
Teringat dengan perbincangannya dengan Jelita sewaktu perjalanan pulang dari mall, Ruby jadi ingin mengetahuinya langsung dari Rega. Selama ini Ruby tidak pernah menanyakan perihal Kania istri pertama Rega langsung pada suaminya.
"Yank, aku merasa aku mirip dengan seseorang.," ucap Ruby memulai percakapan saat sedang menemani suaminya makan malam.
"Mirip siapa memangnya? Pasti mau bilang mirip artis kan? Haha... kamu lebih cantik dari artis hollywood, sayang," Rega tertawa geli mendengar pernyataan istrinya.
"Aku mirip istri mu, Yank." ucap Ruby serius.
Rega langsung terdiam sesaat.
"Yaiya kamu memang istri ku kan. Kamu ini ada-ada saja." mencubit hidung Ruby pelan.
"Hmmm... Aku mirip ibunya Arina." Ruby memasang wajah seserius mungkin.
Rega menghentikan aktivitasnya sesaat menatap Ruby kali ini dengan tatapan yang entah apa artinya.
"Kau memang ibunya Arina juga kan?" Melanjutkan lagi makannya yang sempat terhenti.
"Ibu kandungnya maksud ku." Rega terus menyuapkan makanannya tanpa mempedulikan ucapan Ruby.
"Apa karena itu awalnya kamu menyukai ku?" Rega masih tetap tidak mempedulikan ucapan Ruby.
"Sayang, minum aku mana?" pinta Rega setelah menghabiskan makanan di piringnya.
"Yank, jawab dulu!" Ruby kesal akhirnya.
"Minum dulu." Rega serius.
Ruby berdiri membawakan air minum untuk suaminya lalu diberikannya dengan cepat.
"Sayang, aku ngerokok dulu sebentar ya. Kamu duluan ke kamar." ucap Rega setelah menghabiskan minumnya.
"Katanya mau jawab. Kamu ini gimana sih?" Ruby semakin kesal.
Rega diam menatap Ruby dengan seksama, melihat rasa penasaran Ruby yang sangat besar dengan jawabannya.
"Asalkan jawaban ku nanti nggak akan merubah apapun darimu untuk ku dan untuk kita, aku akan jawab." tegasnya.
Ruby mengangguk "Iya,"
"Kamu memang mirip dengan Kania istri pertama ku. Alasan aku mencintai mu bukan karena kalian sangat mirip. Tapi karena sesuatu yang ada dalam dirimu yang nggak dimiliki oleh wanita lain selain dirimu." ucapnya dengan tatapan penuh cinta pada Ruby.
"Bohong." ucap Ruby padahal pipinya sudah bersemu merah.
"Sudah dijawab disebut bohong." decak Rega kesal.
"Ke kamar yuk!" mendekap lengan Rega manja.
"Kamu kangen ya sama aku?" goda Rega.
Ruby mengangguk tersenyum.
"Kamu duluan. Nanti aku nyusul." Rega mendekat ke telinga Ruby kemudian berbisik. "Pakai baju sexy yang kemarin ya." tersenyum nakal ke arah Ruby.
"Aku kan lagi hamil. Mana cukup!! Cepat, aku tunggu dikamar, jangan lama-lama." berlalu meninggalkan Rega di meja makan.
Rega bersorak, semenjak Ruby hamil mereka jarang sekali melakukannya.
Sebelum ke kamar Rega merokok satu batang rokok kemudian membuatkan susu khusus ibu hamil untuk Ruby lalu bergegas naik ke kamarnya.
"Sayang, kok lama sih?" Ruby tidak sabar menunggu.
"Aku buatkan kamu susu dulu, nih!" menyodorkan segelas susu yang dibawanya.
Ruby menenggak habis susunya lalu memberikan gelas kosong pada Rega.
"Pintar sekali, langsung habis. Enak ya susu buatan ku?" Rega senang Ruby selalu menghabiskan susunya.
"Buatan suami ku memang selalu enak." jawab Ruby.
Rega menaruh gelasnya di atas meja.
"Yank, cepat dong ih!" seru Ruby.
"Bentar dong, sayang. Nggak sabar banget," Rega segera menyusul Ruby ke atas ranjang lalu mencium keningnya. "Kita mulai sekarang?"
Ruby mengangguk. Rega memajukan wajahnya ke bibir Ruby namun Ruby mendorongnya menjauh.
"Kenapa?"
"Jadi nyuruh aku cepat ke kamar buat ini?" menunjuk kaki Ruby.
"Iya." Mengangguk pasti.
Ternyata Rega masih harus menahan hasratnya yang sudah lama terpendam. Dengan terpaksa namun sayang pada istrinya, Rega memijat kaki Ruby pelan-pelan.
"Yank, ceritain dong kisah cinta kamu dari cinta pertama sampai akhir!!" pinta Ruby sambil menikmati pijatan lembut di kakinya.
Rega berhenti memijat malah menatap Ruby malas.
"Kenapa? Aku juga kan ingin tahu perjalanan cinta mu..." ucap Ruby
"Ini permintaan ibunya atau dede bayi ya?" gumam Rega masih terdengar oleh Ruby.
"Ini keinginan anak mu sayang.. Ibunya juga.... Jadi cepat cerita ya, kalo nggak kamu tidur di luar," ucap Ruby penuh ancaman.
"Coba ingat, dulu aja kita ketemu Sely kamu cemburu sama aku. Sekarang gimana kalo aku ceritain nanti kamu makin cemburu. Aku nggak mau kalo akhirnya kamu ngambek sama aku," protesnya.
"Jadi mau tidur di luar?" ancaman yang sangat jahat bagi Rega.
"Iya, iya tapi jangan cemburu kalo aku cerita nanti ya!!" Ruby mengangguk paham.
🦋🦋
Rega memulai ceritanya.
Aku baru mengenal cinta sewaktu kuliah. Kania cinta pertama ku, dan kami berpacaran lebih dari tiga tahun. Maka dari itu aku putuskan untuk menikahinya setelah lulus sarjana.
Kami memang sangat dekat, bahkan banyak yang iri. Ya, aku menyayanginya karena aku baru mengenal cinta dan baru merasakan menyayangi dan disayangi oleh wanita selain ibuku.
Dua bulan sebelum kami menikah Kania sering sakit-sakitan. Aku semakin takut kehilangannya dan akhirnya aku putuskan untuk melamarnya.
Kami menikah, dan tidak lama Kania hamil Arina. Kania selalu menyembunyikan sakitnya dariku. Termasuk kehamilannya yang sangat membahayakan nyawanya. Hingga akhirnya aku tahu pada saat Kania melahirkan. Dan langsung meninggal saat Arina terlahir ke dunia.
Aku terpuruk, kehilangan, sedih sudah pasti kehilangan seseorang yang aku sayangi. Tapi aku pun harus bangkit demi Arina kenangan terindah dari Kania cinta pertama ku.
🦋🦋🦋
Rega mengenang saat- saat bersama Kania, dia memang sangat menyayanginya waktu itu.
"Yank, kamu sedih ya? Maaf ya, aku buat kamu sedih." ucap Ruby membelai pipi Rega.
"Nggak. Aku sekarang bahagia punya kamu dalam hidup ku." Rega balas membelai pipi Ruby.
"Bobok yuk! Makasih ya udah pijat kaki aku." menarik tangan Rega ke sampingnya.
"Aku mau nengok dedek dulu....." bisik Rega ditelinga Ruby.
Malam panjang kedua insan pun dimulai sampai mereka merasakan keindahan malam itu.
🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋
Dalam keheningan malam yang sepi, Adnan membuka foto pernikahannya bersama Ruby. Kenangan manis bersama Ruby berputar dalam ingatannya.
Ruby yang cantik memakai gaun pernikahannya, melingkarkan tangan di lengan Adnan dan tersenyum bahagia dalam foto.
Dibuka lagi lembar foto berikutnya, kebahagiaan saat Ruby sedang hamil besar dan Adnan sedang memegangi perut besar Ruby sambil tersenyum bahagia.
Di lembar foto berikutnya, bayi kecil mungil Sean yang lucu dan menggemaskan.
Tak terasa Adnan menitikkan air mata saat melihat foto-foto itu. Kenangan manisnya bersama Ruby yang sudah lama terlewatkan dan yang sudah rusak karena ulahnya.
Godaan dari wanita bernama Tami membuat Adnan terlena dalam kesalahan dan berakhir penyesalan yang mendalam.
Kehilangan istri yang sangat menyayangi dan perhatian padanya. Kehilangan anak yang sangat disayanginya. Dan orang tua yang sudah tidak percaya lagi padanya. Ditambah lagi sekarang Adnan seorang yang baru saja keluar dari penjara karena kasus kekerasan yang menderanya.
"Ruby, aku merindukan mu. Adakah cara untuk merebut hati mu kembali?" gumam Adnan mengusap foto Ruby yang sedang tersenyum.
NEXT >>>>>>>>>>
LIKE
COMMENT
VOTE
⭐5