MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)

MY AFFAIR BE MY HUSBAND (R&R)
R&R 31



Halo kakak pembaca setia R&R..


Gimana puasanya lancar?


Semoga selalu diberi kelancaran ya....


Ruby & Rega kembali lagi...


Selamat membaca ❣️


🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋


Sebelum menjawab istrinya, Rega menarik nafas terlebih dahulu. Berusaha menenangkan dirinya dari permintaan istrinya yang dibilang sangat menggampangkan sekali dalam hal materi.


"Liburan keluar negri? Mobil mu saja masih aku cicil. Semua uang gaji ku, kamu yang pegang. Biaya rumah tangga aku yang tanggung, ditambah lagi sekarang cicilan mobil baru mu. Aku harus cari uang kemana lagi buat liburan mu keluar negri?" ucap Rega kesal pada istrinya yang sudah diluar batas.


"Jadi kamu nggak ikhlas nafkahin aku?" bukannya merasa bersalah Sely malah meradang mendengar ucapan suaminya


"Pernahkah kamu pikirkan kemauan ku juga? Dan kemauan anak mu?" tanya Rega serius.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Sudah menjadi kewajiban kamu menafkahi istri mu, dan juga membahagiakan istri mu," jawab Sely tidak mau kalah.


"Lalu kewajiban mu sebagai istri bagaimana? Apa kamu sudah melakukan kewajiban mu sebagai istri? Memenuhi hak-hak suami mu?" tanya Rega lagi lebih serius.


"Ah sudah lah, Mas. Di mata mu aku memang selalu salah," ucap Sely merasa terpojokkan.


"Pikirkan kata-kata ku baik-baik. Kalo kamu ingin orang lain seperti apa yang kamu inginkan, kamu juga harus seperti apa yang orang lain inginkan," tegas Rega lalu pergi.


"Mas, kamu mau kemana Mas?" cegah Sely.


"Aku malas berdebat terus dengan mu, pikirkan saja kata-kata ku barusan," ucap Rega sambil masuk ke dalam mobil kemudian pergi berlalu.


Sepeninggal Rega, Sely berpikir keras bagaimana bisa meredakan amarah suaminya dan bagaimana caranya ia bisa berlibur bersama teman-temannya. Hingga ia teringat sesuatu yang sangat penting hari itu.


"Astaga hari ini kan ulang tahunnya Mas Rega, kenapa aku bisa lupa sih. Aduh gawat nih. Aku buat kejutan aja pas dia pulang nanti, semoga dia nggak marah lagi," ucap Sely pada dirinya sendiri.


Di saat hatinya sedang tak karuan dan sedang lelah dengan kelakuan istrinya, Ruby lah yang bisa membuatnya nyaman dan tenang. Rega menelepon Ruby dalam perjalanannya.


Rega "Halo, Yank lagi dimana?"


Ruby "Lagi di rumah, kenapa?"


Rega "Aku boleh kesana? Orang tua mu sudah pulang belum?"


Ruby "Boleh. Belum mereka baru dapat tiket pulang besok."


Rega "Aku kesana sekarang ya."


Ruby "Hati-hati!"


Ruby menunggu Rega duduk di depan rumahnya sambil membuka akun media sosial miliknya. Tak berapa lama Rega pun datang.


Rega membawa bungkusan berisi makanan cepat saji yang ia beli tadi di perjalanan. Ruby dan Rega masuk ke dalam, tapi Ruby sengaja tidak menutup pintu rumahnya.


Malam itu mereka hanya mengobrol sambil menikmati makanan yang di bawakan Rega. Sampai waktu sudah pukul sepuluh malam Rega masih betah bersama Ruby.


"Kamu nggak pulang?" tanya Ruby.


"Hari ini hari spesial buat aku, aku ingin melaluinya bersama mu sebelum hari ini berakhir," jawab Rega.


"Memangnya hari apa?" tanya Ruby penasaran.


Rega mendekat dan memeluknya dari belakang.


"Hari ulang tahun ku," mencium pipi Ruby.


"Oh ya? Kenapa nggak bilang? Kan aku bisa siapin sesuatu buat kamu."


"Nggak perlu siapin apa-apa, cukup seperti ini saja aku sudah bahagia," ucap Rega lagi.


Ruby membuatnya nyaman dan entah kenapa Rega merasa Ruby lah tempatnya pulang. Apapun yang sedang Rega rasakan semuanya ingin sekali ia bagi bersama Ruby.


"Kamu kenapa?" tanya Ruby yang merasakan sesuatu yang salah pada Rega.


"Aku ingin kamu yang menjadi istri ku," mengeratkan pelukannya.


"Tinggalkan dia, menikahlah dengan ku. Aku juga akan meninggalkan istri ku. Aku sudah lelah dengan semua tingkahnya," tutur Rega.


"Jadi Rega belum tahu kalo aku sudah berpisah sama Mas Adnan?" batin Ruby.


Ruby membalikan tubuhnya menghadap Rega, menangkup wajahnya dengan telapak tangan.


"Jangan turuti emosi mu, pikirkan dengan kepala dingin. Pikirkan juga siapa yang akan jadi korban perceraian nanti," ucap Ruby.


"Aku mencintai mu," lalu memeluknya lagi.


Rega sedang tidak ingin membicarakan masalahnya, yang Rega inginkan memeluk kekasihnya sampai pagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kita tinggalkan dulu yang sedang bermesraan ya 😉


Adnan baru saja pulang ke rumah Tami, ia lelah seharian mengurus bisnis barunya. Adnan membuka pintu lalu masuk, dilihatnya Tami sedang menonton drama korea kesukaannya. Adnan duduk di sebelahnya.


"Nonton apa sayang? Suami mu datang sampai kamu nggak tahu," tanya Adnan.


"Aku lagi nonton drama nih lagi seru, Mas," jawab Tami tanpa memeperdulikan Adnan.


Adnan berjalan ke meja makan tidak ada makanan apapun di sana. Akhirnya ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air lalu meminumnya.


Lamunannya melayang saat ia masih menjadi suami Ruby. Lelah pulang bekerja Ruby membuatkannya teh atau kopi, di meja makan sudah sedia makanan, dan di siapkan air hangat untuk mandinya. Rindu suasana seperti itu yang Adnan rasakan sekarang.


Adnan kembali lagi duduk di sebelah Tami.


"Kamu nggak masak?" tanya Adnan.


"Aku ingin muntah kalo ke dapur, Mas," jawab Tami masih fokus dengan tontonannya.


"Sudah makan?"


"Aku sudah makan tadi beli nasi goreng yang lewat,"


"Oh ya sudah," beranjak dari duduknya.


"Eh, Mas mau kemana? Sini dulu aku mau bicara," menarik lengan Adnan hingga duduk lagi.


"Ada apa sayang?"


"Mas kapan pernikahan kita di resmikan? Aku kan nggak mau jadi istri siri kamu terus," mulai merajuk.


"Sabar dulu ya sayang. Bapak dan Ibu ku belum juga merestui hubungan kita. Sabar sebentar lagi, sepertinya kalo anak kita sudah lahir mereka akan menerima mu," jelas Adnan.


"Hmmmm," mengerucutkan bibirnya.


"Mas, aku juga mau dong di belikan gelang yang limited edition dari tifani jewelry itu. Yang kayak mantan istri mu itu," ucapnya lagi masih merajuk.


"Itu aku nggak tahu, mungkin Ruby membelinya sendiri. Aku nggak membelikannya," jawab Adnan.


"Gelang itu kan limited edition dari tifani jewelry itu harganya bisa untuk beli mobil, Mas. Tapi kalo beli sekarang juga udah nggak ada gelangnya, gelangnya hanya dibuat lima set aja dan salah satunya punya mantan istri mu. Aku juga mau perhiasan limited edition kayak gitu, Mas," semakin merajuk.


"Iya, nanti kalo bisnis ku sukses aku belikan. Sekarang kan kita harus nabung buat lahiran kamu," ucap Adnan.


"Hmmmm, masih lama dong Mas,"


"Tolong buatkan aku teh hangat ya, sayang. Mas ingin yang hangat-hangat. Mas juga lapar belum makan malam," pinta Adnan.


"Kamu nyuruh aku, Mas? Buat aja sendiri aku capek. Beli aja nasi goreng di depan ribet amat sih," ucap Tami ketus.


Adnan semakin mengingat Ruby dan merindukannya. Sikap Tami berubah kasar semenjak Adnan resmi bercerai dari Ruby. Adnan mengambil kunci mobilnya lalu melangkahkan kakinya keluar.


"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Tami.


"Mau ke rumah ibu, tadi disuruh kesana," jawab Adnan.


"Makan malam di rumah ibu aja, Mas. Sekalian bawain makanan buat ku," pinta Tami.


"Iya nanti Mas bawakan,"


Adnan berbohong pada Tami, padahal Adnan pergi ke rumah Ruby alasanny ingin bertemu dengan Sean. Walaupun alasan sebenarnya ingin bertemu dengan bundanya Sean juga.


Namun saat sampai di rumah Ruby, Adnan melihat pemandangan yang membuat hatinya seperti ditikam jutaan pisau tajam. Dari luar Adnan melihat Ruby sedang di peluk seorang laki-laki.


Adnan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah, tapi saat melihat mobil yang terparkir diluar ia sudah tidak asing lagi dengan mobil itu.


"RUBY," teriaknya.


❣️❣️❣️❣️❣️


like


comment


vote


⭐⭐⭐⭐⭐