
"Thalia?" Reyhan tak percaya gadis yang pernah ditolaknya melakukan penyebaran video itu.
"Aku kecolongan. Tapi darimana Thalia mendapatkan video itu?" Reyhan bertanya-tanya sendiri.
Reyhan memberitahukan Rega, bahwa teman kerjanya lah yang sudah menyebarkan video itu.
"Rey, pernah menolaknya, Kak. Mungkin ia iri karena kedekatan Rey dan Kak Ruby. Rey akan mengurus semuanya sampai tuntas. Kakak tenang saja," jelas Reyhan di telepon pada Rega lalu menutup teleponnya.
Reyhan dan Paris langsung menuju kostan Thalia namun sayang mereka terlambat, Thalia sudah pergi meninggalkan kota.
🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋
Rega tertidur di kursi dengan kepala yang menyandar ke tempat tidur, tangannya masih menggenggam tangan kekasihnya. Ruby membelai lembut kepalanya, menyisir rambutnya dengan jari.
Untuk kesekian kalinya Rega meminta untuk menikah dengannya. Namun Ruby masih ragu dengan perasaannya. Ada ketakutan yang saat ini menyelimuti hatinya.
Video itu mengingatkannya, tentang bagaimana hubungan Ruby dan Rega bisa terjadi. Pengkhianat dan pelakor, mungkin kalimat itu yang akan Ruby dengar suatu hari nanti. Akan lebih menyakitkan, bukan? Apa Ruby siap untuk segala kemungkinan yang akan terjadi?
“Kamu lagi mikirin apa?” Rega tiba-tiba bersuara mengejutkan Ruby yang sedang tenggelam dalam pikirannya.
“Kamu sudah bangun?” balik bertanya.
“Sudah dari tadi melihat mu yang sedang melamun. Ngelamunin apa sih, Sayang?”
“Walopun kita sudah sama-sama sendiri tapi aku tetap merasa bersalah pada Sely. Kalo aku nggak pernah kenal dan dekat sama kamu mungkin kalian akan tetap menjadi suami istri dan nggak akan berpisah seperti ini.”
“Kenapa kamu bicara seperti itu? Aku berpisah dengannya bukan kesalahan mu. Itu karena diantara aku dan Sely nggak pernah ada rasa sama sekali. Dan sekarang aku hanya mencintai mu. Jangan berpikir yang bukan-bukan, kamu harus percaya sama aku.” Rega menggerakan tangannya menyentuh pipi Ruby dan mengelusnya dengan lembut penuh cinta.
“Aku takut pandangan orang-orang tentang pernikahan kita nanti. Video itu sudah sangat menyudutkan ku. Apalagi kalo kita benar-benar menikah. Sekarang saja aku nggak berani buka hp dan menemui orang lain. Aku takut nggak bisa melewati masa-masa sulit itu,” lirihnya masih menatap sepasang bola mata yang sedari tadi juga menatapnya.
“Jangan takut, ada aku di samping mu. Jangan dengarkan omongan orang yang nggak tahu apa yang terjadi dengan kita. Abaikan saja mereka, cukup terus berada di samping ku dan percaya sama aku,”
Ruby hanya tersenyum tipis, Rega membetulkan selimutnya dan mencium pucuk kepalanya.
“Sekarang bobok lagi ya, masih malam. Biar besok bisa pulang ke rumah. Kalo kamu sudah benar-benar sehat aku mau kita pergi berlibur. Jadi kamu harus sehat dulu jangan banyak pikiran,”
Ruby mengangkat badannya untuk duduk, Rega membantunya.
“Berlibur? Berdua?” Mata Ruby melotot tajam pada Rega.
“Iya. Kenapa melotot begitu?”
“Ingat kita itu belum resmi menikah, belum boleh pergi berduaan apalagi berlibur dan berhari-hari,” jelas Ruby dengan sedikit penegasan di setiap kata-katanya.
“Iya, iya, aku ngerti. Jadi kamu maunya gimana? Tapi aku nggak mau ya kamu kembali bekerja di sana.”
“Kenapa? Belum aja jadi suami udah larang aku,” bibirnya sedikit maju tidak terima dengan ucapan Rega.
“Sayang, bukan nggak boleh tapi aku khawatir aja sama kamu nggak lebih dari itu. Untuk sementara!”
“Iya walopun sekarang aku masih takut bertemu orang lain tapi aku masih ingin bekerja. Nanti kalo aku sudah berani lagi bertemu orang banyak,”
“Aku kan bilang sementara. Tapi kalo nanti kamu sudah jadi istri ku, aku pertimbangkan lagi,”
“Hmmmm,”
“Udah sekarang, bobok lagi ya! Besok kita pulang,” mengusap rambut Ruby dan menciumnya.
Ruby membalikan badannya membelakangi Rega, ia masih kesal karena tidak diperbolehkan untuk bekerja.
Esoknya setelah mengurus kepulangan Ruby dari rumah sakit, Rega mengantarkan Ruby pulang ke rumah paman dan bibinya. Rega harus pulang ke kotanya karena harus menyelesaikan pekerjaanya. Namun karena ia sudah resmi bercerai dengan Sely, Rega pulang ke apartemennya.
Secepatnya Rega menyelesaikan pekerjaannya agar bisa secepatnya juga kembali menemui Ruby. Di sela-sela kesibukannya Rega selalu menyempatkan untuk menelepon atau mengirimkan pesan untuk Ruby. Menjalani hubungan jarak jauh membuatnya terus merindukan Ruby, tapi Ruby sendiri masih kesal padanya.
Rega “Lagi apa?”
Ruby “Lagi diem,”
Rega “Kok, jawabnya singkat gitu? Kenapa?”
Ruby “Gapapa,”
Rega “Aku tahu kok, kamu masih kesel sama aku kan karena aku nggak ngebolehin kamu kerja,”
Ruby “Udah tahu malah nanya,”
Rega “Iya maaf, sayang. Nanti juga kamu tahu sendiri kenapa aku berkata seperti itu. Kalo masih ngambek sama aku aku matiin teleponnya. Kan nggak asik juga ngomong sama yang lagi ngambek di jutekin terus,”
Rega “Ya udah. Kamu udah makan?” (Rega akhirnya mengalah)
Ruby “Udah,” (Jawaban singkat)
Rega “Udah minum?”
Ruby “Udah,” (Singkat)
Rega “Udah tidur?”(Sabar)
Ruby “Udah,” (Masih jawab singkat)
Rega “Kalo udah tidur terus yang lagi telepon sama aku siapa?”(Niatnya buat lelucon biar nggak ngambek)
Ruby “Terserah,”
Rega “Aku matiin teleponnya ya, kamu jawabnya jutek terus.” (Akhirnya kesal juga)
Ruby “Terserah,”
Tuuuuuuuuuuuuuuuuttttttt.
“Kenapa jadi dia yang marah, kan aku yang lagi ngambek sama dia?”
Rega benar-benar mematikan teleponnya.
Setelah itu, tiga hari sudah Rega tidak meneleponnya lagi atau mengirimkan pesan padanya.
“Rega, kemana sih? Sibuk banget gitu sampai nggak ada kabar sama sekali,” Ruby bergumam sendiri.
Kekesalannya pada Rega ternyata sekarang boomerang sendiri baginya. Tiga hari sudah Rega tidak ada kabar membuatnya bertanya-tanya tentang keseriusan Rega padanya. Bertanya pada Reyhan tidak membantunya, Reyhan hanya mengatkan tidak tahu kesibukan kakaknya.
“Apa telepon duluan aja kali ya? Atau aku kirim sms,” galau.
Ruby sengaja tidak mengisi kuota internetnya supaya ia tidak membuka sosial medianya yang pasti akan banyak komentar atau pesan yang akan berdampak buruk baginya. Jadi komunikasinya dengan Rega hanya telepon dan pesan singkat saja.
“Aaahh masa aku yang hubungin dia duluan aku kan lagi ngambek sama dia,”
Tepatnya sudah seminggu lebih Rega tidak menghubunginya, Ruby pun tidak memulai untuk menghubungi Rega juga. Pikiran Ruby jadi tidak karuan, karena gengsinya ia tidak juga mau lebih dulu menghubungi Rega padahal ia sendiri sangat merindukannya.
Ruby terus saja memeriksa ponselnya, berharap Rega akan menelepon atau mengirimkan pesan untuknya. Ruby mendudukan dirinya di tepian tempat tidur, menyadari kesalahannya sudah keterlaluan pada Rega. Tidak seharusnya Ruby semarah itu pada Rega, dan Ruby harus meminta maaf. Baru saja Ruby akan mengirimkan pesan untuk Rega, Paris memanggilnya.
Ruby membuka pintu kamarnya mendapati Paris sedang berdiri di sana.
“Kak, ada tamu nyariin kakak. Katanya tamu penting,” ucap Paris.
“Siapa?” Paris menjawab dengan menaikan bahunya.
“Lihat aja langsung,” membalikkan badannya meninggalkan Ruby.
Ruby menyimpan ponselnya dan segera menemui tamunya, dengan pertanyaan siapa yang menemuinya? Berharap tamunya adalah Rega.
Saat sudah sampai di ruang tamu harapan Ruby terkabulkan karena memang benar tamunya adalah Rega. Tapi di sana sudah ada Paman Abdul, Bibi Ira, Arina dan juga Reyhan. Rega tersenyum padanya.
“Mbuuu,” panggil Arina ketika Ruby muncul di ruang tamu dan menghamburkan diri ke dalam pelukan Ruby.
“Arina,” memeluk Arina.
Kemudian Ruby menyalami tamunya satu persatu termasuk Rega yang sudah lama ini menghilang tanpa kabar. Kemudian Ruby duduk di samping Bibi Lies dan juga Arina di sebelahnya.
“Ruby, sebagaimana kamu sudah melihat sendiri ada Rega beserta keluarganya kemari. Mereka datang kesini bermkasud ingin melamar mu.” Jelas Paman.
“Apa kamu bersedia menerima lamarannya?” tanya Paman Edi serius.
NEXT >>>>>>>>
MAAFKAN KARENA UP YANG NGGAK TEPAT WAKTU.....
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE YAAA....
MAKASIH SEMUA....
🤗🤗🤗🤗