
Pulang bekerja Rega langsung pulang ke rumah. Ia turun dari mobil lalu berjalan membuka pintu. Suasana rumah tampak sepi Selly istrinya sudah terlelap begitupun dengan putrinya Clara sudah terlelap juga di sebelah ibunya.
Rega membuka tudung saji meja makan, tidak ada makanan apapun di sana. Tapi ia lapar dan ingin memakan sesuatu. Dibukanya kulkas hanya ada dua buah telur. Rega mengambil satu buah telur di letakannya di meja. Lalu ia membuka lemari atas dapur tempat penyimpanan mie instan dan diambilnya satu bungkus.
Panci kecil yang tergantung di atas ia raih dan di isinya air dari kran lalu diletakannya di atas kompor. Namun ketika ia menyalakannya kompor itu tidak menyala sama sekali, beberapa kali ia memantikannya tetap tidak mau menyala. Rega mengecek tabung gasnya dan ternyata gasnya habis.
Rega menghela nafas.
Karena sudah sangat lapar akhirnya ia pergi keluar lagi untuk membeli nasi goreng di depan komplek rumahnya.
Rega memesan satu porsi nasi goreng untuknya. Sambil menunggu nasi gorengnya selesai di masak, Rega membuka ponselnya membuka akun sosial media miliknya. Namun ada gurat kecewa di wajahnya karena Ruby tidak memposting apapun di sosial media.
Beberapa hari ini tidak berkomunikasi dengan Ruby membuatnya merasa ada yang hilang. Rasa rindu dan ingin sekali melihat Ruby itu yang selalu ada dalam benaknya.
Setelah kejadian waktu itu membuat Rega mengurungkan niatnya untuk menghubungi Ruby. Walaupun dalam hatinya ia tak kuasa menahan rasa ingin tahu kabar wanita yang sekarang ia sukai.
Pesanan nasi gorengnya datang Rega menyantapnya dengan lahap.Selesai memenuhi isi perutnya Rega kembali pulang.
Sesaat sebelum ia tertidur Ruby lah yang ada dalam pikirannya.
"Ruby, aku merindukan mu," gumamnya lalu ia pun tertidur.
Pagi harinya Rega bangun melihat Selly dan Clara sudah tidak ada di kamar. Rega menyusul keluar kamar mencari anak dan istrinya.
Clara sedang bersama pengasuhnya sedangkan Selly berada di kamar mandi. Rega bermain singkat dengan Clara lalu ia pun kembali ke kamarnya.Rupanya Selly sudah berada di kamar dan sedang memakai bajunya.
"Mas, bagaimana?" tanya Selly ketika melihat suaminya baru masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana apanya?" Rega balik bertanya.
"Kemarin kan aku sudah bilang, aku ingin kalung berlian itu dan teman-teman ku sudah pada punya sedangkan aku belum punya," ucapnya manja.
"Aku usahakan," jawab Rega dengan malas.
"Asyik, bener ya, Mas," girang mendengar jawaban suaminya.
"Iya," jawab Rega singkat.
"Tapi jangan kelamaan juga," Selly sedikit menaikan nada bicaranya. "Kalau kelamaan keburu basi," tambahnya lagi.
Rega tidak mau lagi terlibat dalam percakapan dengan istrinya dan langsung menuju kamar mandi.
Selly adalah seorang wanita sosialita dengan teman-temannya yang sosialita juga. Penampilan adalah nomor satu baginya dan selalu meminta barang-barang mahal pada suaminya untuk mengimbangi gaya dengan teman-teman sosialitanya.
Karena lingkungan pertemanan dengan gaya hidup kelas atas, Selly selalu ingin tampil sempurna dan tidak ingin ketinggalan jauh dengan teman-teman sosialitanya. Karena itu Selly tidak pernah puas dengan apa yang sudah ia miliki. Selly selalu merengek meminta barang-barang mahal pada Rega untuk memenuhi gaya hidupnya. Hingga Rega sudah lelah dengan sikap Selly yang selalu saja tidak pandai bersyukur dan jarang sekali menghargai usahanya.
Tak lama Rega selesai membersihkan dirinya, saat keluar dari kamar mandi Selly masih ada di kamar dan sudah siap dengan pakaian kerjanya.
Tanpa menyiapkan keperluan anak dan suaminya, Selly melenggang begitu saja. Selly bekerja di perusahaan orang tuanya. Bahkan gajinya pun bisa habis dalam hanya beberapa jam saja untuk pergi berbelanja dan foya-foya bersama teman-temannya. Selly selalu menganggap bahwa berbelanja adalah salah satu kegiatan untuk melepas stres dan untuk menyenangkan hatinya.
Rega mengambil baju kerjanya di lemari lalu memakainya, tidak butuh waktu lama ia sudah selesai dan sudah siap untuk berangkat. Diraihnya tas kerja dan kunci mobil yang tersimpan di atas meja. Lalu ia masuk dan melajukan mobilnya menuju kantor.
Sepanjang perjalanan menuju kantor di dalam pikirannya hanya Ruby, Ruby, dan Ruby. Namun apa daya Ruby menolaknya. Rega sadar bahwa yang ia rasakan dan lakukan pada Ruby memang salah. Namun, ia tak dapat menahan perasaannya yang terus saja mengusik hatinya. Penolakan Ruby tidak menggoyahkan perasaannya sedikit pun, hatinya terus terpaut pada Ruby seorang. Walau ada Selly yang menjadi istrinya, tapi perasaannya sudah sangat kecewa dan lelah menanggapi Selly yang selalu saja tidak pernah menghargainya sebagai suami.
Sampai kantor ia menuju kantin untuk membeli sarapan karena Selly jarang sekali membuatkannya sarapan. Selesai dengan sarapannya dan hisapan satu batang rokok Rega segera masuk ruangannya dan mulai bekerja.
"Pak Rega sekarang ada monitoring ke kantor cabang, Pak Rega bisa melakukannya sendiri? Kebetulan saya ada meeting dengan Pak Direktur," Ucap Pak Beni
"Bisa, Pak," jawab Rega.
"Okey, Terimakasih Pak Rega," kemudian berlalu.
Perasaannya tentu sangat senang bisa bertemu dengan Ruby di kantornya. Ini adalah kesempatannya untuk bertemu Ruby. Rega berharap Ruby akan memaafkannya atas kejadian tempo hari.
Sampai di kantor cabang Rega tersenyum melihat Ruby sedang fokus bekerja di mejanya tapi Ruby tidak menyadari ada yang sedang memperhatikannya. Ia melanjutkan langkahnya menuju ruangan kepala cabang.
Rega sudah selesai dengan urusannya saat makan siang. Ia menunggu Ruby di parkiran tapi jam makan siang sudah lewat duapuluh menit Ruby belum juga keluar. Rega sabar menunggu hingga yang di tunggu keluar kantor.
Ruby berjalan kaki menuju cafe dekat kantornya.
Rega mengikutinya dari belakang, mobilnya melaju pelan mengikuti langkah kaki Ruby sampai di cafe tempat mereka bertemu sebelumnya.
"Aku yakin kau pun mempunyai perasaan yang sama dengan ku, Ruby," gumamnya penuh percaya diri.
Rega membiarkan Ruby masuk terlebih dahulu dan setelah beberapa menit ia juga masuk ke dalam cafe. Berjalan menuju meja Ruby dan duduk tepat di depannya.
"REGA,"
"Kaget ya?" ucap Rega mengembangkan senyumnya penuh arti.
"Kenapa bisa kesini?" tanya Ruby.
"Aku kangen teman ku yang di sini," jawabnya dengan nada menggoda.
"Jangan mulai," cegah Ruby.
"By, maafkan aku atas kejadian kemarin." ucapnya tulus. "Kamu mau kan memaafkan teman mu yang sudah lancang ini?" sambungnya lagi
Ruby tersenyum dan mengangguk. "Lupakan saja. Anggap tidak pernah terjadi apa-apa dan kita masih teman," ucap Ruby yang menenangkan hati Rega.
Sebenarnya dalam hati Ruby juga sangat senang bisa bertemu dengan Rega. Setelah satu minggu dari kejadian itu mereka tidak pernah lagi saling menyapa di dunia maya atau pun langsung bertemu.
NEXT >>>>>>>>>>