
Rega menatap Ruby penuh kerinduan, tanpa sadar ia mengatakan, " Ruby aku kangen sama kamu."
"Huuuuhhh, gombal," timpal Ruby memukul pelan lengan Rega.
"Emang tidak boleh kangen sama teman sendiri?"
"Iya, iya, pesan makan mu cepat nanti kelaparan,"
Pelayan datang dan meletakan secangkir coklat panas di atas meja.
"Kamu tidak makan? Kok cuma minum saja?"
"Tidak,"
"Mbak sekalian mau pesan dong," ucap Rega pada pelayan.
"Silahkan, Pak. Mau pesan apa?" jawab pelayan itu ramah.
"Nasi goreng seafood sama es teh manis saja Mbak,"
" Baik, ada lagi?"
"Nggak, itu aja Mbak,"
Lalu pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa tidak makan hmmm?" tanya Rega lagi memastikan.
"Tadi aku bawa bekal dari rumah, sebelum kesini aku makan dulu," jawab Ruby.
"Oh begitu. Memang kamu bawa bekal apa?"
"Nasi, sop ayam, sama perkedel jagung,"
"Wah kayaknya enak. Kapan-kapan boleh dong cobain masakan kamu?"
"Ya boleh dong,"
"Bagaimana kabar suami mu?"
"Aku sangat senang mobil ku tidak jadi di jual. Dia jadinya mau pensiun dini biar dapat tunjangan. Dan uang tunjanganya mau di pake buat beli tanah atau uang muka rumah," jelas Ruby.
"Bagus kalo begitu aku ikut senang mendengarnya," Ucap Rega.
"Terimakasih,"
Pelayan mengantarkan pesanan makanan Rega dan menyajikannya di meja.
"Terimakasih ya, Mbak," Ucap Rega pada pelayan.
"Sama-sama, Pak. Silahkan di nikmati makanannya," ucap pelayan lalu pergi.
"Kamu suka seafood?" tanya Ruby melihat Rega menyantap nasi goreng seafoodnya dengan sangat lahap.
"Suka, makanan apapun aku suka," jawab Rega setelah menelan makanan di mulutnya.
"Aku bisa buatkan kamu lebih enak dari itu," ucap Ruby lagi.
"Wah dengan senang hati aku akan menghabiskannya kalau kamu memasaknya buat aku,"
"Kalau tidak enak tetap dihabiskan? Pasti lebih enak masakan istri kamu pastinya,"
Rega menghentikan aktifitasnya dan terdiam sejenak. Jarang sekali Selly memasak untuk dirinya, untuk makanan Clara pun di buatkan pengasuhnya atau membeli makanan instan.
"Hey, Pak. Malah ngelamun habiskan tuh nanti keburu tidak enak," Membuyarkan lamunan Rega dan meneruskan makannya.
"Jam makan siang ku udah habis, aku duluan ya," ucap Ruby ketika Rega sudah menyelesaikan makannya.
"Bareng aku saja, aku anterin sampai depan kantor," tawarnya.
Ruby diam teringat kejadian sebelumnya.
"Aku tidak akan melalukan itu lagi," ucap Rega lagi.
Ruby mengangguk meng-iyakan tawarannya.
"Aku bayar dulu ya," beranjak dari duduknya lalu berjalan ke meja kasir.
Namun di hati keduanya menyimpan perasaan senang karena bisa bertemu.
Ternyata Nita sudah tiba lebih dulu di kantor.
"Kamu dari mana?" tanya Nita ketika melihat Ruby baru saja datang.
"Aku tadi ngopi di cafe sebelah, kamu juga dari mana tadi hayoh?" sedikit menggoda Nita.
"Hehe tadi aku makan di restoran dekat simpang," jawab Nita malu-malu.
"Cie cie yang lagi bebas tidak ada suaminya," goda Ruby lagi.
"Ah kamu ini, sebenarnya aku waswas takut ada yang lihat,"
"Haha tetap saja ya bahagia juga waswas,"
"Iya juga, tapi lebih banyak bahagianya. Eh tadi aku lihat Pak Rega lagi mengobrol sama Pak Erwin di parkiran,"
"Oh jadi dia tadi kesini, kok aku tidak tahu ya dia datang. Pantesan dia tadi ke cafe," gumam Ruby dalam hati.
"Woy malah ngelamun," seru Nita.
"Ehehe udah ah kerja lagi, aku masih banyak kerjaan nih," ucap Ruby menyembunyikan suasana hatinya.
Di perjalanan menuju kantornya Rega tersenyum mengingat pertemuannya dengan Ruby. Baginya pertemuan ini mengobati kerinduannya setelah satu minggu tidak bertemu.
Bayangannya buyar ketika suara ponselnya berdering. Rega mengangkat panggilan masuk dari Selly.
Rega "Halo,"
Selly "Mas, gimana kalung berliannya? Kok kamu belum transfer juga? Aku sudah tidak sabar ingin memakainya di acara arisan nanti," ucap Selly dengan nada manjanya tapi tidak Selly sadari bahwa suaminya sudah mulai muak dengan nada manjanya itu
Rega "Iya sabar aku kan lagi usaha cari uang buat beli kalungnya," bernada dingin dan kesal.
Selly "Aku tidak mau tahu pokoknya arisan nanti harus sudah ada," lalu memutuskan teleponnya.
Rega menarik nafas menahan amarah yang akan memuncak akibat ulah istrinya.
"Beli barang mewah sudah kayak beli permen," decaknya kesal sambil terus fokus menyetir.
Rega teringat Ruby dan semua yang Ruby ceritakan padanya. Sungguh sangat berbeda dengan Selly yang terus saja egois memikirkan kepuasan jiwa sosialitanya. Selly tidak pernah memikirkan perasaan Rega yang selama ini berusaha untuk membahagiakannya dan tidak pernah sekalipun menghargai jerih payahnya. Selly selalu saja merasa kurang dan selalu iri dengan teman-temannya. Sikap Selly membuat Rega semakin membuatnya ingin menjauh dari istrinya itu dan keinginannya sangat kuat untuk bersama Ruby meskipun Rega sadar itu adalah kesalahan.
Sampai di kantor Rega meneruskan pekerjaannya. Permintaan Selly sangat membuatnya tertekan. Bagaimana tidak, baru saja satu bulan yang lalu Selly meminta tas branded yang harganya lumayan dan Rega sudah membelikannya.
Tapi berkat permintaan yang sangat tinggi dari istrinya membuat Rega menjadi seorang yang pekerja keras. Selain bekerja di perusahaannya saat ini Rega menjalankan usaha laundry yang tidak diketahui Selly. Dan tidak hanya ia juga bekerjasama dengan temannya membuka usaha kuliner tapi yang ini Selly mengetahuinya.
"Pak Rega, di panggil Pak Presdir diruangannya," panggil salah satu teman kantornya.
Rega segera memenuhi panggilan presdirnya itu, di sana sudah ada Pak Beni yang sedang duduk berbincang di sofa bersama Pak Romi Presdir perusahaannya.
"Sore, Pak," sapa Rega sopan.
"Pak Rega, mari masuk," ucap Pak Romi mempersilakan.
"Begini, karena berkat kerja keras Pak Beni dan Pak Rega perusahaan kita mendapatkan keuntungan yang sangat meningkat beberapa bulan terakhir. Maka dari itu saya akan memberikan penghargaan berupa bonus untuk kalian berdua," jelas Pak Romi.
Pak Romi memberikan masing-masing satu amplop untuk Rega dan Pak Beni.
"Ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan kerja keras kalian selama ini, semoga bisa di manfaatkan dengan sebaik-baiknya," ucap Pak Romi lagi.
"Terimakasih, Pak," ucap Rega di ikuti juga dengan Pak Beni yang mengucapkan yang sama.
Ketiganya berbincang sampai jam pulang kantor dan Pak Romi lebih dulu undur diri untuk pulang.
Rega membereskan sedikit pekerjaannya baru dia pulang. Saat di dalam mobil Rega membuka amplop yang di berikan Pak Romi tadi.
Isi dari amplop itu adalah selembar cek, dengan penuh syukur Rega menengadahkan tangannya.
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah," ucapnya lalu memasukan cek itu ke dalam amplopnya lagi.
NEXT >>>>>>>>>>>>>
like commeny & vote
😉