Mr And Mrs Chandramohan

Mr And Mrs Chandramohan
Memberitahu Dady & Momy



Sepulang nya dari kuliah, kedua kakak beradik ini segera menelfon kdeua orang tua mereka.


Krriiinggg


Krriiinggg


Dering telfon terdengar bersahutan dari dua handphone yang berbeda. Mohini dan Charlie kompak melihat ke hp nya masing masing. Kedua pasutri ini sudah bersiap menuju mimpi indah, namun suara telfon membuat mereka mengurungkan nya.


"Ternyata Yuvi yang menelfon." Ucap Charlie.


"Meena juga ini."


Mereka berdua mengangkat telfon kedua nya secara bersama.


"Hallo, Yuvi."


"Sorry dady, kalian paati sudah tidur."


"Tadinya begitu, tapi tidak jadi. Ada apa, Yuvi ?"


"Dady, ada yang ingin Yuvi sampaikan. Tapi, jangan beritahu momy."


"Semua nya aman di tangan dady, Son."


"Begini, tadi pagi aku sudah mengutarakan perasaan ku pada Freya."


"Benarkah ?! Lalu, dia menjawab apa ?"


"Freya menerima ku dady, kami resmi pacaran hari ini."


"Selamat ya, Sayang." Kedua nya kompak mengucapkan kata selamat untuk kedua anak nya.


"Dad, bolehkah jika aku melamar Freya selepas lulus kuliah ? Alu ingin menjadikan Freya milik ku seutuh nya."


"Tentu, dady selalu mendukung mu. Restu kami selalu bersama mu, My Son."


"Terimakasih banyak, dady."


"Jangan lupa beri tahu, Momy mu soal ini."


"Aku akan menyampaikan berita ini saat libur natal nanti."


"Good boy."


"Selamat malam, dady."


"Good night, Yuv."


Telfon pun berakhir. Mohini dan Charlie kompak mendesahkan nafas nya kasar.


"Meena bilang apa pada mu ?"


"Rahasia. Kalau Yuvi ?"


"Itu juga rahasia."


"Yang jelas Yuvi akan memberitahu kalian semua saat libur natal nanti."


"Meena juga mengatakan hal yang sama tadi."


"Hah...kira kira apa yang mereka rencanakan ya ?"


"Ntahlah, apa pun itu aku selalu mendukung langakah anak anak kita."


"Ayo, kita tidur."


"Momy...dady.." Suara jeritan Jendra membangunkan kedua insan yang masih terlelap itu.


"Morning, Honey."


"Morning juga, Sayang."


"Mom...momy sudah bangun ?" Mohini beranjak dari ranjang untuk membuka pintu kamar yang masih terkunci.


"Morning, Jendra."


"Morning, Momy. Dady mana ?"


"Dady masih mandi, memang nya ada apa ?"


"Dady katanya ingin melatihku taekwondo."


"Oh ya ?! Kalau begitu semangat latihan nya, Prince nya momy."


"Okay momy. Jendra tunggu di ruang bawah tanah saja deh."


"Nanti momy kasih tau dady, okay ?"


"Okay momy."


Jendra melangkahkan kaki nya menuju ruang bawah tanah tempat ia dan dady nya biasa berlatih. Charlie memang sudah mengajari Jendra basic basic taekwondo sejak usia nya baru satu tahun setengah. Berkat latihan yang dilakukan nya, Jendra sudah menguasai sebagian kemampuan yang Charlie wariskan padanya.


"Sudah lama menunggu, Boy ?" Tanya Charlie yang baru saja tiba di ruang bawah tanah.


"Belum terlalu lama, dady."


"Seperti biasa, kita pemanasan terlebih dahulu."


Mereka berdua melakukan pemanasan dengan belari mengitari pekarangan mansion yang sangat luas. Setelah nya dilanjut dengan push up, sit up, dan back up. Charlie juga mengajari putranya untuk melakukan pull up guna memperkuat otot tangan dan bahu nya.


"Cukup pemanasan nya. Kita masuk ke tahap selanjut nya." Charlie mulai mengajari Jendra seni dalam bertarung MMA. Dari sini Charlie bisa melihat kemampuan putranya meningkat pesat. Dia merasa kedua putranya akan jauh lebih kuat darinya.


"Dad, aku punya jurus baru."


"Coba tunjukan pada dady."


Jendra mulai bersiap dengan kuda kuda nya, ia akan menjatuhkan boneka yang terbuat dari karung goni yang telah di isi pasir.


Ia mulai mengangkat salah satu kaki nya hingga membentuk sikap seperti kapal terbang, tangan kanan nya diangkat ke belakang sementara tangan kirinya diluruskan kedepan dengan telapak tangan membentuk seperti leher ular yang siap mematuk mangsa nya.


Jendra memusatkan tatapan nya pada mata buatan si boneka, tak lupa tangan kirinya digerakan meliuk liuk menyerupai seekor ular.


CIAATTT


BRUK


Jendra berhasil menumbangkan boneka latihan nya dengan tendangan salto super cepat milik nya. Charlie yang melihat hal itu sampai terperangah menyaksikan kehebatan putra ke tiga nya itu.


"Bagaimana, dady ? Apa itu keren ?"


"Sangat hebat ! Siapa yang mengajarimu, Son ?" Seingatnya dia tidak pernah mengajarkan teknik tipuan mematikan itu sebelum nya.


"Hehehe...Jendra mempraktekan nya dari film yang pernah ditonton waktu itu."


"Dady bangga pada mu, My Son. Kemari, peluk dady."


Jendra berlari ke arah Charlie dan langsung menerjang tubuh nya. Kedua nya hanyut dalam pelukan hangat yang sangat menenangkan tersebut.


"Kita sudahi latihan nya, kau sudah lelah sepertinya." Charlie mengajak Jendra untuk melakukan pendinginan agar otot otot nya tidak kram nantinya.