
Tak terasa seminggu berlalu, tiba saat nya kedua pasang pengantin ini melangsungkan pemberkatan disebuah aula hotel. Para rombongan laki laki kompak mengenakan jas warna hitam, sementara para wanita mengenakan saree biru muda yang elegan. Mereka yang hadir diacara turut mengucapkan selamat kepada kedua pasangan pengantin tersebut.
Acara pemberkatan dan resepsi baru selesai jam sembilan malam, Manohar dan Rhea yang sudah resmi menjadi suami istri pun pamit untuk beristirahat. Begitupun dengan Raj yang sejak tadi sudah membawa Janvi ke kamar mereka.
"Charlie, ayah dan mami duluan ke kamar." Ujar Manohar berpamitan pada anak nya. Charlie mengangguk mengijinkan ayah nya ke kamar duluan. "Hey Manohar ! Selamat bersenang senang malam ini." Ucap Dady Pratap yang jahil menggoda pasangan pengantin baru yang kebelet main kuda kudaan itu. "Mami, buatkan aku adik kecil yah." Charlie semakin membuat mami nya merona malu karena perkataan yang dia lontarkan tadi. Sementara itu Manohar memasang muka sok cool nya sambil berucap, "tenang, ayah punya bibit premium dan pasti langsung jadi." Ujar Manohar menyombongkan diri.
"Bagus ! Oh ini untuk ayah." Charlie memberikan sesuatu kepada ayah nya. "Apa ini ?" Tanya Manohar lewat tatapan mata yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Charlie memeluk ayah nya dan membisikan sesuatu ditelinga nya, "itu obat kuat...jaga jaga kalau pinggang ayah sakit." Ucap nya yang segera mendapat jitakan maut dari ayah nya sendiri.
"Ayo sayang, kita istirahat." Manohar menggenggam jemari istrinya menuju ke kamar mereka berdua. "Manu, bisa bantu lepaskan gaun ini ?" Rhea tampak kesulitan membuka resleting gaun yang ia kenakan. Manohar membantu nya membuka resleting hingga tersingkaplah punggung putih nan mulus yang membuat gairah nya membara.
"Umhh..." Rhea meleguh saat Manohar menciumi pundak hingga berhenti dileher jenjang nya. "Aku belum mandi Manu." Ujar nya saat Manohar akan memberinya kissmark dileher nya. "Tak usah mandi jika akhirnya kita akan mandi keringat nantinya." Ucap Manohar menyeringai, tatapan nya penuh gairah saat ini. Ia segera membalik tubuh Rhea dan menyambar lembut bibir istrinya.
"Mmmphh...ahhh." Rhea mendesah disela sela ciuman panas nya. "Aku ingin, boleh ?" Manohar meminta ijin lebih dulu sebelum melakukan hal yang lebih malam ini. Rhea mengangguk malu malu, sudah seharus nya ia memberikan hak nya kepada Manohar yang sudah sah jadi suami nya itu.
Manohar melucuti pakaian nya sendiri hingga tersisa jeruji kain yang menonjol akibat barbel jumbo nya telah aktif. Dengan gerakan cepat ia mengungkung Rhea dalam dekapan nya, mencumbunya dengan sangat perlahan.
"Manuu...ahhh.." Rhea menggelinjang saat Manohar mengguncang nya perlahan penuh kelembutan. "Ahh...oughhh...yess..." Manohar takkalah meracau nya saat barbel jumbo nya seperti dijepit dan diurut didalam gua kenikmatan Rhea.
"Oh Shitt!! Damn!" Manohar menghentak sangat dalam saat mencapai ******* pertama nya. Namun bukan Manohar nama nya jika puas dengan satu kali *******. Dan yeah, ronde ronde yang mengasyikan itu terus berputar hingga larut malam. Dikamar Raj dan Janvi juga tak jauh berbeda, tubuh keduanya bahkan sudah bermandikan keringat percintaan mereka.
Jam delapan pagi, Rhea terbangun dari mimpi indah nya karena ada sesuatu yang menindih perut nya. Saat membuka mata, ternyata tepat diperut nya ada tangan sang suami yang melingkar erat. Cukup lama Rhea menatap suaminya yang masih tidur dalam damai, entah apa yang mendorong Rhea hingga tangan nya kini tepat berada diwajah Manohar. Rhea membelai rahang tegas milik pria yang sudah resmi menjadi suaminya semalam.
Manohar yang sebenarnya sudah bangun memilih menutup matanya agar bisa lebih lama dengan istrinya. "Kau sangat tampan, Manu." Rhea bergumam, namun sialnya gumaman itu dapat terdengar oleh Manohar sehingga membuat nya terbangun dan mencengkram tangan Rhea tiba tiba.
"Astaga ! Bikin kaget !" Rhea yang kaget, memukul lengan Manohar pelan. "Benarkah suami mu ini tampan ?" Tanya nya dengan tatapan menilisik. "Iya, kau sangat tampan." Jawab Rhea malu malu, bahkan ia tak berani melihat mata suaminya saat berbicara. "Hey, tataplah orang yang kau ajak bicara !" Tegur Manohar yang semakin membuat Rhea deg degan. Dengan ragu Rhea mengangkat wajah nya.
"I love you My wife." Bisik nya tepat di telinga Rhea. "Apa kau tak ingin membalasnya ?" Tanya Manohar lagi yang memang sangat suka menjahili istrinya yang masih malu malu padanya. "I love you too." Jawab Rhea malu malu dengan menggigit bibir bawah nya. Tentu hal itu membuat Manohar terpancing, bahkan barbel jumbo dibawah sana sudah menunjukkan pergerakan nya.
"Kau membangunkan nya." Ucap nya dengan suara serak menahan sesuatu yang ingin dilepaskan. "Tapi masih sakit itunya." Ujar nya sambil meringis menahan ngilu dibawah sana. "Bisa pakai yang lain, sayang." Ucap nya sambil mengusap bibir Rhea menggunakan jempol nya.
Restoran
"Hish ! Ayah dan mami belum turun juga." Kesal Charlie yang menyugar rambutnya kebelakang. "Sabar...mungkin mereka sedang mandi." Sahut Mohini mengusap lengan kekar Charlie." Betul kak ! Mungkin mereka tengah ganti oli saat ini." Sahut Raj ikut nimbrung pembicaraan diatas meja makan tersebut.
"Mungkin kakek dan nenek masih tidur, dady." Ujar Yuvi yang ikut menghadiri pernikahan kakek dan paman Raj nya. Tak hanya Yuvi saja yang datang, Meena pun ikut datang bersama kakak nya ke Dubai. Mereka mengajukan cuti ke pihak kampus dan diberi waktu seminggu untuk pulang.
Charlie spontan meng geplak kepala adik ipar nya ini," Kau menodai telinga suci anak anak ku tahu !" Omel Charlie pada Raj yang terkadang tak berfilter jika bicara. "Hehehe, ampun kakak ipar." Yang dimarahi justru cengar cengir tak jelas. Setelah sepuluh menit menunggu sambil memakan hidangan pembuka, akhirnya yang ditunggu pun datang.
"Aku kira ayah tidak merasa lapar." Cibir Charlie yang melihat kedatangan ayah dan maminya itu. "Maaf boy, ayah dan mami terlambat." Ujar ayah Manohar." Maafkan mami juga ya, nak." Rhea juga ikut minta maaf pada putra sambung nya itu.
"Iya mami, tak apa...yang penting sebentar lagi aku akan punya adik kecil." Charlie justru memberi jawaban yang membuat wajah maminya merona. "Memangnya kau benar benar ingin punya adik, bro ?" Tanya Arun yang tengah memangku seorang baby cantik bernama Mikaila. Mikaila atau biasa dipanggil Mika merupan putri pertama dikeluarga Verma. Naina melahirkan putri mereka sebulan yang lalu dan diberinama Mikaila Aruna Verma. Mika memiliki paras manis seperti ibunya, hal itu membuatnya langsung menjadi kesayangan dari twins A. Twins A sangat senang saat tahu adik mereka perempuan, doa mereka dikabulkan Tuhan.
"Tentu saja, aku sangat ingin punya adik. Kau tau ? Aku selalu ingin hal itu sejak masih kanak kanak, namun ayah tak mengabulkan nya." Ucap Charlie yang membuat Manohar kembali merasa bersalah pada anak nya. "Tapi sekarang, aku rasa ayah akan mengabulkan nya untuk ku ? Benar bukan ?" Tanya Charlie pada sang ayah." Pasti boy, ayah juga ingin hal yang sama." Ucap Ayah Manohar membuat hati Rhea menghangat mendengarnya.
"Cepatlah tumbuh didalam Junior. Ayah dan mami menanti kedatangan mu." Lirih ayah Manohar sambil mengelus perut istrinya yang masih rata. "Dia pasti akan segera tumbuh didalam sana, aku yakin itu." Sahut Rhea yang juga ingin segera memiliki seorang anak.
"Sayang, kau juga tidak akan menunda kehamilan kan ?" Tanya Raj harap harap cemas takut sang istri belum mau mempunyai anak. "No, aku ingin secepat nya punya baby." Jawab Janvi yang memang tak berniat menunda kehamilan nya karena ia juga ingin punya baby lucu lucu seperti kakak nya. "Dady, Adit mau gendong Mika." Ucap Aditya yang sudah selesai makan. "Pelan pelan tapi." Aditya menganggukan kepala, seraya menimang adiknya. Di cium nya pipi gembul dari baby yang sedang terlelap itu.
VISUAL
Charlie dan Jendra
Charlie dan Yuvi
Mohini
Arun Verma
Naina Verma