
"Kenapa, Nak? Ada apa?" tanya Dewi yang melihat Ruby terkulai lemas dan menangis.
"Mas Adnan kecelakaan, Mah, dan sekarang sudah di bawa ke rumah sakit oleh warga yang menolongnya,"
"Ya sudah sekarang kita ke sana, Mamah panggil Papah dulu,"
Ruby membawa tasnya ke dalam, Dewi juga memanggil Anto, kemudian mereka pergi ke rumah sakit.
Ruby menanyakan pada perawat nama suaminya dan di tunjukan seseorang yang sedang terbaring di balik tirai.
Ruby membuka tirai dan Adnan sedang tertidur dengan luka memar di dahinya dan tangannya di balut perban.
"Pak Adnan tidak mengalami luka serius. Hanya saja ada sedikit benturan di kepalanya. Saya khawatir benturan itu melukai bagian dalamnya jadi harus di lakukan rontgen. Luka ditangannya juga sudah kami tangani. Apabila sudah ada hasilnya Pak Adnan sudah boleh pulang," jelas Dokter yang menangani Adnan.
"Syukurlah, terimakasih Dokter," ucap Dewi.
Ruby hanya menatap heran pada Adnan, karena yang ia tahu Adnan ke rumah saudaranya yang berada di luar kota. Sedangkan kecelakaan terjadi di jalan raya dalam kota. Tapi Ruby cepat menepis rasa curiganya, bisa saja Adnan pulang lebih awal.
Tangannya terasa ada yang menyentuh, Ruby melihat ke tempat tidur ternyata Adnan sudah bangun.
"Apa saja yang sakit, Mas?" tanya Ruby.
Adnan mengangkat badannya dan segera duduk di bantu Ruby.
"Tidak ada yang sakit, kalau sudah lihat kamu," jawab Adnan.
Ruby tersenyum.
"Mas, ini di rumah sakit," ucap Ruby malu.
"Sama siapa ke sini?"
"Sama Mamah Papah, mereka menunggu diluar karena yang boleh masuk hanya satu orang saja," jelas Ruby.
Seorang perawat memberitahukan bahwa Adnan akan di pindahkan ke ruang perawatan. Ruby segera mengurusnya meninggalkan Adnan di sana.
Suara berisik dari blangkar sebelah Adnan yang hanya tertutup tirai. Membuat Adnan merasa terganggu.
Ruby kembali suara di sebelah masih berisik.
"Kalo kamu di sini siapa yang mengurus Clara di rumah, kamu ini nyusahin banget sih, Mas," suara dari balik tirai sebelah.
"Kamu pulang saja aku bisa mengurus diri ku sendiri,"
Deg.
"Itu suara Rega," batin Ruby.
"Ya sudah aku pulang, aku telepon adik kamu buat jagain kamu," kemudian tak terdengar suara lagi.
Ruby masih menunggu perawat yang menyiapkan kamar Adnan datang. Adnan meraih tangan Ruby dan mengelusnya.
"Terimakasih,"
Ruby tersenyum.
Pikirannya masih penasaran dengan seseorang di sebelah tirai. Suaranya persis sekali dengan suara Rega.
Perawat datang untuk membawa Adnan ke kamar perawatan. Adnan di pindahkan dari blangkar IGD ke tempat tidur perawatan untuk di bawa. Perawat sudah membawa Adnan lebih dulu tapi Ruby masih ingin melihat seseorang di balik tirai itu.
Ruby mengintip di ujung tirai, seseorang sedang berusaha meraih gelas di meja samping blangkar. Beberapa kali gagal dan oa terus mencoba meraihnya namun untuk kali ini ia akan terjatuh. Ruby dengan cepat meraihnya dan menolongnya.
Kedua mata itu saling bertemu dan saling bertatapan. Beberapa detik kemudian Ruby menyodorkan gelas padanya dan membantunya minum.
Rupanya Rega juga seperti sudah mengalami kecelakaan. Mukanya ada perban dan memar, ada beberapa luka lecet di tangannya.
Ruby menatapnya sedih, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ruby segera pergi tapi Rega menahannya, tangannya digenggam erat.
Sesegera mungkin Ruby menyusul Adnan ke ruang perawatan, Dewi dan Anto sudah berada di sana.
"Kamu dari mana?" tanya Adnan.
"Ada urusan dulu tadi di IGD," jawabnya.
"Semuanya sudah beres, Nak?" tanya Anto.
"Sudah, Pah,"
"Kalo begitu kami pulang dulu, Adnan juga sepertinya harus istirahat,"
"Iya kami pulang dulu ya, kamu tenang saja Sean biar Mamah yang urus," ucap Dewi.
"Iya, Mah, Pah, terimakasih," ucap Adnan.
Ruby mengantar orang tuanya sampai ke depan. Sekalian ia membeli beberapa makanan ringan dan minuman.
Sampai di kamar perawatan lagi ia melihat Rega sedang terbaring di sebelah tempat tidur Adnan. Membuat Ruby berada dalam situasi yang tidak di inginkannya.
Degup jantungnya mengencang, Rega menatapnya terus belum lagi Adnan yang sudah menunggunya. Kini mereka saling berdekatan hanya tertutup tirai penghalang antar tempat tidur.
"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?" batin Ruby.
"Sayang, kamu bawa apa?" tanya Adnan.
"Euh, aku bawa cemilan dan minuman," jawab Ruby.
"Mana lihat aku mau makan sesuatu," pinta Adnan.
Ruby membuka kantung kresek yang di bawanya dan Adnan memilih cemilan yang ia mau.
"Aku tidak bisa membukanya sayang, tangan ku masih sakit,"
Ruby membukakannya dan menyuapinya. Rega membuang nafas kasar mendengar mereka berbicara di balik tirai dan melihat bayangannya. Rasa cemburu sudah merasuki jiwanya, ingin rasanya membawa Ruby pergi jauh tapi itu bukan tindakan yang tepat saat ini.
"Sayang, tidurnya di sini saja jangan di kursi. Nanti kamu pegal," ucap Adnan.
"Tidak, Mas, biar aku di sini saja," tolak Ruby.
"Sini, lagi pula tangan kiri ku tidak apa-apa, jadi kamu bisa tidur di sebelah kiri ku,"
"Mas, nanti ada perawat tidak enak kalau aku tidur di situ,"
"Gapapa lagi pula kau istri ku,"
Ruby tidak bisa menolak lagi, ia merebahkan diri di sebelah Adnan.
Buuugggghh...
Terdengar suara pukulan benda dari sebelah tirai.
Deg.
Ruby merasa tidak enak hati, pasti Rega mendengar dan melihat semuanya.
NEXT >>>>>>>>>>
tinggalkan jejak kalian ya....
like comment & vote
⭐5