MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 73



Perasaan Rega tak karuan, mimpi buruknya semakin membuatnya resah. Mimpinya pun sama dengan Ruby, mimpi dia ditusuk orang dan berdarah-darah. Belum lagi kejadian kemarin yang membahayakan nyawanya. Dan kejadian aneh di sekitar rumahnya.


Rega merogoh ponselnya di tas kecil miliknya.


"Halo, Jel. Kakak minta tolong kamu ke rumah. Temani Kak Ruby kemana pun dia pergi selama kakak bekerja. Kakak khawatir kalo dia pergi sendirian...... Kalo bisa sekarang juga kamu ke rumah ya... Oke," percakapannya dengan Jelita di telepon.


Rega membuka laptopnya, kemudian membuka memeriksa cctv rumahnya yang bisa terhubung dari jarak jauh.


Rega menemukan kejanggalan, dengan mobil yang sering terparkir di depan rumahnya. Pemilik mobil keluar tapi wajahnya tidak terlihat jelas di layar. Namun plat nomor mobilnya terlihat jelas.


Rega memperbesar gambarnya supaya lebih jelas.


"Aku ingat ini mobil yang hampir menabrak ku semalam. Bahkan dia yang mengantarkan Ruby ke laundry hari itu. Siapa dia?" gumamnya.


Tidak kehabisan langkah Rega membuka lagi rekaman cctv dari seminggu sebelumnya secara beruntun. Berkali-kali mobil itu terparkir disana. Rega semakin yakin ada sesuatu dengan pemilik mobil itu.


Cemas dengan keadaan Ruby di rumah Rega kembali melihat rekaman cctv yang sedang terjadi di rumahnya. Seseorang keluar dari mobil dan masuk ke dalam gerbang rumahnya namun tak lama keluar lagi dan pergi.


"Siapa orang itu? Aku tak boleh gegabah. Akan aku selidiki terus. Baguslah dia pergi dari rumah ku." sedikit lega, Rega melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Selesai dengan pekerjaannya Rega memeriksa lagi cctv rumahnya. Mobil yang Rega curigai berada di depan rumahnya lagi.


"Shiittt... Mau apa lagi orang itu? Aku harus pulang sekarang. Ini tak bisa dibiarkan..."


Kunci mobil diraihnya, tasnya dikalungkan di pundaknya lalu pergi meninggalkan kantor.


Mobil dilajukanya dengan kencang supaya cepat sampai rumah.


Sampai di depan rumahnya, Rega keluar dari mobil menghampiri mobil hitam yang ada di cctv tadi.


"KELUAR KAU!!!!" teriak Rega menggedor kaca mobil.


Adnan membuka pintu mobil lalu keluar.


Rega dibuat tak percaya bahwa yang beberapa hari ini mengawasi rumahnya adalah Adnan. Dan yang hampir saja menabraknya adalah mantan suami istrinya.


"KAU!!!! BERANI BERANINYA KAU!!!" Rega sudah tersulut emosi.


BUG.... BUG.... BUG....


Wajah, perut, bagian lainnya dari tubuh Adnan menjadi sasaran empuk kepalan tangan Rega yang sudah diselimuti oleh emosi dan amarah. Adnan tak sempat bisa melawan pukulan-pukulan Rega yang membabi buta menjadikannya sasaran.


"APA YANG KAU LAKUKAN DI DEPAN RUMAH KU, HAH?"


"Aku......."


BUG.... BUG.... BUG....


Pukulannya terhenti saat Ruby datang bersama Jelita, Ruby berteriak menghentikan perkelahian mereka.


"Beberapa hari ini dia mengawasi rumah kita," Rega masih marah dan emosi.


Banyak orang yang mulai berkerumun melihat aksi perkelahian mereka. Walau Adnan yang menderita banyak pukulan.


Ruby menghampiri Rega yang masih tidak melepaskan cengkraman di baju Adnan.


"Yank, sudah lepaskan. Kita tanya dia baik-baik." ucap Ruby lembut meredakan amarah suaminya.


Pak RT membantu Adnan berdiri ketika Rega melepaskannya dan masuk ke dalam rumah bersama Ruby. Adnan dibawa masuk juga oleh Pak RT kedalam rumah, mereka duduk bersama menyelesaikan permasalahannya.


"Sebenarnya ada apa ini, Pak Rega?" tanya Pak RT setelah mereka duduk bersama di teras depan rumah.


Adnan masih memegangi wajah dan perutnya yang terkena pukulan Rega tadi.


"Ada keperluan apa mas-nya di depan rumah Pak Rega?" tanya Pak RT.


"Sa.. Saya ha... hanya ingin memastikan kalau mantan istri saya baik-baik saja..." jawab Adnan terbata-bata menahan sakit.


"Ruby sudah bahagia, kamu tidak usah mengganggunya lagi." ucap Rega penuh penekanan.


"Tapi kau menduakanya kan. Kau masih punya istri. Aku tak rela Ruby di duakan lagi oleh mu." ucap Adnan kini menggebu-gebu.


Rega menggeleng kepala.


"Kau sudah salah nyolot. Siapa bilang Ruby di duakan? Aku tidak seperti mu yang menyakitinya. Ruby sudah bahagia dan kau pergi jauh darinya, karena kau sudah menjadi masa lalu yang kelam buat Ruby," adu mulut Rega dan Adnan.


"Sudah,,, sudah,,, Jadi Mas ini mantan suami Bu Ruby? Kalau begitu semuanya jelas." Pak RT menengahi keduanya. "Mas ini adalah Pak Rega suami sah dari Bu Ruby. Dan Bu Ruby adalah istri satu-satunya Pak Rega. Sepertinya Mas-nya sudah salah paham," jelas Pak RT.


"Dengar dengan baik. Aku suami sahnya dan Ruby satu-satunya istri ku. Lebih baik sekarang kau pergi jauh dari sini." ucap Rega lagi masih dengan emosi.


Adnan tertunduk malu, selama di penjara ia sudah kehilangan informasi tentang dunia luar. Bahkan tentang mantan istri sirinya pun ia tidak mendengar kabar apapun selain tadi ia bertemu langsung dan ternyata Tami sudah menikah lagi.


"Saya minta maaf," ucap Adnan.


"Sekali lagi kau terlihat di sekitar rumah ku, akan aku laporkan ke polisi. Seharusnya kau sudah mendekam di penjara sekarang karena kemarin kau hampir saja menabrak ku. Kau sudah membahayakan nyawa istri ku dan calon anak ku. Jika sekali lagi kau melakukan hal yang sama, aku tidak akan memaafkan mu. INGAT ITU." ucap Rega sambil menunjuk-nunjuk Adnan.


"Yank, sudah. Dia kan sudah minta maaf," ucap Ruby meredakan Rega.


"Tapi dia sudah membahayakan kita, sayang." kilah Rega.


"Sudah suruh dia pergi, aku sudah tidak mau melihatnya lagi." ucap Ruby lagi.


"Pak RT, saya serahkan orang ini kepada Pak RT terserah mau Pak RT apakan. Asalkan dia jangan pernah lagi kembali ke sini, mengganggu ketentraman rumah saya," ucap Rega.


"Baik, Pak Rega. Saya akan bawa dia ke pos keamanan." jawab Pak RT lalu membawa Adnan bersama dua orang satpam komplek keluar dari rumah Rega.


Selepas kepergian Adnan dan Pak RT dari rumahnya, Rega bergegas masuk ke kamarnya. Dengan mandi bisa menyegarkan badan dan pikirannya setelah memukuli Adnan dengan penuh amarah dan emosi.


Ruby menyiapkan baju rumah suaminya di atas kasur lalu pergi ke dapur untuk membuatkannya teh hangat. Kembali lagi ke kamar, Rega sudah berpakaian lengkap.


"Yank, tehnya," Ruby memberikan secangkir teh yang dibawanya.


"Makasih, sayang." meraih cangkir dari Ruby lalu duduk di kursi sebelah tempat tidur.


"Maaf aku tidak memberitahu mu, sudah dua kali aku bertemu dengan Mas Adnan. Aku tidak mau membuat mu cemas," ucap Ruby sambil menyisir rambut Rega yang masih basah.


"Seharusnya kamu memberitahu ku. Jadi aku bisa berjaga-jaga. Dia sudah berbuat jahat sama kita, kamu tahu kan. Kemarin hampir saja kita celaka," ucap Rega sedikit kesal.


"Iya, maaf," memeluk Rega menyesal.


"Aku tidak akan biarkan dia merebut mu kembali dari ku."Rega membalas pelukan Ruby.


Ponsel Rega berbunyi, Pak RT mengirimkan pesan untuknya.


"Pak Rega sebaiknya berhati-hati karena Pak Adnan baru keluar dari penjara dua bulan lalu. Mungkin saja dia akan berbuat jahat pada keluarga bapak," isi pesan dari Pak RT.


"Nih baca pesan dari Pak RT,"


Ruby membesarkan bola matanya dan menutup mulut dengan telapak tangan tak percaya Adnan adalah mantan narapidana.


NEXT >>>>>>>>>