti. Waktu itu aku sangat kesepian karena Kania sakit-sakitan dan aku pun butuh perhatian dan belaian. Sampai akhirnya kau yang memberikannya padaku. Aku khilaf." Rega melepaskan pelukan Sania. "Aku tidak pernah menaruh rasa apapun padamu. Kau datang disaat ......." Sania mencium bibir Rega. Namun Rega mendorongnya.
"Sania, kumohon sadarlah! Apa yang kita lakukan dulu itu adalah sebuah kesalahan. Kita tak seharusnya melakukan itu. Maafkan aku kalau aku sudah menyakiti mu." Rega sadar kesalahannya sudah membuat Sania berharap lebih padanya.
"Lalu kau anggap apa pernikahan mu yang sekarang? Istri baru mu itu juga hasil dari sebuah kesalahan bukan? Kenapa kau tidak melakukannya padaku? Kenapa kau tidak menikahi ku? Padahal kita sudah melakukannya berkali-kali. KAU JAHAT, KAU PENGKHIANAT..." emosinya semakin tak stabil Sania meronta memukul-mukul dada Rega.
Rega menarik nafas berat.
"Aku mencintainya, aku menemukan yang selama ini aku cari dalam dirinya. Aku tak mau mengkhianatinya dan tidak mau melakukan kesalahan lagi. Hiduplah dengan baik dan cari cinta sejati mu!" Rega naik ke lantai atas mencari Arina, meninggalkan Sania yang sedang tertunduk pilu.
"Arina..... Arinaa....." panggilnya.
Sangat aneh, suasana rumah tampak sepi dan tak ada orang lagi di dalam rumah itu. Kemana orang tua Sania dan juga pembantunya yang selalu ada di rumah ini? Sepertinya Sania sudah merencanakan sesuatu. Rega turun lagi ke bawah karena tidak menemukan Arina di atas. Sania sedang duduk di meja makan menunggunya.
"Sania, dimana Arina?" tanyanya.
"Duduklah! Arina berada di tempat yang aman, kau tidak usah khawatir." ucapnya lebih tenang.
"Aku tidak bisa tenang sebelum melihat Arina." ucap Rega masih menjauh dari Sania.
"Sini, duduklah dulu! Aku tidak akan mungkin mencelakainya, dia ponakan ku. Aku ingin berduaan saja dengan mu, hari ini saja hanya berdua dengan mu." ucapnya lebih santai.
"Apa yang kau inginkan?" Rega sudah dibuat geram.
"Sudah ku bilang, aku ingin bersama mu hari ini saja. Hanya berdua dengan mu. Setelah itu kau boleh pergi dengan Arina." Sania menyalakan tv di layar terlihat Arina sedang bermain di sebuah taman bermain anak-anak bersama ibunya Sania.
Rega bernafas lega melihat Arina baik-baik saja.
"Aku tak bisa. Aku tidak akan mengkhianati istri ku." ucapnya.
"Hehh,,," senyum mengejek. "Bukankan seorang suami kalau sudah pernah selingkuh akan melakukannya lagi dan lagi. Sama seperti mu bersama istri baru mu itu. Jadi sekarang lakukanlah bersama ku." ucap Sania.
"Aku sudah berubah. Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama." tegas Rega.
"Coba saja kau pergi, kalau bisa." Sania masih duduk santai di tempatnya.
Rega melangkahkan kaki menuju pintu keluar, tapi pintunya terkunci. Rega mencari pintu yang lain tapi tetap sama tidak bisa di buka. Sedangkan Sania masih duduk santai melihat Rega kelimpungan mencari jalan keluar. Rega berusaha mendobrak pintu ruang tamu tapi pintu itu seakan tidak berpihak padanya. Dicari ponselnya, tidak ada ditinggal di mobil.
"AH SIAL!!!" keluhnya.
"Hahahhaha...." Sania tertawa puas. "Sudah kubilang duduklah dulu. Aku tidak akan memaksa mu untuk tidur dengan ku. Yang aku inginkan kau mendengarkan ceritaku." ucapnya santai.
Rega terpaksa duduk di depan Sania. Tenaganya sudah lemas juga mencari jalan keluar dan berusaha mendobrak pintu rumah. Rega meminum air yang ada dihadapannya dengan sekali tegukan.
"Bicaralah!" Rega mengalah pasrah demi bisa cepat pulang dan membawa Arina.
"Tepat di hari kematian kakak ku, aku baru saja mengetahui bahwa aku mengandung ANAKMU."
NEXT >>>>>>>
like comment vote
jangan lupa yaaaa......
terimakasih semua....
🤗🤗🤗🤗🤗