
"Anakku?" Rega diam mematung, mengingat kesalahannya yang pernah ia lakukan beberapa tahun yang lalu. "Oh Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?" lirihnya.
"Waktu itu kau sangat terpuruk, aku tak mungkin memberitahukannya padamu. Ketika aku ingin memberitahukannya, dokter bilang kalau Arina mempunyai kelainan dan kau semakin terpuruk dan bersedih. Akhirnya, aku putuskan tidak memberitahumu sampai kau benar-benar sudah bisa menerima kepergian Kak Kania dan juga keadaan Arina. Tapi, kau semakin menjauh dariku, kau pindah ke rumah orang tua mu dan selalu mengabaikan ku. Aku sangat sakit menanggung semuanya sendiri. Sampai aku tahu kau sudah menikah lagi dengan orang lain, hatiku semakin sakit. Kenapa kau malah menikahi wanita lain? Kenapa bukan aku yang kau nikahi?" Terlihat ketegaran di mata Sania. Tak keluar air mata sedikitpun dari matanya, mungkin karena ia sudah kebal dengan penderitaannya selama ini.
"Lalu dimana anak itu sekarang?" tanya Rega lebih lembut dari sebelumnya.
"Aku akan memberitahu mu, tapi kau harus mau bertanggung jawab atas semua yang pernah kau lakukan padaku." ucapnya.
"Kau mau apa dariku?" tanya Rega lagi.
"Aku ingin satu hari saja bersama mu. Hanya satu hari. Setelah itu kau boleh pergi." pinta Sania.
Rega tidak memberi jawaban, ia tak bisa mengkhianati Ruby yang sangat dicintainya.
Sania bangkit dari duduknya, menghampiri Rega yang tak juga bersuara menjawab permintaannya. Tangannya menyusuri pundak Rega dan mengalungkannya di sana.
"Ayok, kita lihat anak kita!" ajaknya berbisik lalu menarik tangan Rega untuk mengikutinya.
Mereka berjalan ke lantai atas rumahnya. Sania mengajak Rega masuk ke dalam kamarnya.
"Di dalam kamar ini waktu usia kandungan ku dua bulan, aku meminum obat pembunuh janinku. Dia yang malang harus ku akhiri hidupnya di dalam rahimku sendiri." air mata menetes di pipinya mengingat kejadian yang tak pernah diinginkan.
"Maaf. Kenapa kau tidak bilang saja padaku, mungkin aku akan bertanggung jawab padamu waktu itu." ucap Rega merasa bersalah.
"Sakit, sakit teramat sakit, tapi lebih sakit lagi kau menjauhi dan meninggalkan ku sendiri dalam keadaanku yang sedang hamil. Aku tidak mau membuat malu keluargaku dan aku tidak mau cita-citaku menjadi dokter musnah begitu saja. Akhirnya aku harus membunuh anak ku sendiri," Sania menangis tersedu.
Rega tak bisa berbuat apa-apa, kalau saja ia tahu Sania hamil tidak mungkin ia menikahi Sely waktu itu. Tetapi, semuanya sudah terjadi. Kita hanya bisa memperbaiki masa depan dan meninggalkan masa lalu yang buruk.
"Maaf." hanya itu kata yang terucap dari bibir Rega.
Sania menarik nafas panjang, menenangkan dirinya dari emosi yang tak menentu dan meluap-luap.
"Aku sudah memaafkan mu jauh dari sebelum kau mengatakannya." ucapnya.
"Terimakasih. Kenapa kau bilang mau melihat anak kita, kalau kau menggugurkannya?" Rega curiga.
Sania memeluknya, " Aku hanya ingin memeluk mu," Rega bergerak ingin melepaskan pelukan itu. " Kau milikku hari ini, " mengeratkan pelukannya.
Pandangan Rega kabur, kesadarannya mulai goyah. Sekuat tenaga Rega berusaha tetap sadar dan melepaskan pelukan Sania. Oh tidak, minuman apa yang tadi ia minum di bawah? Rega baru menyadarinya. Dengan sempoyongan Rega keluar dari kamar di ikuti Sania memegangi tangannya.
"Kau memberiku apa?" tanyanya dengan menahan kepalanya yang teramat pusing.
" Hanya nina bobo untuk mu," jawab Sania sambil terus memeganginya.
Rega terus berjalan keluar kamar dan menuruni tangga. Namun, sudah tak kuat lagi menahan reaksi obat itu. Rega terjatuh berguling ke bawah. Yang Rega lihat Sania histeris memanggilnya dan ia tak ingat apa-apa lagi setelah itu.
Rega tersadar saat dirinya tengah terbaring di rumah sakit. Sania duduk di sampingnya, menunggu ia sadar. Rega melihat Sania terlihat cemas di sampingnya.
Badannya terasa sakit untuk digerakkan dan kepalanya juga terasa pusing untuk bangkit.
"Aarggghh," Rega meringis kesakitan.
"Kau sudah sadar?" Sania membantunya untuk berbaring kembali.. "Kau tidak boleh banyak bergerak dulu." Mengambilkan segelas air. " Minumlah!" Rega menolaknya dengan tangan. "Aku tidak meracuni mu kali ini. Percayalah!" Rega diam tak menjawab.
"Sudah tiga hari kau tidak sadarkan diri, jadi ku sarankan kau mau minum untuk membasahi tenggorakanmu " Sania merasa khawatir.
Akhirnya Rega menurut dan mau meminum segelas air dengan bantuan Sania.
Hari sudah larut malam Rega tak dapat melakukan apapun, ia hanya terbaring di tempat tidur. Sampai detik ini Rega belum juga bertemu Arina. Sania masih setia menungguinya di kamar perawatan. Mungkin karena ia merasa bersalah.
Esoknya Rega sudah merasa lebih baik, tapi kakinya masih belum bisa ia gerakkan.
"Kau sudah merasa lebih baik?" tanya Sania yang baru saja datang ke kamarnya entah darimana.
"Hmmm.." Rega malas berbicara dengannya.
"Aku akan mengatakan sesuatu padamu, kalau kau sudah lebih baik." ucapnya lagi.
"Katakanlah, lalu bawa Arina ke sini!" balas Rega.
"Kau terjatuh dari tangga dan mengalami cidera saraf tulang belakang paraplegia, dokter mendiagnosa kau tidak bisa menggerakkan kakimu lagi atau bisa dibilang kelumpuhan setengah tubuh bagian bawah. Kemarin kau sudah menjalani operasi, untung saja aku cepat membawamu ke rumah sakit kalau tidak kau bisa lumpuh total akibat cidera itu. Selanjutnya ikuti fisioterapi supaya bisa berjalan lagi." tutur Sania.
Mendengar penuturan Sania, Rega sangat terkejut dan juga sedih. Bagaimana bisa ini terjadi padanya? Mungkin ini hukuman untuknya atas semua kesalahannya di masa lalu. Berhari-hari Rega tidak bicara dengan siapapun termasuk Sania. Hatinya sangat terguncang mengetahui kenyataan hidupnya. Setelah merasa tenang, Rega memutuskan untuk menghubungi Reyhan.
Setelah Rega pulih dari masa pemulihan operasinya, ia diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Reyhan menjemputnya tanpa memberitahu Ruby karena Rega yang memintanya. Reyhan membereskan barang-barang Rega yang akan dibawa pulang. Sania datang ke kamarnya.
"Karena kondisi mu saat ini, aku dan mama yang akan mengurus Arina. Jangan menolak, ini demi kebaikan Arina." Sania langsung pergi tanpa mendengar jawaban apapun dari Rega.
Rega menghela nafasnya.
"Kak, Arina baik-baik saja kan?" tanya Reyhan.
"Arina baik-baik saja. Mereka mengurusnya dengan baik." jawabnya.
"Lalu bagaimana dengn Kak Ruby?" tanya Reyhan lagi.
"Dengan kondisi ku yang seperti ini, aku tidak mau menyusahkannya. Rey, tolong jangan beritahu dia bagaimana keadaan ku sekarang. " pintanya.
"Tapi Kak Ruby sedang hamil anakmu, Kak." Reyhan mengingatkan.
"Aku tahu. Kalau aku pulang dengan keadaanku seperti ini akan sangat menyusahkanya nanti. Belum lagi Ruby harus mengurus anak kami." jelas Rega.
"Baiklah. Tapi aku tidak bisa pastikan Kak Ruby akan baik-baik saja setelah kau meninggalkannya. Maksudku, perasaan hatinya karena ditinggalkan."
Rega menunduk pilu, tak ada yang bisa ia perbuat untuk istri tercintanya.
NEXT >>>>>
LIKE COMMENT VOTE NYA YA KAKAK READER KU TERCINTAA......
TERIMAKASIH SEMUANYAA...
🤗🤗🤗🤗🤗