MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 64



PELAKOR.


Sebutan untuk wanita yang merebut suami orang. Memang terdengar menyakitkan, tapi Ruby harus berdamai dengan sebutan itu. Inilah resiko yang harus ia tanggung dari kesalahannya terdahulu.


Sekuat tenaga Ruby memaksakan bibirnya untuk tersenyum pada Jeny yang dulu pernah menyerangnya dengan hinaan dan cacian. Jeny tidaklah bersalah, wanita mana yang senang dengan perebut milik orang lain. Jeny hanya membantu Sely sebagai temannya.


"Hay, apakabar? Sudah lama kita tidak bertemu." Ruby menyapa Jeny dengan ramah menjulurkan tangan dengan senyum di wajahnya.


Sejenak Jeny hanya menatap sosok Ruby yang pernah ia caci maki karena telah menyakiti Sely temannya. Jenny menyambut uluran tangan Ruby dan tersenyum juga.


"Kabar baik. Ku dengar, akhirnya kau menikah dengan Rega?" ucap Jeny.


"Iya," jawab Ruby.


"Selamat buat pernikahan kalian. Sebelum aku tahu alasan Rega mengkhianati Sely aku sempat membenci mu. Setelah tahu, suami mana pun pasti akan melakukan hal yang sama dengan Rega. Tapi aku tidak membenarkan apa yang sudah kalian lakukan di belakang Sely," tutur Jeny.


"Iya aku tahu," Ruby mengerti apa yang dilakukan Jeny dulu padanya.


"Tidak ada yang tahu takdir seseorang," Jeny melangkah pergi meninggalkan Ruby yang masih memaku di dekat pintu.


Kita tidak pernah tahu takdir apa yang menanti, semua terjadi tas ijin-Nya. Kita hanya bisa melakukan yang terbaik, meski khilaf dan dosa sering datang menggoda keyakinan.


Apa yang terjadi pada Ruby dan Rega memang tidak dibenarkan, apapun alasannya bermain api tidak ada yang diuntungkan. Tapi pernikahan mereka adalah sah di mata agama dan negara, karena terjadi ketika mereka sudah sama-sama sendiri.


"Sayang, aku cari-cari ternyata di sini." Rega datang membawa satu cup eskrim. "Mau?" menyodorkannya pada Ruby.


"Mau." secepat kilat menyambar eskrim itu dan menghabiskannya.


"Cepat sekali habisnya." protes Rega.


"Kan aku makannya berdua, jadi cepat habis." jawab Ruby.


"Haha, alasan yang masuk akal. Padahal udah rakus aja dari dulu." sanggah Rega.


"Awwww, Yank perut ku sakit sekali," tiba-tiba Ruby meringis kesakitan memegangi perutnya.


"Kita ke dokter sekarang," Rega memapah Ruby sampai ke mobil.


Dengan kecepatan tinggi Rega menyetir mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Ruby masih memegangi perutnya dan meringis kesakitan.


Sampai di rumah sakit, Rega segera menggendong Ruby masuk ke IGD. Perawat dan dokter segera menangani Ruby yang sedang kesakitan.


Rega menunggunya dengan cemas, Ruby belum juga keluar dari ruang pemeriksaan. Setelah lama berselang seorang perawat memanggilnya ke ruangan dokter.


"Suaminya Ibu Ruby?" tanya dokter ketika Rega sudah di dalam ruangannya.


"Iya betul saya, dok."


"Begini, Pak, di trimester pertama kehamilan memang sangat riskan sekali. Belum lagi kondisi kehamilan istri bapak yang lemah. Di usahakan Ibu Ruby jangan terlalu capek dan stress karena akan mempengaruhi kehamilannya. Dan jangan berpikir yang terlalu berat untuk menghindari stress berlebih. Saya sudah meresepkan beberapa vitamin yang harus diminum setiap harinya. Ada pertanyaan?" Dokter wanita berkerudung biru menjelaskan kondisi Ruby saat ini.


"Dok, apa boleh kami melakukan hubungan intim?" tanya Rega sedikit ragu dan malu.


Dokter pun tersenyum.


"Iya, dok, terimakasih." Lega, akhirnya setelah beberapa hari menahannya Rega bisa melampiaskan hasratnya.


Setelah menebus resep dari dokter Rega dan Ruby segera meninggalkan rumah sakit.


"Sayang, tadi kata dokter kamu nggak boleh capek dan stress. Mungkin karena bertemu dengan teman-teman lama mu tadi membuat mu stress dan berpikir terlalu berat jadinya perut kamu sakit lagi. Maaf ya, aku nggak bisa jagain kamu dengan baik," jelas Rega saat dalam perjalanan pulang.


"Itu kan aku yang mau. Memang aku sempat sangat takut untuk bertemu mereka tapi ternyata semuanya berjalan dengan baik. Maaf ya, buat kamu cemas," jawab Ruby.


"Lain kali jangan memaksakan yang membuat mu jadi stress ya. Aku nggak mau kamu dan calon bayi kita kenapa-napa," pinta Rega memohon.


"Iya, sayang. Aku kan gapapa sekarang, walaupun masih sedikit sakit sih," memegangi perutnya yang masih datar.


"Besok aku panggil asisten rumah tangga dan pengasuh untuk Arina. Biar kamu nggak kecapekan mengurus rumah dan Arina. Urusan laundry biar aku yang tangani. Kamu cukup istirahat di rumah dan tunggu aku pulang. Nggak ada protes dan bantahan. Ini demi kebaikan kamu dan calon anak kita. Jangan buat aku khawatir lagi, oke!" ucap Rega bertubi-tubi.


"Nanti aku bosan di rumah, Yank. Kamu pulang kerja sore kadang malam baru pulang. Laundry kan sudah menjadi tanggung jawab ku sekarang, aku bisa kerjakan di rumah." bantah Ruby.


"Aku kan sudah bilang nggak ada bantahan. Masih saja di bantah," Rega kini cemberut.


"Hmmm... Baiklah! Gimana kamu saja. Itu artinya kamu mengekang aku, kamu mau memenjarakan aku di rumah. Biar aku nggak bisa keluar, biar aku cepat tua kali ya. Jadi kamu bisa nikah lagi sama yang lebih muda lebih cantik dari aku. Kamu nggak tahu kalo ibu hamil itu harus sering refreshing, sering jalan-jalan biar nggak stress. Kamu sendiri yang bilang begitu tapi kamu sendiri yang mengekang aku." Ruby balik marah pada Rega.


"Bukan begitu, Yank. Aku hanya ingin kamu dan calon bayi kita baik-baik saja." Rega memang selalu kalah kalau Ruby sudah balik marah dan merajuk padanya.


"Sudah lah, kamu memang ingin aku cepat tua kan biar kamu bisa nikah lagi. Aku sudah tahu itu." Ruby memalingkan wajahnya ke luar jendela.


"Bukan begitu, Yank. Kok jadi ke situ sih? Siapa yang mau nikah lagi? Ya sudah sekarang kita makan dulu diluar, biar kamu bisa refreshing dan nggak stress." ucap Rega jadi bingung sendiri.


"Terserah." jawaban singkat wanita saat sedang kesal dan malas terus berdebat.


Ibu hamil memang unik, mereka akan lebih sensitif dari yang sebelumnya.


Rega menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran makanan korea kesukaan Ruby. Rega sudah keluar lebih dulu lalu membukakan pintu mobil untuk Ruby yang sudah berubah ceria akan makan di restoran favoritnya.


Seorang pelayan menyapa mereka dengan ramah dan mengantarkan sampai meja yang sudah disiapkan. Rega mengucapkan terimakasih dan tersenyum pada pelayan yang mengantarnya.


"Yank, nggak usah senyum senyum deh. Nanti ada yang terpesona sama kamu. Kalo lagi senyum kan kamu terlihat tampan dan mempesona," ucap Ruby kesal.


Rega menepuk jidatnya. Hormon ibu hamil membuatnya serba salah. Tapi Ruby jadi lebih menggemaskan di matanya saat ia sedang cemburu padanya.


NEXT >>>>>>>


BANTU ⭐5 NYA YA


LIKE


COMMENT


VOTE JUGA


TERIMAKASIH


🤗🤗🤗🤗