MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 66



Seiring berjalannya waktu, Ruby sudah tidak lagi manja dan ingin dekat terus dengan Rega. Usia kehamilannya kini menginjak usia empat bulan.


Rencananya besok akan menggelar acara syukuran empat bulanan kehamilannya sekaligus acara lamaran Reyhan dengan Jelita.


Keluarganya sudah berkumpul di rumah sebelum hari itu digelar. Kesibukan persiapan acara pun sudah mulai terlihat.


"Arina, ayok makan dulu!" seru Ruby pada Arina yang sedang bermain.


Arina mengekor ibunya menuju meja makan, dan duduk dengan tertib di atas kursi. Ruby menyuapinya sampai makanannya habis baru Arina pergi bermain lagi.


"Sayang, ingat jangan terlalu capek. Urusan acara besok sudah banyak yang mengurusnya. Aku balik ke kantor ya." Mencium kening Ruby lalu menyambar kunci mobilnya.


"Teman-teman kantor sudah di undang semua kan?" tanya Ruby.


"Sudah, kamu tenang saja." jawab Rega sambil berlalu.


Semenjak kehamilan Ruby, Rega sering pulang setiap makan siang. Rega selalu ingin memanjakan istrinya selagi dia bisa.


"Rey, catering sudah di hubungi? Tukang dekor bagaimana?" tanyanya pada Reyhan yang sedang asik bermain dengan Arina dan Jelita pun ada di sana.


"Sudah, Kak. Beres semua," jawab Reyhan dengan sigap.


Ruby selalu ingin mengurus semua hal yang ada dan akan terjadi di rumahnya.


"Ruby, sebaiknya kamu istirahat. Biarkan semua ini Reyhan dan Jelita yang urus. Toh ini juga acara mereka juga kan. Ada Paman dan Bibi juga disini." ucap Bibi Ira pada Ruby yang terus saja memeriksa kesiapan acara esok hari.


"Iya, Bi. Ruby hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar." jawabnya.


"Ya sudah sekarang kamu istirahat saja. Bibi pastikan besok acaranya berjalan sesuai keinginan kamu. Jangan memaksakan bekerja, kasihan calon anak mu." ucap Bibi Ira lagi


"Ya sudah Bi, Ruby ke kamar dulu kalo gitu." pamit Ruby.


Ruby naik ke kamarnya dan beristirahat. Di bukanya kaca jendela kamar, melihat pemandangan gunung yang tampak bagai lukisan dengan langit biru cerah sebagai latarnya. Betapa agungnya sang pencipta melukis pemandangan nan indah itu.


Lama Ruby terpaku melihat pemandangan nan elok di hadapannya. Mendudukkan diri di kursi yang sengaja di arahkan menghadap keluar jendela.


Mengingat masa lalu yang teramat kelam baginya begitu menyesakkan. Berharap masa depan akan lebih baik untuknya dan keluarga kecilnya.


Sudah lama tidak membuka sosial media miliknya. Haruskah di buka lagi? Akan kuat atau tidak jika melihat semua caci dan makian yang ditujukan padanya dulu.


Alamat email sudah di ketiknya namun ia hapus kembali, begitu sampai berulang kali.


"Sebaiknya memang harus aku tutup untuk selamanya." gumam Ruby.


Disimpannya ponsel yang sedari tadi ia otak-atik tidak jelas. Kembali menatap gunung yang jauh di sana, sampai ia terlelap di kursi itu.


Adnan baru saja keluar dari penjara karena kasus kekerasan dalam rumah tangganya bersama Tami waktu itu. Karena perilakunya yang baik, Adnan bebas lebih cepat dari hukumannya.


Ruby dan Rega sedang asik bermain di taman depan rumah. Arina dan Rega saling mengejar dan berlari, sedangkan Ruby sibuk memotong buah untuk suami dan anaknya.


Namun tiba-tiba saja Adnan datang dan langsung menusuk Rega dengan sebilah pisau yang di bawanya. Teriakan histeris Ruby memecahkan keheningan. Darah keluar berhamburan dari luka tusukan di perut Rega. Adnan pergi begitu saja setelah menusuk Rega secara membabi buta.


"YAAAAAAAAANNNKKK,"


Ruby membuka matanya, ternyata itu hanya mimpi. Tapi mimpi itu begitu nyata, Adnan dan tusukan itu, darah yang berhamburan keluar membasahi baju Rega yang berubah warna menjadi merah darah.


Keringat bercucuran, nafas yang masih tersengal-sengal. Mimpi itu seperti nyata baginya. Air mata mengucur deras.


"Ruby, kamu kenapa, Nak?" tanya Bibi Ira yang mendengar teriakan Ruby.


Reyhan, Jelita, Arina dan semua yang mendengar teriakan Ruby berhamburan datang ke kamar Ruby untuk memastikan keadaanya.


Ruby menarik nafasnya panjang, sebelum akhirnya ia tersadar dan sudah banyak orang di kamarnya.


"Aku mimpi buruk." ucapnya lirih.


🦋🦋🦋🦋🦋🦋


Acara syukuran empat bulanan dan lamaran Reyhan dan Jelita pun tiba.


Para tamu undangan satu persatu datang di kediaman Ruby dan Rega. Sampai semuanya sudah datang semua barulah acaranya di mulai.


Acara pertama adalah doa bersama untuk usia kehamilan Ruby yang sudah memasuki bulan ke empat. Semua berdoa untuk Ruby dan calon bayinya.


Namun....


"Harusnya aku yang menjadi nyonya di rumah besar ini," gumam Sely.


"Sel, ayok kita ucapkan selamat sama Rega dan istrinya," ajak Riky.


"Iya, ayok, Mas."


Mereka berjalan mendekati Rega dan juga Ruby yang sedang menyapa tamu lainnya.


"Selamat untuk kehamilan istri mu. Semoga sehat selalu dan lancar sampai lahiran," ucap Sely.


"Selamat, Ga. Semoga menjadi ayah yang terbaik untuk anak-anak mu," tambah Riky.


"Makasih, Sely, Riky." ucap Rega.


Ruby hanya tersenyum menanggapi mereka.


"Maaf, boleh numpang ke kamar mandi?" ucap Sely.


"Kamar mandinya lurus aja, ada di sebelah kiri dapur," tunjuk Ruby.


Sely langsung melangkah ke arah yang ditunjukan Ruby. Di dekat dapur Sely melihat Arina sedang bersama pengasuhnya.


"Ternyata si anak cacat itu tinggal di sini juga." ucapnya lalu melanjutkan perjalanannya menuju kamar mandi.


Tidak lama Sely di kamar mandi, lalu ia keluar ketika sudah selesai dengan urusannya. Tiba-tiba Arina sedang berlari dan menabraknya.


"Sialan." mendorong tubuh Arina menjauh darinya sampai Arina terjatuh dan tersungkur lalu Sely pergi meninggalkan Arina yang menangis.


Ruby yang sejak tadi mengikutinya menutup mulut tak percaya melihat Sely tega berbuat seperti itu pada Arina. Setelah Sely pergi Ruby mendekati Arina dan menenangkannya.


"Apanya yang sakit sayang?" tanya Ruby.


Arina terus menangis.


"Lastri tolong bawa Arina ke kamar." titah Ruby.


Ruby menghampiri Sely yang sedang menikmati cemilan yang tersedia di acaranya. Dan untung saja Sely sedang berada jauh dari Rega dan Riky, jadi Ruby bisa menegurnya.


"Kenapa kau mendorong Arina? Arina hanya anak-anak yang nggak tahu apa-apa." tegur Ruby.


"Kenapa? kau mau aku dorong juga?" balas Sely.


"Jangan sakiti anak ku!!!" tegas Ruby.


"Apa? Anak mu? Hahaha... Aku tahu siapa ibunya. Dan apa? jangan sakiti? Kau lupa? Kalau kau juga tukang menyakiti, PELAKOR." Sely mulai geram.


Ruby tersenyum.


"Jangan salahkan orang lain yang sudah menyakiti mu. Salahkan dirimu sendiri karena sudah gagal menjaga dan menghargai cintanya. Ingat itu baik-baik," ucap Ruby lebih tegas dan membuat Sely tersudut.


Karena tersulut emosi Sely mendorong Ruby dengan sangat kencang sampai Ruby terjatuh.


"Aarrggghhh, perut ku."


Ruby mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.


NEXT >>>>>>>


LIKE


COMMENT


VOTE


UNTUK MELIHAT JUMLAH VOTE YANG DIBERIKAN CARANYA KLIK VOTE DAN KLIK SEMUA RANKING DISANA AKAN ADA JUMLAH VOTE YANG SUDAH KAKAK PEMBACA BERIKAN.... MASIH ADA KESEMPATAN UNTUK MENDAPATKAN HADIAHNYA SAMPAI TANGGAL 1 JUNI 2020


MAKASIH BANYAK SEMUA 🤗🤗🤗🤗